NovelToon NovelToon
PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

PULANG UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH PERGI

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Berbaikan / Tamat
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.

Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.

Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.

"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: HUJAN YANG MEMBERSIHKAN

Hujan turun malam itu dengan deras, seperti langit ikut menangis membasahi segala rahasia yang baru terkuak. Setelah anak-anak tertidur, aku dan Maya duduk di teras belakang, ditemani suara gemericik air dan aroma tanah basah yang menenangkan sekaligus mengusik.

"Ayahmu tidak akan benar-benar menerima," bisik Maya, memeluk lututnya. "Dia hanya mundur untuk sementara waktu."

"Aku tahu. Tapi setidaknya dia tidak melarang."

"Untuk sekarang." Dia menoleh padaku, matanya memantulkan cahaya lampu dari dalam rumah. "Raka, apa kita egois?"

Pertanyaan itu sudah berkali-kali muncul di kepalaku. "Mungkin. Tapi kadang, untuk bisa baik pada orang lain, kita harus baik pada diri sendiri dulu."

"Dan anak-anak? Apakah kita baik pada mereka? Membawa mereka ke dalam hubungan yang akan dipandang sinis oleh masyarakat?"

Aku menarik napas dalam. "Aku tidak punya jawaban sempurna, Maya. Tapi yang aku tahu: anak-anak butuh lingkungan yang penuh cinta dan keamanan. Dan itu bisa kita berikan."

"Tapi cinta kita tidak murni, Ra." Suaranya pecah. "Dicampuri dengan rasa bersalah. Dengan dendam pada keluarga yang memisahkan kita. Dengan kemarahan pada delapan tahun yang terbuang."

"Apa ada cinta yang benar-benar murni?" tanyaku, lebih pada diri sendiri. "Bukankah setiap cinta membawa bekas luka dan sejarah masing-masing?"

Hujan semakin deras. Maya menunduk, bahunya berguncang. Aku ingin memeluknya, tapi tangan terasa berat. Karena apa yang dia katakan benar ada kemarahan di antara kita. Marah pada keluarga. Marah pada takdir. Marah pada diri sendiri yang tidak cukup berani dulu.

"Kemarin," ucapnya tiba-tiba, "aku bertemu dengan psikolog Kinan. Untuk konsultasi tentang trauma jatuh di pantai."

"Dan?"

"Dia tanya tentang dinamika keluarga. Tentang kehadiranmu. Dan aku... aku berbohong. Bilang kamu hanya sepupu yang sedang membantu sementara."

"Mengapa berbohong?"

"Karena takut. Takut dia akan bilang ini tidak sehat. Takut dia akan merekomendasikan agar kamu pergi."

Aku memandangnya, hati sakit. "Kita tidak bisa hidup dalam kebohongan terus, Maya."

"Tapi kebenarannya menyakitkan, Raka! Dan aku tidak mau anak-anakku yang menanggung rasa sakit itu!"

"Jadi kita akan sembunyi selamanya? Seperti delapan tahun lalu?"

Dia tidak menjawab. Hanya menatap hujan yang mengguyur taman belakang.

"Besok," kataku akhirnya, "kita ajak anak-anak ke psikolog bersama. Jujur. Lihat apa yang mereka katakan."

Maya mengangguk pelan, takut.

---

Psikolog anak itu bernama Bu Arini. Perempuan paruh baya dengan mata yang lembut dan senyum yang tidak menghakimi. Ruangannya penuh mainan, lukisan anak-anak, dan buku-buku warna-warni.

"Jadi Bapak Raka tinggal di rumah Ibu Maya?" tanyanya setelah mendengar penjelasan kami yang canggung.

"Iya, Bu. Sudah beberapa bulan," jawabku.

"Dengan status...?"

"Kami sepupu. Tapi... kami memiliki perasaan lebih dari sekadar sepupu."

Bu Arini mengangguk, mencatat sesuatu. "Dan anak-anak tahu?"

"Kami sudah bicara dengan Bima. Kinan masih terlalu kecil untuk mengerti sepenuhnya."

"Ibu Maya, bagaimana perasaan Bima tentang ini?"

Maya menggenggam tanganku. "Awalnya bingung. Tapi sekarang... dia menerima. Bahkan mendukung."

"Dan Kinan?"

"Dia senang dengan kehadiran Raka. Tapi belum paham konsep hubungan kami."

Bu Arini memandangi kami bergantian. "Boleh saya bicara dengan anak-anak? Sendirian?"

Kami mengangguk, keluar dari ruangan. Di ruang tunggu, Maya menggigit bibirnya sampai putih.

