Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Puing-puing bangunan kantor Mitra Desa masih mengeluarkan asap tebal saat mobil mewah Pak Pratama berhenti mendadak di depan gerbang. Arlan segera melompat keluar bahkan sebelum roda kendaraan itu benar-benar berhenti berputar. Matanya menyisir sisa-sisa tembok yang kini sudah rata dengan tanah.
"Mbak Maya!" teriak Arlan dengan suara yang parau.
Langkah kaki Arlan tertuju pada area yang dulunya merupakan ruang server. Kayu penyangga yang terbakar jatuh menghalangi jalan masuk utama. Dia mencoba menggeser sebuah balok kayu besar dengan tangan kosong, mengabaikan rasa panas yang mulai menusuk telapak tangannya.
"Arlan, jangan lewat sana! Bangunannya masih sangat tidak stabil!" teriak Siska sambil berlari menyusul dari arah belakang.
"Maya masih ada di dalam, Siska! Dia tidak menjawab panggilan sistem sejak ledakan terjadi!" balas Arlan tanpa menghentikan usahanya.
Arlan melihat sebuah tangan kecil yang tertutup debu semen menyembul dari balik runtuhan meja kerja. Dia segera mempercepat gerakannya, menggali tumpukan berkas dan serpihan kaca yang menimbun tubuh rekannya. Di bawah sana, Maya terbaring dengan posisi meringkuk, melindungi kepalanya menggunakan tas punggung yang sudah robek.
"Mbak Maya, bangun! Ini saya, Arlan!" ucap Arlan sambil membersihkan debu dari wajah Maya.
Wanita berkacamata itu perlahan membuka matanya. Dia terbatuk beberapa kali karena debu yang masuk ke paru-parunya. Kacamata bulatnya sudah pecah di satu sisi, namun tangannya masih mendekap erat sebuah benda berbentuk kotak hitam kecil.
"Data... datanya sudah aku selamatkan ke dalam drive fisik ini, Arlan," bisik Maya dengan suara yang sangat lemah.
"Lupakan soal data itu, Mbak. Yang penting Mbak selamat," sahut Arlan sambil membantu Maya duduk tegak.
Pak Pratama berdiri di kejauhan bersama tim keamanannya yang baru saja sampai. Beliau menatap reruntuhan kantor itu dengan ekspresi wajah yang datar, seolah-olah kehancuran ini hanyalah angka kerugian di atas kertas.
"Pastikan tim medis segera membawa wanita itu ke rumah sakit terbaik. Saya tidak ingin saksi kunci kita menghilang sekarang," perintah Pak Pratama kepada salah satu ajudannya.
Arlan menoleh ke arah Pak Pratama dengan tatapan yang sangat tajam. Dia menyadari bahwa bagi pria tua itu, nyawa Maya hanyalah sebuah instrumen hukum untuk menjatuhkan Wirawan.
"Bapak tahu ledakan ini akan terjadi?" tanya Arlan sambil berdiri menghadapi atasannya tersebut.
"Wirawan adalah orang yang sangat ceroboh saat dia sedang terpojok, Arlan. Saya sudah memperingatkanmu bahwa jalan ini tidak akan mudah," jawab Pak Pratama sambil memperbaiki letak jasnya.
"Tapi Bapak tidak melakukan apa pun untuk menghentikan sabotase ini meskipun Bapak punya tim keamanan yang lengkap!" teriak Arlan dengan penuh emosi.
"Dunia bisnis terkadang membutuhkan sedikit api untuk membersihkan sisa-sisa hama, Arlan. Sekarang, Wirawan sudah melakukan tindak pidana murni, bukan sekadar persaingan logistik lagi," ucap Pak Pratama dengan nada suara yang sangat tenang.
Siska segera menengahi perdebatan itu saat melihat Arlan mulai mengepalkan tangannya.
"Arlan, kita harus membawa Maya ke ambulans sekarang. Tim medis sudah menunggu di sana," kata Siska sambil memegang pundak Arlan.
Arlan menarik napas panjang untuk menahan amarahnya. Dia membantu petugas medis mengangkat tandu Maya masuk ke dalam mobil ambulans. Di sudut matanya, sistem kembali memberikan notifikasi dengan warna yang tidak biasa.
[Sistem: Pemulihan Integritas Data Berhasil] [Status: Server Utama Dialihkan ke Protokol 'Arlan Corp' secara Mandiri] [Pesan Tersembunyi: Maya sengaja memicu ledakan kecil pada sirkuit server untuk menghentikan proses penyalinan data ilegal oleh pihak luar.]
Arlan terkejut menyadari fakta baru tersebut. Ternyata Maya jauh lebih cerdik dan berani daripada yang dia bayangkan. Wanita itu tidak sekadar menjadi korban, tapi dia aktif melakukan perlawanan teknis saat kantornya diserbu.
