Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Takut
Kata-katanya masih menggantung di udara ketika sesuatu di dadaku akhirnya runtuh.
Aku menoleh cepat ke arahnya.
"Jadi," suaraku bergetar tapi tidak pelan, "kamu merasa selama ini aku beban buat kamu?"
Arven langsung menoleh. "Ren, bukan-"
Aku tidak memberinya waktu.
"Kalau aku tahu dari awal," lanjutku, napasku mulai tidak teratur, "mending aku nggak usah tinggal sama kamu aja."
Tanganku mengepal di pangkuan. Aku tidak sadar kukuku menekan kulitku sendiri.
"Biar kamu merasa lebih ringan," kataku. "Nggak perlu jagain aku terus. Nggak ada beban, kan?"
Mobil melambat. Arven langsung menepi tanpa bicara. Begitu mobil berhenti, dia menoleh sepenuhnya ke arahku.
"Seren, aku nggak bermaksud begitu," katanya cepat. Nada suaranya berubah. Ada panik di sana.
"Tapi itu yang kamu bilang," potongku. Dadaku naik turun. "Kamu bilang tanggung jawab. Kamu bilang semua ke kamu."
Aku tertawa kecil, tapi suaranya pecah di tengah.
"Aku nggak pernah minta ini," lanjutku. "Aku nggak pernah minta kamu jagain aku sampai segininya."
Arven menggeleng, wajahnya terlihat benar-benar menyesal.
"Aku cuma takut," katanya. "Aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Aku juga takut," balasku. "Tapi aku tetap coba hidup."
Aku menoleh ke depan. Pandanganku kabur, tapi aku memaksa tidak menangis. Aku capek menangis di depannya.
"Kamu tahu rasanya apa?" tanyaku pelan. "Setiap kali aku pengen tahu sesuatu tentang diriku sendiri, aku ngerasa harus izin dulu ke kamu."
Arven terdiam.
"Aku ngerasa salah cuma karena pengen tahu masa laluku sendiri," lanjutku. "Aku ngerasa egois cuma karena pengen keluar sebentar."
Aku menarik napas panjang.
"Kalau itu bikin kamu capek," kataku, suaraku lebih rendah sekarang, "Lebih baik aku pergi."
Kata itu keluar begitu saja. Aku bahkan tidak yakin aku benar-benar siap dengan artinya.
Arven langsung menoleh tajam. "Jangan ngomong gitu."
"Kenapa?" tanyaku. "Bukannya bagus? biar kamu nggak terbebani lagi."
Ia menggeleng kuat. Tangannya meraih lenganku, tapi berhenti di udara, seperti ragu untuk menyentuh.
"Aku salah," katanya. Suaranya lebih pelan sekarang. "Aku nggak mikir sebelum ngomong."
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang jelas di wajahnya.
"Aku nggak lihat kamu sebagai beban," lanjutnya. "Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa."
Aku tidak langsung menjawab.
Karena entah kenapa, di saat itu, kata-kata maafnya tidak langsung membuatku tenang. Yang tersisa justru satu perasaan aneh bahwa aku baru saja menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat.
Mobil berhenti, kami keluar, dan hujan malam menyelimuti jalanan sepi. Napasku masih berat, jantungku berdebar. Aku bisa merasakan semua yang ia sembunyikan selama ini
Begitu kami sampai di apartemen, Arven bahkan tidak langsung menyalakan lampu. Pintu baru saja tertutup ketika ia berhenti di belakangku. Aku belum sempat melepas sepatu saat lengannya melingkar di tubuhku. Erat, seolah kalau ia sedikit saja longgar, aku akan menghilang.
"Ren," suaranya terdengar pecah.
Aku terdiam. Badanku kaku, tidak langsung membalas pelukannya. Napasku masih belum sepenuhnya stabil sejak di mobil.
Arven menekan dahinya ke pundakku. Tangannya gemetar.
"Please, Ren," katanya pelan. "Please,"
Aku bisa merasakan dadanya naik turun tidak beraturan di punggungku.
"Aku mohon," lanjutnya, suaranya bergetar. "Jangan tinggalin aku. Jangan pergi."
Pelukannya mengencang. Terlalu erat. Jari-jarinya mencengkeram kain bajuku seolah aku pegangan terakhir yang ia punya.