"Tenang," bisikku, meski hatiku juga berdebar tidak karuan.

Lima belas menit dengan Bima. Sepuluh menit dengan Kinan. Setiap detik terasa seperti jam.

Ketika Bu Arini memanggil kami kembali, ekspresinya tidak terbaca.

"Bima anak yang sangat bijak untuk usianya," mulainya. "Dia memahami situasi dengan jelas. Dan yang dia utarakan... adalah ketakutan akan ditinggalkan lagi."

Maya menutup mulutnya, menahan tangis.

"Dia bilang, 'Aku senang Om Raka ada. Tapi aku takut kalau Om Raka dan Mama bersama, nanti bertengkar seperti Mama dan Papa dulu, lalu Om Raka pergi juga'."

Sekarang aku yang merasa seperti ditinju. Karena itu masuk akal. Bima sudah melihat model hubungan yang gagal. Dia takut sejarah terulang.

"Dan Kinan?"

"Kinan... polos. Dia bilang Om Raka adalah 'Papa yang baik'. Ketika saya tanya apa bedanya dengan Papa yang dulu, dia jawab: 'Papa yang dulu tidak pernah main denganku. Om Raka selalu ada'."

Bu Arini meletakkan pulpennya. "Yang perlu kalian pahami: untuk anak-anak, stabilitas adalah segalanya. Mereka sudah melalui trauma ditinggalkan oleh ayah kandungnya. Kehadiran Bapak Raka adalah hal positif memberikan rasa aman dan perhatian yang mereka butuhkan."

"Tapi... tentang hubungan kami?" tanya Maya pelan.

"Hubungan kalian dewasa akan mempengaruhi mereka, tentu. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kalian memperlakukan mereka. Dan sejauh ini, dari yang saya dengar, Bapak Raka sudah menjadi figur pengasuh yang baik."

Dia berhenti, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Tapi ada satu hal: anak-anak butuh kejelasan. Mereka butuh tahu apakah Bapak Raka akan menetap, atau ini hanya sementara. Ketidakpastian adalah musuh terbesar mereka saat ini."

"Raka akan menetap," kata Maya cepat. "Dia sudah mengundurkan diri dari Singapura."

"Tapi secara legal? Secara sosial? Apa jaminannya? Bima bertanya pada saya: 'Bagaimana kalau keluarga Om Raka tidak setuju dan memaksa Om pergi?'"

Aku terdiam. Karena itu mungkin saja terjadi. Ayahku bisa saja menggunakan caranya untuk memaksaku kembali ke Singapura.

"Jadi saran saya," lanjut Bu Arini, "berikan mereka kejelasan. Jika kalian serius, buat komitmen yang jelas. Dan lakukan transisi perlahan. Jangan terburu-buru mengubah dinamika keluarga yang sudah mulai terbangun."

Keluar dari ruangan itu, kami membawa beban baru. Bukan larangan, tapi tanggung jawab yang lebih besar.

---

Malamnya, kami mengadakan "rapat keluarga" kecil. Di ruang tamu, dengan susu coklat untuk Kinan dan Bima.

"Kita tadi sudah ke psikolog," mulai Maya. "Dan kami belajar bahwa kalian... punya ketakutan."

Bima menunduk. Kinan tetap asyik dengan susunya.

"Bima, kamu takut Om pergi lagi?" tanyaku langsung.

Dia mengangguk, tidak menatapku.

"Om janji tidak akan pergi. Tapi Om mengerti kalau janji itu tidak cukup. Jadi Om mau tawarkan sesuatu." Aku mengambil kertas dan pulpen. "Mari kita buat perjanjian keluarga."

Bima mengangkat kepala, penasaran.

"Kita tulis hal-hal yang bisa kita harapkan satu sama lain. Dan konsekuensinya jika melanggar."

Kinan tertarik mendekat. "Adek juga mau!"

"Oke, Kinan mau tulis apa?"

"Adek mau Om janji selalu ada waktu Adek ulang tahun. Papa dulu tidak pernah."

Tulisan pertama di kertas: 1. Om Raka akan selalu ada di hari ulang tahun Kinan dan Bima.

Bima berpikir. "Aku mau... kalau Om dan Mama bertengkar, jangan di depan kami. Dan jangan berhari-hari tidak bicara seperti dulu."

Maya dan aku saling memandang. Itu permintaan yang dalam. 2. Jika ada masalah, dibicarakan baik-baik, tidak bertengkar di depan anak-anak.

"Lalu," lanjut Bima, "kalau Om memang akan tinggal selamanya... Om harus punya kamar sendiri."

Itu mengejutkan. "Kenapa?"