"Siska, kamu ikut dengan Maya ke rumah sakit. Aku punya urusan yang harus diselesaikan dengan Pak Pratama sekarang juga," perintah Arlan dengan nada yang sangat berwibawa.
"Tapi Arlan, keadaan di sini masih sangat berbahaya," sahut Siska dengan nada cemas.
"Bahaya yang sebenarnya adalah jika aku membiarkan permainan ini terus berlanjut tanpa kendali dariku sendiri, Siska," jawab Arlan sambil menatap mobil mewah Pak Pratama yang masih terparkir.
Setelah ambulans pergi, Arlan berjalan mendekati Pak Pratama yang sedang sibuk berbicara melalui ponselnya.
"Pak Pratama, saya ingin kita bicara soal kepemilikan saham di Arlan Corp sekarang juga," ucap Arlan tanpa basa-basi sedikit pun.
Pak Pratama mematikan sambungan teleponnya dan menatap Arlan dengan alis yang terangkat.
"Saham? Kamu baru saja kehilangan kantormu, dan kamu ingin bicara soal kepemilikan bisnis?" tanya Pak Pratama dengan nada meremehkan.
"Kantor itu bisa dibangun lagi dalam satu malam jika saya punya akses ke dana asuransi Megantara yang Bapak kelola. Tapi data jalur selatan yang ada di tangan saya sekarang adalah satu-satunya alasan kenapa Megantara masih punya nilai di bursa saham besok pagi," jawab Arlan dengan penuh percaya diri.
"Kamu mulai berani mengancam saya, Arlan?" tanya Pak Pratama sambil menyipitkan matanya.
"Saya hanya sedang melakukan negosiasi yang adil. Saya ingin Arlan Corp berdiri sepenuhnya secara independen, lepas dari bayang-bayang Megantara. Sebagai imbalannya, saya akan memberikan Bapak akses eksklusif untuk jalur distribusi kami selama lima tahun," tawar Arlan.
Pak Pratama terdiam cukup lama. Dia melihat ke arah reruntuhan bangunan yang masih berasap, lalu kembali menatap pemuda di depannya.
"Kamu memiliki bakat yang sangat berbahaya untuk ukuran anak daerah, Arlan. Baiklah, saya akan menyetujui persyaratanmu, tapi dengan satu syarat tambahan," ucap Pak Pratama.
"Syarat apa lagi, Pak?" tanya Arlan dengan nada waspada.
"Kamu harus memastikan Wirawan membusuk di penjara dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Saya tidak ingin ada gangguan lagi pada rencana ekspansi kita ke wilayah selatan," perintah Pak Pratama.
Arlan mengangguk perlahan. Dia tahu bahwa tugas ini akan membawanya masuk ke dalam konfrontasi langsung dengan sisa-sisa kekuatan Wirawan yang masih tersisa.
"Saya akan melakukannya, Pak. Tapi saya butuh akses ke database Logistik Nusantara yang Bapak sembunyikan selama ini," pinta Arlan.
"Ambil ini. Gunakan dengan bijak, karena sekali kamu membukanya, tidak ada jalan pulang bagi siapapun yang terlibat," jawab Pak Pratama sambil menyodorkan sebuah kartu akses digital berwarna perak.
Arlan menerima kartu itu dan segera berjalan menuju motor operasional yang masih terparkir dengan selamat di pinggir jalan. Dia menyalakan mesin kendaraan tersebut dan melesat pergi meninggalkan lokasi ledakan.
Di sepanjang jalan, Arlan memikirkan rencana selanjutnya. Dia harus menemui seseorang yang selama ini berada di balik bayang-bayang Tegar, seseorang yang mungkin memegang kunci tentang kelemahan pribadi Wirawan.
Arlan berhenti di depan sebuah kedai kopi kecil di pinggiran kota yang sudah hampir tutup. Di sana, seorang pemuda dengan jaket kulit hitam sedang duduk sendirian sambil menyesap kopi pahitnya.
"Kamu datang juga akhirnya, Arlan," ucap pemuda itu tanpa menoleh.
"Aku tidak menyangka kamu akan memintaku bertemu di tempat seperti ini, Tegar," jawab Arlan sambil duduk di kursi seberang meja.
Tegar menatap Arlan dengan wajah yang tampak sangat hancur. Tidak ada lagi keangkuhan yang biasanya terpancar dari gaya bicaranya.
"Paman sudah gila, Arlan. Dia yang meledakkan kantor itu, padahal dia tahu aku masih sering berada di sana untuk memantau server," bisik Tegar dengan suara yang bergetar.
"Kamu punya bukti bahwa dia yang memberikan perintah ledakan itu?" tanya Arlan dengan nada yang sangat serius.
