Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Perasaan yang tak punya hak
Pagi itu meja makan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bunyi-bunyi kecil tetap terdengar—sendok, piring, gesekan kursi—namun suasananya tidak benar-benar hidup. Ada sesuatu yang menggantung di udara, rapi dan tenang dengan cara yang justru membuat tidak nyaman.
Gina duduk di kursinya seperti biasa, punggung lurus, seragam sekolah sudah dikenakan sempurna.
Ayah Gina beberapa kali melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri dengan langkah cepat dan sikap hati-hati.
“Maaf, Tuan. Ada tamu yang datang,” ucapnya pelan.
“Sepagi ini?” tanya Ayah Gina, nadanya tegas.
“Dari siapa?”
Pelayan itu sedikit menunduk, lalu membisikkan sesuatu di telinga Tuan Wijaya.
“Hm,” gumamnya singkat.
“Suruh mereka masuk dan menunggu di ruang tamu. Sebentar lagi saya ke sana.”
Ia pun berdiri dari kursinya, merapikan jas yang dikenakannya.
“Siapa?” tanya Ibu Gina, ikut menoleh.
Ayah Gina menjawab sambil melangkah pergi,
“Keluarga Pratama. Sepertinya ingin membahas kerja sama yang kemarin.”
Ibu Gina langsung ikut berdiri.
“Kalau begitu aku ikut,” katanya.
Lalu ia menoleh ke arah meja makan.
“Gina, kamu makan dulu sama adikmu, ya. Ibu ada urusan sebentar.”
“Iya, Bu,” sahut adik Gina polos.
Ibu Gina menatap Gina sejenak.
“Jaga adikmu. Kalau bisa, sekalian disuapi.”
“Baik, Bu,” jawab Gina singkat.
Ia kembali menunduk ke piringnya, melanjutkan makan—sementara pagi itu perlahan berubah arah, tanpa ada yang benar-benar siap mengikutinya.
Setelah selesai makan, Gina segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia meraih tasnya dan melangkah cepat ke arah pintu.
“Bi,” panggilnya sambil mengenakan tali tas di bahu,
“Bi, tolong antar Ginan adikku ke sekolah,” ucap Gina sambil meraih tasnya.
“Aku mau langsung berangkat sekarang.”
“Iya, Nona,” jawab pelayan itu sigap.
Gina berjalan menyusuri koridor rumah dengan langkah ringan. Namun saat melewati ruang tamu—
langkahnya mendadak melambat.
Ia menoleh.
Di ruang tamu, beberapa orang sudah duduk dengan sikap rapi dan formal. Wajah-wajah yang tidak asing—keluarga Pratama.
Gina sempat terkejut.
Namun keterkejutannya belum selesai.
Di antara mereka, duduk seorang anak laki-laki yang langsung ia kenali.
Azmi.
Untuk sesaat, Gina terdiam di tempatnya.
Ia tidak menyangka mereka datang sepagi ini.
Lebih tidak menyangka lagi—Azmi ikut bersama mereka.
Pandangan mereka sempat bertemu.
Dan pagi itu, sebelum Gina sempat benar-benar melangkah pergi ke sekolah,
sesuatu sudah lebih dulu menahannya di rumah.
Ia tidak menyangka akan melihat Azmi di rumahnya, sepagi ini, dalam suasana yang sama sekali berbeda dari sekolah.
“Gina,” panggil ayahnya tenang.
“Sapa dulu keluarga Pratama.”
Gina berhenti melangkah. Ia menoleh, lalu mengangguk kecil.
Dengan sikap yang terlatih—punggung tegak, senyum tipis—ia melangkah mendekat.
“Selamat pagi,” ucap Gina sopan.
Ia sedikit menunduk hormat sebelum duduk di kursi yang ditunjukkan ayahnya.
Salah satu tamu tersenyum ramah, menatap Gina sejenak sebelum berkata,
“Ini putri Anda?”
“Cantik sekali.”
Gina tersenyum kecil—senyum yang rapi, terukur.
Ayahnya menjawab dengan nada bangga yang tertahan,
“Terima kasih.”
“Maaf mengganggu waktumu.”ucap ayah azmi sopan.
“Tidak masalah,” jawab ayah Gina.
“Silakan.”
Obrolan pun dimulai—tentang kerja sama, rencana lanjutan, dan pertemuan resmi yang nanti akan dibahas di kantor. Gina hanya mendengar potongan-potongan kalimat, tanpa benar-benar ikut masuk ke dalamnya.
Pikirannya tertahan pada satu hal.
Azmi.
Ia duduk tenang di sofa, sikapnya sopan, nyaris seperti versi berbeda dari Azmi yang ia kenal di sekolah. Tidak bercanda. Tidak santai. Matanya sesekali menunduk, mendengarkan orang tuanya berbicara.
Lalu, suara ayah Gina kembali terdengar.
“Sekalian saja,” katanya tenang, “Azmi dan Gina berangkat bersama. Sekolah kalian searah.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa tanya. Tanpa pilihan.
Gina menoleh cepat.
Azmi pun mengangkat pandangan, terlihat sedikit terkejut—lalu mengangguk kecil.
“Kalau Gina tidak keberatan,” ucapnya sopan.
Gina menarik napas pelan.
“Tidak,” jawabnya. “Tidak keberatan.”
Namun di dalam dadanya, ada rasa asing yang perlahan muncul.
