desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21: Rahasia Keluarga
Kebahagiaan itu seperti kaca. Indah dipandang, tapi mudah pecah jika terbentur sesuatu yang keras.
Seminggu sudah Ibu Rosmini tinggal di apartemen. Kehadirannya membawa perubahan. Rumah menjadi lebih ramai. Ia sering memasak masakan kampung yang membuat Raka rindu masa kecil—masakan yang dulu sering ia buat sebelum pergi.
Arka senang punya nenek. Setiap pulang sekolah, ia langsung lari ke dapur, minta dibuatin jajanan pasar. Ibu Rosmini dengan sabar membuatkan getuk, klepon, atau pisang goreng.
Aira senang melihatnya. Raka juga mulai terbiasa. Luka lama perlahan sembuh. Tapi seperti kata pepatah, luka itu seperti gunung es. Yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil. Sebagian besar justru tersembunyi di bawah.
Suatu malam, saat Aira dan Raka sudah tidur, Ibu Rosmini duduk di ruang tamu sendiri. Ia memandangi foto-foto keluarga yang dipajang di dinding. Foto Raka, Aira, Arka. Foto pernikahan mereka. Foto Arka kecil.
Air matanya jatuh.
"Wulan... anakku... maafkan Ibu," bisiknya.
Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah foto usang, lusuh, tapi dilaminasi rapi. Foto seorang gadis kecil berusia sekitar 8 tahun, dengan senyum lebar dan gigi ompong.
Wulan.
Ia mencium foto itu. Lalu menyimpannya lagi.
---
Keesokan paginya, Aira menemukan Ibu Rosmini sedang menangis di dapur. Ia mendekat.
"Bu, kenapa nangis? Ada apa?"
Ibu Rosmini kaget. Cepat-cepat mengusap air mata.
"Nggak apa-apa, Neng. Ibu cuma... kangen."
"Kangen sama siapa, Bu?"
Ibu Rosmini diam. Lalu berkata lirih, "Kangen sama Wulan. Anak Ibu yang meninggal."
Aira duduk di sampingnya. "Bu, cerita tentang Wulan. Saya ingin tahu."
Ibu Rosmini menghela nafas. Matanya menerawang jauh.
"Wulan itu anak manis. Rambutnya ikal, matanya bulat, suka tersenyum. Dia selalu bilang, 'Bu, Wulan sayang Ibu.' Tiap malam sebelum tidur, dia peluk Ibu."
Aira diam. Mendengarkan.
"Waktu Ibu pergi, dia nangis. Nangis keras. Ibu ingat sampai sekarang. Tangisnya... seperti belati di hati. Tapi Ibu nggak bisa bawa dia. Suami Ibu ancam akan bunuh Ibu kalau bawa anak-anak."
Ibu Rosmini terisak. "Ibu pikir nanti, setelah aman, Ibu jemput. Tapi ternyata mereka pindah. Ibu cari ke mana-mana, nggak ketemu. Baru beberapa tahun lalu Ibu tahu dari teman, kalau Wulan sudah meninggal. Waktu itu umurnya baru 8 tahun."
Aira meraih tangan ibu Rosmini. "Bu, saya turut sedih. Tapi ini bukan salah Ibu."
"Ibu tahu, Neng. Tapi rasa bersalah itu tetap ada. Setiap hari. Setiap malam. Ibu bermimpi dia nangis, minta Ibu pulang."
Aira memeluknya. "Bu, Wulan sudah tenang di sisi Tuhan. Dia pasti sudah maafkan Ibu."
Ibu Rosmini menangis dalam pelukan Aira.
Dari balik pintu, Raka berdiri. Ia mendengar semuanya. Air matanya jatuh.
Selama ini ia hanya melihat dari sudut pandangnya sendiri. Sebagai anak yang ditinggalkan. Tapi ia tak pernah melihat dari sudut pandang ibunya. Seorang wanita yang terjebak dalam kekerasan, yang harus memilih antara mati atau pergi, dan kehilangan anak-anaknya karena pilihan itu.
Raka masuk. Mendekati ibunya.
"Ibu."
Ibu Rosmini menoleh. Melihat Raka menangis, ia makin terisak.
"Raka, Nak, maafkan Ibu..."
Raka berlutut di depan ibunya. "Ibu, aku minta maaf."
Ibu Rosmini terkejut. "Kamu minta maaf? Buat apa?"
"Selama ini aku benci Ibu. Aku nggak pernah coba mengerti. Aku pikir Ibu pergi karena egois. Tapi aku nggak tahu soal kekerasan itu. Aku nggak tahu kalau Ayah sejahat itu ke Ibu."
