Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28
Mobil Aston Martin itu meraung, menembus kabut malam menuju sebuah wilayah perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Jay mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam erat jemari Anna, seolah takut jika ia melepasnya sedetik saja, wanita itu akan menguap seperti mimpi.
Pengawal-pengawal dengan mobil-mobil hitam yang cukup banyak dan membawa beberapa sniper menjaga dengan jarak dekat.
Anna melihat keadaan dimana semua kehidupannya seketika berjungkir balik. Dari yang awalnya ia hanya sebagai pekerja di beberapa tempat untuk melunasi hutang piutang orang tuanya. Kini berubah Dan berada di antara senjata, mafia, kekuasaan dan medan perang yang berbahaya.
Wajah Anna terlihat cemas, jemari Jay kuat mencengkram tangan Anna. Gadis itu melihat wajah kening Jay yang berdarah.
Dengan melempar seulas senyuman pada Anna, Jay kemudian mencium punggung tangan Anna.
“Kau berdarah.” Kata Anna.
“Hanya luka ringan, yang tidak berarti.” Kata Jay.
Setelah perjalanan dua jam yang sunyi dan penuh ketegangan, sebuah gerbang baja raksasa terbuka otomatis. Di baliknya berdiri sebuah mansion bergaya minimalis modern yang tersembunyi di balik barisan pinus rapat.
Tempat ini tidak ada dalam catatan aset keluarga Jackman. Ini adalah benteng yang dibangun Jay dengan keringat dan darahnya sendiri—sebuah suaka yang ia siapkan hanya untuk satu tujuan: menyembunyikan Anna jika suatu saat kegiatannya di ketahui Jackman. Dan Anna menjadi terlibat.
“Turunlah. Di sini kau aman,” bisik Jay saat mesin mobil mati.
Para pengawal sikap berlari mengamankan. Mobil-mobil hitam berjajar di belakang mobil milik Jay.
Lusinan pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis hitam berjaga di setiap sudut halaman. Mereka tidak tunduk pada Jackman; mereka hanya setia pada Jay.
Jay membimbing Anna masuk ke dalam mansion yang remang-remang. Suasananya begitu sunyi, para pelayan hanya berdiri tanpa sepatah kata pun, diam seolah mereka bisu dan membungkuk dalam, hanya suara langkah kaki mereka yang menggema di atas lantai marmer.
Setelah Jay memberikan isyarat satu demi satu para pelayan meninggalkan mereka, dan pintu utama terkunci dengan sistem keamanan biometrik, Jay menyandarkan punggungnya di pintu, menghela napas panjang seolah seluruh beban dunia baru saja terangkat.
Anna berdiri di depannya, masih mengenakan kaus putih milik Jay yang kini sedikit kotor dan kusut.
“Sampai kapan kita harus bersembunyi di sini, Jay?”
Jay tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Anna terdesak ke dinding. Kedua tangan Jay mengunci tubuh Anna, matanya menatap tajam, menelusuri wajah wanita yang hampir saja hilang dari genggamannya malam ini.
“Sampai aku memastikan tidak ada lagi yang berani menatapmu selain aku,” gumam Jay, suaranya berat dan penuh emosi.
Ia menyentuh pipi Anna dengan ibu jarinya, membelai bibir wanita itu yang masih menyisakan rasa dari ciuman mereka di apartemen tadi.
Gairah yang sempat terinterupsi oleh maut kini kembali menyala, jauh lebih panas dan lebih mendesak.
“Kau tahu betapa gila aku jika membayangkan mereka menyentuh dan melukaimu?” Jay menunduk, menempelkan dahinya ke dahi Anna. Napasnya terasa panas di kulit Anna.
“Aku hampir saja meratakan mansion ayahku hanya untuk kembali padamu.”
Anna merasakan jantungnya berdegup kencang. Ketakutan akan kejaran Jackman dan Zavier mendadak memudar, digantikan oleh aura dominan Jay yang menyelimutinya. Ia meraih kerah kemeja hitam Jay yang terbuka, menariknya sedikit lebih dekat.
“Kau berhutang padaku, Jay. Kau harus membayarnya. Tentang halte itu... tentang semua foto itu.” bisik Anna parau.
“Aku akan membayar semuanya,” jawab Jay seraya mulai menciumi leher Anna, memberikan tanda-tanda baru di atas luka lama yang belum pudar.
“Tapi malam ini, biarkan aku memastikan bahwa kau benar-benar di sini. Bahwa kau adalah milikku, bukan lagi bayangan yang kupandangi dari balik layar.”
“Jay… Kepalamu terluka.” Kata Anna melihat ke arah kepala Jay.
“Kau ingin aku mengobatinya?” Tanya Jay.
Anna mengangguk pelan.
“Maka jangan pergi dariku, dan menolakku.”
Jay mengangkat Anna dengan satu gerakan kuat, membawa wanita itu menuju kamar utama yang berada di lantai atas. Di dalam kamar yang luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan hutan gelap di luar, Jay membaringkan Anna di atas ranjang king size.
Ia melepaskan kemejanya, membuangnya ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka memar baru akibat pertarungan tadi, namun otot-ototnya tampak lebih tegang karena hasrat.
