NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Masuk ke jurusan Seni Budaya bukanlah sebuah ketidaksengajaan bagi Araluna. Itu adalah bagian dari strategi besar. Saat teman-teman sebayanya sibuk memilih jurusan berdasarkan minat atau prospek kerja, Luna hanya punya satu kriteria: di mana Arsen Sergio berada, di situlah ia harus ada. Sebagai mahasiswi semester satu, Luna sudah cukup terkenal di fakultas, bukan karena prestasinya, tapi karena predikatnya sebagai "ekor" Arsen yang sangat agresif.

Pagi itu, koridor gedung fakultas cukup ramai. Luna berjalan dengan langkah angkuh, sengaja memakai bando pita besar yang membuatnya terlihat seperti "bocil" sungguhan, tapi dengan tatapan mata yang siap menerkam siapa pun yang berani melirik kakaknya.

Dari kejauhan, ia melihat Arsen. Cowok itu sedang berdiri di dekat mading bersama seorang mahasiswi angkatan atas yang sedang tertawa sambil menyentuh lengan Arsen.

Target terkunci, batin Luna.

Luna mempercepat langkahnya. Ia tidak memanggil, tidak juga menegur dengan sopan. Saat jaraknya sudah dekat, Luna sengaja mengayunkan tas bahunya dengan kuat hingga menyenggol lengan gadis itu.

"Ups! Maaf ya, Kak. Jalannya sempit banget sih, berasa mading ini cuma milik berdua," ucap Luna dengan nada bicara yang manis tapi matanya menatap tajam, seolah sedang mengirim sinyal perang.

Gadis itu meringis, mengusap lengannya yang terkena tas Luna. "Eh, iya, nggak apa-apa..."

Belum sempat gadis itu melanjutkan kalimatnya, Luna sudah berhambur ke arah Arsen. Ia menarik lengan Arsen, memeluknya erat seolah sedang memamerkan barang koleksi terbatas.

"SAYANG! Kamu kok ninggalin aku sih? Tadi aku bilang tungguin di parkiran!" teriak Luna dengan suara yang sengaja dikeraskan, membuat beberapa mahasiswa yang lewat menoleh serentak.

Arsen tersedak udara. Wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. Ia segera menjauhkan kepala Luna dari bahunya dengan telapak tangan, mendorongnya pelan. "Araluna, mulut lo bisa dikontrol nggak? Gue bukan pacar lo, ya!"

Arsen mendengus kesal, menatap gadis angkatan atas itu dengan perasaan tidak enak. "Maaf ya, Kak. Ini bocil rumah emang lagi kambuh penyakitnya. Jangan dimasukin hati."

Luna tidak peduli. Ia justru menjulurkan lidahnya ke arah gadis itu saat Arsen sedang tidak melihat. Baginya, satu gangguan berhasil disingkirkan.

Tak lama setelah drama di mading, Arsen pergi ke kantin, tentu saja dengan Luna yang mengekor di belakang seperti bayangan. Saat Arsen sedang memesan minuman, seorang cowok berambut agak gondrong dengan gaya santai duduk di depan Luna. Namanya Galaksi, salah satu teman dekat Arsen di jurusan yang sama.

Galaksi sudah lama memperhatikan Luna. Baginya, kegilaan gadis ini justru terlihat menarik dan menantang.

"Hai, Lun. Galaksi," ucap cowok itu sambil menyodorkan tangan, mencoba bersikap keren. "Gue liat lo sering banget nempel sama Arsen. Emang nggak bosen?"

Luna menatap tangan Galaksi yang menggantung di udara dengan tatapan datar, seolah tangan itu adalah tumpukan sampah. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di dada dengan gaya angkuh.

"Nggak tanya Kak Arsen dulu gue boleh kenalan sama lo atau nggak?" jawab Luna ketus.

Galaksi tertawa, menarik kembali tangannya. "Kenapa harus tanya Arsen? Kan gue mau kenalan sama lo, bukan sama dia."

"Ya karena gue adalah prioritas Arsen Sergio. Lo kalau mau kenalan sama gue, prosedurnya harus lewat dia. Tapi saran gue sih nggak usah repot-repot, karena gue nggak tertarik sama bintang, apalagi galaksi. Gue cuma tertarik sama satu matahari, dan dia lagi pesen es teh di sana," ucap Luna sambil menunjuk Arsen dengan dagunya.

Arsen kembali ke meja dengan dua gelas minuman. Ia melihat Galaksi yang sedang nyengir dan Luna yang memasang wajah "cegil" andalannya.

"Kenapa lagi lo berdua?" tanya Arsen sambil meletakkan gelas di depan Luna.

"Temen lo nih, Kak. Mau coba-coba daftar jadi saingan lo. Kasihan banget kan?" sahut Luna sambil menyedot es tehnya dengan keras.

Arsen hanya bisa menggelengkan kepala. Ia menatap Galaksi dengan tatapan 'sabar-ya-bro'. "Gal, mending lo cari target lain deh. Yang ini level stresnya tinggi. Gue aja yang serumah udah hampir gila."

Luna justru tersenyum puas. Baginya, peringatan Arsen barusan bukan sebuah ejekan, melainkan pengakuan bahwa hanya Arsen yang sanggup menghadapi kegilaannya. Dan itulah tepatnya yang Luna inginkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!