"Karena... karena kalau Om dan Mama satu kamar, itu berarti Om benar-benar jadi ayah kami. Dan aku... belum siap melihat itu."

Maya memegang tangan Bima. "Kami mengerti. Dan kami akan menghormati itu."

Jadi perjanjian ketiga: 3. Om Raka akan tetap punya kamar terpisah sampai semua pihak siap.

"Ada lagi?" tanyaku.

"Yang terakhir," kata Bima, suaranya kecil. "Kalau suatu hari Om benar-benar harus pergi... beri tahu kami dulu. Jangan tiba-tiba hilang."

Perjanjian keempat, yang paling menyayat hati: 4. Tidak ada kepergian tiba-tiba. Semua keputusan akan dibicarakan sebagai keluarga.

Kami semua menandatangani kertas itu Maya, aku, Bima dengan namanya yang rapi, Kinan dengan coretan gambar hati. Lalu kami tempel di pintu kulkas, di mana semua bisa melihat setiap hari.

"Perjanjian ini lebih kuat dari sekadar janji," kataku. "Karena kita semua terlibat."

Bima tersenyum, untuk pertama kalinya sejak diskusi dimulai. "Terima kasih, Om."

---

Minggu-minggu berikutnya, kami hidup dengan perjanjian itu sebagai panduan. Ada momen-momen sulit seperti ketika tetangga melontarkan komentar pedas di depan Bima, atau ketika keluarga Maya mengadakan acara dan "lupa" mengundangku.

Tapi ada juga momen-momen indah seperti ketika Bima secara spontan memanggilku "Bapak" di depan gurunya, lalu cepat membenarkan jadi "Om Raka". Atau ketika Kinan menggambar keluarga dengan empat orang: "Mama, Bapak Raka, Kak Bima, dan Adek".

Yang paling mengharukan adalah suatu sore, ketika Maya sakit demam. Aku yang memasak, merawatnya, mengurus anak-anak. Dan Bima, tanpa diminta, mengambil termometer dan buku catatan, menjadi "dokter kecil" untuk ibunya.

"Bapak dulu tidak pernah lakukan ini," bisiknya padaku di dapur sementara Maya tidur. "Dia tidak peduli kalau Mama sakit."

"Ayahmu punya masalahnya sendiri, Bima."

"Tapi Om peduli. Itu yang penting."

Malam itu, setelah memastikan Maya minum obat, aku duduk di samping tempat tidurnya.

"Kamu baik sekali pada kami," bisiknya, matanya berkaca-kaca karena demam. "Terlalu baik sampai aku takut."

"Takuti apa?"

"Takut ini mimpi. Takut aku terbangun dan kamu tidak ada di sini."

Aku memegang tangannya. "Aku di sini. Nyata. Dan tidak kemana-mana."

"Raka... ada satu hal yang belum kukatakan."

"Apa?"

"Aku... aku hamil."

Dunia berhenti berputar.

"Apa?"

"Dua bulan. Sejak... sejak malam ketika kita pertama kali..."

Maksudnya malam ketika kami berdua, dalam keputusasaan dan kerinduan, akhirnya menyerah pada perasaan. Malam yang seharusnya tidak terjadi, tapi terjadi.

"Kenapa tidak bilang?" suaraku serak.

"Karena takut. Takut kamu merasa terpaksa. Takut ini akan membuat semuanya lebih rumit."

Dia benar. Ini membuat segalanya lebih rumit. Tapi juga... lebih nyata.

"Kamu mau anak ini?" tanyaku.

"Ya. Tapi... apa kamu?"

Aku menunduk, menatap perutnya yang masih rata. Di sana, ada kehidupan baru. Hasil dari cinta kami yang lama tertahan. Bukti fisik bahwa kami memang bersama.

"Tentu aku mau," jawabku akhirnya, air mata mengalir tanpa kusadari. "Tapi kita harus bicara pada anak-anak. Dan pada keluarga."

"Besok," janjinya. "Sekarang, peluk aku. Aku butuh merasa aman."

Aku berbaring di sampingnya, memeluknya pelan. Di antara kami, ada kehidupan baru yang sedang tumbuh. Di luar, hujan mulai turun lagi lembut kali ini, seperti berkah.

Dan di tengah segala kerumitan, ketakutan, dan ketidakpastian, ada satu hal yang pasti: kami adalah keluarga. Dengan segala kekurangannya. Dengan segala kerumitannya. Dengan segala cintanya.

Hari esok akan membawa tantangan baru. Tapi malam ini, dalam pelukan dan hujan yang menenangkan, kami cukup kuat untuk menghadapinya.

Bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!