Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.
Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Xander sontak termenung, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sekujur tubuhnya bergetar dan sebisa mungkin ia bersikap normal. Jantungnya bergetar saat bayangan-bayangan buruk mulai menghantui pikirannya.
Xander mengepalkan tangan erat-erat. "Bagaimana dengan proyek kita? Apakah semuanya masih bisa berjalan dengan lancar saat kalian pergi?"
"Aku dan yang lain akan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Aku sudah mengatur semuanya. Kau hanya perlu menjalankan rencana sesuai dengan yang kita sudah sepakati sebelumnya, Alexander," ujar Lance.
"Aku mengerti." Xander berdiri dari sofa. "Kalau begitu, lakukan rencana kita sekarang."
Govin, Miguel, Mikael, Robbins, Ryder, Lorien, dan para pengawal utama yang lain tetap bersikap normal meski mereka mulai merasa sangat tegang dengan keadaan ini. Mengingat pertarungan mereka dengan George tempo hari dan bagaimana pertarungan antar kelompok yang Miguel dan Mikael lihat saat pergi ke markas UltraTech, mereka tahu jika bahaya semakin dekat.
"Aku harus menyiapkan semuanya sekarang." Lance berjalan meninggalkan ruangan, mengembus napas panjang ketika pintu terbuka. Ia melirik Larson dan para pengawal, bergerak setenang mungkin meski ia sangat tegang.
"Ayah, apakah aku bisa melalui semua ini?" gumam Lance sembari mengepalkan tangan erat-erat. Sampai saat ini, ia masih belum bisa berkomunikasi dengan Luc dan Graham.
"Pria itu tampak tegang. Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" gumam Larson sembari mengamati Lance, lantas beralih pada pintu ruangan yang kembali tertutup. Saat akan bergerak, seorang pengawal menahan tangannya. "Sial, aku merasa ini pertanda buruk."
Larson mengamati pintu selama beberapa waktu. Ia menarik napas panjang, mengembuskan perlahan. "Aku harus tenang dan bertindak sesuai arahan."
Xander masih berada di dalam ruangan, mengamati para penjaga di luar ruangan. Meski waktu masih menunjukkan pukul setengah empat pagi, tetapi rasa kantuknya sudah benar-benar menghilang. Jarum jam seakan memukuli kepalanya hingga nyaris meledak.
"Dibandingkan semua hal buruk yang pernah aku alami selama ini, keadaan ini benar-benar
membuatku takut. Aku tidak pernah setakut ini sebelumnya." Xander memejamkan mata, berusaha tenang, membuka mata perlahan.
"Aku harus tenang." Xander menyentuh kristal merah di balik bajunya. "Semuanya akan baik-baik saja selama aku mengikuti rencana."
Lance tiba di ruangannya beberapa menit kemudian. George, Gray, Gavin, Baba, Bennet, Bruce, dan Osvaldo Tolliver sudah berkumpul. Mereka tampak tegang. Beberapa robot tampak masih berkutat dengan layar-layar dan beberapa barang.
"Semua persiapan sudah sepenuhnya siap. Kita bisa berangkat ke tempat itu setelah Baba melakukan tugasnya," ujar George sembari menoleh pada Baba.
Baba mengepalkan tangan erat-erat. Ia merasa berat sebab harus membuat keluarganya sendiri melupakan dirinya. Akan tetapi, semua ini demi kebaikan mereka. "Aku berada dalam kondisi prima sekarang."
"Aku ingin mengingatkan satu hal pada kalian. Musuh memiliki orang dengan kemampuan pencarian. Hanya dengan menyentuh barang milik seseorang, orang itu bisa tahu di mana lokasinya." Lance menoleh pada Osvaldo Tolliver.
"Jika aku terus bersama kalian, aku sama saja membahayakan diri kalian. Aku tidak akan bisa berada di sisi kalian. Untuk itu, aku memutuskan untuk kembali ke kediamanku," kata Osvaldo Tolliver.
Gray menyahut, "Akan tetapi, itu adalah keputusan yang sangat berbahaya untukmu, Osvaldo. Mereka mengincarmu karena kau adalah orang yang dicurigai akan membahayakan Galata. Jika kau kembali ke kediamanmu, kau akan diculik dan dieksekusi oleh Galata, terlebih mereka bisa mencarimu melalui barang-barangmu."
"Kenapa kau tidak melarikan diri bersama kami? Kita semua bisa saling melindungi satu
sama lain?" ujar Bennet dengan wajah cemas.
Osvaldo Tolliver tersenyum, menoleh pada Lance dan George. "Aku memiliki sebuah rencana. Aku yakin aku akan baik-baik saja."
Bruce maju selangkah, menatap Osvaldo Tolliver saksama. "Kemampuanmu sangat berguna untuk memprediksi peristiwa di masa depan, tetapi kau tetap bukan tandingan dari pasukan Galata. Kau harus tetap bersama kami."
