NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Kekacauan Di SMA Harapan Bangsa

"Pagi cantik, sayang," ucap papahnya Pak Hartawan dengan senyum hangat, sambil menaruh secangkir roti bakar dan telur mata sapi di depan Yuli yang baru saja duduk di meja makan. Cahaya matahari pagi menyinari ruang makan yang luas melalui jendela besar, membuat suasana terasa hangat dan nyaman.

"Pagi juga Papah... dan Mamah," jawab Yuli dengan suara pelan, wajahnya terlihat lesu dan mata masih sedikit merah seperti kurang tidur.

"Pagi Yuli, kamu terlihat sangat lelah sekali? Ada apa denganmu ya sayang?" tanya mamah Lusi dengan tatapan penuh perhatian, menyentuh dahi Yuli untuk memastikan dia tidak demam. Tangan lembutnya membuat Yuli merasa sedikit lebih tenang.

"Ya mah, kemarin banyak tugas dari guru sekolah jadi aku belajar sampe larut malam," jawab Yuli asal dengan sedikit mengerutkan kening, mencoba menghindari pandangan Mamah yang tajam dan selalu bisa membaca kalau dia sedang berbohong.

"Ooh kirain kamu semalem habis nonton film? Atau mungkin melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat?" tanya mamah Lusi lagi kepada Yuli dengan nada yang penuh makna, membuat Yuli langsung terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.

Yuli langsung terbatuk-batuk tidak karuan, "uhuuk uhuuk uuhuuk..." Suara batuknya cukup keras hingga membuat Pak Hartawan langsung berdiri untuk mengambil gelas air. "Entahlah kenapa kalimat pertanyaan yang terlontar dari mamah Lusi tadi berdampak sekali pada gue ya," ucap Yuli dalam hati dengan rasa cemas yang semakin besar.

"Ayoo Yuli diminum dulu airnya, biar kamu tidak tersedak atau kurang udara," ucap papahnya dengan suara lembut, memberikan gelas minum berisi air hangat kepada Yuli. Dia melihat putri angkatnya dengan kasih sayang, tahu bahwa ada sesuatu yang membuat Yuli merasa tidak nyaman.

"Terima kasih Pah," ucap Yuli dengan suara pelan sebelum meminum air hingga habis. Tubuhnya merasa sedikit rileks setelah menelan air hangat tersebut.

"Yuli, nanti sepulang sekolah Mamah mau berbicara empat mata dengan kamu ya sayang. Kita berbicara di kamarmu saja, dengan tenang dan tanpa ada yang lain," ucap mamah Lusi dengan suara yang tegas namun tetap lembut. Dia sudah merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik sikap lesu Yuli belakangan ini.

"Ya mah, nanti aku akan pulang langsung ke rumah, tidak mampir-mampir lagi ke rumah teman atau ke tempat lain," ujar Yuli dengan nada pasrah, sudah tahu tidak bisa menyangkal permintaan Mamah yang selalu ingin terbaik baginya.

"Ayo Pah, Yuli, Mamah pergi duluan ya. Mau ada arisan dengan teman-teman ibu SMA dulu, mungkin pulangnya agak larut," ucap mamahnya dengan suara santai, kemudian mengambil tasnya yang sudah disiapkan di sofa ruang tamu. Sebelum pergi, dia mencium pelan kening Yuli dan memberikan tatapan yang penuh cinta.

Lalu mamahnya berjalan meninggalkan Hartawan dan Yuli dengan langkah anggun, segera diantar oleh sopir ke tempat pertemuan arisan.

"Ibu Yati... ibu Yatiii!!!" teriak Hartawan dengan suara yang cukup keras, memanggil pembantu rumah tangganya yang sedang berada di dapur. "Tolong rapihkan meja ini ya Yati, aku sudah mau berangkat kerja dan harus segera ke kantor karena ada rapat penting."

"Baik Tn besar, segera saja saya kerjakan," jawab Yati dengan cepat keluar dari dapur, langsung mulai membersihkan meja makan yang masih bersisa tumpukan piring dan gelas. Setelah selesai merapikan meja dengan rapi, dia mendekati Yuli yang masih duduk dengan wajah murung.

"Yuli kamu hari ini sekolah kan?" tanya ibu Yati dengan suara penuh perhatian, menyentuh bahu Yuli dengan lembut. Sebagai ibu kandungnya, dia selalu merasa khawatir setiap kali melihat Yuli sedang tidak bahagia.

"Berangkatlah Buuu... emang kenapa sih ibu selalu nanyain aku sekolah apa enggak? Udah makan apa belum? Udah mandi apa belum? Udah belajar apa belum? Bosen tahu buu, selalu di tanya-tanya mulu sama ibu," ucap Yuli kesel dengan suara yang sedikit tinggi, wajahnya ditekan ngambek dan tidak mau melihat wajah ibunya.

"Eeeh yang sopan kamu Yuli kalau di tanya sama orang yang lebih tua seperti aku! Jangan bicara dengan nada seperti itu," ujar Narti dengan nada tegas, muncul dari belakang pintu dapur dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang. Dia memang seringkali terlihat cuek, tapi selalu menjaga sopan santun terhadap orang tua.

