Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siapa kalian
Fiora perlahan membuka matanya. Langit-langit putih rumah sakit dan bau obat-obatan yang menyengat menyambut kesadarannya. Punggungnya masih terasa sangat nyeri, namun pikirannya sudah merencanakan sesuatu yang lebih "menyakitkan" untuk Galang.
"Emmm... aku di mana?" rintih Fiora pelan.
Mendengar suara itu, Galang, orang tua Fiora, dan orang tua Galang langsung mengerumuni brankar. Wajah mereka tampak sangat lega, terutama Galang yang sejak tadi tak berhenti merapal doa.
"Fiora! Syukurlah kamu sudah sadar," ucap Mama Fiora sambil menggenggam tangan putrinya.
Fiora menoleh perlahan, menatap wajah mereka satu per satu dengan tatapan kosong dan bingung yang sangat natural. "Fiora? Siapa... Fiora?"
Suasana kamar VIP itu seketika hening. Mereka semua saling bertatapan dengan wajah pucat.
"Dok! Dokter!" teriak Papa Fiora panik. "Dokter, anak saya kenapa?!"
Tak lama kemudian, dokter masuk dan melakukan pemeriksaan singkat. Fiora yang sudah bertekad menjalankan misi ini tetap pada perannya. Ia menarik tangannya saat hendak disentuh oleh Galang.
"Kenapa Nyonya, Tuan? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Fiora dengan suara bergetar ketakutan. "Aku di mana? Siapa sebenarnya kalian semua?"
"Fiora, ini aku... Galang," ucap Galang dengan suara serak, mencoba mendekat.
Fiora menatap Galang dengan tatapan jijik dan asing. "Galang? Aku tidak kenal siapa kamu. Tolong jauh-jauh dariku! Kamu menakutkan!"
Dokter menghela napas panjang setelah memeriksa respons saraf Fiora. "Mohon maaf... sepertinya benturan keras di punggungnya berdampak pada saraf pusat. Nona Fiora mengalami amnesia."
Galang mendengar itu seperti tersambar petir. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tak percaya kejadian tadi benar-benar membuat Fiora melupakan segalanya, termasuk cintanya yang selama ini selalu ia sia-siakan.
Galang terduduk lemas di kursi samping tempat tidur. Rasa bersalahnya kini berlipat ganda. "Fio... ini tidak mungkin," gumamnya tak berdaya.
Fiora yang melihat wajah hancur Galang dari sudut matanya merasa puas. Rasain! Kamu mau asisten malang itu kan? Sekarang nikmati kehilangan tunangan yang selama ini kamu abaikan, batin Fiora licik di balik wajah "bingung"-nya.
Pada hari ini, Fiora resmi memulai permainan barunya. Ia tidak lagi mengejar Galang; sekarang, biarkan Galang yang mengemis ingatan dan cintanya kembali.
Mama Fiora dengan air mata berlinang segera membelai lembut kening putrinya. "Sayang, ini Mama... kamu ingat, kan? Ini Mama, Nak."
Fiora menatap wajah ibunya dengan mata yang dibuat berbinar polos. "Mama? Apakah Mamaku benar-benar secantik ini?"
Tangis Mama Fiora pecah mendengar pujian itu, ia memeluk Fiora dengan erat. "Iya, Sayang... ini Mama."
Papa Fiora pun mendekat, mencoba memberikan ketenangan. "Dan ini Papa, Fio." Fiora tersenyum kecil pada Papanya, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah drastis saat matanya tertuju pada sosok pria yang berdiri mematung di ujung tempat tidur.
"Tapi... siapa pria itu?" tanya Fiora dengan nada bergetar, wajahnya menunjukkan ketakutan yang luar biasa. Ia mengangkat tangannya yang gemetar dan menunjuk tepat ke muka Galang. "Dia terlihat begitu menyeramkan dan menakutkan! Tolong suruh dia pergi, Ma! Aku takut!"
Galang terhuyung mundur satu langkah, dadanya sesak seperti dihantam godam besar. Pria yang selama ini menjadi pusat semesta bagi Fiora, pria yang selalu dikejar-kejar dengan penuh cinta, kini justru disebut sebagai sosok yang menyeramkan dan menakutkan.
