NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benarkah Hanya Sebatas Pengganti

"Dia... dia sekarat, Dok?" tanya Devan, air mata pertamanya menetes tanpa permisi.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menstabilkan kondisinya malam ini. Tapi saya harus jujur, Pak. Harapannya tipis, tubuhnya sudah terlalu lelah, semangat hidupnya sepertinya juga sudah patah."

Devan membekap mulutnya, mencobanya untuk tidak menjerit karena rasa bersalah yang menggerogoti hatinya

Dokter itu menatap Devan iba. "Seringkali, pasien kanker bertahan karena dukungan keluarga. Tapi melihat kondisi nyonya Putri yang datang sendirian dengan bekas kekerasan fisik di wajahnya, sepertinya beliau berjuang sendirian."

Devan menunduk dalam, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang hebat.

Rasa bersalah itu bukan lagi ombak, melainkan tsunami yang menghantamnya hingga hancur lebur.

Devan telah menyiksa istrinya yang sedang sekarat, ia telah menjadi monster bagi satu-satunya wanita yang melayaninya dengan tulus hingga detik terakhir kesadarannya.

"Maafin aku, Put. Maafin aku," isak Devan pecah di ruangan dokter yang sunyi itu. "Bangun, Put. Tolong bangun! Maki aku, pukul aku, tapi jangan pergi kayak gini."

Malam itu, di balik dinding rumah sakit yang dingin, ego Devan mati sepenuhnya, digantikan oleh penyesalan yang akan menghantuinya seumur hidup.

***

Masa pengobatan Putri adalah masa-masa yang aneh bagi hubungan mereka. Devan ada di sana, tapi tidak sepenuhnya di sana.

Pria itu membayar ruang VIP terbaik, membelikan obat-obatan impor termahal, bahkan rela tidur di sofa rumah sakit yang keras alih-alih pulang ke kasur empuknya. Namun, setiap kali Putri menatapnya dengan mata berbinar penuh terima kasih, Devan segera mematikan harapan itu dengan kalimat tajam.

"Jangan senyum-senyum," ketus Devan saat menyuapkan potongan apel ke mulut Putri dengan sedikit memaksa. "Aku lakuin ini bukan karena aku cinta sama kamu. Aku cuma nggak mau kamu mati sekarang. Itu terlalu mudah buat kamu."

Putri mengunyah apel itu perlahan, menelan rasa pahit dari ucapan suaminya. Rambutnya mulai rontok akibat kemoterapi, dan wajahnya semakin tirus.

"Terus kenapa Mas ngerawat aku?" tanya Putri lirih.

Devan meletakkan pisau buah dengan kasar, ia menatap lurus ke mata istrinya yang cekung.

"Karena Tamara belum balik," jawab Devan dingin, menggunakan nama itu sebagai tameng.

"Jadi, karena itu alesannya." Putri menghela napas berat.

"Kamu ada di sini buat gantiin posisi dia. Kalau kamu mati sebelum dia balik, siapa yang bakal ngisi kekosongan di rumah? Aku nggak mau repot cari pengganti lagi. Jadi, kamu harus hidup. Kamu harus bertahan sampe dia kembali," pungkas Devan sinis.

Putri tersenyum getir. "Jadi aku cuma placeholder, Mas? Penjaga tempat duduk sampai pemilik aslinya datang?"

"Tepat," jawab Devan cepat, "jadi... habisin bubur kamu ini. Aku nggak mau investasi uang ratusan juta, buat pengobatan kamu cuma untuk liat kamu nyerah."

Meskipun kata-katanya kejam, tindakan Devan seringkali mengkhianatinya.

Devan lah yang terbangun tengah malam saat Putri mengerang kesakitan, memijat punggung istrinya sampai Putri tertidur kembali. Devanlah yang diam-diam membuang bunga dari rekan bisnisnya yang ternyata membuat Putri alergi.

Egonya berteriak bahwa ia hanya menjaga aset, tapi hatinya mulai terbiasa dengan kehadiran Putri yang rapuh, namun tabah.

Sore itu, Devan keluar sebentar dari rumah sakit. Ia berhenti di depan sebuah butik ternama tidak jauh dari rumah sakit tempat Putri dirawat.

Niat awalnya hanya ingin membelikan beanie atau topi rajut yang modis untuk menutupi kepala Putri yang mulai botak. Ia tidak ingin melihat Putri sedih saat bercermin.

"Bukan karena aku peduli," batin Devan menyangkal, "cuma biar dia nggak stres dan kondisi darahnya makin drop."

Saat Devan hendak melangkah masuk ke butik, sebuah suara yang sangat familiar, suara yang dulu selalu ia rindukan, memanggil namanya.

"Devan?"

Langkah Devan terhenti, tubuhnya menegang. Suara itu... suara dari masa lalu yang ia pikir sudah hilang.

Ia menoleh perlahan.

Di sana, orang yang berdiri hanya beberapa meter darinya, adalah Tamara.

Wanita itu masih cantik, sangat cantik dengan rambut panjang bergelombang yang terawat dan gaun desainer yang membalut tubuh rampingnya. Namun, ada gurat kelelahan di wajahnya, dan matanya tidak secerah dulu.

"Tamara..." bisik Devan, nyaris tak percaya.

Detik berikutnya, Tamara menghambur ke pelukannya. Aroma parfum rose yang menyengat, sangat berbeda dengan aroma minyak kayu putih yang kini lekat pada Devan, menusuk hidungnya.

"Devan... Ya Tuhan, aku kangen banget sama kamu," isak Tamara di dada Devan.

"Tamara, lepasin! Banyak mata yang melihat ke sini," ucap Devan risih.

