Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pratama menjalankan motornya perlahan meninggalkan gerbang sekolah. Namun, suasana di atas motor terasa sangat berbeda dari biasanya.
Ada keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Pratama membuka suara dengan nada rendah, mencoba menahan rasa tidak nyaman di hatinya.
"Siapa dia, Dik? Kenapa dia perhatian sekali sampai membelikan kamu gado-gado?" tanya Pratama dengan tatapan matanya yang fokus ke jalanan.
Luna terdiam sejenak, ia bisa merasakan ada nada cemburu dalam suara suaminya.
"Dia Pak Dirga, Mas. Salah satu wali murid di kelas aku. Tadi dia cuma mau berterima kasih karena aku sudah mengajar anaknya."
"Wali murid? Tapi tatapannya tadi, sepertinya dia bukan cuma sekadar berterima kasih. Dan kenapa dia harus memberi makanan ke kamu?" tanya Pratama.
Pratama terdiam sejenak, lalu melontarkan pertanyaan yang membuat jantung Luna hampir copot.
"Apa dia itu mantan pacar kamu, Dik? Atau orang yang sedang mendekatimu?"
Luna segera melingkarkan tangannya di pinggang Pratama, mencoba menenangkan pria itu.
"Bukan, Mas! Demi Allah, dia bukan siapa-siapa. Dia cuma orang kaya yang sombong. Mas jangan berpikir yang macam-macam ya."
"Mas, merasa rendah sekali tadi, Dek," bisik Pratama lirih.
"Dia memakai jas rapi, mobilnya mewah, sementara Mas cuma menjemputmu pakai motor butut dan baju bau keringat soto. Mas, takut kalau kamu sebenarnya menyesal memilih pria miskin seperti Mas."
Mendengar itu, hati Luna terasa teriris. Ia mengeratkan pelukannya di punggung suaminya.
"Mas, jangan bicara begitu. Aku pilih Mas karena Mas orang jujur dan pekerja keras. Harta Pak Dirga tidak ada artinya buat aku."
Luna kemudian teringat pesan dari Arini dan ini adalah momen yang sulit untuk meminta izin.
"Mas, sebenarnya, ada hal lain yang mau aku bicarakan," ucap Luna pelan, kepalanya bersandar di bahu Pratama.
"Besok sekolah mengadakan studi banding ke Bandung untuk guru-guru. Aku harus ikut dan mungkin menginap satu malam. Boleh ya, Mas?"
"Bandung? Jauh sekali, Dik," ucap Pratama.
Pratama membelokkan motornya memasuki halaman rumah mereka yang sederhana.
Ia tidak langsung melanjutkan pembicaraan mereka.
Dengan lembut, ia meminta Luna untuk masuk terlebih dahulu.
"Sudah, jangan dibahas di sini. Kamu cuci tangan, cuci kaki, dan ganti pakaian dulu ya. Biar badanmu segar, nanti kita lanjut mengobrol di dalam."
Luna menuruti permintaan suaminya dan ia masuk ke dalam rumah, membasuh debu jalanan yang menempel di kulitnya.
Sambil mengganti seragam batiknya dengan daster rumahan yang nyaman, otaknya terus berputar.
Bagaimana caranya meyakinkan Pratama bahwa "studi banding" ini aman, padahal sebenarnya ia akan memimpin negosiasi besar di hotel bintang lima.
Setelah selesai, Luna menghampiri Pratama yang sudah menunggu di ruang tengah.
Pratama sudah menyiapkan dua gelas air putih di atas meja.
"Sini, duduk dulu," ujar Pratama sambil menepuk sisi kursi di sampingnya.
Setelah Luna duduk, Pratama menatap mata istrinya dalam-dalam.
"Dik, Mas bukannya mau mengekang. Tapi kamu kan guru muda di sana. Kenapa sekolah sudah menyuruhmu pergi jauh sampai ke Bandung dan menginap pula? Mas khawatir, apalagi tadi ada orang seperti Pak Dirga yang sepertinya tahu banyak tentang kamu."
Luna menelan salivanya saat mendengar perkataan dari suaminya.
Ia harus menyusun kalimat dengan sangat hati-hati agar tidak terdengar seperti kebohongan yang direncanakan.
