Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Kebakaran.
Situasi semakin tidak terkendali! Para siswa berusaha keluar dari laboratorium. Tapi karena pintu harus dibuka dan ditutup lewat sidik jari Pak Edward, pintu tidak bisa dibuka.
Pak Edward sepertinya tengah berjuang mengendalikan sesuatu dari dalam tubuhnya sendiri. Beliau terlihat sangat kesakitan. Teriakannya memilukan hati setiap orang yang mendengar. Membuat siswanya terhipnotis! Memandangnya tanpa bisa berbuat apa-apa!
Belum lagi bahan-bahan kimia yang tumpah akibat ulah Pak Edward. Yang membanting barang-barang dalam laboratorium. Jeritan siswa yang terkena bahan kimia. Wajah dan tubuh mereka terbakar mengerikan.
Zach berusaha mendobrak pintu dengan kursi. Saat melihat situasi semakin kacau. Dibantu yang lain memecahkan jendela kaca! Namun, semua usaha mereka sia-sia. Para siswa mulai terbatuk karena mencium bahan zat kimia.
"Aaaaaarrh!"
Suara aneh yang keluar dari mulut Pak Edward yang berubah wujud. Karena menahan rasa sakit yang luar biasa!
Tiba-tiba tubuh Pak Edward mengeluarkan asap putih.
"Duarrrr!"
Tubuh Pak Edward meledak. Tubuhnya hancur berkeping! Aroma tubuh yang terbakar, membuat dada siswa yang berjumlah 28 orang mendadak sesak. Mereka kesulitan bernafas. Entah apa sebenarnya yang terjadi dengan beliau.
Entah dari mana asalnya. Api mulai menjalar menimbulkan asap yang pekat. Disaat Pak Edward berlari tak tertu arah, telah memicu kebakaran. Alarm kebakaraan meraung-raung membuat semua siswa semakin panik. Semua berlarian, saling dorong untuk menyelamatkan diri. Asap yang semakin tebal membuat pandangan mereka semakin kabur.
Disaat-saat paling genting, Zach berhasil membuat celah di pintu. Megan, Mario dan Vivian berhasil lolos dari celah pintu. Mereka berlari keluar, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Zach melihat ketiga temannya berlari menjauhi laboratorium. Namun, Carol tidak ada diantara mereka.Carol masih terjebak di dalam ruangan.
Zach panik! Dia berbalik kembali masuk laboratorium. Karena panik dan takut terjadi sesuatu pada Carol, Zach tidak menyadari kalau tubuhnya berubah wujud. Zach menerobos masuk mencari keberadaan Carol. Namun, asap tebal dan api yang semakin berkobar membuatnya kesulitan mencari Carol.
Zach merasa ngeri karena teman-temannya berjatuhan satu persatu. Entah mereka sudah mati atau pingsan.
Ditengah asap dan api yang berkobar. Zach mendengar suara batuk. Ternyata itu adalah Carol.
"Tolong! Tolong aku ...." rintih Carol berusaha keluar dari kobaran api. Lalu dia melihat sesosok makhluk primata, berjalan ke arahnya. Carol sangat ketakutan. Hampir saja tubuh Carol jatuh ketengah bara api. Kalau saja Zach tidak melesat menangkap tubuhnya.
Masih antara sadar dan tidak. Carol masih sempat melihat makhluk itu menangkap tubuhnya. Lalu dia jatuh pingsan di puncak ketakutannya.
"Megan, tunggu! Mana Zach dan Carol. Apakah mereka terjebak dalam api?" teriak Vivian setelah mereka berhasil menjauh gedung yang terbakar.
"Astaga, tadi Carol di belakangku. Bukankah Zach tadi berhasil keluar bersama kita?" seru Megan yang baru menyadari kalau Zach dan temannya yang lain tidak ada bersama mereka.
"Jadi, cuma kita bertiga yang berhasil lolos?" Mario mengacaukan rambutnya, frustasi. Menatap kobaran api yang semakin membubung tinggi. Asap tebal nampak mengotori langit. Dan api mulai menyambar gedung yang lain.
Sekolah mereka yang terletak di pinggir kota, kini telah dilahap si jago merah. Butuh waktu yang agak lama sampai petugas damkar tiba di sekolah mereka, untuk memadamkan api.
"Apa itu?" teriak Mario tiba-tiba. Saat melihat bayangan melesat keluar dari kobaran api menuju belakang gedung laboratorium. Hutan karet milik warga.
