SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: JARINGAN YANG SEMAKIN RUMIT
Sore itu, langit kota tampak mendung, seolah menyembunyikan rahasia besar yang akan terungkap. Angin berhembus pelan namun cukup dingin, membuat Putri yang duduk di bangku kayu tua di taman kota tua merapatkan jaketnya. Dia datang lebih awal dari waktu yang disepakati, duduk di bawah pohon beringin raksasa yang menjadi titik pertemuan mereka. Di tangannya, dia membawa tas tangan kecil yang di dalamnya tersimpan map asli pemberian Pak Darmawan—dia harus mengembalikannya hari ini, menyadari bahwa menyimpannya terlalu lama di rumah Adinata adalah bunuh diri.
Matanya terus mengawasi setiap sudut taman. Tempat ini sepi, hanya ada beberapa orang tua yang duduk santai dan anak-anak yang bermain di kejauhan. Namun, Putri tahu dia tidak boleh lengah. Di dunia ini, siapa pun bisa menjadi mata-mata Pak Darmawan atau bahkan Pak Hidayat.
Tepat pukul empat sore, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di pinggir jalan tidak jauh dari tempat Putri duduk. Jendela mobil turun perlahan, menampakkan wajah Pak Darmawan yang tersenyum miring. Dia tidak keluar mobil, melainkan memberi isyarat dengan matanya agar Putri masuk.
Putri menarik napas panjang, menguatkan hatinya. Dia berdiri, memastikan tidak ada yang memperhatikannya, lalu berjalan cepat menuju mobil itu dan masuk ke kursi penumpang depan. Begitu dia duduk, pintu terkunci otomatis dengan bunyi klik yang terdengar menakutkan di telinganya.
"Kau tepat waktu, Putri," ucap Pak Darmawan, suaranya tenang namun penuh wibawa yang mengintimidasi. Dia menyalakan mesin mobil dan mulai melaju pelan, tidak menuju keluar taman, melainkan berputar-putar di jalanan sepi di sekitar area itu. "Itu sifat yang aku sukai. Berbeda dengan Hidayat yang selalu merasa waktunya lebih berharga dari orang lain."
"Aku menepati janjiku, Pak Darmawan," jawab Putri dingin, meletakkan tasnya di pangkuan. "Dan aku membawa apa yang Bapak minta. Atau lebih tepatnya, mengembalikan apa yang Bapak berikan."
Dia mengeluarkan map tebal itu dari tasnya dan menyerahkannya kepada Pak Darmawan. Pria itu melirik sekilas, lalu meletakkan map itu di kursi penumpang belakang dengan santai, seolah itu bukan barang berharga yang berisi bukti kejahatan berat.
"Bagus. Aku melihat kau sudah memeriksanya," kata Pak Darmawan, matanya tetap fokus ke jalan raya. "Apa pendapatmu? Cukup membuktikan bahwa Hidayat bukanlah malaikat seperti yang dia pura-pura kan?"
"Cukup untuk membuktikan bahwa dia penjahat yang berbahaya," jawab Putri tegas. "Dan Bapak juga benar tentang jaksa itu. Kasus pelabuhan kemarin memang akan dihentikan. Rizky memberitahuku tadi sore."
Pak Darmawan tertawa kecil, suara tawanya terdengar sinis. "Sudah kuduga. Hidayat punya cara sendiri untuk melicinkan jalan. Tapi dengan bukti yang kau lihat itu, kita bisa membalikkan keadaan. Kita bisa menyeret dia dan kaki tangannya ke penjara, atau... membiarkan mereka saling menghancurkan satu sama lain. Terserah kita."
Putri menoleh, menatap profil wajah Pak Darmawan yang tegas. "Aku tidak tertarik pada permainan kekuasaan Bapak, Pak Darmawan. Aku hanya tertarik pada keadilan untuk orang tuaku. Dan hari ini, aku ingin Bapak menepati janjimu. Ceritakan padaku detail tentang kematian mereka. Dan ceritakan tentang Pak Soleh."
Wajah Pak Darmawan sedikit berubah, senyumnya menghilang perlahan. Dia diam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan seberapa banyak yang boleh dia katakan.
"Pak Soleh..." ucapnya pelan, seolah mengeja nama itu. "Jadi kau sudah melihat foto itu, ya?"