"Ini mendadak, Mas. Kata Kepala Sekolah, ini kesempatan buat guru baru untuk belajar sistem pendidikan di sana. Semuanya dibiayai sekolah, jadi aku tidak enak kalau menolak. Aku pergi bareng teman-teman guru yang lain kok, naik bus sekolah," bohong Luna demi menutupi fakta bahwa ia akan dijemput mobil mewah perusahaan.
Pratama terdiam cukup lama, tangannya memainkan gelas plastik di depannya.
"Satu malam saja kan, Dik?"
"Iya, Mas. Cuma satu malam. Lusa aku sudah pulang dan langsung bantu Mas jualan lagi."
Pratama menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.
"Ya sudah, kalau memang itu tugas dari sekolah, Mas izinkan. Tapi janji, kabari Mas terus ya? Mas tidak tenang kalau jauh dari kamu."
Luna merasa hatinya sedikit nyeri melihat ketulusan suaminya.
"Janji, Mas. Terima kasih ya sudah mengerti."
"Mas paling tidak bisa dibohongi, Dik. Jadi, tolong jangan kecewakan Mas ya," ucap Pratama dengan nada yang sangat rendah namun sarat akan penekanan.
Matanya menatap Luna seolah ingin mencari kejujuran di balik bola mata indah istrinya.
Luna merasa jantungnya mencelos. Ia hanya bisa mengangguk pelan, menyembunyikan rasa bersalah yang mulai menggerogoti hatinya.
"Iya, Mas. Aku janji."
Pratama kemudian tersenyum, mencoba mencairkan suasana.
"Ayo, kita ke pasar belanja bahan soto lagi. Mas juga sudah janji mau membelikan keperluanmu untuk ke Bandung besok. Oh iya, ini..."
Pratama merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
"Ini uang saku buat kamu di Bandung. Tiga ratus ribu rupiah. Memang tidak banyak, tapi cukup buat beli makan atau jaga-jaga di jalan," ucap Pratama sambil meletakkan uang itu di telapak tangan Luna.
Luna menatap uang tiga ratus ribu itu dengan perasaan campur aduk. Bagi seorang CEO Jati Grup, uang itu mungkin hanya cukup untuk membeli secangkir kopi di hotel bintang lima. Namun bagi Luna, uang itu terasa sangat berat karena merupakan hasil keringat suaminya dari setiap mangkuk soto yang terjual.
"Terima kasih, Mas," bisik Luna tulus.
Mereka pun berangkat ke pasar untuk belanja fan membeli keperluannya.
Di tengah kesibukan memilih bumbu, ponsel Luna bergetar.
Sebuah pesan dari Papanya, Papa Jati, masuk. Papanya mengundang mereka untuk makan bersama.
"Tenang saja, Papa sudah beli rumah sederhana di pinggiran kota. Jadi suamimu tidak akan curiga kalau Papa orang kaya," tulis Papa Jati dalam pesan singkatnya.
Luna menepuk bahu suaminya yang sedang membayar.
"Papa mengajak kita makan bersama," ucap Luna.
Pratama menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Kita kesana, Dik. Setelah selesai dari pasar." ujar Pratama.
Mereka segera menyelesaikan belanjaannya yang masih kurang.
Setelah selesai belanja dan menaruh semua bahan soto di rumah, Pratama dan Luna bersiap-siap menuju alamat yang diberikan Papa Jati.
Pratama tampak sedikit gugup karena ini adalah pertemuan resmi pertamanya dengan mertuanya setelah mereka pindah ke rumah kontrakan.
"Mas takut kalau Bapak kamu tidak suka dengan penampilan Mas sekarang, Dik," keluh Pratama sambil merapikan kerah kemejanya yang sudah pudar.
"Papa orang baik, Mas. Dia pasti senang melihat kita bahagia," hibur Luna.
Sesampainya di rumah yang dimaksud, Luna cukup terkejut.
Papa Jati benar-benar totalitas. Ia membeli sebuah rumah tipe 36 yang nampak sangat biasa di sebuah komplek kecil.
Di depan rumah, Papa Jati sudah menunggu dengan kaos oblong dan sarung, persis seperti bapak-bapak pensiunan pada umumnya.
"Ayo masuk, Nak Pratama! Sini, kita makan bersama. Papa sudah pesan ayam bakar di depan komplek tadi," sapa Papa Jati dengan tawa renyah, berpura-pura hidup sederhana demi menjaga rahasia putrinya