NovelToon NovelToon
Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Mitsuki Di Dunia MHA (My Hero Academia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Naruto / Dunia Lain / Persahabatan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: I am Bot

Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.

A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Langit kelam di atas kota Hosu

Malam di Kota Hosu tidak pernah terasa sesunyi ini, namun di balik kesunyian itu, gema kehancuran sedang merayap di setiap sudut jalanan beton. Langit yang biasanya dihiasi pendar lampu kota kini tertutup oleh selubung asap hitam yang membumbung dari pusat kota. Di kejauhan, ledakan demi ledakan terdengar seperti detak jantung raksasa yang sedang sekarat. Penjahat-penjahat kelas teri sedang berpesta, namun ancaman sebenarnya bukanlah mereka. Ancaman itu adalah makhluk-makhluk tanpa jiwa yang disebut Nomu, yang tiba-tiba muncul dan mengoyak perdamaian malam itu.

Namun, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, di sebuah gang buntu yang pengap dan lembap, sebuah drama yang lebih gelap sedang berlangsung.

Tenya Iida tergeletak di aspal yang kasar. Tubuhnya terasa seperti bongkahan batu yang mati dingin dan tak bisa digerakkan. Setiap kali ia mencoba menggerakkan ujung jarinya, rasa kebas yang aneh menjalar kembali, mengingatkannya bahwa ia berada di bawah kendali Quirk lawan. Di depannya, Izuku Midoriya juga mengalami nasib yang sama. Tubuh Izuku yang biasanya lincah kini bersandar kaku di dinding gang, napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah sosok yang berdiri di tengah kegelapan.

Pria itu berdiri dengan kaki yang sedikit merendah, memegang sebuah belati bergerigi yang berlumuran darah. Ia tidak terlihat seperti penjahat biasa; ia terlihat seperti hantu dari masa lalu yang haus akan prinsip. Kain merah yang melilit kepalanya berkibar tertiup angin malam yang membawa aroma karat.

"Pahlawan... pahlawan sejati tidak akan pernah membiarkan dendam membutakan mereka," suara Stain terdengar serak, seperti gesekan logam di atas aspal. Ia menatap Iida dengan rasa jijik yang tak disembunyikan. "Kau hanyalah parasit. Kau mengejar gelar 'Pahlawan' hanya untuk memuaskan egomu sendiri. Kau adalah noda dalam masyarakat ini."

"Diam..." Iida merintih, air mata frustrasi menetes di pipinya. "Kakakku... dia adalah pahlawan yang lurus! Kau tidak berhak bicara seperti itu!"

Stain mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya bulan yang menyelinap di antara celah gedung memantul di bilah baja itu, menciptakan kilatan yang mematikan. "Ingenium adalah pahlawan yang lemah. Dan kau, adiknya, adalah kesalahan yang harus dihapus. Mati dan jadilah pondasi untuk dunia yang lebih suci."

Tepat saat pedang itu mulai berayun turun, sebuah perubahan atmosfer terjadi. Bukan ledakan, bukan teriakan, melainkan sebuah tekanan udara yang tiba-tiba turun dari langit.

Di atas langit Hosu, sebuah bayangan raksasa membelah awan. Seekor ular biru raksasa dengan sayap membran yang luas meluncur tanpa suara, menentang segala hukum gravitasi yang dikenal di dunia ini. Di atas kepalanya yang bersisik dingin, Mitsuki berdiri tegak. Rambut pucatnya tertiup angin, dan matanya yang kuning keemasan bersinar lebih terang daripada bintang-bintang yang tertutup asap.

Ia tidak merasakan takut. Ia tidak merasakan amarah yang meluap seperti Iida. Ia hanya merasakan sebuah tugas yang harus diselesaikan.

"Turunkan aku di koordinat itu, Ao," bisik Mitsuki pelan.

Ular raksasa itu menukik tajam. Kecepatannya melampaui jet tempur paling canggih sekalipun. Saat mereka hanya berjarak beberapa puluh meter dari gang sempit itu, Mitsuki melompat. Ia tidak jatuh; ia seolah-olah ditarik oleh benang tak kasat mata menuju sasarannya.

Sret!

Denting logam yang memekakkan telinga bergema di seluruh gang. Stain, yang memiliki insting predator tingkat tinggi, secara refleks memutar tubuhnya dan menangkis serangan yang datang dari atas. Ia terkejut. Bukan hanya karena kekuatan hantamannya, tapi karena kecepatan serangan itu.

Mitsuki mendarat dengan satu lutut di tanah, tepat di depan Izuku dan Iida. Pedang pendeknya masih beradu dengan belati Stain, menciptakan percikan api yang menerangi wajah pucatnya.

"Mitsuki-kun?!" Izuku berseru dengan suara yang hampir tercekat. "Bagaimana... bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Mitsuki tidak menoleh. Ia tetap menatap mata Stain yang tanpa pupil. "Aku mengikuti sinyalmu, Izuku. Tapi sepertinya aku datang tepat di saat kalian sedang bersantai di lantai."

