Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Warisan dalam Kaleng Biskuit
Hujan di kota ini seperti tidak punya belas kasihan. Sejak sore, langit menumpahkan air bah yang bercampur dengan debu aspal dan asap knalpot, menciptakan aroma anyir yang menyesakkan.
Di perempatan lampu merah yang macet, Banyu berdiri menggigil di samping gerobak motornya. Plastik terpal biru yang menutupi dagangannya koran sore dan majalah gosip berkibar-kibar dihajar angin.
Banyu merapatkan jaket parasutnya yang sudah tipis. Bibirnya membiru. Untuk orang normal, ini cuma hujan biasa. Tapi bagi Banyu, dingin ini seperti jarum es yang menusuk langsung ke jantungnya yang cacat.
Dari balik kaca mobil mewah yang berhenti di lampu merah, Banyu melihat sekelompok anak muda seusianya sedang tertawa-tawa. Mereka memakai jaket almamater universitas ternama.
Dada Banyu terasa nyeri. Bukan cuma karena penyakit jantung bawaannya, tapi karena rasa iri yang membakar.
Tiga tahun lalu, dia adalah siswa lulusan terbaik di SMA-nya. Nilai matematikanya sempurna, otak encer. Harusnya, dia ada di dalam mobil itu, tertawa membahas skripsi atau pacar. Tapi takdir berkata lain. Vonis dokter tentang jantungnya dan stroke mendadak yang menyerang kakeknya satu-satunya keluarga yang ia miliki memaksa Banyu mengubur mimpi kuliah.
Uang tabungan habis untuk obat. Beasiswa hangus karena dia harus bekerja. Dan kini, di sinilah dia. Seorang jenius yang berakhir jadi penjual koran di pinggir jalan. Sebatang kara, sakit-sakitan, dan miskin.
"Takdir emang brengsek," umpat Banyu lirih, suaranya hilang ditelan deru hujan.
Sadar tubuhnya sudah mencapai batas, Banyu memutuskan pulang. Dia tidak mau mati konyol di pinggir jalan.
Dia mendorong motor gerobaknya memasuki gang sempit menuju kosan. Namun, baru saja melewati tikungan gelap di bawah jembatan layang, jalanan dihadang.
Joni. Preman kampung berwajah tengil itu berdiri di tengah jalan sambil merokok, ditemani dua kacungnya yang cengengesan.
"Woi, Juragan Koran. Buru-buru amat?" Joni menyeringai, asap rokok mengepul dari mulutnya.
Banyu menghela napas berat. "Minggir, Jon. Gue lagi gak enak badan."
"Alah, alesan mulu lu kayak bajaj mogok," Joni melangkah maju, mencengkeram stang motor Banyu. "Setoran minggu ini mana? Gue liat tadi ada mobil beli majalah fashion mahal. Pasti cuan kan?"
"Itu duit modal, Jon. Buat beli obat gue," suara Banyu terdengar lemah. "Gue sesak napas hari ini. Tolong lah, jangan sekarang."
"Bodo amat sama napas lu! Gue butuh rokok!" Joni yang tak sabaran langsung merogoh saku jaket Banyu secara paksa.
Banyu mencoba menepis tangan Joni. "Jangan!"
Tepisannya lemah, tapi cukup membuat Joni tersinggung.
"Ngelawan lu ya?!"
BUGH!
Satu tendangan keras mendarat telak di dada Banyu.
Bagi orang sehat, itu cuma tendangan biasa. Tapi bagi Banyu, rasanya seperti dihantam palu godam. Jantungnya yang lemah seolah berhenti berdetak sesaat.
"Ugh..." Banyu terhuyung ke belakang, lalu ambruk ke aspal basah yang penuh genangan air kotor.
Gerobak motornya oleng dan terguling. Majalah dan koran dagangannya tumpah ke jalan, langsung basah kuyup tersiram hujan dan lumpur.
Joni kaget melihat Banyu jatuh dan tidak bangun-bangun, wajahnya pucat pasi seperti mayat.
"Woi, Jon... mati dia?" bisik salah satu kacung ketakutan.
"Cih, akting doang paling," Joni meludah ke arah Banyu, tapi kakinya mundur perlahan. "Cabut! Jangan sampe ada yang liat!"
Mereka lari meninggalkan Banyu yang terkapar sendirian di tengah hujan.
Sepi. Dingin. Gelap.
Banyu mencoba menarik napas, tapi paru-parunya seperti diisi beton. Sakitnya luar biasa. Setiap tarikan napas adalah siksaan. Dia ingin berteriak minta tolong, tapi suaranya tak mau keluar.
Gue... gak boleh mati di sini...
Dengan sisa tenaga terakhir, Banyu memaksakan diri untuk bangkit. Kakinya gemetar hebat, nyaris tak sanggup menopang berat badannya sendiri.
Dia berjalan tergopoh-gopoh, langkahnya sempoyongan seperti orang mabuk. Satu tangannya mencengkeram dada yang terasa mau pecah, sementara tangan lainnya meraba dinding gang yang kasar sebagai tumpuan agar tidak ambruk lagi.
