Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Di ruang BK, ketegangan menggantung seperti kabut tebal yang sulit ditembus. Aurora dan Anjani duduk saling berhadapan dengan guru, pandangan mereka penuh bara api dan keengganan untuk mengalah.
"Siapa yang mulai duluan?" tanya guru BK dengan nada dingin, menatap kedua gadis itu bergantian, seolah menuntut jawaban yang jujur dari keduanya.
Anjani buru-buru menyela, suaranya bergetar tapi penuh tuduhan, "Dia duluan, Bu! Dia yang mulai menuduh aku orang desa. Padahal kenyataannya, dia yang dari desa!"
Aurora mengangkat kepala, tatapannya tajam seperti sembilu yang siap menusuk. "Ibu pasti sudah tahu kebenaran tentang keluarga Harvey, kan? Pasti papi saya sudah cerita semuanya," jawabnya dengan suara tenang namun menyimpan bara dendam yang membara di balik ketenangan itu.
Ruang itu hening sejenak, ketegangan antara mereka seperti bara yang siap meledak kapan saja, menunggu percikan kecil untuk menjadi kobaran api yang tak terpadamkan.
Bu Sekar menghela napas panjang yang terdengar kasar, lalu menatap tajam ke arah mereka seolah menebar petir.
“Anjani, karena kamu yang memulai keributan ini dan mengacaukan ketenangan sekolah, kamu akan diskors selama tiga hari,” suaranya dingin dan tegas seperti palu godam.
Aurora menyunggingkan senyum miring, matanya berbinar puas, seperti menang dalam permainan licik yang ia ciptakan.
Anjani mendongak, wajahnya memerah oleh amarah dan penolakan. “Kenapa aku? Seharusnya dia yang kena, Bu! Aku nggak terima!” teriaknya, suaranya bergetar antara marah dan putus asa.
Bu Sekar menatapnya tanpa belas kasihan, suaranya menusuk, “Terserah saya! Siapa kamu sampai berani mengatur aturan di sini?!”
Kemudian, dengan tatapan tajam yang beralih ke Aurora, Bu Sekar menambahkan, “Aurora, kamu harus membantu membersihkan perpustakaan selama tiga hari.”
Aurora hanya mengangguk pelan, tanpa sepatah kata protes. Senyum tipisnya tetap tersimpan rapi, menyiratkan kemenangan yang sulit diungkapkan.
...****************...
Jam pulang sekolah menjadi hal paling menyenangkan untuk semua murid DHS, mereka semua berhamburan keluar kelas dengan wajah sumringah. Namun, banyak pula yang lelah juga kesal.
Termasuk Anjani, gadis itu kesal sebab apa yang menimpa dia hari ini adalah salah Aurora. Skorsing yang ia dapatkan hari ini akan ia balas setimpal saat tiba di rumah nanti.
"Jadi apa rencana kamu untuk membalas mereka?" salah seorang teman bertanya, dia ini sahabat Anjani.
"Membalas gadis desa itu, apalagi?" jawab Anjani ketus.
"Kau tidak sadar apa? Jika yang sebenarnya anak desa itu kamu, Jani! Dia adalah keturunan Harvey yang asli," celetuk temannya tanpa perasaan.
Salah satunya menginjak pelan kaki perempuan yang bicara sembarangan tadi hingga ia mengaduh,"Apa sih?" kesalnya, mata itu mendelik marah.
"Kau bicara terlalu sembarangan!" deliknya dengan bibir yang menggerutu.
"Oh, Maaf ya, Jani!" katanya menyesal, dia menyentuh tangan Anjani.
"Kau selalu bicara sembarangan, awas jika kau ulangan lagi! Aku bisa membuat keluarga mu jatuh bangkrut karena membuat Anjani Rosalinda Harvey tak senang," ancam Anjani dengan wajah yang terlihat tak pernah main-main.
Gadis itu hanya mengangguk paham, walaupun dalam hati ia jelas tak senang mendengar ancaman itu. Jika bukan karena Anjani masih tinggal bersama Harvey ia yakin gadis itu bukan siapa-siapa.
