Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 | KEJUTAN TENGAH MALAM
“Tambah parsley-nya sedikit lagi, Bas.” Summer melongokkan kepalanya di balik punggung Sebastian—salah satu koki restorannya—ketika pria itu sedang menaburkan parsley ke aglio olio.
“Pastikan kau mengaduk dengan lembut, Jay. Butir beras harus harus tetap utuh dan agak kenyal.” Summer sudah bergeser ke samping kanan, mengamati Jay yang sedang membuat risotto.
“Siap, Bos.” Jay mengangkat telunjuk dan jari tengah yang menempel ke arah pelipis, tanda dia paham dengan instruksi Summer.
Genap sebulan, Ethereal Blue—nama restorannya—buka, tiga per empat kursi sudah terisi sekarang. Seluruh penjuru restoran sibuk. Dua chef: Alex dan Grace, dua kokinya yang merupakan mahasiswa seni kuliner tingkat akhir: Jay dan Sebastian, serta Summer sendiri sudah berkutat dengan masakan sejak pukul lima sore.
Mengambil konsep casual fine dining, restoran hanya buka dari pukul lima sore hingga sebelas malam, waktu pagi hingga siang Summer gunakan untuk mengasah keterampilan memasaknya di pelatihan kuliner. Sudah tiga bulan ia mengikuti program di sana, diarahkan langsung oleh profesional yang telah teruji kualitasnya. Summer akan mendapat sertifikat profesional setelah keluar dari sana empat tahun lagi—atau bisa lebih cepat jika kemampuannya terlampau mengesankan.
Sebenarnya tidak banyak pengetahuan baru yang Summer peroleh di pelatihan, sebagian besar sudah ia ketahui sewaktu kuliah, sisanya dari dapur lapas, tempat ia dengan cepat dijadikan sebagai asisten koki. Didepak dari universitas ketika berada tingkat akhir untuk menjalani proses hukum masih terasa menyakitkan hingga sekarang. Namun, apa boleh buat, tidak ada jalan kembali, Summer harus meniti jalan dari awal lagi.
“Meja 6!” Summer menekan bel hingga seorang pelayan perempuan bergegas mengambil makanan. Setelah itu, ia berjalan menuju oven, hendak mengambil lasagna yang sudah matang.
Tiga pelayan terlihat hilir mudik kewalahan, mengingat satu pelayan sedang cuti karena ayahnya sakit. Tepat saat Summer mematikan oven, pintu dapur kembali terbuka, kali ini bukan pelayan yang ingin mengambil makanan, melainkan Kian—dengan wajah seperti ingin menikam orang.
“Summer!” Dengan wajah sekusut kemejanya dan hidung kembang kempis, Kian mengedarkan pandangan ke dapur yang sibuk, berhasil menemukan Summer di sudut ruangan. Dengan langkah sedikit mengentak, ia berjalan ke arah adik tirinya. “Kau benar-benar! Kembalikan mobilku—”
Seruan marah Kian tersumpal begitu saja saat Summer dengan sangat santai mengalungkan tali apron melewati lehernya. Kain berwarna cokelat gelap itu menjuntai lunglai karena tali belum dililitkan ke pinggang.
“Apa-apaan kau?” Kian setengah mendesis, suaranya sedikit tenggelam oleh spatula yang menggesek papan penggorengan, ketukan cepat pisau yang beradu dengan talenan, teriakan menu yang sudah siap oleh para chef, serta kombinasi langkah pelayan yang semrawut mengambil pesanan. Hawa di sana juga membuatnya cepat gerah, api berderai-derai menjilat wajan.
Alih-alih menjawab kekesalan Kian, Summer menunjuk penampan berisi escargot dan chicken alfredo di meja silver tidak jauh dari mereka. “Meja 12.”
Gigi Kian bergemeretak, wajahnya merah padam. “Kutanya apa-apaan kau?”
“Satu pelayanku sedang cuti, kami kekurangan orang. Malam ini kau gantikan dia,” ucap Summer tanpa dosa sembari mengeluarkan lasagna dari oven dan menaruhnya di meja.
“Oh, apa ‘mencekik bos’ termasuk tugas pelayan di sini? Kalau iya, akan kulakukan.”
Summer sedikit membungkuk untuk mengamati warna lasagna dengan cermat, uap mengepul menerpa wajahnya. “Belum kumasukkan ke dalam daftar tugas. Kurasa ‘menendang bokong kakak bos’ juga bisa menjadi bahan pertimbangan yang bagus. Terima kasih sarannya.”
“Tentu. Tolong masukkan juga ‘membakar apron rombeng sebelum membakar restoran dan pemiliknya’ ke dalam tugas wajib.” Kian mendengus. “Aku tidak punya waktu untuk omong kosongmu.”
“Hati-hati.” Saat Kian hendak melepas apron, Summer merogoh sesuatu di kantong celananya. Sebuah kunci mobil, yang kemudian dia goyang-goyangkan di depan Kian, membuat gerakan pria itu sempurna terhenti. Seringaian puas Summer tertera gamblang di bibirnya. “Aku akan membuangnya ke kloset kalau kau melepasnya.”