Ibu Rosmini menggeleng. "Kamu nggak perlu minta maaf, Nak. Kamu cuma anak kecil waktu itu."
"Aku sudah dewasa, Bu. Seharusnya aku cari tahu. Tapi aku terlalu sibuk dengan dendam."
Aira ikut menangis melihat mereka. Tiga generasi, dengan luka masing-masing, akhirnya bertemu dalam pelukan.
---
Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka dan ibunya berbicara panjang lebar. Tentang masa lalu. Tentang Wulan. Tentang ayah Raka yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Tentang penyesalan dan harapan.
"Bu, aku ingin Ibu tinggal di sini. Selamanya," kata Raka di akhir percakapan.
Ibu Rosmini menangis. "Bener, Nak? Ibu nggak ganggu?"
"Bu, ini rumah Ibu. Ibu nggak akan pernah ganggu."
Ibu Rosmini memeluk Raka. Erat.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih."
Aira yang melihat, tersenyum. Hatinya hangat.
---
Keesokan harinya, Aira mendapat kabar dari Maya. Ada masalah di butik. Orderan besar dari luar kota ternyata bahan bakunya bermasalah. Kain yang dikirim pemasok tidak sesuai kualitas. Pelanggan marah, minta refund atau ganti rugi.
Aira harus turun tangan. Tapi kondisinya sedang hamil besar, usia kehamilan sudah 7 bulan. Dokter melarang banyak bergerak.
Raka melarangnya pergi. "Aira, biar Maya yang urus. Kau istirahat."
"Aku harus ke sana, Raka. Ini orderan besar. Kalau salah, butik bisa bangkrut."
"Aku temani," tawarnya.
Tapi Ibu Rosmini yang mendengar, maju. "Neng, biar Ibu yang temanin Maya. Ibu bisa bantu. Dulu Ibu pernah jualan kain di pasar. Ibu tahu soal kualitas."
Aira terkejut. "Bu, Ibu mau bantu?"
"Iya, Neng. Ibu ingin berguna. Biar nggak cuma numpang hidup di sini."
Aira menatap Raka. Raka mengangguk.
"Baik, Bu. Tapi hati-hati ya."
Ibu Rosmini tersenyum. "Ibu janji."
---
Sepanjang hari itu, Ibu Rosmini di butik. Ia membantu Maya memeriksa kain, berbicara dengan pemasok, dan menenangkan pelanggan yang marah. Pengalamannya dulu ternyata berguna. Ia tahu cara membedakan kain berkualitas dan cacat. Ia juga tahu cara bernegosiasi.
Maya kagum. "Nek, jago banget!"
Ibu Rosmini tersenyum malu. "Ibu cuma pernah jualan, Mbak. Nggak jago-jago amat."
Tapi Maya tahu, ini lebih dari sekadar jualan. Ini bakat alami.
Masalah selesai dalam dua hari. Pemasok setuju ganti rugi. Pelanggan puas dengan kompensasi. Butik selamat dari krisis.
Aira memeluk ibu Rosmini. "Bu, terima kasih banyak. Ibu penyelamat."
Ibu Rosmini menangis. "Nggak, Neng. Ibu yang harus berterima kasih. Ibu akhirnya merasa berguna."
Sejak hari itu, Ibu Rosmini jadi bagian tim butik. Ia membantu Maya mengurus administrasi dan kadang mengecek kualitas kain. Ia bahagia. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia punya tujuan hidup.
---
Malam harinya, Aira dan Raka duduk di balkon. Perut Aira sudah besar. Sesekali janin menendang.
"Raka, lihat ibumu. Dia berubah."
Raka mengangguk. "Iya. Aku senang."
"Maaf, Raka. Mungkin aku terlalu ikut campur."
Raka menggeleng. "Kamu nggak ikut campur. Kamu justru menyelamatkan keluarga ini. Tanpa kamu, mungkin aku nggak akan pernah terima ibu kembali."
Aira tersenyum. "Aku cuma ingin yang terbaik buat kalian."
Raka mencium keningnya. "Aku tahu. Dan aku bersyukur punya kamu."
Mereka berpelukan. Jakarta di bawah mereka berkelap-kelip. Indah.
---
Tapi di balik keindahan itu, ada yang tak terlihat. Sebuah pesan masuk ke ponsel Ibu Rosmini.
"Bu, gimana kabarnya? Apa Raka sudah percaya sama Ibu? Jangan lupa rencana kita. - Seseorang"
Ibu Rosmini membaca pesan itu. Wajahnya berubah. Ia cepat-cepat menghapus pesan itu dan menyembunyikan ponselnya.
Di dapur, ia termenung lama. Matanya kosong.
"Ibu harus lakukan ini," bisiknya. "Demi Wulan."
---