"Ini satu lagi mbak Narti gak di undang langsung sewot aja! Mbak Narti itu jangan terlalu ikut campur urusan keluarga aku, ini bukan urusan kamu!" ujar marah Yuli dengan wajah memerah membara, berdiri dengan cepat dari kursinya.

"Yuliii!!! Diam kamu sekarang juga!" ucap marah Ibu Yati dengan suara yang cukup keras, membuat Yuli langsung diam dan melihat ke arah lantai. "Kamu harus punya adab dan etika kalau sedang berbicara sama yang lebih tua seperti mbak Narti. Dia adalah adik kandung ibu kamu, jadi kamu harus hormat padanya!" ujar Ibu Yati menasehati Yuli dengan tatapan yang penuh kesungguhan.

"Nasehat lagi, nasehat lagi... aku pusing bu denger yang itu lagi..itu lagi..adab lagi, etika lagi, sopan santun lagi. Hadeeeh apa ibu gak capek?" ujar Yuli lagi kepada ibu kandungnya Yati dengan nada kesal, masih tidak mau mengangkat kepalanya.

"Ibu tidak capek kok, demi kebaikan kamu Yuli. Kamu jangan berubah menjadi Yuli yang ibu tidak kenal lagi ya sayang. Jadilah Yuli yang seperti dulu, yang sebelum kamu diangkat anak oleh Pak Hartawan dan Ibu Lusi—yang baik hati, rendah hati, dan selalu menghargai orang lain," ucap Ibu Yati dengan suara yang sedikit bergetar, mata sudah mulai berkaca-kaca karena merasa khawatir dengan perubahan sikap Yuli.

"Kamu harus banyak-banyak bersyukur kepada Allah SWT, dengan hidayahnya bisa merubah dan membolak balik hati Pak Hartawan dan Ibu Lusi hingga terpikat kepada kamu dan mau mengangkatmu menjadi anak mereka," ucap Narti kepada Yuli dengan suara tenang namun penuh makna, mendekati Yuli untuk melihat wajahnya dengan jelas.

"Ya mungkin pak Hartawan tertarik kepada aku karena aku cantik dan menarik saja kan bu?" ucap ceplas ceplos Yuli dengan suara yang sedikit sombong, akhirnya mengangkat kepalanya namun masih tidak berani melihat mata ibu dan bibinya.

"Astaghfirullah... eling...eling kamu Yuli! Jangan sampai sifat sombong itu merusak kamu dari dalam," ucap Yati dengan suara penuh kekhawatiran, menepuk-nepuk pundak Yuli dengan lembut.

"Kamu jangan melupakan kacang dari kulitnya ya Yuli, camkan kata-kata mbak Narti. Dan aku serius bicara sama kamu—jangan kamu anggap aku orang miskin yang tiada artinya hingga nasehat dari aku tidak pernah ada yang kau dengarkan dan selalu saja kamu abaikan," ucap marah Narti dengan wajah yang sangat serius, menunjukkan bahwa dia benar-benar khawatir dengan masa depan Yuli.

"Lalu aku harus melakukan dan berbuat apa kepada kalian berdua?" tanya Yuli dengan suara penuh kebingungan, matanya mulai menunjukkan rasa ragu dengan semua yang telah dikatakan kepadanya.

"Jadilah dirimu sendiri, apa adanya dan bersifat baik serta tidak sombong. Itu saja yang kami harapkan dari kamu Yuli," ucap Narti dengan suara yang lebih lembut sekarang, menyentuh tangan Yuli dengan penuh kasih sayang.

"Benar sekali itu Yuli, kamu harus dengarkan mbak Narti. Bagaimanapun juga dia adalah adik kandung ibu kamu alias bibimu, jadi kamu harus menghormati dan mendengarkan nasehatnya," ucap ibu Yati dengan suara penuh cinta, akhirnya Yuli mulai mengangguk perlahan menyadari bahwa apa yang mereka katakan benar.

Yuli terdiam mendengar kalimat-kalimat yang terucap dari ibu dan bibinya, kata-kata tersebut masih belum dapat di cerna sedikitpun olehnya namun ada rasa yang membuatnya merasa tidak nyaman jika terus bersikap sombong seperti ini.

"Aku pergi ke sekolah dulu ya bu, mbak Narti," ucap Yuli dengan suara lebih sopan sekarang, sambil mencium tangan Ibu dan bibinya dengan penuh rasa hormat yang sudah lama tidak terlihat lagi.

Lalu terlihat Yuli masuk ke dalam mobil mewah dengan di antar oleh supir pribadi keluarga Hartawan yaitu Pak Yanto. Dia sudah menunggu di depan pintu rumah dengan sopan, membuka pintu mobil untuk Yuli dengan hati-hati.

Sedangkan dari jauh, Yati dan Narti menatap kepergian Yuli dengan wajah yang penuh harapan. Gerakan Yuli yang pergi dengan cepat seperti ingin menghindar dari keduanya membuat mereka merasa sedikit sedih, namun mereka tetap berharap bahwa suatu hari nanti Yuli akan kembali menjadi diri dirinya yang sebenarnya. "Entahlah apa yang sebenarnya ada dipikirannya," gumam Yati dengan suara pelan sambil melihat mobil Yuli yang semakin menjauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!