Dia sengaja memilih jalan tikus yang gelap agar tidak berpapasan dengan orang. Dia tidak mau dikasihani, dan dia tidak punya uang untuk ke rumah sakit. Dia hanya ingin pulang dan bersembunyi.
Satu meter. Dua meter. Napasnya memburu, ngik-ngik seperti peluit rusak. Air hujan menyamarkan air mata yang meleleh di pipinya.
Kos-kosan Banyu adalah rumah tingkat dua milik pasangan paruh baya, Pak Rahmat dan Bu Yati. Mereka orang baik. Pak Rahmat dan Bu Yati tinggal di lantai dua, sementara tiga kamar di lantai bawah disewakan. Banyu bersyukur suasana sepi. Bu Yati dan Pak Rahmat sepertinya sedang di lantai atas. Tidak ada yang melihat betapa menyedihkannya dia saat ini.
Sesampainya di depan pintu kamar kosnya di lantai bawah.
Banyu membuka kunci dengan tangan gemetar, masuk ke kamar, dan langsung mengunci pintu kembali.
Dia ambruk di lantai dingin. Napasnya ngik-ngik seperti peluit rusak. Pandangannya mulai kabur. Gelap mulai merayap di pinggir matanya.
Dia merogoh saku celana, mencari botol obatnya. Kosong. Dia lupa, obatnya habis tadi pagi dan uang untuk membelinya tadi ada di dompet yang entah jatuh di mana saat dia ditendang Joni.
"Kek... Banyu capek, Kek..." bisiknya parau. "Banyu nyusul ya..."
Saat dia berbaring menanti ajal, matanya tertumbuk pada kolong tempat tidur. Di sana, tertutup debu tebal, ada sebuah kaleng biskuit tua. Kaleng Khong Guan karatan.
Ingatan masa lalu menyeruak di kepalanya yang pening.
"Nyu," suara serak kakeknya terngiang. "Kakek gak punya tanah atau emas buat kamu. Tapi di kaleng ini... ada satu-satunya harta warisan leluhur kita. Kalau kamu bener-bener putus asa, kalau dunia udah gak ngasih kamu jalan... buka kaleng ini."
Dulu, Banyu tidak pernah membukanya. Dia pikir itu cuma omongan orang tua yang mulai pikun. Paling isinya cuma surat-surat tagihan lama atau batu akik palsu. Dia terlalu sibuk berjuang hidup sampai lupa keberadaan kaleng itu.
Sekarang, di ujung nyawanya, rasa penasaran itu muncul.
Banyu mengulurkan tangan, menarik kaleng berdebu itu dengan susah payah. Dia membukanya.
Krekk... Tutup kaleng yang karatan terbuka.
Isinya kosong.
Hanya ada secarik kain merah kusam yang membungkus sesuatu. Banyu membuka kain itu.
Sebuah botol.
Bukan emas batangan. Bukan berlian. Cuma sebuah botol gepeng berwarna putih susu, seukuran telapak tangan, terbuat dari bahan mirip keramik atau tulang. Ada ukiran pohon aneh di permukaannya.
Banyu tertawa. Tawa yang kering dan miris.
"Hah... Kakek..." air matanya menetes lagi. "Ini harta karunnya? Botol rongsokan? Buat apa ini, Kek? Buat nimpuk Joni?"
Rasa putus asa menghantamnya lebih keras daripada tendangan Joni tadi. Dia merasa dibodohi oleh harapan terakhirnya. Hidupnya benar-benar lelucon.
Uhuk!
Dada Banyu berkontraksi hebat. Dia batuk keras, darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi tangan dan botol yang dipegangnya.
Darah kental itu mengalir di permukaan botol putih itu, meresap ke dalam sela-sela ukiran pohon.
Banyu sudah pasrah. Matanya mulai menutup. Kegelapan total sudah di depan mata. Dia mendekap botol itu di dadanya, semacam refleks mencari pegangan terakhir sebelum mati.
Namun, tepat saat kesadarannya hampir putus, dia merasakan sesuatu.
Hangat.
Botol di dadanya terasa hangat. Bukan hangat karena suhu tubuh, tapi hangat yang berdenyut. Seperti ada jantung kedua yang hidup di dalam botol itu.
Cahaya putih samar berpendar dari ukiran pohon yang kini berwarna merah karena darah Banyu.
Rasa sakit di dada Banyu yang tadi seperti dihimpit beton, perlahan-lahan mencair. Rasa hangat itu merambat masuk menembus kulit, menyelimuti jantungnya yang rusak, memberikan sensasi nyaman yang belum pernah dia rasakan seumur hidup.
Napas Banyu yang tadi putus-putus, perlahan menjadi panjang dan lega.
Dalam kondisi setengah sadar dan bingung, Banyu tidak kuat lagi membuka mata. Dia pingsan di lantai kamar kosnya yang dingin, memeluk erat botol warisan kakeknya yang kini bersinar dalam gelap.