"Kamu melihat apa, Mario?" seru Megan.
"Kalian tidak melihatnya? Aku melihat makhluk seperti Pak Edu barusan keluar dari kobaran api." seru Mario bergidik ngeri.
"Ngaco! Pak Edu sudah mati. Tubuhnya sudah meledak." sentak Megan mengira Mario berhalusinasi. Efek trauma dengan kejadian yang menimpa guru fisika mereka.
"Aku gak salah lihat. Dia juga tengah menggendong seseorang. Jangan-jangan itu Carol! Astaga! Carol diculik!" seru Mario shok!
"Cukup! Kamu harus tenang Mario!" Vivian menampar wajah Mario, supaya dia tenang kembali. Mario mengusap pipinya yang terasa panas bekas tamparan Vivian. Barulah dia dapat menguasai dirinya.
"Mana teman-teman yang lain. Jadi cuma kita bertiga yang selamat ya?" isak Megan. Tubuhnya ambruk ke tanah, menatap kobaran api yang semakin menggila melahap sekolahnya.
Dari kejauhan, suara sirene meraung-raung menuju sekolah mereka. Dalam tempo singkat, sekolah yang tadinya lengang berubah bising oleh hilir mudik petugas damkar memadamkan api.
Setelah hampir dua jam, api berangsur padam. Warga berduyun-duyun hendak menyaksikan kebakaran itu. Ingin tau apa sebenarnya yang telah terjadi.
Para orang tua yang anaknya ikut praktik sore itu, datang mencari anaknya. Isak tangis yang menyayat hati, terdengar dari orang tua murid yang kehilangan anaknya.
Setelah api berhasil dipadamkan, polisi dan petugas damkar menyisir lokasi kebakaran untuk mencari, korban.
Aroma tubuh manusia yang terbakar tercium tajam. Beberapa mayat terlihat telah menjadi abu.
"Mereka terjebak dalam api! Sangat mengerikan sekali." ucap Kapolres yang langsung terjun ke lokasi. AKBP Haris tidak mampu menahan air matanya, melihat korban yang sudah menjadi abu.
Garis Polisi dipasang di sekitar area lokasi kebakaran. Untuk mencegah barang bukti dan sidik jari, hilang.
"Apa ada korban selamat?"
"Ada tiga orang Pak!" sahut ajudannya.
"Kerahkan tim medis memeriksa kondisi mereka. Mereka adalah saksi dari kebakaran ini. Kita butuh keterangan dari mereka."
"Siap Komandan! Perintah segera dilaksanakan!"
Satu kilo meter dari lokasi kebakaran. Dua sosok tubuh tergeletak di atas rerumputan. Keduanya belum sadarkan diri. Sementara hari telah menjelang malam. Suara jangkrik dan dengungan nyamuk, memulihkan kesadaran Carol.
Carol terbatuk dan kaget dengan lingkungan sekitarnya.
"Astaga! Aku berada dimana? Kenapa disini gelap sekali ya. Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Carol mencoba mengingat apa yang telah menimpanya.
Kepalanya terasa sakit saat mencoba mengingat kejadian itu.
Carol melihat api dan asap tebal. Teman-temannya yang panik berlarian hingga seseorang membuatnya terjatuh. Disaat dia hendak berlari ke arah pintu. Bahkan dia sempat menginjak salah satu temannya entah siapa.
Asap tebal membuat dadanya terasa sesak dan susah bernafas. Dia sudah berputus asa tidak akan bisa selamat dari kebakaran itu. Di saat dia sudah pasrah, lalu ia melihat sosok makhluk itu mendekatinya.
Sosok yang sama seperti Pak Edward. Guru Fisikannya yang mati mengenaskan. Meledak di depan mata mereka.
Entah makhluk dari mana itu. Carrol sangat ketakutan dan tidak ingat apa apa lagi setelah itu.
"Uhuk"
Suara batuk itu mengagetkan Carol. Dia mengira dirinya sendirian. Tapi Carol tidak tau dia siapa karena gelap.
"Ka-kamu siapa?" seru Carol ketakutan. Dia sudah bersiap hendak lari, walau belum tau lari ke arah mana. Karena suasana yang begitu gelap dan mencekam. Yang terdengar hanya suara binatang malam. Tubuh Carol merinding. Dia teringat kembali sosok makhluk itu.
"Ka-kamu kah itu Carol?" Cahaya dari senter ponsel menerangi wajah Carol.
"Zach!" teriak Carol terkesima saat melihat Zach ada bersamanya.***