NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Tidak Semua Orang Tulus

Ayuna tidak memperhatikan ekpresi temannya. "Bagaimana aku harus menjelaskannya padanya?”

Kalina ragu sejenak, lalu berkata pelan, “Ayuna, kamu tahu tidak? Kak Ferdi itu dulu memang menyukaimu.”

“Aku tahu,” Ayuna mengangguk. “Dia sempat memberi isyarat. Tapi saat itu aku sudah bersama Renan. Aku menolaknya dan menjaga jarak.”

Kalina duduk perlahan, seolah kehabisan tenaga.

“Ayuna, ada sesuatu yang harus kukatakan.”

“Kamu ingat saat kamu dan Renan bertengkar hebat karena seorang wanita? Waktu itu kamu sering menangis di asrama. Aku sangat marah.”

“Aku menelepon Renan dan memarahinya.”

Ayuna menatapnya terkejut. Ia sama sekali tidak tahu hal itu.

“Saat itu,” lanjut Kalina dengan suara bergetar, “aku bilang padanya kalau banyak orang menyukaimu. Dan aku juga mengatakan… kalau dia tidak ikut campur, kamu pasti akan bersama Kak Ferdi.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ayuna menatapnya lama.

“Jadi, dia tersinggung karena itu?”

“Aku tidak tahu,” jawab Kalina cepat. “Aku tidak pernah menyangka akan sejauh ini. Aku akan ikut menjelaskan semuanya, Ayuna. Aku akan bicara padanya.”

Ia menunduk, suaranya penuh rasa bersalah.

“Maafkan aku. Kalau memang ini penyebabnya, aku benar-benar telah membuat kesalahan besar.”

Melihat wajah sahabatnya yang pucat dan gelisah, hati Ayuna terasa perih.

Kalina selalu baik padanya.

Satu-satunya teman yang selalu ada.

Ia tahu sahabatnya tidak bermaksud menyakitinya.

Namun tetap saja, rasa tidak tenang itu mengendap di dadanya. Karena kini ia sadar, satu kesalahpahaman kecil

telah berubah menjadi jarak yang begitu panjang.

❀❀❀

Memikirkan semua itu, emosi Ayuna akhirnya runtuh.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menutup wajahnya, bahunya bergetar hebat.

“Kalina…” suaranya pecah, tersedu. “Katakan padaku dia mencintaiku, kan?”

Kalina terkejut.

“Kamu tahu tidak,” lanjut Ayuna dengan suara bergetar, “kemarin aku sama sekali tidak percaya dia peduli padaku. Aku bahkan tidak percaya apa yang dia katakan kepada kakaknya.”

Ia mengangkat wajahnya, matanya merah dan basah.

“Kalina… menurutmu dia pasti punya perasaan padaku, kan? Setelah menikah, dia pasti akan mencintaiku, kan?”

Kalina menelan ludah, lalu segera mengangguk tegas.

“Tentu saja.”

“Ayuna, dengarkan aku. Jangan menangis.”

“Kamu sedang hamil. Kamu tidak boleh terlalu emosional.”

Ia mengusap punggung tangan sahabatnya perlahan, menunggu napas Ayuna sedikit lebih tenang.

Saat tangis itu mereda menjadi isakan pelan, rasa bersalah Kalina justru semakin menekan dadanya.

“Kalian berdua ini…” katanya lirih, hampir seperti keluhan.

“Kenapa sama-sama keras kepala?”

“Yang satu tidak pernah mau menjelaskan, yang satu lagi tidak pernah berani bertanya. Akhirnya, kesalahpahaman itu menumpuk sedikit demi sedikit, sampai hubungan kalian jadi sejauh ini.”

Ayuna menunduk.

“Aku juga tidak tahu,” suaranya nyaris tak terdengar.

“Aku takut bicara.” Jemarinya terasa dingin.

Takut jika ia berbicara, ternyata tidak ada yang peduli.

Takut jika ia berharap, ternyata hanya dirinya sendiri yang terluka.

Kalina menghela napas panjang.

Ia hanya bisa berpikir, cinta memang menakutkan.

Bahkan bisa membuat seorang gadis cerdas dan berprestasi kehilangan keberanian untuk bersuara.

Namun ia tidak berani mengatakan itu keras-keras.

“Kau lihat dirimu,” lanjut Kalina dengan nada lebih lembut, “dia anak crazy rich, dan kalian menikah begitu saja tanpa membahas apa pun. Aku sempat takut keluarganya akan meremehkanmu, hanya karena kamu yatim piatu.”

Ayuna menggeleng pelan. “Tidak. Orang tuanya benar-benar baik.”

“Kemarin ibunya memberiku gelang dan amplop yang sangat tebal. Kakaknya bahkan memberiku rumah dan mobil.”

Ia tersenyum kecil, senyum yang masih menyisakan air mata.

“Justru satu-satunya yang terlihat kaku dan canggung di keluarga itu… hanya Renan.”

Kalina terperangah. “Rumah dan mobil? Diberikan begitu saja?”

Lalu ia tertawa kecil. “Ya, masuk akal juga. Keluarga Morris kan konglomerat.”

