NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Perasaan yang tak punya hak

Pagi itu meja makan terasa lebih sunyi dari biasanya.

Bunyi-bunyi kecil tetap terdengar—sendok, piring, gesekan kursi—namun suasananya tidak benar-benar hidup. Ada sesuatu yang menggantung di udara, rapi dan tenang dengan cara yang justru membuat tidak nyaman.

Gina duduk di kursinya seperti biasa, punggung lurus, seragam sekolah sudah dikenakan sempurna.

Ayah Gina beberapa kali melirik jam tangan di pergelangan tangannya.

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri dengan langkah cepat dan sikap hati-hati.

“Maaf, Tuan. Ada tamu yang datang,” ucapnya pelan.

“Sepagi ini?” tanya Ayah Gina, nadanya tegas.

“Dari siapa?”

Pelayan itu sedikit menunduk, lalu membisikkan sesuatu di telinga Tuan Wijaya.

“Hm,” gumamnya singkat.

“Suruh mereka masuk dan menunggu di ruang tamu. Sebentar lagi saya ke sana.”

Ia pun berdiri dari kursinya, merapikan jas yang dikenakannya.

“Siapa?” tanya Ibu Gina, ikut menoleh.

Ayah Gina menjawab sambil melangkah pergi,

“Keluarga Pratama. Sepertinya ingin membahas kerja sama yang kemarin.”

Ibu Gina langsung ikut berdiri.

“Kalau begitu aku ikut,” katanya.

Lalu ia menoleh ke arah meja makan.

“Gina, kamu makan dulu sama adikmu, ya. Ibu ada urusan sebentar.”

“Iya, Bu,” sahut adik Gina polos.

Ibu Gina menatap Gina sejenak.

“Jaga adikmu. Kalau bisa, sekalian disuapi.”

“Baik, Bu,” jawab Gina singkat.

Ia kembali menunduk ke piringnya, melanjutkan makan—sementara pagi itu perlahan berubah arah, tanpa ada yang benar-benar siap mengikutinya.

Setelah selesai makan, Gina segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia meraih tasnya dan melangkah cepat ke arah pintu.

“Bi,” panggilnya sambil mengenakan tali tas di bahu,

“Bi, tolong antar Ginan adikku ke sekolah,” ucap Gina sambil meraih tasnya.

“Aku mau langsung berangkat sekarang.”

“Iya, Nona,” jawab pelayan itu sigap.

Gina berjalan menyusuri koridor rumah dengan langkah ringan. Namun saat melewati ruang tamu—

langkahnya mendadak melambat.

Ia menoleh.

Di ruang tamu, beberapa orang sudah duduk dengan sikap rapi dan formal. Wajah-wajah yang tidak asing—keluarga Pratama.

Gina sempat terkejut.

Namun keterkejutannya belum selesai.

Di antara mereka, duduk seorang anak laki-laki yang langsung ia kenali.

Azmi.

Untuk sesaat, Gina terdiam di tempatnya.

Ia tidak menyangka mereka datang sepagi ini.

Lebih tidak menyangka lagi—Azmi ikut bersama mereka.

Pandangan mereka sempat bertemu.

Dan pagi itu, sebelum Gina sempat benar-benar melangkah pergi ke sekolah,

sesuatu sudah lebih dulu menahannya di rumah.

Ia tidak menyangka akan melihat Azmi di rumahnya, sepagi ini, dalam suasana yang sama sekali berbeda dari sekolah.

“Gina,” panggil ayahnya tenang.

“Sapa dulu keluarga Pratama.”

Gina berhenti melangkah. Ia menoleh, lalu mengangguk kecil.

Dengan sikap yang terlatih—punggung tegak, senyum tipis—ia melangkah mendekat.

“Selamat pagi,” ucap Gina sopan.

Ia sedikit menunduk hormat sebelum duduk di kursi yang ditunjukkan ayahnya.

Salah satu tamu tersenyum ramah, menatap Gina sejenak sebelum berkata,

“Ini putri Anda?”

“Cantik sekali.”

Gina tersenyum kecil—senyum yang rapi, terukur.

Ayahnya menjawab dengan nada bangga yang tertahan,

“Terima kasih.”

“Maaf mengganggu waktumu.”ucap ayah azmi sopan.

“Tidak masalah,” jawab ayah Gina.

“Silakan.”

Obrolan pun dimulai—tentang kerja sama, rencana lanjutan, dan pertemuan resmi yang nanti akan dibahas di kantor. Gina hanya mendengar potongan-potongan kalimat, tanpa benar-benar ikut masuk ke dalamnya.

Pikirannya tertahan pada satu hal.

Azmi.

Ia duduk tenang di sofa, sikapnya sopan, nyaris seperti versi berbeda dari Azmi yang ia kenal di sekolah. Tidak bercanda. Tidak santai. Matanya sesekali menunduk, mendengarkan orang tuanya berbicara.

Lalu, suara ayah Gina kembali terdengar.

“Sekalian saja,” katanya tenang, “Azmi dan Gina berangkat bersama. Sekolah kalian searah.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa tanya. Tanpa pilihan.

Gina menoleh cepat.

Azmi pun mengangkat pandangan, terlihat sedikit terkejut—lalu mengangguk kecil.

“Kalau Gina tidak keberatan,” ucapnya sopan.

Gina menarik napas pelan.

“Tidak,” jawabnya. “Tidak keberatan.”

Namun di dalam dadanya, ada rasa asing yang perlahan muncul.

