Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Otoritas Sang Pemangsa
Ketegangan di meja itu mencapai puncaknya. Kedua pengawal tersebut kini hanya berjarak tiga langkah. Mereka mengenali Airin, namun mereka juga mengenali siapa pria yang sedang duduk di hadapan nona muda mereka. Di dunia bisnis kelas atas, tidak ada yang tidak tahu siapa Jordan Abraham sang jenius yang bertangan besi.
"Nona Airin," salah satu pengawal yang bertubuh paling besar bersuara, mengabaikan keberadaan Jordan sejenak. "Tuan Besar meminta Anda segera pulang. Kendaraan sudah menunggu di lobi."
Airin meremas jemarinya di bawah meja. Wajahnya yang cantik tampak pucat, namun ketenangannya sebagai seorang Rodriguez tidak goyah sepenuhnya. "Aku sedang ada urusan kuliah, Hendra. Pulanglah, aku akan kembali nanti."
"Maaf, Nona. Perintah Tuan tidak bisa dibantah," balas pengawal itu tegas, sambil mulai melangkah untuk menarik kursi Airin.
BRAK!
Jordan meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan dentuman yang cukup keras, membuat beberapa pengunjung restoran menoleh. Ia berdiri perlahan, membiarkan tinggi badannya yang 187 cm mengintimidasi kedua pria di depannya. Jordan merapikan kancing jasnya dengan sangat tenang, namun matanya memancarkan ancaman yang nyata.
"Saya rasa mahasiswi saya sudah memberikan jawaban yang cukup jelas," suara Jordan berat dan penuh penekanan. "Dia sedang bersama saya. Dan di tempat ini, saya yang membuat aturan."
"Tuan Abraham, ini urusan internal keluarga Rodriguez. Kami harap Anda tidak ikut campur," jawab Hendra, mencoba tetap profesional meski ia mulai berkeringat dingin di bawah tatapan Jordan.
Jordan tersenyum miring, sebuah senyum sinis yang terlihat sangat meremehkan. "Katakan pada majikan kalian, jika dia ingin menjemput putrinya, suruh dia datang sendiri dan temui aku. Jangan mengirim pesuruh yang bahkan tidak tahu cara menghormati privasi orang lain."
"Tapi Tuan"
"Pergi sekarang, atau aku akan memastikan Abraham Corp membatalkan semua kontrak logistik dengan perusahaan Rodriguez besok pagi. Kalian tahu aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku," potong Jordan dengan nada dingin yang mematikan.
Ancaman itu bekerja seketika. Kedua pengawal itu saling lirik. Mereka tahu Jordan adalah tipe pria yang bisa menghancurkan bisnis seseorang hanya dengan satu panggilan telepon. Dengan bungkukan kecil yang kaku, mereka akhirnya mundur dan pergi meninggalkan area restoran.
Airin menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot. Ia menatap Jordan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Bapak benar-benar gila. Bapak baru saja mengancam ayah saya melalui orang-orangnya."
Jordan kembali duduk, seolah baru saja menyelesaikan percakapan tentang cuaca. "Aku hanya mengamankan makan malamku, Airin."
Airin menunduk, memainkan ujung garpunya. "Kenapa Bapak melakukan sejauh itu? Padahal kita baru saling kenal beberapa hari."
Jordan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Airin yang kini terlihat sangat rapuh di bawah cahaya lilin. "Ada hal-hal yang tidak butuh waktu lama untuk diputuskan, Airin. Sejak detik kamu menjawab absen di kelas dengan suara lembutmu itu, aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun menarikmu menjauh dariku. Termasuk keluargamu."
Airin merasakan panas menjalar hingga ke telinganya. "Bapak sangat egois."
"Memang," sahut Jordan santai. "Dan sekarang, habiskan makananmu. Setelah ini, aku yang akan mengantarmu pulang ke apartemenmu, bukan orang-orang berbaju safari itu."
Airin hanya bisa menurut dalam diam. Di dalam hatinya, rasa takut akan ayahnya kini mulai tersalip oleh rasa penasaran dan ketertarikan yang semakin besar terhadap sosok pria yang duduk di hadapannya.