Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Senin pagi di SMA Nusantara terasa berbeda bagi Ayra. Setelah akhir pekan yang penuh drama "ayam kejepit" dan momen manis di toko buku bersama Alano, Ayra melangkah menyusuri koridor sekolah dengan energi yang meluap-luap. Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang sangat rapi, bando birunya terpasang sempurna, memancarkan aura kepemimpinan sekaligus keramahan yang tak terbantahkan.
"Pagi, Kak Ayra!" sapa seorang siswi kelas 10 yang sedang piket koridor.
Ayra berhenti sejenak, memberikan senyum paling tulus yang ia miliki. "Pagi juga. Semangat ya piketnya, biar kelasnya nyaman buat belajar," jawabnya ramah.
Beberapa siswa kelas 11 yang berpapasan dengannya juga tak luput dari sapaan Ayra. Meskipun terkenal tegas sebagai Sekretaris OSIS dan anggota Ambalan Paris, Ayra memang dikenal memiliki sisi manusiawi yang sangat hangat. Ia bukan tipe pejabat sekolah yang menjaga jarak; ia adalah tipe yang akan berhenti hanya untuk sekadar menanyakan kabar atau memberikan semangat.
Namun, langkah Ayra mendadak melambat saat matanya menangkap sosok yang sangat familiar di dekat mading sekolah.
Sinta.
Sahabat karibnya itu berdiri mematung sambil memegang setumpuk formulir, namun pandangannya kosong menatap ke arah lapangan basket—atau lebih tepatnya, ke arah kerumunan siswa yang sedang bersiap untuk jam olahraga. Sinta tidak hanya diam, ia tersenyum-senyum sendiri, sebuah senyum yang terlihat sangat... aneh bagi Ayra.
Ayra menyelinap di belakang Sinta, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah telinga sang sahabat.
"Hayoo! Lagi ngapain, Sin! Pagi-pagi udah dapet wangsit dari mading?" bisik Ayra tiba-tiba.
Tertangkap Basah
"ASTAGA!" Sinta terlonjak kaget hingga formulir di tangannya nyaris berhamburan ke lantai. Ia segera menoleh dan mendapati Ayra yang sedang tertawa kecil sambil melipat tangan di depan dada.
"Ayra! Kamu tuh ya, hobi banget bikin aku jantungan!" seru Sinta sambil mengusap dadanya. Wajahnya yang tadi pucat karena kaget, perlahan berubah menjadi kemerahan.
Ayra menaikkan sebelah alisnya, matanya mengikuti arah pandangan Sinta tadi. Di lapangan, terlihat Bima sedang melakukan pemanasan dengan melakukan dribble bola yang cukup impresif.
"Oh... pantesan. Ternyata radar kamu lagi mengarah ke nomor punggung 12 ya?" goda Ayra sambil menyenggol bahu Sinta. "Senyum-senyum sendiri gitu, tadi lagi ngebayangin apa hayo? Ngebayangin Bima nembak kamu di tengah lapangan pas classmeeting?"
"Ih, apa sih Ay! Enggak ya!" bantah Sinta, namun ia tidak bisa menyembunyikan binar di matanya. "Tadi tuh... tadi tuh Bima lewat depan aku terus dia cuma bilang 'Pagi, Sin', tapi suaranya tuh... aduh, Ay, kenapa ya suara cowok kalau baru bangun tidur atau baru olahraga itu beda banget?"
Ayra tertawa lepas. Ia merangkul bahu Sinta dan menuntunnya berjalan menuju ruang OSIS. "Selamat, Sinta. Kamu resmi masuk ke dalam klub 'Gadis-gadis yang Terpesona Atlet Sekolah'. Ternyata kita senasib ya."
Mereka duduk di kursi panjang koridor yang masih sepi. Ayra memperhatikan Sinta yang masih tampak salah tingkah.
"Tapi beneran deh Ay, aku tuh malu kalau ketemu dia. Nggak seberani kamu kalau ngadepin Alano. Kamu kan kalau sama Alano udah kayak kucing sama tikus, galak tapi nempel terus," ucap Sinta.
"Ya kan aku sama Alano emang udah dari kecil, Sin. Kalau kamu sama Bima kan... emang murni dari hati," sahut Ayra. Ia teringat tulisan pulpen di punggung tangannya sabtu kemarin yang butuh waktu lama untuk dibersihkan. "Tapi denger-dengar, Bima itu tipe yang nggak peka lho. Kamu harus lebih sering kasih sinyal."
Sinta mendesah pasrah. "Sinyal apa lagi? Tadi aja aku kasih senyum paling manis, dia malah nanya 'Sin, lo sakit gigi ya? Senyumnya kok miring sebelah?'. Rasanya pengen aku telen itu formulir di depan dia!"
Ayra terbahak-bahak mendengar cerita Sinta. "Sabar ya, Sin. Emang temen-temennya Alano itu nggak ada yang bener seleranya. Tapi tenang aja, nanti aku coba korek info dari Alano soal Bima."
Interupsi Sang Kapten
"Ngomongin gue ya?"
Suara berat yang sangat familiar muncul dari arah belakang mereka. Alano berdiri di sana dengan jersey basket yang dilapisi jaket tim, rambutnya agak basah karena keringat setelah latihan pagi. Di sampingnya, Bima berdiri sambil menenggak air mineral.
Ayra menoleh, senyum ramahnya otomatis berubah menjadi senyum yang lebih "personal" saat menatap Alano. "Nggak usah geer. Kita lagi bahas... iuran OSIS yang belum dibayar sama anak basket."
"Alah, bohong banget mukanya," Alano duduk di samping Ayra tanpa permisi, membuat Ayra sedikit tergeser. Ia melirik ke arah Sinta yang tiba-tiba menjadi sangat kaku. "Tuh, liat Sinta. Kenapa mukanya jadi kayak robot rusak gitu pas ada Bima?"
Bima yang tidak merasa ada apa-apa, hanya melambaikan tangan ke arah Sinta. "Sin, formulir pendaftaran lomba debat kemarin udah lo kasih ke Pak Bambang belum? Soalnya gue mau daftar."
Sinta berdehem, suaranya naik dua oktav. "U-udah kok Bim! Udah di meja Pak Bambang, kamu tinggal tanda tangan aja!"
Ayra dan Alano saling lirik. Mereka berdua menahan tawa melihat kecanggungan yang luar biasa di depan mata mereka.
Misi Baru Ayra
"Tuh kan, mereka butuh bantuan," bisik Alano ke telinga Ayra.
Ayra mengangguk pelan. "Oke, kita bikin perjanjian. Aku bantu Sinta, kamu bantu Bima biar lebih peka. Tapi awas ya, kalau kamu malah bikin mereka makin berantakan."
Alano menyeringai nakal. "Beres, Ibu Sekretaris. Tapi ada imbalannya nggak nih buat gue?"
Ayra melotot, teringat posisi mereka sedang di koridor sekolah. "Imbalannya adalah... aku nggak akan niruin suara 'ayam kejepit' Siska di depan kamu selama satu jam penuh. Gimana?"
"Deal! Itu imbalan paling mewah yang pernah ada!" seru Alano semangat.
Pagi itu, di koridor SMA Nusantara, Ayra menyadari bahwa kebahagiaannya bukan hanya tentang dirinya dan Alano. Melihat sahabatnya mulai merasakan debaran yang sama, membuat Ayra merasa dunianya semakin lengkap. Ia kembali melempar senyum kepada siswa kelas 10 yang lewat, kali ini dengan binar mata yang jauh lebih cerah, seolah ingin membagikan kebahagiaan yang sedang ia rasakan kepada seluruh sekolah.