Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhat
Malam itu mereka akhirnya benar-benar duduk dan berbicara tangis sudah reda, tapi suasana justru terasa lebih berat karena kejujuran mulai dibuka satu per satu.
Ririn memeluk lututnya di sofa, menatap lantai cukup lama sebelum akhirnya bicara.
“Gie, gue mau cerita sesuat tapi jangan kaget.”
Anggie menoleh, ekspresinya langsung serius.
“Ada apa Rin.”
Ririn menarik napas panjang, seperti sedang menguatkan diri.
“Baskara ngajak gue nikah,” ucapnya pelan sedikit hati hati.
Anggie langsung membelalak kearah Ririn.
“Hah? Nikah?!”
“Iya.” Ririn tersenyum hambar.
“Tapi bukan nikah kaya kebanyakan orang,”
Anggie mendekat sedikit ingin mendengar cerita yang lebih detail.
“Maksud lu?”
“Dia menjajikan rumah orangtua gue yang dulu,” lanjut Ririn lirih.
“Rumah Papah, kenangan masa kecil gur kenangan orang tua gue,”
Anggie terdiam, firasatnya mulai nggak enak.
“Nikah itu bukan buat main-main Rin,” kata Anggie sedikit cemas.
“Dia bilang, dia bisa ngasih rumah itu dan sejumlah uang masalah ku selesai Gie,"
Anggie menelan ludah.
“Tapi kan ada imbalannya hidup lu, kebebasan lu,"
Ririn mengangguk pelan sedikit berusaha terlihat tenang padahal hati kecilnya tahu ini tidak benar.
“Gue harus menikah sama dia.” kata Ririn lagi sudah mengambil keputusan.
“Lu serius Rin?” Anggie mengusap wajahnya sendiri.
“Serius,” Jawab Ririn
“Dan dia nikah sama gue juga buat balas dendam.”
Anggie mengernyit kisah ini semakin di dengarkan semakin rumit.
“Balas dendam ke siapa?”
“Ke keluarga Ayahnya,” jawab Ririn pelan.
“Ada urusan lama luka, masa lalu, dendam yang nggak pernah selesai.”
Anggie terdiam lama, lalu terkekeh kecil bukan karena lucu, tapi karena nggak percaya.
“Gila,” katanya akhirnya sedikit menatap Ririn kuatir.
“Terus, acara keluarga itu?”
Ririn menghela napas berat sedikit malas meceritakan kejadian tempo hari yang memalukan itu.
“Gua sama sekali nggak tahu apa-apa, Gie,” katanya.
“Gua datang sebagai asisten. Nggak ada rencana, nggak ada omongan.”
Ririn menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara sedikit gemetar.
“Tiba-tiba dia narik gue, cium gue di depan semua orang dan bilang dengan santainya,”
Ririn menirukan nada Baskara, datar dan dingin,
‘Ini pasangan saya.’
Anggie langsung menutup mulutnya, lalu tertawa kecil tak percaya.
“Segila itu ya mantan lu?” katanya sambil terkekeh pahit.
Ririn ikut tersenyum kecil, tapi matanya berkaca-kaca.
“Aku berdiri di sana kayak patung,” ucapnya.
“Semua orang ngeliatin gue, sementara gue bahkan nggak ngerti Baskara ngapain.”
Anggie menggeleng pelan.
“Rin,” katanya lirih,
“Mantan lu penuh manipulasi.”
Ririn terdiam kata-kata itu seperti menampar pelan tapi tepat.
“Gua tahu,” jawa Ririn akhirnya.
“Tapi waktu itu gue cuma mikir satu hal gue kasihan ngeliat dia pasti traumanya dalam banget.”
Anggie meraih tangan Ririn, menggenggamnya erat.
“Kamu terlalu baik,” katanya.
“Dan Baskara terlalu tahu di mana letak kelemahan lu.”
Ririn menunduk, air mata jatuh lagi tanpa suara.
Anggie menatap Ririn lama, seolah sedang menimbang sesuatu di kepalanya nada suaranya berubah lebih pelan, lebih hati-hati.
“Rin…” panggilnya akhirnya.
“Kamu masih cinta sama Baskara?”
Ririn langsung menggeleng, cepat.
“Nggak.”
Tapi gerakan itu berhenti di tengah. Kepalanya tertahan, lalu perlahan mengangguk pelan.
Anggie menangkapnya.
“Waah udah nggak bisa di tolong,”
Ririn tersenyum tipis, getir.
“Bukan cinta,” katanya defensif.
“Bukan itu.”
“Terus apa?” tanya Anggie lembut tapi menekan. Ririn menghela napas panjang.
“Aku cuma terikat dia sama kenangan sama rasa bersalah.”
Anggie menggeleng pelan.
“Itu namanya masih punya perasaan.”
Ririn langsung mengelak.
“Nggak, Gi gue menikah sama dia bukan karena itu.”
“Terus karena apa?” desak Anggie, suaranya tetap tenang, Ririn menunduk. Tangannya saling meremas.
“Karena rumah,” jawabnya lirih.
“Rumah almarhum ayah dan ibuku.” Suaranya bergetar.
“Itu satu-satunya yang tersisa dari mereka. Kalau aku nggak ambil keputusan ini semuanya hilang.”
Anggie terdiam dadanya terasa sesak.
“Tapi kamu sadar, kan,” katanya pelan,
“kalau perasaanmu sama dia itu belum benar-benar mati?”
Ririn menggeleng lagi, kali ini lebih keras.
“Jangan bilang begitu,” ucapnya cepat.
“Gue nggak mau percaya itu.”
Anggie menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Lu boleh bohong ke semua orang, Rin. Tapi jangan ke diri kamu sendiri.”
Ririn menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Gue cuma mau rumah itu kembali,” katanya hampir berbisik.
“Cuma itu nggak lebih.” Anggie mendekat, memeluknya.
“Masalahnya,” kata Anggie lirih di telinga Ririn,
“Perasaan nggak pernah mau tunduk sama alasan selogis apa pun.”
Tangis Ririn pecah di pelukan Anggie, bukan karena Baskara tapi karena dia tahu, sebagian hatinya memang belum pernah benar-benar pergi.