Radit hanyalah pecundang yang hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, sampai sebuah Sistem Misterius memberikan kunci menuju takdir yang gelap. Mengambil identitas sebagai sang Topeng Putih, ia merayap dari titik terendah menuju puncak tertinggi dunia bawah. Kekuasaan dan darah menjadi makanannya sehari-hari, hingga kehadiran Rania menyuntikkan kembali setitik cahaya di hatinya.
Namun, dunia tak membiarkannya bahagia. Tragedi berdarah di kampus menghancurkan dunianya dan merenggut Rania. Saat air mata berubah menjadi api, Radit melepas kemanusiaannya untuk meratakan dunia dengan dendam. Kini, setelah badai pembalasan mereda, Radit melangkah pergi meninggalkan singgasana berdarahnya. Ia memulai pencarian terakhir: menemukan kembali kepingan cintanya yang hilang, meski ia harus melawan takdir itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aprilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Dan di balik kekacauan kampus, malam itu bersiap menelan darah pemburu yang salah memilih mangsa. Empat pewaris berdiri terpisah di sudut kampus. Masing-masing mengaktifkan teknik persepsi terbaik mereka.
Wijaya Kusuma menutup mata, energi wilayah Barat berdenyut halus.
Aqilla Dewantara mengangkat tangan simbol ilusi Selatan berkilau samar.
Arsha Kusuma menekan tanah, getaran Timur menyebar seperti gelombang.
Tengku Guntara menatap langit , aura Utara menyapu dari atas.
Namun — kosong.
" Tidak mungkin." Gumam Wijaya.
" Aura tadi jelas bukan ilusi."
" Tekanan nya nyata." Sambung Aqilla
" Tapi ... Seolah tidak berada di ranah yang bisa kami ukur.."
Tengku menggertak kan gigi.
" Bukan di sembunyikan." Kata nya pelan.
" Seperti... Tidak tercatat oleh hukum ranah."
Arsha menarik napas dalam. " Orang ini... Berada di luar kami."
Empat pewaris saling memandang. Untuk pertama kali nya, mereka merasakan sesuatu yang sama. Ketidak pastian, di sisi lain kampus — lorong parkir bawah tanah. Lampu berkedip . Regu Falcon menyeret Rania.
" Cepat !!" Bentak pemimpin regu.
" Kita keluar dari zona ini."
Langkah mereka terhenti . Satu..... Dua..... Tiga..... Langkah kaki lain terdengar, tenang, berat dan mendekat.
" Siapa di sana ?" Teriak salah satu anggota.
Jawaban datang bukan berupa suara — Melain kan tekanan , udara turun seperti palu.
DUAMM.... !!!!!!
Satu anggota Falcon terhempas ke dinding, tulang nya remuk sebelum sempat berteriak.
" A....— apa itu ?"
Radit melangkah keluar dari bayangan, wajah tenang, mata dingin, topeng putih telah hilang. Namun yang berdiri di sana jauh lebih menakut kan.
" Lepas kan !!" Ucap nya singkat.
Pemimpin regu Falcon tertawa gugup.
" Berani sekali kau —!"
HILANG !
Radit lengkap dari pandangan.
CRACKKK !!!
Kepala pemimpin regu terpelintir ke arah yang mustahil. Tubuh nya jatuh tanpa suara .
" FORMASI !"
Terlambat. Radit bergerak seperti bayangan patah. Satu langkah — satu nyawa. Tidak ada jurus megah, tidak ada ledakan energi. Hanya ketepatan absolut.
Duk....
Duk.....
Duk....
Tiga tubuh runtuh hampir bersamaan. Anggota terakhir gemetar.
" TI....tu....t—tunggu aku hanya prajurit —"
Radit berhenti di depan nya. Menatap wajah anggota itu.
" Falcon memilih kampus." Kata nya pelan .
" Dan kau memilih dia."
Satu sentuhan, jantung berhenti, sunyi kembali menguasai lorong. Radit berbalik Rania terduduk lemas di lantai. Mata nya membesar menatap pria yang ada di hadapan nya.
" Radit....?"
Ia berlutut. Nada suara nya berubah, lembut, hampir rapuh.
" Apa mereka menyakiti mu ?"
Rania menggeleng, air mata jatuh. Untuk pertama kali nya , ia melihat sisi Lain dari Radit yang tidak pernah di tunjuk kan —.
Kegelapan yang hanya bergerak demi melindungi.
Di kejauhan — empat pewaris merasakan sesuatu lagi. Bukan aura, Melain kan hilang nya beberapa keberadaan anggota Falcon.
Wijaya berbisik pelan.
" Ini bukan pertempuran."
Aqilla menutup mata .
" Ini pembantaian."
Lorong parkir itu sunyi. Terlalu sunyi.
Rania masih terduduk di lantai, punggung nya menempel pada dinding dingin. Di sekeliling mereka — tubuh-tubuh anggota Falcon tergeletak tanpa bentuk. Tidak ada darah berlebihan, tidak ada tanda perlawanan, justru itu yang membuat nya takut.
Radit berdiri membelakangi nya. Bahu nya tegap, tangan nya bersih, namun... Sesuatu di sekitar nya belum sepenuh nya reda. Rania menelan ludah.