Karena pagi ini, ia tidak hanya duduk di sofa rumah nya—

ia sedang duduk di titik awal sesuatu yang akan mengubah caranya memandang Azmi.

Dan mungkin, dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, Azmi berdiri lebih dulu.

Ia menoleh ke arah Gina, sikapnya sopan seperti sejak tadi.

“Kalau sudah,” ucapnya tenang, “mobil kami di depan. Kita bisa berangkat sekarang.”

Gina ikut berdiri.

Dari sudut matanya, ia sempat melihat ibunya tersenyum kecil. Bukan senyum basa-basi. Melainkan senyum puas—seolah sikap Azmi sudah memenuhi ekspektasi yang tidak pernah diucapkan.

Gina tidak menanggapi apa pun. Ia hanya melangkah mengikuti Azmi keluar rumah.

Udara pagi masih sejuk ketika mereka tiba di mobil. Azmi berjalan sedikit lebih dulu, lalu berhenti di sisi pintu penumpang.

Ia membukakan pintu.

“Silakan,” ucapnya singkat.

Gina terdiam sepersekian detik—bukan karena ragu, melainkan karena gerakan itu terasa terlalu… rapi.

“Iya,” jawabnya pelan. “Terima kasih.”

Pintu mobil tertutup. Mesin dinyalakan.

Dan perjalanan pun dimulai.

Namun tidak ada percakapan.

Tidak ada obrolan ringan seperti di sekolah. Tidak ada candaan. Bahkan tidak ada basa-basi.

Hanya suara mesin dan jalanan pagi yang perlahan terlewati.

Gina menatap ke luar jendela, namun pikirannya justru tertinggal di hari sebelumnya.

Tentang hujan. Tentang parkiran. Tentang Azmi—yang berdiri berteduh bersama Rahmalia.

Ia mengingat jelas momen itu.

Sebenarnya, saat itu Gina sempat melihat mereka. Sempat ingin mendekat. Sempat ingin mengajak Azmi pergi bersama.

Namun ponselnya berdering.

Nama ayahnya muncul di layar.

Perintahnya singkat. Tegas. Tidak memberi ruang untuk pilihan.

Langsung ke tempat les.

Dan Gina menurut.

Sekarang, duduk di kursi mobil ini, perasaan itu datang terlambat.

Bukan cemburu. Bukan juga rasa memiliki.

Hanya sesuatu yang mengganjal— rasa kecewa kecil yang tidak tahu harus ditujukan ke siapa.

Bahkan pada dirinya sendiri.

Gina menarik napas pelan.

Ia menyadari satu hal yang membuatnya semakin tidak nyaman.

Ia tidak punya hak untuk merasa seperti ini.

Ia bukan siapa-siapa bagi Azmi. Bukan siapa pun yang bisa menuntut perhatian. Bukan siapa pun yang berhak marah.

Namun perasaan itu tetap ada.

Diam. Tidak diminta. Tidak diundang.

Dan justru karena itulah, Gina semakin kesal pada dirinya sendiri.

Mobil terus melaju, sementara di dalam dada Gina, sesuatu mulai bergerak— pelan, tidak jelas, dan berbahaya jika dibiarkan tumbuh tanpa ia sadari.

Azmi melirik sekilas ke arah Gina.

Ia menyadari sejak tadi gadis itu lebih banyak diam, menatap ke luar jendela, seolah pikirannya melayang entah ke mana. Setelah ragu sejenak, Azmi akhirnya membuka suara.

“Lengan kamu…” ucapnya pelan, nadanya hati-hati.

“Sekarang sudah mendingan?”

Gina sedikit terkejut. Refleks, matanya turun ke lengannya sendiri, ke bekas luka yang samar tertutup lengan seragam.

“Agak,” jawabnya singkat.

“Nggak separah kemarin.”

Nada suaranya terdengar datar, hampir dingin.

Azmi tidak tersinggung. Ia justru tersenyum kecil, seolah lega mendengarnya.

“Syukurlah,” katanya tulus.

Ia sempat terdiam sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang sama sekali tidak memaksa,

“Kalau nanti perih lagi… mau aku olesin salep lagi?”

Gina langsung menoleh. Sedikit kaget, sedikit canggung.

“Oh—nggak usah,” katanya cepat.

“Ini udah diobatin kok.”

Azmi mengangguk, tidak memaksa.

“Iya,” ucapnya pelan.

“Aku cuma… kepikiran aja.”

Ia menatap jalan di depan, tangannya tetap stabil di setir.

“Jangan terlalu sering digaruk,” lanjutnya hati-hati.

“Sayang. Kulit kamu kelihatan sensitif. Kalau kamu nggak jaga, nanti malah makin sakit.”

Kalimatnya sederhana. Tidak berlebihan. Tidak menyinggung.

Namun Gina terdiam.

Bukan karena kata-katanya terdengar aneh—

melainkan karena cara Azmi mengucapkannya.

Tidak seperti peringatan.

Tidak seperti penilaian.

Lebih seperti… kekhawatiran kecil yang jujur.

Gina kembali menatap ke luar jendela, menahan sesuatu yang tiba-tiba terasa hangat di dadanya.

“Iya,” balasnya akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

“Aku bakal hati-hati.”

Azmi tersenyum tipis.

Dan untuk beberapa saat setelah itu,

mobil kembali dipenuhi keheningan—

bukan yang canggung,

melainkan yang perlahan terasa nyaman.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!