Ikhtisar :
Dia bernama Ayu Purnama, anak ketiga dari empat bersaudara. Dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai supir bus sedangkan ibunya pedagang tas ayaman. Ayu memiliki 2 kakak laki-laki dan 1 adik laki-laki, Ayu kembar dengan kakak keduanya. Tapi sayangnya, meski pun Ayu anak kandung dari keluarga tersebut dia selalu di sisihkan oleh sang ibu. Karena sang ibu hanya ingin memiliki anak laki-laki, ibunya berpikir kalau anak perempuan tidak akan bisa mengangkat derajat keluarganya dan keluar dari keterpurukan.
Suatu hari, ada seorang laki-laki dari keluraga kaya raya yang menyukainya karena kecantikan dan kegigihannya. Tetapi Ayu masih memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah, dia nekat untuk kabur dari rumahnya untuk mewujudkan cita-citanya. Apakah kepergian Ayu kan membuahkan hasil dan menjadi sukses setelah meninggalkan rumahnya itu ? Silahkan simak ceritanya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Kepergian Ayu
“Kejarlah cita-citamu sampai mana pun, meski pun banyak orang yang meremehkan keadaanmu”
_ Ayu Purnama _
Setelah pertengkaran kedua orang tuanya, Ayu bergegas masuk ke kamarnya karena hari ini dia tidak akan pergi bekerja karena hari sudah siang pasti kaan terlambat ke toko.
Dan entah kenapa, tiba-tiba pikirannya terlintas dalam benaknya.
“Atau aku pergi saja dari rumah ini, lagian mama selalu menganggap aku itu beban. Siapa tahu setelah kepergianku, mereka akan hidup bahagia bersama kak Yudi dan yang lainnya yang selalu mama bangga-banggakan itu” Ucap Ayu
Ayu pun memantapkan hatinya untuk meninggalkan rumah itu, tentunya pada malam hari nanti saat semua orang sudah tertidur nyenyak. Untuk menunjang niatnya yang ingin pergi dari rumah itu, dia mengambil tabungannya yang di simpan di celengan ayam.
Uang yang dia tabung berasal dari hasil dia bekerja di toko baju dan rumah makan, Ayu tersenyum dan berharap uang yang ada di tabungan itu bisa membantunya untuk menggapai apa yang dia mau. Di usianya yang masih 21 tahun, tidak jadi masalah baginya untuk berjuang sendiri. toh, dari dulu juga dia selalu berjuang sendiri dan jika orang tuanya tidak bisa mengantarkan dia ke jenjang kesuksesan.
*****
Waktu berputar begitu cepat, sehingga langit yang semula terang benderang telah berubah menjadi gelap gulita. Keluarga sedang mengobrol bersama di ruang tamu, kesempatan ini digunakan Ayu dengan sebaik mungkin lalu menulis sebuah surat.
Untuk keluargaku :
Mama, bapa, kak Yudi dan kak Aizam. Aku pamit pergi dari rumah ini, maafkan aku pergi tanpa pamit kepada kalian. Aku gak mau menjadi beban untuk bapak dan mama, karena aku tidak mau menikah dengan bang Rendy karena terpaksa.
Maafkan kesalahanku ini, karena aku sudah tidak sanggup lagi bertahan hidup bersama mama di rumah ini. Sudah cukup 21 tahun ini, aku hidup dengan kekurangan kasih sayang dari mama. Sekarang aku sudah cape, aku ingin mengejar cita-citaku dan doakan langkah kakiku semoga bisa semakin dengan dengan apa yang telah aku cita-citakan.
Maafkan aku, karena aku tidak bisa melanjutkan pernikahan aku dengan bang Rendy dan tolong sampaikan maaf kepada kelurga pak Darma. Aku memutuskan ini karena aku telah mengerjakan sholah istiharoh, dan jawabannya dia bukan jodoh terbaik untukku. Sekali lagi, maafkan aku semuanya.
Setelah meletakkan surat itu di atas meja kamarnya, Ayu pergi dan mengendap-ngendap lewat pintu jendela kamarnya sambil memeluk tasnya. Tas yang berisi barang-barang pribadi yang dia butuhkan, tak terasa air matanya bercucuran, mengiringi niat hati dan tekad kuat untuk mengubah hidupnya.
