Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Di Hari Bahagia
"Lupakan dia ... Kewajiban mu sekarang ialah mencintai istrimu ... Dan— hanya dia satu-satunya perempuan yang patut ada di hatimu dik," kakak kedua Bagas, yang bernama Sarah, menepuk pelan pundak Bagas.
"Insya Allah," balas Bagas, tersenyum.
"Hati memang milik Allah. Maka dari itu, minta sama-Nya agar membalikkan hatimu untuk hanya mencintai Safira," sambung Sulis menatap Bagas.
"Hooh, dia anak orang. Kita ambil secara baik-baik. Masak tidak di cintai sepenuh hati, sama suaminya," sambung Santi, acuh tak acuh.
"Aku memang belum mencintainya. Tapi aku akan bertekad untuk terus mencoba dan menyayanginya kak. Seperti yang kak Sarah katakan. Kewajiban ku ialah mencintainya," tutur Bagas lembut.
"Bagus, ini baru adik bungsu kita Bagas," Sarah mengacak rambut Bagas geram.
"Kak ... Aku udah nikah loh," sungut Bagas sedikit menahan kesal.
"Iya-iya ... Walaupun begitu kamu tetap masih anak-anak yang udah bisa mencetak anak," kekeh Sarah di sambut tawa oleh kedua kakak Bagas lainnya.
Baru saja Bagas hendak membalas. Namun, suami dari Sulis memanggil, meminta tolong untuk memengangi salah satu tiang tenda. Karena orang yang membantu sebelumnya, lagi kebelet buang air.
Jam mulai berlalu. Malam tiba, sejenak, rembulan menampakan cahayanya.
Orang-orang kampung mulai berdatangan. Para pemuda dari semua kalangan usia datang untuk meramaikan acara.
Disana, Yusuf dan ketiga menantunya menyambut kedatangan seluruh orang desa. Para pemuda, mulai menyajikan minuman kopi, bandret, dan teh untuk semua tamu. Sedangkan para wanita, mulai memotong kue-kue dan disusun di talam, agar bisa di suguhkan pada semua tamu undangan.
Sedangkan para ibu-ibu banyak membantu di dapur. Dan ada juga pemuda, yang membantu cuci piring di luar.
Sedangkan Bagas sendiri, dia kesana kemari, berbicara dengan para pemuda. Sesekali mengangguk sopan di depan para tetua desa.
Dan begitu tiba di tenda yang di huni oleh gadis-gadis. Mata Bagas sempat terpaku. Disana terlihat Nadia, yang juga menatapnya.
Sejenak, dunia seolah berhenti berputar.
Orang-orang lain, seperti menghilang di sekitar mereka.
"Bang," lirih Nadia.
Dan Bagas tahu, jika Nadia memanggilnya dari gerakan bibir.
"Kenapa dia ada disini?" batin Bagas, tak rela jika kebahagiannya di tatap oleh orang yang masih mencintainya.
Tanpa Bagas tahu, utusan yang mendapatkan amanah untuk memanggil orang kampung, ialah seseorang yang gak enakan.
Dia merasa sungkan dan enak, jika meninggalkan satu rumah, tapi mengundang semua penghuni desa lainnya.
Dan jauh dalam hatinya berharap, jika Nadia tak akan berani datang.
Tepukan di bahu, menyadarkan Bagas. Teman sd-nya tiba, untuk memberikannya ucapan selamat.
Dan saat itu pula, kontak matanya dengan Nadia terputus.
Beralih ke Nadia. Malam ini, dia sengaja datang. Bukan sekedar untuk memenuhi undangan. Melainkan, untuk bertemu orang yang akhir-akhir ini sangat di rindunya.
Nadia meremas tisu yang ada dalam genggaman tangannya. Sekuat mungkin, dia berusaha menahan air mata yang mendesak untuk di keluarkan.
Ingin sekali dia berlari untuk pulang. Namun, rasa malu masih menutupi pikirannya.
✨✨✨
Keesokan harinya. Safira kembali di hias di rumahnya. Kali ini, dia memilih memakai baju adat dengan nuansa tradisional.
Dan lagi-lagi orang berdecak kagum, melihat perubahan dari wajah Safira.
Iya, sehari-hari Safira memang jarang make-up. Lagi pula, dia bekerja di rumah. Mau make-up untuk siapa? Gak mungkin kan, dia make-up hanya untuk memperlihatkan pada abangnya Malik.
