"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Mimpi di Balik Kelambu
Fajar yang Tenang
Embun masih menggantung di pucuk daun jati,
Menyapa pagi dengan bening yang sejati.
Di sini, derap langkah santri mulai terdengar,
Membasuh wajah, membuang kantuk yang menjalar.
Namun di sudut lain, ada lelap yang masih terjaga,
Menenun mimpi di sela riuhnya dunia.
Satu sibuk mengeja kitab dalam rindu,
Satu terlelap dalam damai yang beradu.
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah-celah jendela Madrasah, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Gus Zidan berdiri di depan kelas dengan wibawa yang sempurna. Suaranya yang rendah dan tenang mengalun, membacakan baris demi baris kitab kuning di hadapan para santri yang menyimak dengan takzim.
Namun, meskipun matanya menatap kitab, sesekali pikiran Zidan melayang ke sebuah rumah di dekat dermaga. Ia tahu, jam segini—saat semua orang sedang sibuk beraktivitas—gadis bernama Bungah itu pasti masih bergelung di bawah selimutnya.
"Gus? Gus Zidan?" panggil seorang santri pelan.
Zidan tersentak kecil. "Nggih? Ada yang kurang jelas?"
"Maksud dari penjelasan tadi, apakah berarti niat itu harus selalu di awal, Gus?" tanya santri tersebut.
Zidan berdehem, berusaha mengembalikan fokusnya. "Iya, niat adalah ruhnya amal. Tanpa niat yang tulus, tindakan kita hanya akan menjadi cangkang yang kosong." Sama seperti hatiku kemarin-kemarin, batin Zidan dalam hati.
Sementara itu, di rumah Pak RT, suasana jauh lebih santai. Karena sedang libur panjang setelah kelulusan SMP, Bungah merasa memiliki hak istimewa untuk memanjakan dirinya. Kamarnya yang bernuansa biru muda masih tertutup rapat.
"Bungah! Bangun, Nduk! Sudah jam berapa ini?" suara Bunda terdengar sambil mengetuk pintu kayu itu dengan keras.
"Lima menit lagi, Bunda... Bungah masih di kutub utara sama Kak Zidan..." igau Bungah sambil memeluk gulingnya erat-alih. Ia rupanya terbawa mimpi tentang pembicaraannya dengan Zidan kemarin soal kutub dan mentari.
Bunda menggelengkan kepala, membuka pintu kamar dan melihat anak bungsunya itu tidur dengan posisi melintang. Rambutnya berantakan, dan wajahnya nampak sangat damai tanpa beban.
"Kutub utara apa? Itu lho, bajumu yang penuh coretan kelulusan belum kamu rendam! Ayo bangun, bantu Bunda siapkan kue pesanan buat pondok lagi," ucap Bunda sambil menarik selimut Bungah.
Bungah mengerang pelan, lalu membuka satu matanya. "Hah? Pesanan buat pondok? Berarti... ketemu Kak Zidan lagi?"
Seketika, rasa kantuk itu hilang entah ke mana. Bungah langsung duduk tegak dengan mata berbinar. "Bunda, Bungah mandi sekarang! Bungah mau bantu buat kue yang paling enak!"
Bunda hanya terheran-heran melihat perubahan sikap anaknya yang tiba-tiba bersemangat itu. Ia tidak tahu bahwa bagi Bungah, bertemu dengan "Kak Zidan yang serius" adalah kegiatan yang jauh lebih seru daripada sekadar tidur seharian di musim libur.
Bunda hanya geleng-geleng kepala melihat anak bungsunya yang biasanya harus diseret untuk bangun pagi, kini sudah melesat ke kamar mandi sambil bersenandung kecil.
"Tadi malam susah dibangunkan, sekarang dengar kata 'pondok' langsung semangat. Ada apa sebenarnya dengan anak ini?" gumam Bunda sambil tersenyum tipis.
Di madrasah, jam pelajaran hampir usai. Zidan menutup kitabnya dengan bacaan hamdalah. Ia merapikan serban di pundaknya, lalu melangkah keluar menuju teras lantai dua madrasah. Dari sana, ia bisa melihat gerbang pesantren dengan jelas.
Tak lama kemudian, sosok yang sejak tadi menghuni sudut pikirannya muncul. Bungah datang dengan sepeda jengkinya, namun kali ini ia mengenakan gamis sederhana berwarna merah muda dan jilbab instan yang senada. Ia membawa sebuah keranjang rotan kecil di stang sepedanya.
Bungah menghentikan sepedanya tepat di bawah pohon beringin besar dekat teras madrasah. Ia mendongak, dan matanya langsung bertemu dengan mata Zidan yang sedang berdiri di atas.
"Kak Zidaaan! Eh... Ustadz Zidan!" seru Bungah sambil melambaikan tangan dengan semangat. Suara lembutnya yang cempreng itu membuat beberapa santri yang baru keluar kelas menoleh penasaran.
Zidan merasa pipinya memanas. Ia segera turun menemui gadis itu sebelum Bungah meneriakkan namanya lebih keras lagi.
"Bungah, jangan teriak-teriak. Ini lingkungan pendidikan," tegur Zidan saat sudah berada di depan Bungah, meskipun nada bicaranya sama sekali tidak galak.
Bungah meringis, menunjukkan deretan giginya. "Maaf, Ustadz. Habisnya Kakak tinggi banget di sana, kayak mau terbang. Ini, Bunda buatkan kue khusus buat Kakak. Katanya terima kasih sudah antar Bungah pulang kemarin."
Bungah menyodorkan sebuah kotak kecil dari keranjangnya. Saat Zidan menerima kotak itu, ia tanpa sengaja menatap mata Bungah yang berbinar tulus.
Tiba-tiba, ada getaran aneh yang menjalar di dada Bungah. Ia melihat sosok Zidan yang memakai jubah putih dan peci hitam itu terlihat sangat... berbeda. Lebih berwibawa, lebih teduh, dan entah mengapa, lebih tampan dari biasanya.
Bungah yang biasanya banyak bicara tiba-tiba terdiam. Ia baru menyadari betapa lembutnya cara Zidan memegang kotak itu, dan betapa sabarnya pria itu menghadapinya yang seringkali sembarangan.
"Terima kasih, Bungah. Bilang pada Bunda, saya sangat menghargainya," ucap Zidan pelan.
"I-iya, Kak... eh, Ustadz. Sama-sama," jawab Bungah gugup. Ia segera memutar sepedanya. "Bungah pulang dulu ya! Jangan lupa kuenya dimakan, nanti kalau sedih lagi, kuenya nangis!"
Bungah menggenjot sepedanya secepat mungkin, meninggalkan pesantren dengan jantung yang berdegup kencang—sesuatu yang baru baginya. Ia tidak mengerti mengapa wajah Zidan terus terbayang-bayang di benaknya.
Kenapa ya? Kok rasanya kayak ada kembang api di dalam perut? batin Bungah sambil memegang dadanya yang bergemuruh. Benih-benih kagum itu mulai tumbuh, perlahan berubah menjadi perasaan yang lebih dalam di hati sang Mentari Kecil.