NovelToon NovelToon
Sisi Tergelap Senja

Sisi Tergelap Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Trauma masa lalu / Healing
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: S. Sifatori

Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama

Pagi datang dengan cara yang tenang.

Tidak ada suara hujan, tidak ada pesan yang menunggu. Hanya cahaya matahari yang menyusup perlahan melalui celah tirai, jatuh di lantai kamarku seperti garis tipis yang membelah gelap.

Aku membuka mata tanpa rasa berat di dada.

Itu hal kecil, tapi cukup untuk membuatku diam beberapa detik, menyadari sesuatu yang aneh: aku tidak langsung memikirkan masa lalu.

Biasanya, begitu sadar, pikiranku selalu kembali ke tempat yang sama. Wajah yang tidak lagi hadir, kata-kata yang tidak pernah selesai, perasaan yang terus mengulang dirinya sendiri. Tapi pagi ini, kepalaku terasa lebih kosong. Bukan kosong karena hilang arah—melainkan kosong karena tidak lagi dipenuhi luka.

Aku duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang. Udara pagi terasa dingin, tapi segar. Seperti pertama kali aku benar-benar menghirupnya.

Di meja, buku catatan baruku masih terbuka. Kalimat terakhir yang kutulis semalam masih ada di sana:

"Aku tidak ingin kembali menjadi diriku yang dulu. Aku ingin menjadi versi yang baru."

Aku menatapnya lama.

Kalimat itu terasa sederhana, tapi entah kenapa membuat dadaku hangat. Untuk pertama kalinya, aku tidak menulis tentang kehilangan. Aku menulis tentang kemungkinan.

Aku keluar kamar, membuat teh hangat. Suara air mendidih, uap yang naik perlahan, aroma yang tipis—semuanya terasa lebih nyata dari biasanya. Seolah dunia yang dulu terasa buram, kini mulai menampakkan detail kecil yang selama ini terlewat.

Aku membuka pintu rumah.

Langit masih setengah biru, setengah abu-abu. Jalanan basah oleh hujan semalam, memantulkan cahaya pagi seperti cermin yang retak. Aku melangkah keluar tanpa tujuan pasti.

Dulu, aku selalu butuh alasan untuk pergi.

Sekarang, aku hanya ingin berjalan.

Setiap langkah terasa ringan, meski kakiku masih membawa sisa lelah dari hari-hari sebelumnya. Aku melewati toko-toko yang baru buka, suara motor, orang-orang yang sibuk dengan hidup mereka masing-masing. Tidak ada yang memperhatikanku. Dan anehnya, itu terasa menenangkan.

Aku sampai di sebuah taman kecil. Bangkunya masih basah, tapi aku tetap duduk. Angin pagi meniup dedaunan, suara burung terdengar samar. Aku menatap sekitar, lalu ke arah langit.

Di pikiranku, bayangan perempuan di halte itu kembali muncul. Aku masih tidak tahu namanya. Tidak tahu apakah dia mengingatku. Tapi kali ini, aku tidak merasa perlu mencari jawabannya. Kehadirannya cukup sebagai kenangan singkat—sebuah pertemuan yang datang tanpa rencana, lalu pergi tanpa janji.

Mungkin tidak semua orang harus tinggal.

Sebagian hanya datang untuk mengingatkan bahwa kita masih bisa merasa.

Aku membuka buku catatan, menulis lagi:

"Aku tidak harus sembuh hari ini. Tapi aku harus tetap berjalan."

Tanganku berhenti.

Kalimat itu terasa jujur. Tidak optimis berlebihan, tidak juga pesimis. Hanya pengakuan bahwa proses ini tidak instan, tapi nyata.

Aku sadar, sisi tergelap dalam diriku masih ada.

Masih ada hari-hari sepi, masih ada malam yang berat, masih ada kenangan yang kadang muncul tanpa izin. Tapi sekarang aku tidak lagi memusuhinya. Aku membiarkannya ada, tanpa membiarkannya mengendalikan.

Aku berdiri dari bangku taman.

Melanjutkan langkah, meski belum tahu akan sampai di mana.

Untuk pertama kalinya, aku tidak berjalan menjauh dari sesuatu.

Aku berjalan menuju sesuatu—meski belum bisa menyebut namanya.

Dan mungkin, itulah arti sebenarnya dari langkah pertama.

Bukan tentang berani, bukan tentang kuat.

Tapi tentang tetap bergerak, meski hati masih belajar percaya pada dirinya sendiri.

1
Samuel sifatori
btw kalian lebih suka yang puitis atau normal aja? dan menurut kalian sehari berapa eps? kasih masukan nya yaa👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!