Di perjalanan, Ayu melihat ada selembar brosur yang menjelaskan tentang beasiswa untuk bisa kuliah. Melihat itu, Ayu tersenym dan terus menyusuri jalan setapak yang sepi. Dia di temani dengan ponsel pemberian Maryam tempo lalu. Malam ini dia kana ke rumah Evi, dan akan ikut menginap sebentar di sana.
Sesampai di rumah Evi …
TOK … TOK … TOK …
“Assalamu’alaikum” Ucap Ayu
“Wa’alaikumsalam, sebentar” Jawab Ees, maminya Evi
Saat membukakan pintu …
“Eh Ayu, kenapa malam-malam ke rumah tante ? Ada apa ? Kok sambil bawa tas segala Yu ?” Tanya Ees khawatir
“Evinya ada tante ?” Tanya Ayu
“Ada di dalam, ayo masuk sayang” Jawab Ees tersenyum sambil membawa Ayu masuk
Melihat perhatian Ees padanya, membuat Ayu merasa iri karena Evi sangat beruntung memilki ibu yang sangat baik dan sangat menyayanginya.
“Yu, kamu ke sini malam-malam. Ada apa ?” Tanya Evi khawatir
“Kamu masih kuliah di Yogyakarta kan Vi ?” Tanya Ayu
“Iya, karena aku kuliahnya masih lama kan aku ngambil kedokteran. Memangnya kenapa Yu ?” Ujar Evi
“Aku ingin mencoba mendaftar ke kampus itu, dan mengambil jurusan manajemen” Jawab Ayu
Tak lama Ees datang sambil membawa minuman …
“Apa kamu sudah meminta izin kepada mama sama bapa kamu, Yu ?” Tanya Ees
Mendegar itu membuat Ayu merasa sedih, karena Ayu dan Ees sudah dekat dan sudah menganggap Ees seperti ibunya sendiri. Ayu pun menceritkan semuaya kepada Ees, tanpa terkecuali.
“Tapi setelah mendengar cerita dari kamu, tante akan mendukung kamu dan tante juga akan membantu kamu dalam menempuh Pendidikan kamu di sana” Ujar Ees
“Tidak usah tante, Ayu mau berjuang dengan tangan Ayu sendiri. Ayu akan mencari pekerjaan di sana, dan sambil kuliah” Tolah Ayu
“Ya sudah kalau gitu, bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaan milik teman tante. Lumayan kuliah sambil kerja, buat tambah-tambah penghasilan” Ujar Ees
“Boleh tante, makasih ya sudah mau membantu aku” Kata Ayu
“Sama-sama, kamu ini seperti sama siapa saja. kamu sudah tante anggap seperti anak sendiri, dan kalian kapan akan berangkatnya ?” Ucap Ees
“Kalau dua hari lagi bagaimana ? Karena 1 minggu lagi aku ada ujian, jadi aku harus ada di sana untuk mengumpulkan berkas-berkas” Ujar Evi
“Boleh, aku ikut kamu saja” Jawab Ayu
“Kan selama itu Ayu nginap di sini saja, lumayan ada teman buat masak karena Evi tidak suka masak jadi sekarang tante ada teman untuk masak” Ucap Ees sangat gembira sambil memeluk Ayu
Melihat mamanya yang sangat bahagia dengan sahabatnya, membuat Evi juga merasa bahagia karena Evi juga tahu Ayu kekurangan kasih sayang seorang ibu.
“Mama jangan menyusahkan Ayu, selama dia menginap di sini” Ujar Evi
“Gak papa Vi, aku senang kalau ada teman yang suka masak. Nanti Ayu akan ikut masak sama tante, masakin kesukaan tante” Jawab Ayu
“Beneran Yu ?” Tanya Ees dengan mata berbinar
“Iya tante” Jawab Ayu
“Mmmmuah, sayang Ayu pokoknya” Ucap Ees sambil mencuim pipi Ayu membuat Ayu tersenyum
Melihat kasih sayang dari Ees membuat Ayu berpikir, kenapa dia tidak mendapatkan kasih sayang dari Lastri selaku ibu kandungnya sendiri dan dia malah mnedapatkan kasih sayang dari mama sahabatnya itu.
“Aku sangat bersyukur memiliki sahabat dan mamanya yang sangat baik, aku akan membalas kebaikannya suatu hari nanti” Gumam Ayu dalam hati