Gray mengembus napas panjang. "Baiklah, aku mengerti. Kau ternyata memiliki rencana yang sangat berisiko."
"Aku dan George sudah setuju dengan rencana Osvaldo. Kita bisa mempercayainya." Lance memindai tangannya di layar hologram. Sebuah kotak mendadak muncul dari balik meja. "Aku sudah menyiapkan benda-benda ini untuk berjaga-jaga."
Lance menjelaskan mengenai benda-benda di dalam kotak dengan saksama.
George tersenyum. "Seperti yang diharapkan dari seorang putra Luc. Dia tampak ketakutan, tetapi di sebenarnya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik."
"Kita akan berangkat setengah jam lagi. Semakin cepat kita pergi dari tempat ini, semakin baik untuk dengan rencana Osvaldo. Kita bisa mempercayainya." Lance memindai tangannya di layar hologram. Sebuah kotak mendadak muncul dari balik meja. "Aku sudah menyiapkan benda-benda ini untuk berjaga-jaga."
Lance menjelaskan mengenai benda-benda di dalam kotak dengan saksama.
George tersenyum. "Seperti yang diharapkan dari seorang putra Luc. Dia tampak ketakutan, tetapi di sebenarnya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik."
"Kita akan berangkat setengah jam lagi. Semakin cepat kita pergi dari tempat ini, semakin baik untuk kita maupun Alexander."
Baba mengunjungi kediaman keluarganya di hutan. Ia berbincang dengan Xylorr, Karnu, dan anggota keluarganya yang sudah terbangun. Ia senang saat mendengar cerita dari keponakan-keponakan kecilnya, terutama Jyrik dan Suhni yang sudah berlatih dengan keras. Mereka bahkan menunjukkan kemampuan menembak dan bela diri mereka.
"Rangu rek katmang laheu jeung rantubaba rangu (Aku akan pergi bersama teman-temanku)." Baba memeluk Karnu dan Xylorr. Rasanya seperti baru beberapa waktu ia bertemu dengan mereka.
Karnu dan Xylorr membalas pelukan Baba.
Baba menahan air mata, tidak berani membayangkan hal buruk terjadi pada mereka. "Mereka sudah melewati hal buruk selama ini, dan aku tidak ingin mereka mengalami hal yang lebih buruk dari ini," gumamnya.
Setengah jam kemudian, Lance, George, Gray, dan yang lain meninggalkan kediaman utama bersama para robot. Mobil melaju sangat cepat melewati pepohonan yang menjulang tinggi. Udara masih terasa dingin dan suasana masih sangat sepi. Tak ada canda tawa dan obrolan sebab semua orang tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Pagi mulai menyingsing, mengusir kegelapan. Matahari perlahan naik, merayap ke ufuk barat. Kawanan burung tampak terbang di atas pepohonan. Kupu-kupu dan serangga tampak berkumpul di taman bunga. Embun terlihat menempel di atas dedaunan dan jendela. Para pelayan segera membersihkannya dengan cepat.
Para penjaga berada di lokasi penjagaan, mengawasi keadaan dengan saksama. Keadaan yang sempat tegang kembali seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Xander dan keluarganya pun tengah sarapan bersama di meja makan, berbincang dengan bahagia. Alexis tampak beberapa kali menoleh ke bawah, mengamati keadaan sekeliling, tetapi ia kembali menikmati hidangan.
Xander, Lizzy, Lydia, Samuel, Sebastian, Larvin, dan Larson mengantar Alexis untuk belajar dan berlatih. Alexis tampak bahagia saat bertemu dengan teman-temannya.
Xander mengajak Lizzy untuk berjalan-jalan di sekitar danau, menikmati waktu berdua. Di saat yang sama, Samuel dan Lydia juga menghabiskan waktu dengan menikmati teh di sebuah pendopo.
Larson memijat kepala beberapa kali, berjalan ke perpustakaan. Ia mengambil beberapa buku, duduk di sebuah meja. "Sial, kenapa aku berada di tempat ini? Aku pasti sudah gila karena masuk ke tempat yang penuh dengan buku."
Larson meninggalkan perpustakaan, berjalan di lorong, mengamati beberapa sudut. "Aku sepertinya harus memeriksakan diriku ke dokter. Aku terus saja mengingau sejak tadi. Aku merasa jika beberapa benda sempat berkeliaran di lorong ini. Aku sebaiknya segera berlatih bela diri bersama para pengawal."
Di saat yang sama, pasukan Galata tiba di dekat kediaman Osvaldo Tolliver. Mereka langsung melakukan pemindaian menyeluruh.
Di tempat lain, sebuah mobil melaju sangat kencang.
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