NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MUSUH DALAM SELIMUT

“Apa?!” Pekik Maira, nyaris menjatuhkan ponsel dari tangannya dengan wajah yang berubah tegang seketika.

Di seberangnya, Farid yang tengah bersiap mengenakan dasi, langsung menoleh dengan khawatir. “Kenapa, Sayang?” Tanyanya cepat, menghentikan gerakan tangannya.

Maira tak langsung menjawab. Ia menutup telepon lebih dulu lalu menarik napas panjang.

“Aku harus ke kota sebelah lagi hari ini, Mas. Salah satu fondasi bangunan restoran roboh. Kontraktornya tadi telepon, dan mereka minta aku langsung ke sana.” Nada suara Maira terdengar sedikit panik.

“Lho, kok bisa? Bukannya kamu udah pilih pekerja dan material yang terbaik?” Tanya Farid yang sudah mendekat dengan ekspresi berubah serius.

Maira menggeleng perlahan. “Dugaanku sekarang udah cukup kuat, Mas. Ada yang korupsi uang bangunan.”

Farid mengernyit, mencoba mencerna. “Siapa?”

“Suami Dini.”

“Yang kamu tunjuk sebagai pengawas lapangan itu?” Tanya kembali Farid yang cukup terkejut mendengarnya.

Maira mengangguk mantap. “Iya. Sejak awal memang aku ragu, tapi karena Ibu terus memohon ya mau nggak mau aku terima Mas. Tapi laporan pengajuan material yang dia serahkan beda banget sama catatan dari kontraktor. Beberapa bahan yang dia minta itu bahkan nggak masuk akal.”

“Kamu udah punya bukti?” Tanya kembali Farid dengan tangan mengusap pelan punggung istrinya.

“Belum semuanya. Tapi kalau hari ini aku ke lokasi langsung, aku bisa pastikan. Bahkan tukangnya pun bilang bahan yang datang nggak sesuai. Dan beberapa hari yang lalu pas aku cek ulang pembukuannya, ada angka-angka yang dimanipulasi.”

Farid mengangguk pelan. Ia tahu, istrinya itu tidak akan pernah bicara seperti ini jika tak punya dasar kuat.

Maira menatap jam tangannya lalu menarik napas panjang. “Yaudah, kalau gitu aku pergi dulu ya, Mas.” Ujarnya dengan mengecup punggung tangan Farid.

“Iya Sayang." Farid mengecup kening istrinya pelan sebelum akhirnya membiarkan wanita itu bergegas keluar rumah lebih dulu.

Tak berselang lama setelah suara mobil Maira menghilang di kejauhan, disusul dengan Farid yang sudah berangkat bekerja, suasana rumah kembali sunyi.

Dari balik kamar dua pasang mata mengintip dengan hati-hati. Setelah benar-benar yakin rumah sudah sepi, pintu kamar pun terbuka perlahan.

Pak Bowo dan Bu Susi akhirnya keluar. Tatapan mereka langsung tertuju pada ruang tengah lalu berpindah ke dapur, memastikan tak ada siapa pun lagi.

“Akhirnya bisa keluar juga…” Gumam Bu Susi sambil mengikat rambutnya yang semula acak-acakan. “Pasti dia udah lupa sama masalah kemarin itu.”

Pak Bowo mengangguk, berjalan pelan ke arah kursi dan menjatuhkan diri dengan santai.

“Bener kan yang Bapak bilang, Bu. Asal kita hindarin terus, pasti dia juga capek sendiri. Lama-lama ya lupa.”

Sudah beberapa hari ini Maira memang sempat mengetuk pintu kamar mereka sejak pagi, bahkan duduk menunggu di ruang tengah cukup lama. Ia ingin menanyakan soal hilangnya stok bahan makanan di dapur.

Namun baik Bu Susi maupun Pak Bowo sama sekali tak menampakkan batang hidung dengan bersembunyi di balik pintu kamar seolah menahan napas, berharap waktu akan menyapu tuntas kemarahan Maira.

Hari ini, mereka berpikir skenario itu berhasil.

Maira tak lagi bertanya dan tak lagi mencari mereka. Itu semua terbukti dari Maira yang sudah pergi pagi ini. Dan bagi Bu Susi, itu pertanda bahwa sang anak mungkin sudah memilih melupakan semuanya.

