"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
"Brengsek kau pak tua!" geram Leana.
Tepat saat itu, Jimmy keluar dari kamar dengan pakaian santai dengan rambut masih sedikit basah. Ia menyadari suasana di dapur mendadak berubah menjadi zona perang.
"Kenapa nasinya tidak dimakan? Kau mau aku menyuapimu seperti anak TK?" tanya Jimmy sambil meraih ponselnya.
Leana berdiri, wajahnya merah padam. Bisa-bisanya Jimmy masih bersikap santai setelah apa yang dia lakukan.
"Ternyata kau lebih licik dari yang kukira, Mr. Mafia!"
Jimmy mengernyitkan alis, bingung. "Apa maksudmu?"
"Siapa dia?! Siapa wanita yang akan membuatmu tidak bisa melupakan malam ini jam dua belas nanti?!" teriak Leana sambil menunjuk ponsel di tangan Jimmy. "Kau menolakku, kau bilang kau menjagaku, kau bilang kau binatang kelaparan, tapi ternyata kau punya selera rendahan yang mengirim pesan murahan seperti itu!"
Jimmy terdiam. Ia melihat layar ponselnya, membaca pesan itu, lalu menatap Leana kembali. Bukannya panik, sudut bibir Jimmy justru berkedut, menahan tawa yang sangat menyebalkan.
"Jadi kau membacanya? Tidak sopan!" tanya Jimmy santai.
"Tentu saja aku membacanya! Kenapa? Kau takut rahasiamu terbongkar? Kau mau pergi kencan jam dua belas malam saat aku tidur? Kau pria tua mesum yang tukang selingkuh!" Leana memukul dada Jimmy berkali-kali karena rasa cemburu yang membakar.
Jimmy menangkap kedua tangan Leana, menahannya dengan mudah. "Selingkuh? Memangnya kau siapaku? Istriku?"
"Aku... aku..." Leana kehilangan kata-kata. Memang benar mereka tidak ada hubungan apapun selain pengawal dan majikan.
"Pokoknya aku benci padamu! Pergi saja sana! Temui wanita gatal itu! Biarkan dia membuatmu tak terlupakan sampai kau lupa arah jalan pulang!" seru marah Leana.
Jimmy menghela napas, ia menarik Leana mendekat hingga gadis itu terpaksa menatap matanya.
"Leana, dengar. Kau benar-benar ingin tahu siapa yang mengirim pesan ini?"
"Terserah, aku tidak mau tahu! Pasti wanita panggilan atau kekasihmu yang seksi itu, kan?!"
Jimmy memutar ponselnya, memperlihatkan nomor pengirimnya ke depan mata Leana.
"Ini nomor Alex, kakakmu."
Leana terdiam. "A—apa? Kak Alex?"
"Alex baru saja kembali dari Rusia. Jam dua belas malam nanti ada pengiriman senjata ilegal. Dia bilang tidak akan melupakan malam ini karena itu adalah misi terbesar kami tahun ini. Dan tempat biasa itu adalah gudang pengolahan limbah di pelabuhan tua Milan," jelas Jimmy. Rasanya puas sekali membuat gadis kecilnya marah karena cemburu buta padanya.
"Jadi, itu bukan pesan dari wanita?"
"Alex memang tampan, tapi aku tidak punya ketertarikan padanya," celetuk Jimmy sinis.
"Lagi pula, siapa yang mengirim pesan jam dua belas malam untuk berkencan? Hanya orang gila atau orang yang sedang melakukan transaksi senjata yang melakukannya."
Leana menunduk, ingin rasanya ia tenggelam ke dalam lantai dapur saat itu juga.
"Habisnya, kalimatnya aneh sekali! Tak akan melupakan malam ini. Siapa yang tidak salah paham?!"
"Buang pikiran kotor dan cemburu butamu itu." Jimmy melepaskan tangan Leana, lalu menyentil dahi gadis itu dengan pelan. "Kau sudah membuang sepuluh menit waktuku untuk drama picisan ini."
"Aku tidak cemburu!" teriak Leana lagi, mencoba mengembalikan harga dirinya yang sudah jatuh ke level nol. "Aku hanya memastikan pengawal pribadiku tidak membawa penyakit ke rumah ini!"
Jimmy kembali duduk lalu menyesap kopinya dengan tenang. "Oh, benarkah? Kalau begitu berhenti menangis. Pipimu jadi terlihat seperti bakpao rebus kalau sedang sesenggukan begitu."
"Jimmy! Aku membencimu!" Leana menyambar sendoknya dan mulai makan dengan kasar, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat matang.
Jimmy menatap Leana dari balik cangkir kopinya. Di dalam hati, ia tertawa. Reaksi Leana barusan adalah konfirmasi paling nyata bahwa gadis itu sudah benar-benar jatuh ke dalam genggamannya.
"Jangan tidur terlalu malam," ucap Jimmy saat hendak beranjak. "Aku akan pergi menemui kekasihku jam dua belas nanti. Jangan sampai aku pulang dan menemukanmu sedang mengintip dari balik jendela karena merindukanku."
"Mati saja sana!" Leana melempar sepotong apel ke arah Jimmy, yang dengan mudah ditangkap pria itu lalu dimakan sambil berjalan santai ke kamarnya.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