"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 6
Suasana pagi di koridor lantai tiga Fakultas Teknik terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal, pendingin ruangan baru saja dinyalakan. Bagi Sasya, udara hari ini mengandung partikel-partikel ketegangan yang bisa membuat paru-parunya mendadak corrupt. Hari ini adalah jadwal Sidang Proposal Skripsinya. Sebuah fase krusial yang menentukan apakah penelitiannya layak dilanjutkan atau berakhir di tempat sampah birokrasi.
Sasya berkali-kali merapikan jas almamaternya di depan cermin toilet. "Lo bukan cuma bawa nama baik lo, Sya. Lo bawa harga diri Pak Alkan yang udah pasang badan buat lo," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Namun, kejutan buruk datang saat ia melihat papan pengumuman di depan ruang sidang. Namanya tertera di sana, tapi daftar pengujinya membuat jantung Sasya seolah berhenti berdetak:
Ketua Penguji: Dr. Ardan (Dosen senior paling pelit nilai).
Penguji Anggota: Bu Sarah, S.E.M.T. (Dosen Ekonomi-Digital yang kemarin sempat salah paham).
Pembimbing: Alkan Malik Al-Azhar, M.T.
"Put, gue mending disuruh coding ulang satu aplikasi dari nol daripada harus diuji Bu Sarah," keluh Sasya pada Putri yang setia menemani di depan ruang sidang.
"Sya, dengerin gue. Ini ujian akademik, bukan ajang perebutan cowok. Bu Sarah itu profesional. Dia nggak mungkin jatuhin lo cuma gara-gara masalah personal, kan?" Putri mencoba menenangkan, meski suaranya sendiri terdengar ragu.
"Lo nggak liat muka dia pas liat kotak bekal kemarin, Put? Itu bukan muka profesional, itu muka 'lo-udah-masuk-ke-wilayah-gue'. Dan sekarang, gue masuk ke kandangnya."
Pintu ruang sidang terbuka. Alkan keluar dengan wajah yang sulit dibaca. Ia melihat Sasya yang sedang pucat pasi. Alkan berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Sasya, memberikan jarak yang cukup agar tidak menimbulkan desas-desus.
"Siapkan presentasi kamu. Jangan defensif kalau dikritik. Jawab dengan data, bukan dengan perasaan," ujar Alkan dengan suara rendah namun sangat tegas.
Sasya mendongak. "Pak... Bu Sarah pengujinya?"
Alkan mengangguk kecil. "Dia diminta Dekanat untuk menguji dari sisi analisis ekonomi digitalnya. Tidak ada hubungannya dengan hal lain. Fokus saja pada konten penelitian kamu. Saya ada di sana sebagai pembimbing, tapi saya tidak bisa membantu kalau argumen kamu lemah."
Kalimat terakhir Alkan terdengar seperti peringatan. Sasya menarik napas panjang, mengangguk, lalu melangkah masuk ke "ruang eksekusi".
Di dalam ruangan, suasana terasa sangat formal. Dr. Ardan tampak sibuk membolak-balik draf Sasya dengan dahi berkerut, sementara Bu Sarah duduk dengan tegak, memegang pulpen merah dengan jemari yang lentik.
"Silakan dimulai, Saudari Sasya," buka Dr. Ardan tanpa basa-basi.
Sasya memulai presentasinya. Sepuluh menit pertama berjalan lancar. Suaranya yang tadinya bergetar perlahan menjadi stabil saat ia menjelaskan algoritma optimasi yang ia bangun. Namun, saat sesi tanya jawab dibuka, "serangan" dimulai.
"Saudari Sasya," Bu Sarah memotong pembicaraan dengan suara lembut namun tajam. "Saya melihat ada bias dalam pengambilan data Anda. Di halaman 45, Anda menyebutkan bahwa model ini paling efektif untuk UMKM. Tapi secara ekonomi, parameter yang Anda gunakan terlalu... optimis. Apakah ini murni hasil riset, atau ada 'arahan' khusus dari pembimbing agar terlihat sempurna?"
Pertanyaan itu mengandung sindiran halus. Alkan yang duduk di samping meja penguji hanya diam, kedua tangannya terlipat di depan dada. Ia tidak membela.