“Malam ini, Anna... tidak akan ada ponsel yang bergetar. Tidak ada Jackman. Hanya aku dan kau,”
“Obati aku. Dan aku membayarmu atas obat-obatan yang kau berikan padaku dulu.” Desis Jay sembari merayap di atas tubuh Anna, mengunci tatapan mereka dalam sebuah janji yang berbahaya sekaligus manis.
————
Sementara itu, di mansion sang ibu—
Zavier berdiri di balkon lantai dua. Tubuhnya tegak. Kedua tangannya bertumpu pada pagar besi hitam yang dingin. Pandangannya menembus kegelapan hutan di kejauhan, seolah mencari bayangan yang sudah lama hilang dari halaman itu.
Ia menyaksikan semuanya tadi. Ayah dan anak. Senjata terangkat. Laser sniper menari di tubuh Jay. Dan keputusan yang tak bisa ditarik kembali.
Namun yang paling mengganggunya bukanlah pelarian Jay.
Melainkan keheningan Jackman setelahnya.
Tidak ada amarah yang meledak.
Tidak ada perintah susulan.
Tidak ada deklarasi perburuan besar-besaran.
Hanya diam.
Padahal sebelumnya, Jackman telah mantap menyerahkan tongkat kekuasaan kepadanya.
Zavier.
Putra yang patuh.
Putra yang tidak membangkang.
Putra yang tidak mempermalukan keluarga di halaman sendiri.
Namun malam ini—
Tidak ada satu kata pun dari Jackman tentang suksesi. Tidak ada penegasan. Tidak ada pengukuhan. Seolah keputusan itu… tertunda.
Rahang Zavier mengeras.
Ia menunggu. Menunggu interupsi berikutnya. Menunggu kalimat dingin ayahnya yang biasanya pasti keluar setelah sebuah pengkhianatan.
Tapi tidak ada. Dan itu jauh lebih berbahaya. Zavier mengenal ayahnya.
Jackman bukan pria yang menelan ludahnya sendiri. Harga diri dijaganya sampai mati. Dan siapa pun yang mengkhianatinya—atau bahkan sekadar mengecewakannya—tidak akan dibiarkan hidup dengan tenang.
Artinya hanya dua kemungkinan:
Jay akan diburu sampai habis.
Atau—
Jackman masih melihat sesuatu pada Jay.
Kemungkinan kedua itulah yang membuat tangan Zavier meremas pagar balkon semakin kuat.
Urat di punggung tangannya menegang. Buku-buku jarinya memutih.
“Dia pikir dia bisa menyembunyikan gadis itu selamanya,” gumamnya sinis.
Langkah halus terdengar dari belakang.
Helena.
Gaun sutranya berdesir pelan tertiup angin malam. Senyumnya tipis, penuh perhitungan.
Ia berhenti di samping Zavier, menatap ke arah yang sama.
“Jangan khawatir, Sayang,” ucapnya lembut, namun nadanya setajam belati. “Jay mungkin punya benteng. Tapi setiap benteng punya celah.”
Ia menoleh sedikit, menatap profil wajah putranya.
“Dan celah Jay adalah hatinya yang terlalu lembut untuk gadis miskin itu.”
Zavier tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus.
“Dia menjadikannya kelemahan,” lanjut Helena. “Dan pria seperti ayahmu… tidak pernah mengampuni kelemahan.”
Angin malam berhembus lebih kencang. Pepohonan hutan bergoyang, menciptakan bayangan yang tampak seperti sesuatu yang mengintai.
“Kita hanya perlu menunggu,” bisik Helena. “Sampai dia lengah.”
Zavier akhirnya berbicara.
“Tidak.”
Suaranya pelan. Namun tegas.
“Kita tidak menunggu.”
Helena sedikit mengangkat alisnya.
Zavier berbalik menghadap ibunya. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
“Jay sudah memilih perang terbuka. Jika Ayah ragu… maka aku yang akan memastikan perang ini tidak berakhir dengan rekonsiliasi.”
Ada kilatan dingin di matanya.
“Jika Jay mati di tangan Ayah, itu hanya hukuman. Tapi jika Jay hancur karena kehilangan satu-satunya hal yang ia lindungi… itu akan menjadi pelajaran.”
Helena tersenyum perlahan.
“Sekarang kau terdengar seperti pewaris sejati.”
Zavier kembali memandang ke kegelapan.
Di suatu tempat di luar sana, Jay sedang memeluk gadis itu, mungkin bersumpah akan melindunginya.
Ia tidak tahu— Bahwa malam ini, bukan hanya ayahnya yang menyatakan perang.
Sang kakak, Zavier tidak pernah bertarung untuk menang sebagian. Ia bertarung untuk menghapus kemungkinan musuhnya bangkit kembali. Zavier sudah belajar sangat banyak. Meski tak sesempurna Jay. Dirinya pun mewarisi darah sang ayah.
Di bawah cahaya bulan yang pucat, mansion itu tampak tenang.
Namun di dalamnya— Konspirasi baru saja lahir. Dan kali ini, sasarannya bukan Jay. Melainkan hati yang ia lindungi.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....