“Kamu selalu bilang ingin punya rumah sendiri, kan? Sekarang malah dapat tanpa perlu bermimpi lagi.”

Namun, Ayuna tidak ikut tertawa.

Ia adalah gadis yang sejak awal kurang percaya diri, terlalu peka, terlalu mudah merasa kecil.

Ia tidak tahu apakah keputusan ini kelak akan ia sesali atau justru akan menjadi satu-satunya pegangan hidupnya.

❀❀❀

Siang itu, Renan pergi ke mal dan membeli banyak perlengkapan bayi. Setelah itu, ia langsung menuju apartemen Kalina.

Ponsel Ayuna bergetar.

“Aku dibawah,” suara Renan terdengar singkat di telepon.

Kalina melirik ke bawah jendela. “Dia benar-benar datang menjemputmu kali ini?” katanya, setengah heran.

Ayuna tersenyum tipis.

Memang, itu cukup tidak biasa.

Saat Ayuna bersiap turun, Kalina teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong, Shaila belum tahu soal pernikahanmu. Mau aku beri tahu dia?”

Ayuna menggeleng. “Tidak usah. Nanti saja, kalau ada kesempatan.”

Shaila, teman sekamar mereka dulu.

Hubungan mereka bertiga cukup baik, tetapi Ayuna selalu merasa tidak nyaman dengan cara bicara Shaila.

Kata-katanya sering terlalu tajam, terlalu blak-blakan, dan tanpa sadar melukai.

Untuk sekarang, Ayuna hanya ingin satu hal, menyelesaikan kesalahpahaman ini, dan memastikan bahwa pernikahan yang ia jalani bukanlah kesepian yang dibungkus kemewahan.

Ayuna berpamitan pada Kalina lalu turun ke bawah.

Sepanjang langkahnya, pikirannya dipenuhi satu nama Ferdi.

Ia bertanya-tanya bagaimana caranya menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya. Tidak dekat. Tidak ada apa-apa.

Ucapan Kalina waktu itu hanyalah luapan emosi sesaat, tidak lebih.

Namun, kesalahpahaman itu telah tumbuh terlalu jauh.

“Sampai kapan kamu mau berdiri di sana?” tanya Renan. Pandangannya tertuju pada Ayuna yang berdiri mematung di samping pintu mobil.

Ayuna baru tersadar ketika mendengar suara Renan, ia segera membuka pintu dan duduk di kursi penumpang depan.

Setelah memasang sabuk pengaman dengan benar pandangannya jatuh ke kursi belakang yang penuh dengan kantong belanja perlengkapan bayi.

Matanya melebar.

“Bayinya baru satu bulan lebih. Ini?”

“Terus kenapa?” Renan memotong dengan nada keras kepala.

Ia tak menjelaskan, seolah hal itu tidak perlu dijelaskan sama sekali.

“Siapa yang kamu temui hari ini?” tanyanya santai sambil menyalakan mesin.

“Mengobrol dengan Kalina,” jawab Ayuna patuh.

“Juga dengan Shaila?”

“Shaila ada urusan, jadi dia tidak datang.”

Ayuna meliriknya sekilas. Anehnya, ia merasa tak pernah bosan menatap profil wajah pria itu, seolah daya tariknya tak pernah berkurang.

“Selama kamu mengandung anakku, jangan terlalu sering berhubungan dengannya,” kata Renan datar.

“Nanti pengaruh buruk ke anakku.”

Ayuna terdiam. Ia sama sekali tidak tahu Renan punya masalah dengan temannya. Kalau pun ada seharusnya dengan Kalina.

“Kenapa?” ia bertanya pelan. “Kamu tidak menyukainya? Kukira kamu justru lebih tidak menyukai Kalina.”

Renan meliriknya singkat.

Ayuna teringat ucapan Kalina dulu bahwa mata Renan adalah mata ‘bunga persik’, penuh kasih sayang, bahkan saat menatap seekor kucing.

“Kalina itu ceroboh,” ujar Renan tanpa basa-basi, “tapi dia bukan orang jahat.”

Ia berhenti sejenak.

“Shaila, aku tidak ingin membahasnya lebih jauh.”

“Mereka satu-satunya temanku,” ucap Ayuna lirih.

Tentu saja, ia merasa jauh lebih dekat dengan Kalina.

“Itu hanya menurutmu,” balas Renan dingin.

“Tidak semua orang yang dekat denganmu itu tulus.”

Kata-kata itu menghantam dada Ayuna tanpa peringatan.

Jantungnya berdegup keras.

Apakah ada sesuatu yang selama ini tak ia sadari?

Mobil berhenti di depan rumah.

“Kamu tinggal di rumah saja,” kata Renan sambil turun.

“Aku ada urusan.”

“Kalau butuh apa-apa, telepon aku. Suruh Mbak Yeni masak apa pun yang kamu inginkan.”

Ia menutup pintu tanpa menunggu jawaban.

Ayuna berdiri di teras, menatap punggungnya menjauh.

Ia tidak bertanya ke mana pria itu pergi.

Tidak juga bertanya apakah ia akan pulang untuk makan malam.

Ayuna masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terasa lelah dan pikirannya pun sama letihnya.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!