"Aku melihatnya. Dan aku mengenali wajahnya," jawab Putri tajam. "Dia ada di sana, bersama Bapak, Ayah, dan Ibu, beberapa hari sebelum kecelakaan itu. Siapa dia sebenarnya? Apakah dia bagian dari rencana pembunuhan itu?"
Pak Darmawan menghela napas panjang, lalu menyalakan sebatang rokok. Asapnya mengepul memenuhi kabin mobil. "Soleh... dia dulu adalah kepala keamanan di perusahaan ayahmu. Orang yang sangat setia. Tapi dia juga orang yang takut akan kekuasaan dan uang. Saat Hidayat merencanakan segalanya, dia membutuhkan seseorang yang tahu seluk-beluk rumah dan rutinitas orang tuamu. Soleh adalah orangnya. Hidayat menyuapnya dengan uang yang sangat banyak dan janji jabatan tinggi di perusahaan barunya nanti."
Darah Putri berdesir. Jadi dugaannya benar. Pak Soleh bukan pahlawan, melainkan pengkhianat. "Jadi dia yang membuka jalan bagi pembunuh itu masuk?"
"Dia yang memberikan denah vila, jadwal perjalanan, dan bahkan membantu memindahkan beberapa barang 'penting' dari kantor ayahmu sebelum kejadian," lanjut Pak Darmawan tanpa belas kasih. "Tapi... ada satu hal yang mungkin tidak kau duga. Soleh menyesal. Sangat menyesal."
Putri mengerutkan kening. "Menyesal?"
"Iya. Setelah kejadian itu, dia melihat bagaimana Hidayat mempermainkan segalanya, bagaimana dia memalsukan laporan kecelakaan dan mengambil alih semua aset. Hati nuraninya mulai bicara. Dia takut akan karma, dan dia takut Hidayat akan membunuhnya untuk menutup mulutnya seperti yang dilakukan pada pelaku lainnya. Jadi dia lari. Dia menghilang selama bertahun-tahun, sampai akhirnya dia kembali dengan identitas baru sebagai penjaga perpustakaan kota tua, berharap masa lalunya tidak akan pernah menemukannya."
Pak Darmawan menoleh sekilas ke arah Putri. "Dia tahu banyak hal, Putri. Dia bisa menjadi saksi kunci jika kau bisa membujuknya untuk bicara. Tapi ingat, dia penakut. Jika kau menekannya terlalu keras, dia akan lari lagi atau bahkan bisa berbalik melindungi dirinya sendiri dengan mengorbankanmu."
Putri terdiam, mencerna informasi itu. Jadi Pak Soleh adalah pengkhianat yang merasa bersalah. Itu menjelaskan kenapa dia begitu mudah mengizinkan Putri masuk ke perpustakaan larut malam kemarin. Mungkin dia mengenali Putri dan merasa bersalah, atau mungkin dia hanya waspada. Bagaimanapun juga, Putri tahu dia harus berhati-hati jika ingin berhadapan dengan pria itu lagi.
"Dan tentang kematian orang tuaku?" tanya Putri lagi, suaranya bergetar menahan tangis yang ingin keluar. "Ceritakan semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi."
Pak Darmawan mematikan rokoknya di asbak mobil. Wajahnya menjadi lebih serius. "Seperti yang sudah aku katakan, Hidayat menginginkan bisnis kayu ekspor-impor milik ayahmu. Ayahmu adalah saingan yang tangguh dan dia menolak untuk bekerja sama atau menjual perusahaannya pada Hidayat. Hidayat tidak terima. Dia merencanakan 'kecelakaan' itu dengan teliti. Dia menyewa sekelompok orang untuk menyabotase rem mobil ayahmu saat mereka sedang pergi ke vila di pegunungan. Tapi..."
Pak Darmawan berhenti sejenak, seolah ragu untuk melanjutkan.
"Tapi apa?" desak Putri.