"Please aku mohon," ulangnya lagi, lebih lirih. "Aku nggak bisa kalau kamu pergi."
Aku menoleh sedikit. Baru saat itu aku sadar Arven menangis. Napasnya tersendat, dan ada getaran kecil di setiap tarikan napasnya. Air matanya membasahi bahuku tanpa suara.
Dadaku terasa sesak.
Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Selama ini Arven selalu terlihat tenang. Tahu harus berkata apa. Dan sekarang ia runtuh tepat di belakangku.
"Aku salah," katanya terbata. "Aku ngomong tanpa mikir. Aku nggak pernah nganggep kamu beban. Nggak pernah."
Ia menggeleng pelan, dahinya masih menempel di punggungku.
"Aku cuma takut," katanya lagi. "Takut kehilangan kamu."
Aku memejamkan mata. Ada bagian dalam diriku yang ingin berbalik, memeluknya, menenangkan dia seperti dia selalu menenangkanku.
"Ven," suaraku keluar pelan.
Ia langsung menggeleng, memotongku. "Tolong. Jangan bilang apa-apa dulu."
Pelukannya semakin erat, hampir menyakitkan.
"Cuma jangan pergi," katanya. "Aku mohon."
Aku berdiri di sana, terjebak di antara dua perasaan yang bertabrakan. Rasa iba yang besar dan ketakutan yang belum sempat kujelaskan bahkan ke diriku sendiri.
Pada akhrinya, aku berbalik tanganku akhirnya terangkat, menyentuh punggungnya dengan ragu. Aku tidak tahu apakah sentuhan itu cukup untuk menenangkannya, atau justru membuatnya semakin menggenggamku lebih kuat.
Semakin lama, pelukannya perlahan mengendur. Bukan karena ia sudah tenang, tapi karena ia seperti takut menekanku terlalu keras. Tangannya naik ke pipiku, menyentuhnya dengan hati-hati, seolah aku rapuh. Seolah satu gerakan yang salah bisa membuatku hancur atau menghilang.
Aku menatapnya.
Matanya merah dan basah. Tatapannya tidak lagi setenang biasanya. Ada sesuatu yang putus asa di sana, sesuatu yang tidak pernah ia perlihatkan padaku sebelumnya.
"Aku mohon," katanya pelan. Suaranya masih bergetar. "Aku bakal lakuin apa pun buat kamu."
Jari-jarinya menyusuri pipiku pelan, ibu jarinya menyeka sisa air mata yang bahkan bukan milikku.
"Asal kamu tetap di sisi aku, Ren," lanjutnya. "Apa pun."
Dadaku mengencang
Ia membuka mulut lagi, lalu terdiam. Seperti baru menyadari sesuatu. Seperti sedang menyusun ulang pikirannya dengan terburu-buru.
"Kalau kamu pengen jalan-jalan," katanya cepat, nadanya berubah, lebih tergesa. "Ayo. Kita keluar. Kamu pengen ke mana aja juga ayo."
Ia menelan ludah.
"Asal," suaranya melemah lagi. "Asal kamu jangan tinggalin aku."
Dan sebelum aku sempat menjawab, lengannya kembali melingkar di tubuhku. Kepalanya bersandar di bahuku, napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
Aku berdiri diam di sana.
Tanganku akhirnya naik, menyentuh punggungnya. Kali ini aku benar-benar membalas pelukannya.
"Iya," kataku akhirnya, hampir berbisik. "Aku nggak pergi."
Tubuhnya langsung mengendur sedikit, seolah kata itu adalah sesuatu yang ia butuhkan untuk tetap berdiri.
Arven masih memelukku, tangannya gemetar, napasnya putus-putus, aku bisa merasakan semua ketakutan yang selama ini ia sembunyikan.
Aku bisa merasakan dadanya naik turun terlalu cepat.
"Aku aku nggak tahu harus gimana lagi," katanya akhirnya. Suaranya serak, nyaris pecah. "Aku takut salah ngomong. Takut bikin kamu makin menjauh."
Ia menarik napas dalam, lalu melepas pelukanku sedikit. Cukup untuk menatap wajahku.
"Aku cinta kamu, Ren," katanya.
"Aku cinta kamu lebih dari yang bisa aku jelasin," lanjutnya.