Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Monster protein
Pukul 4 pagi. Hutan masih gelap, tapi di markas tebing, keributan sudah terjadi.
Bara sedang bergulat—secara harfiah—dengan dagangannya sendiri.
"Masuk kau, Jangan membangkang!" teriak Bara sambil mencoba memasukkan seekor ayam betina ke dalam keranjang bambu.
Ayam kampung yang sudah diberi pakan Verdant Fury, bukan lagi ayam biasa, tentu saja keturunannya sangat luar biasa. Tenaganya setara kalkun marah. Dia mengepakkan sayapnya dengan kuat—PLAK!—menampar wajah Bara.
"Aduh! Sialan, tenaga kalian terlalu besar," keluh Bara sambil mengusap pipinya yang merah.
Inilah efek samping ramuan pertumbuhannya: Vitalitas Berlebih.
Ayam-ayam ini memiliki kualitas terbaik, daging yang juicy, kalau di banding kan dengan ayam termahal mungkin ayam-ayam yang bara pelihara akan melebihi mereka.
Udang galah di dalam ember juga sama. Mereka melompat-lompat menabrak tutup ember sampai gedebuk-gedebuk bunyinya.
"Dengar," Bara menunjuk ayam-ayam itu dengan telunjuk gemetar. "Kalian akan kubawa ke kota. Kalian akan dijual mahal. Jadi tolong, jaga image. Jangan mematuk tangan pembeli, apa kalian paham?"
Setelah perjuangan berdarah (jari Bara lecet sedikit), 10 ekor ayam hidup, 30 kg udang super, 20 kg ikan berotot, tak lupa ramuan yang akan dia jual kepada para sopir yang kekurangan energi, dimuat ke atas bak belakang The Black Chariot.
GRENG! TENG-TENG-TENG!
Motor gerobak hitam itu melaju membelah kabut pagi. Kali ini muatannya bukan sekadar ternak, tapi Monster Protein.
Setelah mengantar pesanan ramuan ke para sopir dan pesanan udang dan ikan ke restoran, tapi mereka tidak mengambil banyak, maka dari itu bara menjual sisanya di pasar, kalau beruntung dia bisa mendapatkan pelanggan tetap yang mau ngambil banyak dagangannya.
Bara memarkir motornya di sudut pasar yang strategis. Dia tidak perlu berteriak promosi. Dagangannya mempromosikan diri mereka sendiri.
Baru saja Bara membuka tutup keranjang, ayam-ayam itu langsung berkokok, suaranya lantang menggelegar mengalahkan suara ayam tetangga yang serak.
KOOOK! PETOOOK!
Ibu-ibu yang lewat kaget.
"Buset! Itu ayam apa elang, Mas? Gede bener!" tanya seorang ibu.
Bara tersenyum bangga. "Ayam Kampung High-Performance, Bu. Bebas lemak jahat, full otot. Lihat bulunya? Mengkilap tanpa shampo. Ini tanda kesehatan prima dari dalam."
Ayam-ayam itu berdiri tegak di dalam keranjang, membusungkan dada. Sehat, lincah, dan agresif.
Di sebelahnya, udang galah (sisa dari penjualan di restoran) di dalam wadah air bening berenang cepat sekali. Warna kulitnya biru cerah, capitnya panjang dan kokoh.
"Ini udang sungai asli?" tanya seorang bapak curiga. "Kok ukurannya kayak lobster?"
"Nutrisi, Pak," jawab Bara santai. "Mereka makan makanan organik dan rajin olahraga fitnes"
Kualitas tidak bisa bohong. Orang-orang pasar tahu barang bagus saat melihatnya.
"Berapa ayamnya?"
"80 ribu per ekor. Hidup."
"Mahal amat!"
"Ada harga ada rupa. Ayam saya sekali potong, dagingnya merah, manis, nggak lembek kayak ayam suntikan."
Satu per satu ayam terjual. Bara menawarkan jasa potong di tempat (dia bayar tukang potong pasar buat eksekusi, karena Bara malas kotor darah).
Saat itulah, datang seorang wanita karir dengan setelan blazer rapi, berjalan sambil menutup hidung dengan sapu tangan sutra, namanya Clara. Dia dikawal supir pribadi. Matanya yang jeli memindai lapak-lapak kotor dengan tatapan meremehkan, sampai dia melihat "kekacauan" di lapak Bara.
Seekor udang galah baru saja melompat keluar dari ember, mendarat di meja, dan mengangkat capitnya seolah menantang Clara berantem.
Clara berhenti. Dia menurunkan kacamata hitamnya.
"Lincah sekali," gumamnya.
Dia mendekat. "Mas, ini udang kamu?"
Bara sedang menghitung uang receh. Dia mendongak. "Benar, Nona. Hati-hati, dia galak. Sedang masa puber."
Clara tidak takut. Dia justru memegang punggung udang itu. Udang itu meronta kuat.
"Ototnya kuat. Ini baru bahan baku premium," mata Clara berbinar. Restorannya butuh seafood yang benar-benar segar, bukan yang sudah mati di es batu.
"Kamu punya berapa kilo?" tanya Clara.
"Tinggal 15 kilo. Yang lain sudah diserbu ibu-ibu tadi," jawab Bara.
"Saya ambil semua. Ayam serta ikan yang masih hidup itu... Saya ambil semua."
Bara tersenyum tipis. Whale Client (Pembeli Paus) telah tiba ini yang dia cari-cari.