Kian terkesiap, gerakannya sempurna terhenti. Kekesalan semakin menggelayut pekat di wajahnya yang ditempeli peluh-peluh kecil. Ia baru pulang dari kantor setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan, tiba di rumah dengan perasaan sedikit lebih baik hanya karena mendapat kabar jika mobil barunya sudah diantar ke rumah. Namun, kendaraan yang ingin segera dilihatnya tidak ada, dibawa adik tirinya dengan semena-mena. Bagaimana Kian tidak berang?
Alih-alih bisa mengomel dan mengambil mobilnya, sekarang dia malah dijadikan tumbal dengan menjadi pelayan. Bagaimana Kian tidak ingin memuntir kepala Summer layaknya koki yang sedang membuat sosis?
Namun, akal sehat berhasil menguasai Kian. Daripada terjadi apa-apa dengan mobil barunya, karena Summer—tidak diragukan lagi—gila, Kian akhirnya mengikat tali apron ke belakang punggung.
Melihat Kian menurut, Summer bersiul. “Nah, sekarang baru terlihat tampan—aduh, mataku silau. Apa kau cahaya ilahi?” Summer mengangkat tangan di depan wajah dengan dramatis.
Kian melempar tatapan tajam. “Ratu iblis.”
“Bocah tengik.”
Kian membuang muka sambil menghela napas kasar, berderap menuju penampan berisi pesanan di dekat Summer.
“Hei, kau akan membuat pelanggan kabur kalau wajahmu seperti pembunuh berantai begitu. Coba senyum sedikit.” Summer menarik kedua sudut bibirnya, mengajari Kian. “Ayo—”
“Hector mati setelah ditikam kemudian mayatnya diarak tiga putaran di Troya, Ragnar Lothbrok dilempar ke lubang ular hidup-hidup, tubuh Osiris dimutilasi menjadi empat belas bagian. Kurasa aku sudah punya cukup referensi. Kuperingatkan agar kau berhati-hati mulai sekarang.” Kian menyambar penampan dengan ekspresi sinis.
Setelah mendesis yang disertai dengusan kasar, Kian berbalik. Dan sebelum membuka pintu, ia berhenti sejenak, memaksa bibirnya untuk menyunggingkan senyum.
Tepat ketika Kian hilang ditelan pintu, tawa Summer membuncah. Selalu menyenangkan mengerjai kakak tirinya.
...****...
Summer meregangkan tubuhnya setelah menggantung terbalik gelas yang baru dicucinya ke rak gantung. Dapur restoran menyisakan lengang ketika para chef, koki, pelayan, bahkan Kian sudah pulang. Summer menoleh ke belakang, menatap jam dinding.
Dua belas malam.
Ia mengembuskan napas panjang, melepas apron dan menyampirkannya di stand hanger. Saatnya pulang setelah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan ia lewati. Summer meraih kunci mobil lama Kian yang sengaja pria itu tinggalkan untuknya.
Langkah Summer yang bergema, terdengar lebih jelas dalam keheningan. Ia mendorong pintu dapur, langsung berhadapan dengan meja dan kursi pelanggan yang dibungkus temaram karena seluruh lampu utama telah dimatikan, menyisakan lampu dinding tembaga yang menyorot rapuh.
Summer melangkah lurus di antara meja-meja kayu berwarna gading tanpa ukiran yang dikelilingi kursi berbantal duduk empuk berwarna hitam pekat, lampu-lampu gantung kristal yang berderet pada jarak presisi satu sama lain memantulkan kilau redup lampu dinding, masih terlihat menawan. Pintu kaca berdaun ganda dengan bingkai gading di depan sana menjadi pusat pandangan Summer selanjutnya.
Hanya tinggal beberapa langkah dari pintu, Summer mengernyit saat mendapati seseorang di luar restoran, berdiri diam di sana. Pencahayaan yang kurang memadai membuat Summer tidak bisa melihat wajah orang itu, hanya bisa memastikannya sebagai seorang pria dari postur tubuhnya.
Langkah Summer melambat, mulai siaga. “Kebetulan lewat? Orang iseng?”
Tangan Summer bergerak perlahan ke dalam tas, menggenggam penyemprot lada bersamaan dengan satu tangannya yang lain mendorong pintu. Kalau orang itu macam-macam, Summer sudah siap.
Detik di mana Summer melewati pintu dan angin malam menyapu wajahnya, ia tertegun. Pandangannya tertuju pada sosok tinggi yang terpaut sekitar lima meter di depannya.
Dari jarak ini ia akhirnya bisa melihat wajah dan penampilan orang itu. Setelan jas hitam, sepatu hitam mengilat, rambut hitam lurus yang sudah tidak terlalu rapi, aura mengintimidasi, dan iris sekelam obsidian ….
Tatapan mereka bertemu dalam kesunyian, mendatangkan ribuan pertanyaan yang menyeruak dalam kepala Summer, mengambang tanpa ada jawaban.
Pada tengah malam yang terasa dingin ini, Archilles Meridian datang menemuinya.
...****...