NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah... Sudah...

Entitas yang semula hanya berupa kabut kini mulai memadat, menampakkan wujud yang menyerupai siluet seorang wanita.

Gerakannya begitu anggun, seolah ia tidak berjalan di atas pasir, melainkan di atas frekuensi kesedihan yang memenuhi tempat itu.

Ia mengulurkan tangannya yang pucat. Jemari yang terlihat sangat halus, menyentuh wajah lelaki.. yang hampir tidak memiliki kemauan untuk pergi.

Saat tangan itu menyentuh wajah Andersen yang kotor oleh debu dan air mata, ada rasa lembut yang memilukan, sebuah bentuk belas kasih yang menyedihkan dari makhluk yang tidak memiliki hal yang ingin dia dilindungi.

“Tentu tidak, Nak...” ucap entitas itu. Suaranya mengalun, merayap di antara pendengaran Andersen seperti bisikan angin yang melewati dahan-dahan pohon mati di tengah hutan yang sunyi.

“Tempat ini bukan pelabuhan bagi mereka yang masih memiliki hutang pada takdir. Perjalananmu bukanlah garis lurus yang bisa kau putus begitu saja di tengah jalan, meski setiap detak jantung di tubuhmu kini berteriak memohon untuk berhenti.”

Andersen hanya bisa terpaku, merasakan kedinginan itu meresap ke dalam pori-porinya. Dengan jari-jemarinya yang dingin, entitas itu perlahan menutup kelopak mata Andersen.

Wanita itu mengusap kepala Andersen dengan kelembutan seorang ibu yang sedang melepas anaknya pergi ke medan perang.

Meski mata Andersen kini tertutup rapat oleh telapak tangan dinginnya, lelaki itu tetap mampu merasakan aura kesedihan yang meluap dari sosok tersebut. Sebuah duka yang lebih tua dari ingatan manusia mana pun.

“Kau tidak bisa berhenti di sini, Nak. Kau tetap harus memilih di antara kedua jalan ini,” bisik entitas itu.

Suaranya mengalun rendah, bergetar seperti nyanyian duka yang dinyanyikan di atas makam pahlawan yang terlupakan.

“Mengapa?... Mengapa aku bahkan tidak diizinkan untuk menyerah?!” rintih Andersen, suaranya parau dan terputus-putus oleh sisa isakan.

“Aku lelah dengan semua sandiwara takdir yang memuakkan ini... aku hanya ingin mati... biarkan aku mati... biarkan semuanya berakhir...”

“Huss, huss, husss...”

Wanita itu membungkam keluh kesah Andersen dengan desisan lembut yang menenangkan sekaligus mengikat jiwa.

Suara itu bukan sekadar hening, itu adalah penyerahan dan keputusan yang dibungkus dalam kelembutan sutra.

Seketika, getaran di tubuh Andersen mereda, bukan karena ia tenang, melainkan karena suaranya seolah tersedot ke dalam kedinginan telapak tangan wanita itu.

Desisan itu terdengar seperti gesekan lembaran naskah kuno di dalam perpustakaan, sebuah pertanda bahwa setiap protes yang keluar dari mulut Andersen.. hanyalah coretan tak berarti di atas kertas takdir yang sudah ditulis dengan tinta darah.

“Jangan bicara seperti itu. Karena kau tidak mampu memilih, maka aku yang akan menentukannya untukmu."

"Aku anggap kau memilih pilihan kedua.”

Suara wanita itu kini terdengar seperti vonis dari pengadilan langit yang tak bisa dibanding. Ia tidak meminta persetujuan dan sedang menetapkan hukum.

“Kau akan terbangun di sebuah apartemen tua di Belanda,” lanjutnya. Wujudnya mulai memudar menjadi kabut kelabu, namun anehnya, tekanan tangannya pada mata Andersen justru terasa semakin nyata dan berat.

“Tetaplah kuat, Nak. Dunia akan mencengkerammu lebih erat dan lebih kejam dari sebelumnya."

"Luka-lukamu mungkin akan sembuh di permukaan, tapi jiwamu... jiwamu akan terus dipaksa untuk bertahan di tengah badai yang tak pernah mengenal kata usai.”

Seketika, realitas di tepi danau perak itu retak dan runtuh berkeping-keping layaknya kaca gedung yang dihantam martil.

Keheningan pasir putih yang damai luntur dalam sekejap, digantikan oleh hiruk-pikuk suara klakson kota yang memekakkan telinga dan aroma kopi hitam yang tajam... aroma kehidupan yang pahit dan nyata.

Kesadaran Andersen ditarik paksa melewati lorong waktu yang menyakitkan, sebuah perjalanan antar dimensi yang membuat setiap serat sarafnya terasa seperti ditarik ke arah yang berlawanan.

Lelaki itu terlempar keluar dari kehampaan, mendarat dengan keras di dalam sebuah ruangan yang belum pernah Andersen lihat.

“Apa yang bisa kulakukan...”

Suara Andersen hanya berupa bisikan yang ditelan oleh keheningan kamar. Sepasang tangannya yang gemetar kembali menangkup wajahnya, mencoba menekan bola mata agar dunia berhenti berputar.

lelaki itu hanya ingin beristirahat sedikit lebih lama, jeda dari kenyataan, sebuah koma dalam kalimat takdir yang terlalu panjang.

Rasanya sungguh memilukan... Seperti seorang pelari yang dipaksa terus berlari saat kakinya sudah remuk, atau seorang prajurit yang diseret kembali ke medan laga saat jiwanya sudah mati berkali-kali.

Ketika hidup seolah-olah hanya menjadi panggung bagi satu tragedi ke tragedi lainnya, ketika kehilangan orang-orang tersayang menjadi satu-satunya rutinitas yang pasti.

Untuk apa semua usaha keras ini? Andersen berharap, di balik segala luka yang bengis, ada sebuah imbalan yang setimpal. Bukan emas, bukan pula kekuasaan, melainkan sekadar kedamaian yang tidak pernah dirinya dapatkan.

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!