"Fio... ini aku, Galang. Tunanganmu," ucap Galang dengan suara yang hampir habis, mencoba memberikan penjelasan dengan sisa kekuatannya.
"Tidak! Aku tidak punya tunangan seseram kamu! Pergi! Ma, suruh dia pergi!" teriak Fiora histeris, ia bahkan sampai menutup wajahnya dengan selimut dan meringkuk ketakutan di balik pelukan Mamanya.
Galang hanya bisa terdiam membisu, tangannya mengepal di samping tubuh. Hatinya hancur berkeping-keping. Pada sore hari ini, Galang merasakan penolakan yang jauh lebih menyakitkan daripada saat ia menolak Fiora di taman waktu itu.
Fiora di balik selimutnya justru tersenyum puas. 'Gimana rasanya ditolak, Tuan Galang yang Terhormat? Baru diginiin aja udah mau nangis, gimana aku yang selama ini kamu cuekin?' batin Fiora licik.
Melihat kondisi Fiora yang semakin histeris, Papa Fiora menatap Galang dengan tegas. "Galang, sebaiknya kamu keluar dulu. Kondisi Fiora belum stabil untuk melihatmu."
Galang mengangguk lemah, ia berjalan keluar kamar dengan langkah gontai, meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi oleh kehangatan keluarga Gabriela yang tanpa dirinya.
Galang melangkah dengan berat menuju bangsal tempat Mira dirawat. Pikirannya masih kacau karena penolakan keras Fiora tadi. Saat pintu terbuka, Mira yang sedang duduk di ranjang langsung menoleh.
"Mira, kau tak apa?" tanya Galang datar, mencoba tetap peduli meski jiwanya tertinggal di kamar VIP Fiora.
Melihat kedatangan Galang, Mira segera berhambur turun dan memeluk Galang dengan erat. "Tuan... aku takut... aku sangat takut kalau orang-orang jahat itu datang lagi!" rintihnya sambil terisak di dada Galang.
Namun, ada yang berbeda. Galang tidak membalas pelukan itu. Tangannya hanya menggantung kaku di sisi tubuhnya. Bayangan wajah ketakutan Fiora saat menunjuknya sebagai "pria menyeramkan" terus menghantui pikirannya.
"Sudah... kau sudah aman di sini," ucap Galang sambil perlahan namun pasti melepaskan pelukan Mira. Ia mengambil jarak satu langkah, membuat Mira sedikit tertegun.
"Bagaimana... bagaimana dengan Nona Fiora? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Mira dengan nada cemas yang dibuat-buat.
Galang menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah jendela. "Dia... dia hilang ingatan. Dia tidak mengenalku sama sekali."
Mendengar itu, Mira tersenyum sangat tipis sekali, hampir tak terlihat jika Galang tidak sedang melengos. Ia merasa jalannya kini semakin mulus tanpa gangguan si putri konglomerat. Namun, dengan cepat Mira merubah ekspresinya menjadi sangat bersalah.
"Ya ampun! Ini pasti gara-gara aku!" seru Mira dramatis. Ia mulai memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan. "Kenapa bukan aku saja yang kena kayu itu? Kenapa harus Nona Fiora? Aku memang pembawa sial!"
"Mira, tenang!" Galang menahan tangan Mira agar berhenti menyakiti dirinya sendiri. "Ini bukan salah kamu. Ini kecelakaan. Jangan bicara begitu."
Meskipun Galang berusaha menenangkan Mira, hatinya tetap terasa kosong. Pada sore ini, Galang menyadari satu hal pahit: ia memiliki Mira yang membutuhkannya, tapi ia kehilangan Fiora yang (ternyata) adalah separuh dari jiwanya.
Di sisi lain, di kamar VIP, Fiora sedang asyik menikmati potongan buah dari Mamanya. Ia tahu Galang pasti sedang menemui Mira. "Silakan saja hibur asisten kesayanganmu itu, Galang. Tapi bersiaplah, karena mulai besok, aku akan membuat hidupmu di kantor menjadi neraka yang paling manis," batin Fiora licik. Hari ini benar-benar menjadi awal babak baru bagi Fiora.