"Izin menjawab, Bu," Sasya berusaha tetap tenang. "Parameter tersebut diambil berdasarkan survei lapangan di lima titik UMKM. Pak Alkan selaku pembimbing justru mengarahkan saya untuk lebih skeptis, bukan optimis. Jika Ibu merasa ini terlalu optimis, mungkin itu karena potensi digitalisasi kita memang sebesar itu, bukan karena arahan subyektif."
Bu Sarah tersenyum tipis. "Sangat percaya diri ya. Tapi saya dengar, hubungan Anda dengan pembimbing cukup... dekat? Sampai-sampai urusan logistik kantor pun Anda yang menangani?"
Ruang sidang mendadak senyap. Dr. Ardan melirik Bu Sarah dengan bingung, sementara Alkan menatap Bu Sarah dengan tatapan yang sangat dingin.
Sasya merasa telinganya panas. Ini sudah di luar jalur akademik. "Mohon maaf, Bu. Saya rasa pertanyaan itu tidak relevan dengan proposal saya. Tapi jika Ibu butuh klarifikasi, saya di sini sebagai mahasiswi yang sedang menjalankan kewajiban akademik. Urusan lain di luar itu tidak mengubah validitas algoritma saya."
"Cukup," suara Alkan memotong. Suaranya tidak keras, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Bu Sarah, silakan fokus pada konten ilmiah. Urusan integritas mahasiswi bimbingan saya adalah tanggung jawab saya sepenuhnya di depan komite etik jika memang ada yang dilanggar. Sekarang, silakan ajukan pertanyaan yang berkaitan dengan bab dua dan tiga."
Bu Sarah tampak tersentak. Ia tidak menyangka Alkan akan menegurnya secara terbuka di depan dosen senior. Dr. Ardan berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Ya, ya... mari kembali ke metode penelitian. Saya tertarik dengan cara kamu menangani missing data..."
Dua jam kemudian, Sasya keluar dari ruangan dengan kaki lemas. Ia dinyatakan lolos dengan banyak revisi. Begitu pintu tertutup, ia langsung menuju taman belakang kampus yang sepi, tempat ia bisa menangis tanpa ada yang melihat.
Ternyata, mencintai Alkan memiliki konsekuensi yang lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia bukan hanya harus pintar, tapi juga harus punya kulit setebal baja untuk menghadapi fitnah.
"Kenapa menangis? Kamu lulus, kan?"
Sasya menoleh. Alkan sudah berdiri di sana, beberapa meter darinya.
"Pak... maafkan saya. Gara-gara saya, Bapak jadi ditegur atau dipandang aneh sama dosen lain," isak Sasya.
Alkan berjalan mendekat, lalu berhenti di depan Sasya. Ia merobek selembar tisu dari sakunya dan menyodorkannya (tanpa menyentuh tangan Sasya).
"Sasya, dengarkan saya. Di dunia profesional, atau bahkan di jalan dakwah, fitnah itu adalah noise. Kalau kamu fokus pada noise, kamu nggak akan pernah sampai ke tujuan. Bu Sarah bicara seperti itu karena dia belum paham. Tugas saya adalah melindungi mahasiswi saya dari ketidakadilan akademik. Dan tugas kamu adalah membuktikan bahwa kamu layak berada di sini karena otak kamu, bukan karena bantuan saya."
Sasya menghapus air matanya. "Bapak nggak malu punya mahasiswa kayak saya yang banyak drama?"
Alkan terdiam sejenak. Ia menatap langit sore yang mulai menguning. "Malu itu kalau saya gagal menjaga kehormatan kamu. Selama kita tetap pada koridor yang benar, saya tidak punya alasan untuk malu."
Alkan kemudian berbalik untuk pergi. "Segera kerjakan revisinya. Saya ingin minggu depan sudah selesai. Dan Sasya..."
"Iya, Pak?"
"Terima kasih sudah membela integritas riset kamu tadi. Saya bangga melihatnya."
Sasya terpaku. Pak Alkan baru saja bilang... bangga?
Kalimat itu lebih manis dari kotak bekal mana pun di dunia ini. Sasya mengepalkan tangannya. "Oke, Sasya. Satu langkah lagi. Lulus, yudisium, dan biarkan jalur langit yang menyelesaikan sisanya!"