"Aku punya rekaman suara percakapan teleponnya dengan kepala preman itu. Aku akan memberikannya padamu, tapi aku ingin satu hal sebagai imbalannya," kata Tegar sambil mengeluarkan sebuah alat perekam suara kecil dari sakunya.
"Apa yang kamu inginkan dari orang yang baru saja kehilangan segalanya sepertiku?" tanya Arlan.
"Selamatkan ibuku. Paman menyanderanya di gudang utama Logistik Nusantara agar aku tidak bicara ke polisi," ucap Tegar sambil meneteskan air mata.
Arlan terdiam sejenak. Dia tidak menyangka bahwa Wirawan akan melangkah sejauh itu, bahkan mengorbankan keluarganya sendiri demi menutupi kesalahannya.
"Kenapa kamu tidak melapor ke polisi saja?" tanya Arlan.
"Polisi di daerah ini ada di bawah kendali paman, Arlan. Hanya kamu yang punya akses ke pusat melalui Pak Pratama," jawab Tegar dengan nada memohon.
Arlan mengambil alat perekam itu dan memasukkannya ke dalam saku. Dia menyadari bahwa misi ini baru saja berubah dari sekadar perang bisnis menjadi misi penyelamatan nyawa manusia.
"Aku akan mencoba menyelamatkan ibumu, Tegar. Tapi jika kamu berbohong sedikit saja, aku akan memastikan kamu ikut masuk ke penjara bersama pamanmu," ancam Arlan dengan nada dingin.
"Aku tidak punya alasan lagi untuk berbohong, Arlan. Aku sudah kehilangan segalanya," sahut Tegar sambil menundukkan kepalanya.
Arlan segera meninggalkan kedai kopi itu dan memacu motornya menuju gudang utama Logistik Nusantara yang terletak di wilayah industri yang sangat terpencil. Di kepalanya, sistem terus memberikan rute tercepat dan analisis keamanan pada bangunan sasaran.
[Sistem: Target Lokasi Teridentifikasi] [Peringatan: Jumlah Penjaga di Area Gudang Meningkat Tiga Kali Lipat] [Status: Persiapan Operasi Penyusupan Dimulai]
Saat Arlan sampai di dekat gerbang gudang, dia melihat sebuah mobil patroli polisi yang sedang terparkir di dalam area tersebut. Hal ini membuktikan bahwa perkataan Tegar soal keterlibatan aparat lokal memang benar adanya.
Arlan menyelinap melalui celah pagar kawat yang sudah dia potong sebelumnya. Dia bergerak dengan sangat hati-hati di balik tumpukan kontainer raksasa. Tiba-tiba, suara teriakan seorang wanita terdengar dari arah bangunan kantor yang ada di dalam gudang tersebut.
"Jangan sentuh saya! Saya akan melaporkan kalian semua ke Jakarta!" teriak wanita itu.
Arlan mempercepat langkahnya, namun langkahnya terhenti saat dia melihat sosok Wirawan sedang berdiri di balkon kantor sambil memegang sebuah pemantik api di tangannya. Di bawah balkon tersebut, puluhan drum bahan bakar sudah tertumpuk rapi, siap untuk diledakkan kembali.
"Kamu pikir kamu bisa menang dengan cara kotor ini, Arlan?" teriak Wirawan yang ternyata sudah menyadari kehadiran Arlan di bawah sana.
Arlan keluar dari bayang-bayang kontainer dan menatap Wirawan dengan berani.
"Lepaskan ibu Tegar, Pak Wirawan. Semuanya sudah berakhir. Rekaman suara Bapak sudah ada di tangan saya dan Pak Pratama," jawab Arlan dengan suara yang lantang.
Wirawan tertawa dengan nada yang sangat histeris, tawa seorang pria yang sudah kehilangan kewarasannya.
"Pak Pratama? Dia adalah orang yang memberikan ide kepadaku untuk menggunakan bahan peledak di kantor Mitra Desa, Arlan! Dia ingin kita saling menghancurkan agar dia bisa menguasai pasar logistik secara mutlak!" teriak Wirawan.
Arlan membeku di tempatnya mendengar pernyataan tersebut. Dia menyadari bahwa pengkhianatan yang sesungguhnya berasal dari orang yang selama ini dia anggap sebagai mentornya.
"Bapak berbohong!" teriak Arlan.
"Cek saja saldo rekening perusahaan cangkang milik Pratama. Ada aliran dana besar yang masuk ke rekening para preman itu sesaat sebelum ledakan terjadi!" balas Wirawan sambil melemparkan pemantik api yang menyala ke arah tumpukan drum di bawahnya.
Arlan melompat sekuat tenaga untuk menjauh, namun suara dentuman besar kembali mengguncang bumi tepat saat cahaya api membubung tinggi ke langit malam.