" Radit...." Suara nya bergetar.
" Ini... Semua kamu yang melakukan nya ?"
Radit tidak langsung menjawab. Ia menatap mayat - mayat itu, lalu menutup mata sebentar. Seolah memastikan bahwa sisi diri nya yang satu ini kembali terkunci.
" Aku terlambat." Kata nya pelan.
" Itu saja !"
Jawaban itu tidak menjawab apa pun. Justru membuat dada Rania sesak.
Ia berdiri perlahan, langkah nya ragu, namun ia mendekat.
" Sejak kapan kamu seperti ini ?"
Radit meneh. Tatapan itu membuat Rania berhenti. Bukan marah, bukan dingin seperti biasa nya, Melain kan kosong. Kosong seperti seseorang yang telah terlalu lama hidup berdampingan dengan kematian.
" Kau tidak seharus nya melihat ini." Ucap Radit pelan .
" Sisi ini bukan untuk mu."
Rania mengepal kan tangan nya.
" Tapi aku melihat semua nya." Kata nya lirih.
" Dan itu kamu."
Ia menatap tubuh - tubuh di lantai.
" Kau tidak ragu, tidak takut, dan tidak menyesal."
Hening.
Radit melangkah mendekat. Setiap langkah nya membuat jantung Rania berdegup lebih cepat.— bukan karena ancaman, Melain kan karena jarak antara orang yang ia kenal dan orang yang berdiri di depan nya kini terasa begitu jauh berbeda.
" Jika aku ragu ." kata Radit akhir nya.
" Kau tidak akan bisa berdiri di sini lagi."
Rania terdiam, ia sadar tidak ada pembelaan, tidak ada pembenaran , hanya pakta yang ada. Air mata nya jatuh.
" Jadi ... Dunia seperti ini yang kamu jalani sendirian ?"
Untuk pertama kali nya , bahu Radit sedikit turun.
" Ini dunia yang memaksa ku." Jawab nya.
" Aku hanya memilih bertahan."
Rania mengangkat kepala , mata nya merah namun tatapan nya tegas.
" Aku takut." Kata nya jujur.
" Tapi bukan padamu."
Radit mengerut kan kening.
" Aku takut... Suatu hari , kamu menghilang ke dalam bayangan ini dan tidak akan pernah kembali."
Kata-kata itu menembus lebih dalam dari pada serangan apa pun . Radit menutup mata.
" .... Aku masih di sini."
Ia mengulur kan tangan nya ragu. Rania menatap tangan itu lama— tangan yang beberapa menit lalu mengakhiri banyak nyawa.
Lalu ia menggenggam nya. Genggaman itu gemetar . Namun nyata. Di kejauhan sirene mulai terdengar.
Empat pewaris merasakan ketenangan aneh di tengah kekacauan. Sesuatu telah berakhir dan sesuatu yang lain baru saja di mulai.
Sirene makin dekat. Cahaya merah memantul di dinding parkiran. Namun Radit dan Rania sudah berada di lorong atas berkumpul kembali dengan mahasiswa lain nya.
Radit kembali menjadi Radit yang di kenal semua orang, wajah tenang, tatapan datar, langkah biasa. Tidak ada yang akan mengira bahwa beberapa menit lalu ia adalah akhir dari sebuah regu pembunuh.
Rania berjalan di samping nya, diam namun fikiran nya ribut. Di depan gedung fakultas seorang dosen bertanya panik.,
" Apakah kalian baik-baik saja?!"
Rania mengangguk cepat.
" Kami... Hanya bersembunyi." Kata nya.
" Saat suara ledakan terdengar."
Radit menoleh sekilas, ia tahu itu bukan kebetulan, itu keputusan.
Malam semakin larut. Kampus mulai di steril kan.
Rania duduk di bangku taman , memeluk lutut nya. Radit berdiri beberapa langkah dari nya.
" Aku akan mengerti." Kata Radit pelan . " Jika kau menjauh.
Rania mengangkat kepala.
" Kenapa ?" Tanya nya.
" Karena dunia yang aku hadapi tidak akan pernah aman."
Rania tersenyum kecil— pahit.
" Kalau aku pergi sekarang." Kata nya.
" Aku akan takut seumur hidup."
Ia berdiri, menatap Radit lurus.
" Tapi kalau aku tetap di sini, aku tahu siapa yang berdiri di samping ku."
Radit terdiam
" Aku tidak akan bertanya lagi." Lanjut Rania.
" Tidak akan menyelidiki mu, Tidka akan menceritakan pada siapa pun."
Ia mengangkat tangan.
" Ini rahasia mu... Dan aku memilih untuk menjaga nya."
Untuk pertama kali nya malam itu, Radit terlihat kehilangan kata.
" Kenapa ?" Tanya nya pelan.
Bersambungggg.....
alurnya lambat,terlalu Datar dan tidak jelas disetiap babnya.
tidak ada ruang disetiap bab yg membuat pembaca berimajinasi.
yg patut ditunggu apakah akhir dari skenario film ini happy end atau malah sad end.
Ku baca pelan" , Jdi radit emng g mudah.. 😥😭