Yang ada, dia malah di ledek oleh lelaki itu.
Jam menunjuk angka 11. Dan orang-orang yang dapat undangan untuk mengantar Safira ke rumah mertuanya sudah memenuhi halamannya.
"Safira, cantik sekali ..." puji orang-orang. Dan Safira hanya membalasnya dengan ucapan terima kasih.
Setelah semuanya siap. Mereka semua berangkat ke rumah Bagas. Namun, sebelum dia naik ke mobil. Safira teringat sesuatu.
Abangnya. Ya, Malik sempat menolak untuk datang. Dia malu karena kekurangannya. Akan tetapi Safira beralasan, jika ia juga gak mau datang, jika sang pengganti ayahnya gak ada.
"Bang Malik mana?" tanya Safira pada adik bungsunya.
"Udah di mobil pak RT. Tadi, diseret sama mereka," papar si bungsu.
Safira manggut-manggut, dan mengucapkan terima kasih pada adiknya.
Tiba disana, orang-orang sekali lagi berdecak kagum. Apalagi, suasana di rumah Bagas lebih meriah di bandingkan di rumah Safira kemarin.
Orang-orang mulai memuji keluarga Bagas. Serta menganggap jika Safira gadis beruntung. Dan dia pantas mendapatkan semua ini.
"Assalamualaikum istriku, yang cantik," sapa Bagas, kala Safira menyalaminya.
Safira tersipu. Pujian dari Bagas memang selalu berhasil membuatnya bersemu.
Iya, Bagas memang kerap kali memujinya. Tak hanya ketika selesai berhubungan badan. Bagas juga memuji setiap makanan yang ia hidangkan. Bahkan, segelas kopi pun, tak luput dari pujiannya.
Dan karena itu lah, Safira semakin menyakinkan hatinya untuk mencoba membuka hati pada Bagas.
"Selamat datang nak ... Selamat datang di rumah kami, yang mulai dari sekarang, juga telah menjadi rumah mu," Hayati, menyalami serta memeluk menantunya.
Dan pemandangan manis itu tak luput dari satu mata. Hari ini, Nadia kembali hadir. Dia berharap, walaupun sudah punya istri Bagas tak akan melupakannya.
Dan kenapa dia bisa pergi?
Karena kedua orang tuanya berpikir, jika dengan membiarkan Nadia melihat langsung kebahagiaan Bagas dan istrinya, mereka berharap sang anak bisa move-on secepatnya.
Dan benar saja. Yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Di atas pelamin. Mata mereka sempat saling bertemu. Walaupun sesaat, Nadia bisa tahu, jika cinta itu masih ada.
Namun apakah dia berencana untuk merebut Bagas lagi? Tentu saja tidak. Dia gak mau menumbuhkan luka, pada wanita yang mungkin tak tahu apa-apa tentang masalahnya dan Bagas.
Kecuali, Bagas melamarnya atas persetujuan istrinya. Mungkin, itu akan lain cerita.
"Kamu gak apa-apa kan Nad?" seseorang, berbisik padanya.
"Gak apa kak, aman ... Buktinya aku ada disini kan? Menghadiri, agar bisa melihatnya langsung," kekeh Nadia, menutupi kegusaran hatinya.
"Iya, kamu hebat. Bisa mengikhlaskan, orang yang udah bertahun-tahun bersamamu," balas perempuan itu lagi.
Dan Nadia hanya bisa tersenyum simpul.
"Aku harap, kamu segera menemukan pengganti ku, dan kamu bahagia dengannya. Dan aku juga berharap, kita bisa saling melupakan satu sama lain," batin Bagas, penuh harap.
Bagas mengenggam tangan Safira erat. Seolah, sedang berjanji apapun yang terjadi, dia tetap hanya beristrikan seorang Safira saja.
"Semoga kita selalu bersama, bukan hanya di dunia ... Tapi, juga di akhirat kelak," ujar Bagas, menatap Safira.
Dan Safira hanya bisa tersenyum. Tapi, dalam hati dia mengucapkan aamiin, sampai beberapa kali.
"Jadilah, istriku di dunia dan bidadari ku di surga-Nya!" seru Bagas, kala fotografer menyuruh mereka untuk saling berhadapan.
kebiasaan ih