"Pilihan cerdas. Ternak saya mempunyai kualitas tinggi, dagingnya juicy alami. Tidak perlu dipresto lama-lama."
"Saya Clara. Purchasing Manager dari Golden Spoon Group," Clara menyerahkan kartu nama.
"Bos saya rewel soal rasa. Kalau barang kamu ini seenak kelihatannya, saya akan kontrak kamu jadi supplier tetap."
"Nama saya Bara. ," jawab Bara.
Transaksi terjadi cepat. Clara membayar tunai. Supirnya mengangkut keranjang ayam yang berisik itu masuk ke bagasi mobil mewah.
"Minggu depan saya tunggu stok barunya. Jangan kecewakan saya," kata Clara sebelum pergi.
Bara menatap uang yang banyak itu dengan rasa bangga.
"Modal cacing dan dedaunan, untung 100 persen," Bara mencium uang itu. "Aromanya lebih wangi dari parfum manapun."
Sekarang, saatnya belanja yang sebenarnya. Bara tidak akan menghabiskan uang ini untuk foya-foya. Dia punya visi besar.
Dia memacu The Black Chariot menuju Pusat Bibit Tanaman terbesar di kota itu.
Bara masuk ke area pembibitan dengan mata berkilat-kilat seperti orang gila.
Dia mengeluarkan secarik kertas lusuh berisi daftar belanjaan aneh:
Operasi Rambut Gondrong (Penumbuh Rambut)
Target Tanaman: Kemiri (Aleurites moluccanus) dan Urang Aring.
Rencana: Bara akan mengekstrak minyak kemiri yang dimurnikan dengan teknik alkimia agar tidak bau gosong, tapi wanginya nutty. Dicampur urang aring untuk warna hitam pekat. Pasar: Bapak-bapak botak dan wanita yang ingin rambut tebal.
Operasi Ketiak Silau (Pemutih & Penghilang Bau)
Target Tanaman: Bengkoang (sudah ada di hutan, tapi butuh varietas unggul), Sirih Merah, dan Tawas (batu mineral).
Rencana: Menciptakan Deodorant Whitening alami. Sirih membunuh bakteri bau, bengkoang memutihkan.
Operasi Kulit Mulus (Skincare & Sabun)
Target Tanaman: Lidah Buaya (Aloe Vera Giant), Mawar, dan Melati.
Rencana: Sabun cuci muka dan serum wajah. Tapi bukan sembarang serum. Serum dengan Nano-Partikel Herbal yang menyerap 10x lebih cepat.
Operasi Hutan Gundul (Penghilang Bulu)
Target Tanaman: Kunyit Putih dan campuran getah Pepaya Muda.
Rencana: Getah pepaya mengandung enzim Papain yang bisa merontokkan protein rambut. Jika diracik dengan dosis tepat, bisa jadi krim perontok bulu tanpa rasa sakit.
Bara memanggil penjaga toko bibit.
"Pak, saya mau bibit Lidah Buaya yang pelepahnya bisa segede paha orang dewasa. Ada?"
Penjaga toko mengernyit. "Ada sih, jenis Aloe Barbadensis. Tapi mahal, Mas."
"Bungkus 10 pot. Lalu saya minta bibit Mawar Damaskus (untuk parfum), Nilam (untuk pengikat wangi), dan Kemiri Sunan."
Bara memborong semuanya. Bak belakang motornya penuh sesak dengan pot-pot tanaman dan karung pupuk.
Bara menatap tumpukan bibit itu dengan puas.
"Orang melihat ini cuma tanaman hias," gumam Bara sambil menyalakan motor. "Tapi aku melihat ini sebagai Pabrik Kosmetik. Tunggu saja. Tiga bulan lagi, wanita-wanita kota ini akan memohon-mohon demi sebotol air mawar racikanku."
Sebelum pulang ke hutan, Bara mampir ke toko kimia bahan kue. Dia membeli:
Soda Api (Natrium Hidroksida) - Bahan dasar sabun.
Minyak Zaitun curah 5 liter.
"Sabun..." pikir Bara. "Sabun adalah kebutuhan dasar. Kalau aku bisa bikin sabun yang wanginya bikin orang fly dan busanya melimpah, aku akan jadi raja pasar."
Di perjalanan pulang, Bara membayangkan logo perusahaannya nanti.
"BARA BEAUTY & HERBAL"? Terlalu standar.
"Bara GLOW"? Boleh juga.
Tiba-tiba, motornya oleng karena melindas lubang.
Gubrak!
Satu pot Lidah Buaya jatuh menggelinding.
"ADUH! ASETKU!" teriak Bara panik, segera mengerem mendadak.
Dia memungut pot itu seperti memungut bayi.
"Maafkan Papa, Nak. Kamu lecet sedikit? Nanti Papa kasih pupuk spesial."
Warga yang melihatnya geleng-geleng kepala.
"Kasihan, ganteng-ganteng gila ( GGG )."
Bara tidak peduli. Dia kembali memacu The Black Chariot naik ke gunung, membawa harapan masa depan di bak belakangnya. Hutan Larangan sebentar lagi akan berubah fungsi.
Bukan lagi sekadar tempat persembunyian.
Tapi akan menjadi Pusat Riset & Manufaktur Produk Kecantikan #1 didunia
Dan Bara, sang Alkemis Gelandangan, akan menjadi CEO-nya.