Stain melompat mundur, menjaga jarak. Ia mengatur napasnya yang sedikit terganggu karena benturan tadi. Ia menatap Mitsuki dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencoba membedah siapa remaja yang baru saja muncul ini.

"Lagi-lagi bocah..." Stain mendesis. "Tapi kau... kau berbeda. Kau tidak memiliki aroma pahlawan yang haus pengakuan. Tapi kau juga tidak memiliki aroma kebencian seperti anak berkacamata itu. Siapa kau?"

"Aku adalah bulan yang sedang menjaga matahari agar tidak padam," jawab Mitsuki datar. Ia menyarungkan kembali pedang pendeknya, sebuah tindakan yang membuat Stain terheran-heran. "Aku tidak ingin bertarung denganmu menggunakan pedang, Hero Killer. Pedangmu adalah manifestasi dari ideologimu, dan aku tidak tertarik pada ideologi yang berantakan."

Stain tertawa, sebuah suara yang terdengar lebih mirip dengan geraman hewan liar. "Ideologi berantakan? Aku sedang membersihkan dunia ini! Masyarakat ini busuk karena pahlawan-pahlawan palsu!"

"Dan kau membersihkannya dengan menjadi apa yang kau benci?" Mitsuki melangkah maju secara perlahan. Tangannya tetap berada di samping tubuhnya, namun jarinya mulai bergerak membentuk pola yang halus. "Kau membunuh pahlawan yang kau anggap palsu untuk menciptakan dunia yang murni. Tapi kau melakukannya dengan pembunuhan diam-diam, dari kegelapan, tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk tumbuh. Kau adalah hakim, juri, dan algojo dalam satu tubuh. Itu bukan pembersihan, Stain. Itu hanyalah amarah seorang pengecut yang gagal menjadi bagian dari sistem yang ia kritik."

Wajah Stain mengeras. Kata-kata Mitsuki menghantamnya lebih dalam daripada serangan fisik mana pun. "Apa kau tahu apa yang telah kulalui?! Apa kau tahu betapa banyaknya pahlawan yang hanya bekerja demi uang?!"

"Semua orang butuh uang untuk makan," balas Mitsuki dengan logika yang sangat dingin. "Bahkan pahlawan paling murni sekalipun butuh rumah dan pakaian. Kau menghukum mereka karena menjadi manusia. Ayahku mengajariku bahwa kesempurnaan hanyalah ilusi yang diciptakan oleh orang-orang yang takut akan kekurangan. Dan kau... kau adalah orang yang paling takut di ruangan ini."

Stain menggeram dan melesat maju. Kecepatannya luar biasa, ia melemparkan beberapa belati kecil sebagai pengalih perhatian sebelum menyerang dengan pedang panjangnya.

Mitsuki tidak menghindar dengan melompat ke belakang. Ia justru melangkah ke samping, membiarkan belati itu lewat hanya beberapa milimeter dari pipinya. Dengan kelenturan yang menyerupai air, Mitsuki memanjangkan lengannya, melilit pergelangan tangan Stain yang sedang memegang pedang.

"Senpō: Hebi Mikazuchi!" (Teknik Sage: Petir Ular).

Bukan ledakan besar seperti saat melawan Nomu, melainkan aliran listrik berfrekuensi tinggi yang sangat halus. Petir itu merambat dari tangan Mitsuki ke pedang Stain, lalu langsung menuju sistem saraf pusat sang penjahat.

Stain tersentak. Tubuhnya bergetar hebat. Namun, ketahanannya terhadap rasa sakit luar biasa. Ia berhasil melepaskan diri dan melompat ke dinding gedung, menempel di sana seperti serangga.

"Kau... kekuatan macam apa itu?!" seru Stain, napasnya mulai berat.

1
N—LUVV
setiap penjelasan penuh dengan hal hal ilmiah atau berhubungan dengan bidang perhitungan
N—LUVV
cerita Mitsuki yang berkeliling ke semesta anime !! bukan dunia my hero academia
N—LUVV: semangat kak..
total 3 replies
Lyonetta
udh di revisi juga cuxmay lah
Lyonetta
diupdateny lama bgt si (alan)
Lyonetta
sedang revisi/Frown//Frown/, bab 57 akan ada penjelasan
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
extra chapternya Thor gw mau liat reaksi Orochimaru sama masa depan mereka seperti apa !!
(⁠ノ⁠◕⁠ヮ⁠◕⁠)⁠ノ⁠*⁠.⁠✧
aku like kok
Derai
mitsuki sepertinya terlalu op untuk dunia bnha 😅
Lyonetta: yupp, mangkanya aku masukin mitsuki/Casual//Casual/
total 1 replies
Derai
Oooh, kayaknya seru. Biasanya aku ngehindarin baca fanfic indo krn entah mengapa cringe. Tapi ini kayaknya enggak deh.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen
Lyonetta: aku juga pas nulis agak krinj juga sih soalnya mitsuki tipikal filosofi nyeleneh untuk sifatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!