NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:34.1k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 - Ketika Tubuh Menyerah Lebih Dulu

Nadira tidak pingsan dengan teriakan. Dia jatuh pelan-pelan. Terjadi di dapur, pagi hari. Lantai dingin. Cahaya matahari terlalu terang untuk mata yang belum tidur tiga malam.

Dia menuang air, tangannya gemetar. Gelas beradu dengan meja, bunyi kecil.

"Nadira?" Suara Arvin dari ruang tamu.

Dia ingin menjawab. Yang keluar hanya udara. Kakinya kehilangan kekuatan seperti lupa fungsinya. Bukan drama... Bukan kejang... Hanya lepas...

Tubuhnya menyentuh lantai dengan bunyi tumpul. Kepalanya membentur sudut karpet.

Arvin berlari. "Nadira!"

Dia berlutut, mengangkat kepalanya. "Hey... Hey... Lihat aku."

Kelopak mata Nadira berkedip. Pandangannya buram. "Jangan... panik." Bisiknya. "Aku cuma... capek."

"Itu bukan cuma capek." Jawab Arvin tegas.

Nadira tersenyum lemah. "Aku tahu. Tapi aku benci kalau kamu benar."

Tangannya dingin. Keringat dingin membasahi leher.

Arvin meraih ponsel.

"Tidak." Kata Nadira cepat, suaranya parau. "Jangan rumah sakit."

"Kamu tidak bisa berdiri."

"Aku bisa." Bantahnya otomatis, lalu mencoba bangkit dan langsung meringis.

"Kamu tidak bisa." Ulang Arvin, kali ini tanpa ruang tawar.

Nadira menatapnya. Matanya merah, bukan karena menangis. "Kalau aku masuk rumah sakit." Katanya pelan. "Media akan mencium darah."

Arvin menghela napas. "Dan kalau kamu mati di lantai dapur, mereka akan mencium bangkai." Katanya dingin.

Sunyi.

Kalimat itu menghantam tepat di tempat yang paling dijaga Nadira... harga diri.

"Baik." Katanya akhirnya, suaranya hampir tidak terdengar.

"Tapi kamu ikut."

"Aku tidak ke mana-mana."

***

Raka sedang mengepel lantai kantor kecil saat ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

"Raka." Suara Sinta terdengar cepat. "Nadira dibawa ke klinik."

Dunia Raka berhenti sepersekian detik. "Kenapa?"

"Drop. Kelelahan berat. Dr. Arvin yang bawa."

Raka menutup mata.

"Dia butuh siapa?" Tanyanya.

Sinta ragu. "Aku tidak tahu. Tapi kamu..."

"Jangan." Potong Raka. "Jangan jadikan aku penghubung."

Sunyi di ujung sana.

"Aku datang kalau dia minta." Lanjut Raka. "Bukan karena panik kolektif."

Dia mematikan telepon, lalu bersandar ke dinding. Tangannya gemetar. Ini ujiannya, pikirnya. Menolong tanpa kembali menjadi tempat bergantung. Hadir tanpa mengambil alih.

Dia mengirim pesan singkat ke Nadira.

[Aku dengar kamu jatuh. Kalau kamu mau aku datang, bilang.]

Tidak ada balasan.

Raka kembali mengepel. Gerakannya kaku. "Fokus." Gumamnya. "Fokus."

Tapi pikirannya terus kembali ke lantai dapur itu... meski ia tidak melihatnya.

***

"Dehidrasi, kurang tidur, tekanan psikis berat." Kata dokter.

Nadira terbaring, infus menempel di tangannya. Rambutnya kusut. "Aku tidak gila." Katanya lirih.

Dokter tersenyum profesional. "Tidak ada yang bilang begitu."

"Aku hanya..." Nadira mencari kata. "Aku hanya tidak boleh berhenti."

Dokter menatap Arvin. "Kalau pasien terus memaksa, tubuh akan memaksa lebih keras."

Arvin mengangguk.

Setelah dokter pergi, Nadira menatap langit-langit.

"Aku benci ini." Katanya. "Aku benci jadi lemah."

"Kamu tidak lemah." Jawab Arvin. "Kamu kelelahan."

"Itu sama saja di mata mereka."

Arvin duduk lebih dekat. "Di mata siapa?"

Nadira terdiam.

"Di mataku?" Lanjut Arvin. "Atau di matamu sendiri?"

Nadira menelan ludah. "Aku tidak tahu siapa diriku kalau aku berhenti."

Arvin tidak langsung menjawab. "Kamu mungkin akan menemukannya." katanya pelan. "Dan itu menakutkan."

Air mata Nadira akhirnya jatuh. Bukan karena sakit. Karena kehilangan kendali.

***

Email itu singkat.

[Saya ingin bertemu. Hari ini. Jika tidak, saya akan bicara ke publik.]

Nama pengirim Maya.

Aluna mengenalnya. Terlalu mengenal.

Dia duduk lama sebelum menjawab.

[Di mana?]

[Kafe kecil. Siang hari. Terang. Terbuka.]

Maya duduk tegak. Wajahnya tenang, terlalu tenang. "Kamu kelihatan lebih kurus." Katanya tanpa senyum.

"Kamu juga." Jawab Aluna.

"Aku tidak datang untuk nostalgia."

"Aku tahu."

Maya menyodorkan map. "Ini kronologi." Katanya. "Dengan nama kamu di dalamnya."