Karena pagi ini, ia tidak hanya duduk di sofa rumah nya—
ia sedang duduk di titik awal sesuatu yang akan mengubah caranya memandang Azmi.
Dan mungkin, dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Azmi berdiri lebih dulu.
Ia menoleh ke arah Gina, sikapnya sopan seperti sejak tadi.
“Kalau sudah,” ucapnya tenang, “mobil kami di depan. Kita bisa berangkat sekarang.”
Gina ikut berdiri.
Dari sudut matanya, ia sempat melihat ibunya tersenyum kecil. Bukan senyum basa-basi. Melainkan senyum puas—seolah sikap Azmi sudah memenuhi ekspektasi yang tidak pernah diucapkan.
Gina tidak menanggapi apa pun. Ia hanya melangkah mengikuti Azmi keluar rumah.
Udara pagi masih sejuk ketika mereka tiba di mobil. Azmi berjalan sedikit lebih dulu, lalu berhenti di sisi pintu penumpang.
Ia membukakan pintu.
“Silakan,” ucapnya singkat.
Gina terdiam sepersekian detik—bukan karena ragu, melainkan karena gerakan itu terasa terlalu… rapi.
“Iya,” jawabnya pelan. “Terima kasih.”
Pintu mobil tertutup. Mesin dinyalakan.
Dan perjalanan pun dimulai.
Namun tidak ada percakapan.
Tidak ada obrolan ringan seperti di sekolah. Tidak ada candaan. Bahkan tidak ada basa-basi.
Hanya suara mesin dan jalanan pagi yang perlahan terlewati.
Gina menatap ke luar jendela, namun pikirannya justru tertinggal di hari sebelumnya.
Tentang hujan. Tentang parkiran. Tentang Azmi—yang berdiri berteduh bersama Rahmalia.
Ia mengingat jelas momen itu.
Sebenarnya, saat itu Gina sempat melihat mereka. Sempat ingin mendekat. Sempat ingin mengajak Azmi pergi bersama.
Namun ponselnya berdering.
Nama ayahnya muncul di layar.
Perintahnya singkat. Tegas. Tidak memberi ruang untuk pilihan.
Langsung ke tempat les.
Dan Gina menurut.
Sekarang, duduk di kursi mobil ini, perasaan itu datang terlambat.
Bukan cemburu. Bukan juga rasa memiliki.
Hanya sesuatu yang mengganjal— rasa kecewa kecil yang tidak tahu harus ditujukan ke siapa.
Bahkan pada dirinya sendiri.
Gina menarik napas pelan.
Ia menyadari satu hal yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Ia tidak punya hak untuk merasa seperti ini.
Ia bukan siapa-siapa bagi Azmi. Bukan siapa pun yang bisa menuntut perhatian. Bukan siapa pun yang berhak marah.
Namun perasaan itu tetap ada.
Diam. Tidak diminta. Tidak diundang.
Dan justru karena itulah, Gina semakin kesal pada dirinya sendiri.
Mobil terus melaju, sementara di dalam dada Gina, sesuatu mulai bergerak— pelan, tidak jelas, dan berbahaya jika dibiarkan tumbuh tanpa ia sadari.
Azmi melirik sekilas ke arah Gina.
Ia menyadari sejak tadi gadis itu lebih banyak diam, menatap ke luar jendela, seolah pikirannya melayang entah ke mana. Setelah ragu sejenak, Azmi akhirnya membuka suara.
“Lengan kamu…” ucapnya pelan, nadanya hati-hati.
“Sekarang sudah mendingan?”
Gina sedikit terkejut. Refleks, matanya turun ke lengannya sendiri, ke bekas luka yang samar tertutup lengan seragam.
“Agak,” jawabnya singkat.
“Nggak separah kemarin.”
Nada suaranya terdengar datar, hampir dingin.
Azmi tidak tersinggung. Ia justru tersenyum kecil, seolah lega mendengarnya.
“Syukurlah,” katanya tulus.
Ia sempat terdiam sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang sama sekali tidak memaksa,
“Kalau nanti perih lagi… mau aku olesin salep lagi?”
Gina langsung menoleh. Sedikit kaget, sedikit canggung.
“Oh—nggak usah,” katanya cepat.
“Ini udah diobatin kok.”
Azmi mengangguk, tidak memaksa.
“Iya,” ucapnya pelan.
“Aku cuma… kepikiran aja.”
Ia menatap jalan di depan, tangannya tetap stabil di setir.
“Jangan terlalu sering digaruk,” lanjutnya hati-hati.
“Sayang. Kulit kamu kelihatan sensitif. Kalau kamu nggak jaga, nanti malah makin sakit.”
Kalimatnya sederhana. Tidak berlebihan. Tidak menyinggung.
Namun Gina terdiam.
Bukan karena kata-katanya terdengar aneh—
melainkan karena cara Azmi mengucapkannya.
Tidak seperti peringatan.
Tidak seperti penilaian.
Lebih seperti… kekhawatiran kecil yang jujur.
Gina kembali menatap ke luar jendela, menahan sesuatu yang tiba-tiba terasa hangat di dadanya.
“Iya,” balasnya akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
“Aku bakal hati-hati.”
Azmi tersenyum tipis.
Dan untuk beberapa saat setelah itu,
mobil kembali dipenuhi keheningan—
bukan yang canggung,
melainkan yang perlahan terasa nyaman.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