"Maafin aku, Van. Maafin aku..."

Devan terpaku, tangannya kaku di sisi tubuhnya, bingung harus membalas pelukan itu atau tidak. Dulu, ini adalah momen yang paling ia impikan. Tamara kembali, memeluknya, dan memilihnya.

Tapi kenapa sekarang rasanya... hampa?

Kenapa di kepalanya justru terbayang wajah pucat Putri yang sedang menunggunya di kamar rumah sakit?

Devan perlahan melepaskan pelukan Tamara, menatap mantan tunangannya itu. "Kapan kamu balik? Aku denger kamu pergi sama Reno.

Wajah Tamara berubah keruh. Ia menghapus air matanya dengan tisu. "Reno brengsek, Van. Dia selingkuh, dia kasar. Dia nggak kayak kamu. Aku sadar aku salah. Aku sadar cuma kamu yang bener-bener cinta sama aku."

Tamara menatap Devan penuh harap, tangannya meraih tangan Devan.

"Kita bisa mulai lagi kan, Van? Aku denger kamu nikah sama Putri..." Tamara tertawa kecil, nada meremehkan terselip di sana. "Sama adik tiri aku yang ceroboh dan enggak bisa apa-apa itu? Itu kamu pasti cuma terpaksa kan karena aku pergi? Sekarang aku udah balik, Van. Kamu bisa ceraiin dia. Kamu bisa balikin dia ke tempat asalnya, dan kita nikah beneran."

Kata ceraikan dia, balikin dia. Kata-kata itu seharusnya terdengar seperti musik di telinga Devan. Itu rencananya sejak awal, menunggu Tamara, lalu membuang Putri.

Namun, saat mendengarnya langsung dari mulut Tamara, Devan merasakan gejolak amarah yang aneh. Ia tidak suka cara Tamara menyebut Putri, Ia tidak suka nada meremehkan itu.

Putri bukan barang yang bisa dibalikin begitu saja, apalagi dalam kondisinya sekarang yang sedang berjuang antara hidup dan mati.

"Putri sakit, Tam," ucap Devan datar, menarik tangannya dari genggaman Tamara.

"Sakit?" Tamara mengernyit, seolah itu hal yang tidak penting. "Sakit apa? Paling cuma demam biasa, kan? Dia kan emang lemah dari dulu. Udahlah, jangan bahas dia. Yang penting sekarang aku udah di sini, aku mau kita balik kayak dulu."

Tamara mencoba memeluk lengan Devan lagi dengan manja. "Ayo kita makan malam, Van. Aku laper banget. Kita rayain pertemuan kita."

Devan menatap butik di belakang Tamara, lalu menatap wanita di depannya.

Ini adalah ujian, Tamara adalah cinta sejatinya, atau begitulah yang ia yakini selama ini. Sedangkan Putri... Putri hanyalah pengganti.

Devan menarik napas panjang, menekan rasa bersalah yang tiba-tiba muncul karena teringat Putri yang sedang menunggunya sendirian di jam minum obat.

"Oke," jawab Devan akhirnya, suaranya terdengar jauh. "Kita makan."

Devan menuruti egonya. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa perasaannya pada Putri hanyalah rasa kasihan, dan cintanya pada Tamara masih ada.

Namun, saat mereka berjalan beriringan, hati Devan terasa berat. Ia meninggalkan topi rajut yang hendak ia beli di etalase toko.

***

Di rumah sakit, Putri menatap jam dinding yang terus berdetak. Sup di mejanya sudah dingin, Devan bilang ia hanya keluar sebentar.

"Mungkin macet," hibur Putri pada dirinya sendiri, sambil memeluk lututnya yang gemetar karena efek samping kemoterapi.

Ia tidak tahu, bahwa di luar sana, alasan Devan untuk melepaskannya telah kembali. Dan jam pasir waktunya bersama Devan kini tinggal menyisakan butiran-butiran terakhir.

Jarum jam di dinding rumah sakit sudah menunjuk angka sebelas malam. Di luar, hujan sisa sore tadi masih menyisakan gerimis yang mengetuk-ngetuk jendela kaca, menciptakan irama sepi yang menemani Putri.

Putri masih duduk bersandar di ranjangnya, menahan kantuk. Matanya yang sayu terus menatap pintu, menunggu.

Hatinya berdebar aneh malam ini. Bukan karena takut, tapi karena sepercik harapan yang mulai ia izinkan tumbuh.

Beberapa hari terakhir, Devan berubah. Meski mulutnya masih tajam, tapi tangannya lembut saat menyeka tubuh Putri.

Pria itu ada di sana saat Putri mual, memijat tengkuknya. Devan bahkan marah besar pada perawat yang telat mengganti infus Putri.

"Mas Devan mulai peduli," batin Putri, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya yang kering. "Mungkin... mungkin benar kata dokter. Jika aku semangat sembuh, sel kanker ini bisa ditekan. Aku ingin sembuh. Aku ingin hidup lebih lama lagi bersama mas Devan." Putri larut dalam lamunannya.

Suara gagang pintu yang ditekan membuyarkan lamunannya.

Pintu terbuka, sosok tinggi tegap itu masuk, dan itu adalah Devan.

"Mas," sapa Putri lembut, wajahnya langsung cerah."

"Hmmm..." Devan hanya melirik sekilas.

"Kok malam banget? Macet ya?"

Devan tidak langsung menjawab. Ia berdiri di ambang pintu sejenak, menatap Putri dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tidak ada kehangatan yang biasa ia tunjukkan seminggu terakhir. Wajahnya keruh, rahangnya mengeras, dan matanya... matanya kembali dingin, sedingin saat pertama kali mereka menikah

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!