Aluna membuka map dengan tangan gemetar. "Aku tidak menyentuhmu." Katanya cepat.

"Tapi kamu menutup laporan." Jawab Maya datar. "Kamu bilang aku akan hancur kalau lanjut."

Aluna menutup map. "Aku salah."

"Itu tidak cukup." Kata Maya.

"Aku siap bertanggung jawab." Kata Aluna. Suaranya pecah.

"Bagaimana?" Tanya Maya. "Kata maaf tidak mengembalikan tidurku."

Aluna menunduk. "Apa yang kamu mau?" Tanyanya akhirnya.

Maya menatapnya tajam.

"Kamu bicara di depan publik, tanpa membela diri."

Dada Aluna sesak. "Aku akan hancur."

"Bagus." Kata Maya dingin. "Sekarang kamu tahu rasanya."

Sunyi.

"Aku akan melakukannya." Kata Aluna pelan. "Tapi aku tidak minta pengampunan."

Maya berdiri. "Aku tidak berencana memberi."

***

Malam turun saat Raka menerima balasan.

[Aku ada di klinik dan tidak sendirian. Terima kasih sudah tanya.]

Raka membaca berulang. Tidak ada permintaan. Tidak ada celah.

Dia menghela napas panjang lega sekaligus perih.

Dia mengetik.

[Baik, istirahatlah.]

Dia hampir menambahkan aku di sini, lalu menghapus.

"Cukup." Katanya pada diri sendiri.

Kesempatan kecilnya di pekerjaan baru menunggu. Dia tidak boleh jatuh ke pola lama, menyelamatkan sampai habis. Namun, saat malam makin larut, ia tetap terjaga.

Bukan karena Nadira, karena dirinya sendiri yang belum sembuh dari kebutuhan untuk dibutuhkan.

***

"Kamu harus cuti." Kata Arvin keesokan paginya.

Nadira duduk di ranjang, wajahnya pucat tapi sadar penuh. "Aku tidak bisa."

"Kamu hampir mati."

"Aku masih hidup."

"Itu bukan argumen."

Nadira tertawa kering. "Kamu mulai terdengar seperti mereka."

Arvin terdiam.

"Mereka yang mengatur." Lanjut Nadira. "Yang memutuskan kapan aku boleh bicara, kapan aku harus diam."

"Aku tidak mengatur." Bantah Arvin. "Aku melindungi."

"Dari siapa?" Nadira menatapnya tajam. "Dari dunia atau dari diriku sendiri?"

Arvin tidak langsung menjawab.

"Kalau kamu memaksaku berhenti." Kata Nadira. "Aku akan membencimu."

Arvin menarik napas panjang.

"Dan kalau aku membiarkanmu lanjut." Katanya pelan."Aku akan kehilanganmu."

Hening panjang.

"Ini batasnya." Lanjut Arvin. "Aku tidak bisa hanya berdiri dan melihatmu hancur."

"Lalu apa?" Tantang Nadira.

"Aku akan mengambil alih keputusan medis. Minimal."

Nadira membeku. "Kamu tidak punya hak."

"Aku punya tanggung jawab." Jawab Arvin. "Dan kalau itu membuatmu pergi, aku terima."

Air mata Nadira jatuh lagi. "Kamu memilih untukku." Bisiknya.

"Aku memilih kamu tetap hidup." Jawab Arvin lirih.

Malam itu, Nadira muntah. Bukan karena obat. Karena ketakutan. Dia gemetar di kamar mandi klinik. Arvin menahan rambutnya.

"Aku benci ini." Katanya di sela napas. "Aku benci tubuhku."

"Tubuhmu jujur." Jawab Arvin. 'Kepalamu yang terlalu kejam."

Nadira tertawa lemah, bercampur tangis. "Aku menang karena aku tidak berhenti."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku kalah."

Arvin menatapnya.

"Tidak." Katanya. "Sekarang kamu belajar berhenti."

***

Malam hari, Aluna menulis pernyataan. Tangannya kaku. Dadanya berat. Tidak ada bahasa hukum, tidak ada pembelaan. Hanya kronologi. Dan satu kalimat...

[Saya memilih diam. Dan diam saya menyakiti.]

Dia menutup laptop.

"Aku siap." Katanya pada ruangan kosong. "Atau setidaknya, aku tidak akan lari."

***

Keesokan paginya, Raka datang ke klinik. Bukan menemui Nadira. Dia menyerahkan makanan ke resepsionis.

"Untuk pasien atas nama Nadira." Katanya. "Tidak perlu bilang dari siapa."

Resepsionis mengangguk.

Raka pergi tanpa menoleh. Di parkiran, ia berhenti sebentar. "Ini cukup." Gumamnya. "Aku tidak hilang. Aku hanya tidak larut."

***

Di titik ini...

Nadira jatuh secara fisik dan dipaksa mengakui batas tubuhnya, sementara egonya berteriak menolak.

Raka belajar menolong tanpa mengorbankan pemulihannya sendiri.

Aluna menghadapi tuntutan yang tidak bisa diputarbalikkan, memilih bicara meski harus runtuh.

Arvin melangkah dari pendamping ke intervensi, sadar bahwa cinta tanpa batas bisa menjadi kekerasan lain.

Tidak ada yang sembuh, tidak ada yang menang. Hanya satu hal yang pasti... semua sudah melewati titik tidak bisa kembali.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!