"Tapi rencananya awalnya hanya membuat mobil mereka tergelincir dan terluka parah, sehingga mereka bisa dipaksa menandatangani dokumen penyerahan aset saat dalam kondisi lemah," lanjut Pak Darmawan pelan. "Namun, orang yang disewa Hidayat itu terlalu brutal. Atau mungkin Hidayat diam-diam memberi perintah lain yang tidak aku tahu. Mobil itu tidak hanya tergelincir, tapi meluncur ke jurang dan meledak. Tidak ada selamat. Hidayat sangat marah saat mengetahui mereka mati, bukan karena dia sedih, tapi karena dia tidak sempat mendapatkan tanda tangan itu secara resmi. Tapi dengan bantuan Soleh dan orang-orang dalam yang dia suap, dia akhirnya bisa mengambil alih segalanya dengan cara hukum yang dipalsukan."
Putri merasakan dunia berputar. Bayangan kejadian itu, yang selama ini hanya berupa misteri, kini menjadi sangat nyata dan mengerikan. Orang tuanya tidak mati karena kecelakaan biasa. Mereka dikhianati, disabotase, dan dibunuh dengan kejam demi ambisi kekuasaan dan uang. Air mata mulai mengalir di pipi Putri, tapi dia tidak menyekanya. Dia membiarkannya jatuh, membiarkan rasa sakit itu menjadi bahan bakar dendamnya.
"Kenapa Bapak tidak pernah memberitahu siapa pun? Kenapa Bapak diam saja selama ini?" tanya Putri dengan suara parau.
"Aku sudah bilang, Putri. Aku takut," jawab Pak Darmawan jujur, atau setidaknya terlihat jujur. "Hidayat mengancam keluargaku. Dan saat kejadian itu terjadi, aku sudah terlalu dalam terlibat dalam administrasi keuangannya. Jika aku bicara, aku akan dianggap sebagai kaki tangannya dan ikut dipenjara, atau lebih buruk lagi, dibunuh. Aku memilih untuk bertahan hidup, menunggu waktu yang tepat. Dan waktu itu sekarang, dengan adanya kau."
Mobil berhenti di pinggir jalan yang sepi, tidak jauh dari pintu keluar taman. Pak Darmawan menoleh dan menatap Putri dalam-dalam.
"Sudah cukup informasi untuk hari ini. Sekarang, giliranmu, Putri. Apa yang kau temukan di rumah Hidayat? Apa rencananya selanjutnya? Aku tahu dia sedang merencanakan pengiriman besar minggu depan. Apa kau tahu tujuannya?"
Putri menyeka air matanya, lalu menegakkan punggungnya. Dia harus beralih mode dari anak yang berduka menjadi strategis yang cerdas. Dia tidak bisa memberi Pak Darmawan informasi yang terlalu penting, tapi dia juga tidak bisa memberi informasi yang salah total.
"Aku mendengar dia berbicara di telepon kemarin sore, saat aku sedang lewat di dekat ruang kerjanya," bohong Putri dengan lancar. "Dia menyebut sesuatu tentang pelabuhan timur dan tanggal lima hari lagi. Dia bilang semuanya sudah siap dan tidak ada yang akan curiga karena polisi di sana sudah 'diurus'. Itu saja yang aku dengar. Dia menutup pembicaraannya saat melihatku datang."
Pak Darmawan mengangguk-angguk, tampak mempertimbangkan kebohongan Putri. "Pelabuhan timur, ya? Itu area yang cukup jauh dari pengawasan utama. Bagus. Terima kasih informasinya, Putri. Ini sangat berguna."
Dia merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kunci kecil dengan gantungan berbentuk angka '7'. "Ini kunci loker nomor 7 di stasiun kereta api kota. Di dalamnya ada dokumen tambahan yang mungkin kau butuhkan, serta foto-foto lain yang berkaitan dengan Soleh dan transaksi Hidayat. Ambil saat kau merasa aman. Jangan pernah menyimpannya di rumah."
Putri mengambil kunci itu dan menyimpannya di dalam saku jaketnya dengan rapat. "Baiklah."
"Dan ingat pesanku," ucap Pak Darmawan dingin, matanya menyala tajam. "Jangan bermain api di belakangku. Jika aku mengetahui kau berkomunikasi dengan Hidayat atau memberitahu Rizky tentang kesepakatan kita, aku tidak akan ragu menghancurkanmu. Dan adikmu yang kecil itu... aku harap kau tidak memaksaku melibatkannya."