'Sukanya mengancam, aku ingin lihat saat kau di tendang dari rumah Harvey, dasar gadis kampung!' batinnya kesal.
Mereka keluar dari toilet, dan Anjani sumringah saat melihat inti Black code sedang berjalan bersama para gadis cantik yang tak lain adalah teman-teman mereka sendiri.
"Lihat, ada Anjani?" bisik Araina, dia adalah saudara kembar Arion.
"Lalu? Apa aku harus sujud padanya?" tanya Arion sinis.
"Kau kan playboy Arion, jadi kenapa tak coba mendekati Anjani?" Ariana mencibir dengan nada menggoda sedikit sang Kakak kembarnya.
"Kau jangan terus bicara sembarangan, Araina! Aku kesal sekali pada gadis itu, bahkan kau lebih tahu itu dari Pada Mami dan Papi," jawabnya ketus dengan bibir yang berdecak pelan.
Araina hanya terkekeh, gadis cantik pemilik lesung pipi di kedua pipinya senang mendengar Arion kesal karena godaannya.
Teman-teman mereka hanya bisa mendengarkan perdebatan kecil itu, mereka paham benar bagaimana dua saudara kembar itu saling menggoda dengan candaan yang kadang membuat salah satunya kesal.
Sedangkan di sisi Anjani, dia merapikan rambutnya, dan senyum itu langsung mengembang saat melihat Arion berjalan mendekat ke arahnya.
Namun, senyum itu lenyap saat melihat Aurora keluar deri sisi lain dan sekarang berjalan di depan Arion dan Teman-temannya.
"Kenapa harus dia?" gerutu Anjani dengan wajah marah.
Sedangkan Aurora yang tak mengerti apapun hanya terus berjalan dan melewati Anjani juga Teman-temannya sebab menurut dia sekarang bukan waktu yang tepat berurusan dengan Anjani.
"Arion," suara lembut dan mendayu Anjani membuat langkah Aurora terhenti.
Dia menoleh dan melihat Anjani sedang mencegat inti Black code yang di pimpin Arion dengan para sahabat perempuannya dan juga sang adik kembar Araina.
"Kau menyingkir!" usir Arion.
"Kenapa sih? Aku ini calon tunangan kamu, Arion, kenapa selalu saja ketus padaku begitu?" tanya Anjani dengan wajah memelas.
"Apa kau mendengar kau menerima pertunangan dengan mu? Tidak kan? Jadi jangan anggap kau adalah tunangan ku!" ketus Arion dengan tatapan kesal yang terlihat jelas.
"Arion, kedua keluarga sudah memutuskan kalau kau dan aku akan bertunangan sebab ini adalah perjodohan keluarga, jadi kau tidak bisa menolak?" jelas Anjani dia seperti menantang Arion.
Arion hanya tersenyum miring, dia menatap Anjani dengan kekehan kecil,"Kau tidak ada hubungannya dengan pertunangan itu, Anjani! Jadi apa kau lupa siapa putri kandung Harvey?" ucapan itu membuat Anjani menegang dengan kekesalan yang jelas terlihat dari air muka Anjani yang nampak marah.
"Siapa bilang? Aku ini putri keluarga Harvey dan kau juga aku akan tetap bertunangan karena itu sudah di tetapkan!" Anjani tetap kekeh dengan apa yang ia yakini.
"Terserah, yang jelas akan aku pastikan pertunangan tak akan ada," setelah berucap seperti itu, Arion mengkode Araina untuk mengurus Anjani.
"Kau menyingkir! Aku tak suka wajah jelek mu itu!" dorongnya Araina dengan wajah jijik.
Anjani kesal, dia ingin melawan Araina tapi dirinya tahan sebab bagaimana pun Araina adalah keturunan Draco yang tak bisa ia lawan sembarangan.
"Sialan kau Araina!" umpat Anjani dengan wajah menahan Amarah.
selalu d berikan kesehatan😄