“Iya Pak, jadi nggak usah pusing-pusing jawab pertanyaan dia.” Saut Bu Susi sambil membuka lemari dapur. Tapi senyumnya yang sempat terbit mendadak memudar saat menyadari satu hal—lemari penyimpanan itu nyaris kosong.

Ia terpaku beberapa detik. Baru ingat, hampir semua stok bahan makanan di rumah memang sudah ia bawa ke rumah Dini. Bahkan beras pun tinggal ampas di karung. Seketika itu pula wajahnya mengernyit kesal.

“Bu, buatin Bapak kopi!” Teriak Pak Bowo dari ruang tengah, seperti biasa.

Dengan sedikit panik, Bu Susi bergegas menghampiri suaminya. “Ibu lupa, Pak… semuanya udah Ibu bawa ke rumah Dini." Sahutnya sambil menepuk-nepuk dahi sendiri. Nada kesalnya lebih karena lupa menyisakan bahan untuk kebutuhan di rumah ini.

Pak Bowo mendengus. “Emang nggak Ibu sisain sedikit pun?”

“Ada sih, cuma kecap. Itu pun tinggal setengah botol.” Jawab Bu Susi.

Namun Pak Bowo lagi-lagi hanya mengangkat bahu. “Yaudah, nanti suruh Maira belanja bulanan lagi aja. Bilang aja keperluan dapur habis.” Ujarnya dengan enteng.

Bu Susi mengangguk setuju, seolah tak merasa bersalah dan menyesali sedikit pun atas apa yang dilakukannya.

“Loh, Mas… ini banyak banget!” Seru Dini dengan mata membelalak saat melihat puluhan lembar uang seratus ribuan yang baru saja disodorkan suaminya.

Bayu—sang suami hanya mengangguk ringan, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Itu gaji Mas.” Jawabnya tenang.

“Serius ini gaji Mas?” Dini mengulang, seolah tak percaya. “Tapi sebelumnya kan gaji Mas nggak sebanyak ini?”

Alih-alih menjawab, Bayu kembali tersenyum namun kali ini sambil mengelus rambut istrinya. “Iya, itu hasil dari kepintaran Mas ngelola semuanya. Mas juga ada sampingan di sana.”

“Sampingan? Maksudnya, Mas?” Dini menatap suaminya penuh penasaran. Tatapannya tak lepas dari tumpukan uang di hadapannya.

Bayu bersandar santai di sandaran sofa, lalu menoleh ke arah istrinya sambil tersenyum tipis. “Kalau cuma ngandelin gaji dari Mbakmu itu ya… nggak bakal Mas dapet uang segini. Tapi Mas tahu caranya dapet lebih.”

“Maksudnya gimana?” Dini semakin mendekat, matanya menatap tajam seolah ingin tahu semua rahasia suaminya.

Bayu mencondongkan tubuhnya sedikit, kemudian mulai bercerita pelan. Ia menjelaskan bagaimana dirinya memainkan laporan pembelian bahan bangunan, mengurangi kualitas material tapi tetap melaporkan harga tertinggi, bahkan memotong sebagian dana pengeluaran proyek tanpa sepengetahuan Maira.

Dan di detik beriku, Dini bukannya marah—ia malah tersenyum puas. “Pantes aja uangnya banyak." Gumamnya sambil menyentuh uang itu dengan penuh kekaguman.

Namun beberapa saat kemudian, raut wajah Dini berubah khawatir. “Tapi… kalau Mbak Maira tahu gimana, Mas?”

Bayu mengangkat bahu santai. “Alah, kamu jangan mikirin itu. Kalau dia tahu ya tinggal minta maaf aja, terus kamu bilang aja kalau gaji dari dia nggak cukup buat biaya hidup kita. Kan kamu adiknya." Nada suaranya tenang, seolah semua sudah ia siapkan.

“Lagian..." lanjutnya, “Nggak mungkin ketahuan. Tukangnya juga diem aja selama ini, asal dikasih bagian sedikit. Yang penting kita dapet untung.”

Dini mengangguk pelan, meski sedikit rasa waswas masih menggelayuti hatinya. Tapi saat matanya kembali menatap tumpukan uang di depannya, semua kekhawatiran itu perlahan tenggelam.

Ia tak ingin memikirkan hal buruk, yang terpenting sekarang adalah kenyataan bahwa di tangannya ada uang sebanyak ini. Kapan lagi ia bisa merasakan memegang uang sebanyak ini dengan mudah?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!