Ancaman itu tertuju jelas pada Rara. Putri merasakan amarah meledak di dadanya, tapi dia menahannya dengan kuat. Dia tahu melawan balik sekarang hanya akan membahayakan nyawanya dan Rara.
"Aku tahu batasku, Pak Darmawan," jawab Putri dingin. "Selama Bapak menepati janji, aku juga akan menepati janjiku."
"Bagus. Sekarang, pergilah. Turun di sini dan jalan kaki sampai ke jalan utama. Jangan biarkan siapa pun melihatmu turun dari mobilku."
Putri tidak menjawab lagi. Dia membuka pintu mobil dan turun ke trotoar yang sepi. Mobil itu segera melaju dan menghilang di tikungan jalan, meninggalkan Putri sendirian dengan pikiran yang kacau dan hati yang berat.
Putri berjalan perlahan menuju jalan utama, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Dia baru saja mendapatkan informasi yang sangat berharga, tapi dia juga baru saja mengikat dirinya lebih erat dalam perjanjian berbahaya dengan iblis. Pak Soleh adalah pengkhianat yang menyesal, Pak Hidayat adalah monster yang membunuh orang tuanya, dan Pak Darmawan adalah serigala yang sedang memanfaatkannya.
Di tengah kekacauan itu, ada Rizky. Pria yang mencintainya, yang sedang berjuang mencari kebenaran tentang ayahnya sendiri, yang tidak tahu istrinya baru saja bertemu dengan musuh bebuyutan keluarganya.
Saat Putri sampai di jalan utama dan hendak menghentikan taksi, ponselnya berdering. Nama "Rizky" tertera di layar. Jantung Putri berdegup kencang lagi. Dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan suaranya, lalu mengangkat telepon itu.
"Halo, Rizky?" sapanya, berusaha terdengar normal.
"Putri, Sayang! Di mana kamu sekarang?" suara Rizky terdengar panik dan cemas di seberang telepon. "Aku pulang ke rumah dan kamu tidak ada. Aku bertanya pada pengasuh, katanya kamu keluar sejak sore. Aku khawatir sekali, apalagi setelah kejadian kemarin."
Putri menelan ludah. Dia harus membuat alibi lagi. "Aku... aku sedang di dekat perpustakaan kota tua, Rizky. Aku ingin bertemu Pak Soleh lagi untuk menanyakan beberapa hal tentang dokumen yang aku temukan kemarin. Maaf aku tidak sempat memberitahumu. Aku buru-buru sekali."
Di seberang telepon, terdengar hening sejenak. Lalu suara Rizky terdengar lagi, kali ini lebih lembut namun ada nada curiga yang samar. "Kamu bertemu Pak Soleh lagi? Di perpustakaan? Tapi Putri... aku baru saja dari perpustakaan kota tua. Aku ingin mengejutkanmu dengan menjemputmu di sana, karena aku curiga kamu mungkin pergi ke sana lagi. Tapi penjaga yang bertugas di sana bilang tidak ada orang bernama Pak Soleh yang bekerja di sana. Dan perpustakaan itu sudah tutup sejak jam dua sore ini."
Darah Putri seketika turun ke kaki. Dia terdiam kaku di tengah trotoar. Rizky ada di sana? Dan dia tahu bahwa Putri berbohong?
"Rizky..." Putri tidak tahu harus berkata apa. Kakinya terasa lemas. Jaring kebohongannya akhirnya mulai terurai.
"Pulanglah sekarang, Putri," suara Rizky terdengar tenang, namun ketenangan itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. "Aku menunggumu di rumah. Kita perlu bicara. Serius."
Telepon dimatikan. Putri berdiri terpaku, memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Bencana besar. Rizky tahu dia berbohong. Dan sekarang, dia harus pulang dan menghadapi suaminya yang mungkin sudah tidak lagi percaya padanya.
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja mengetahui kebenaran pahit tentang kematian orang tuanya dan peran Pak Soleh, namun dia juga baru saja ketahuan berbohong oleh Rizky. Rizky yang cemas dan curiga kini menunggunya di rumah dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Jika kamu jadi Putri, apa yang akan kamu lakukan saat bertemu Rizky nanti? Apakah kamu akan terus berbohong dengan alibi baru, atau mulai membuka sebagian kebenaran untuk menyelamatkan kepercayaan di antara kalian?