NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.3

Bus tua berwarna hijau kusam itu kembali berguncang kecil, seolah memberi isyarat bahwa ia sudah terlalu tua untuk menampung kegaduhan manusia dewasa yang isinya masih remaja. Mesin di bagian depan menderu tidak stabil, seperti orang tua yang napasnya pendek-pendek, memaksa diri terus berjalan karena belum diizinkan berhenti. Kaca jendelanya buram, debu menempel seperti sejarah perjalanan yang tak pernah dibersihkan. Setiap kali roda bus menghantam jalan berbatu, rangka besinya berderit panjang, bunyi logam tua yang tidak menenangkan siapa pun. Bus ini bukan sekadar alat transportasi, Ia adalah saksi. Dan saksi yang sudah terlalu sering melihat manusia datang dengan niat baik… lalu pulang dengan cerita yang tidak pernah mereka ceritakan secara lengkap.

Setelah para mahasiswa laki-laki menunjukkan kepribadian masing-masing dengan cara yang, jujur saja, sudah cukup melelahkan, kini giliran barisan belakang bus mulai hidup. Barisan yang sejak awal perjalanan tampak tenang. Dan justru dari sanalah, sumber kegaduhan sesungguhnya berasal.

Ithayana Belancia (Ithay)

Ithay duduk paling belakang, memangku gitar cokelat tua. Catnya sudah pudar di beberapa bagian, senarnya sedikit berkarat, tapi suaranya masih hangat dengan cara yang aneh, seperti nostalgia yang tidak pernah benar-benar kamu alami tapi terasa familiar. Tubuhnya berisi dengan proporsi yang sulit diabaikan, body bohay bak gitar spanyol, sesuai pengakuan semua anggota kelompok. Bahkan sebelum dia berbicara, keberadaannya sudah mengisi ruang. Bukan dengan dominasi, tapi dengan kepercayaan diri yang nyaris ceroboh. Rambutnya tergerai, tidak peduli angin masuk dari sela jendela yang retak. Wajahnya cerah, senyumnya lebar, dan matanya selalu seperti sedang menantang dunia untuk mencoba sesuatu yang lebih ekstrem hari ini.

Ia duduk santai, kaki disilangkan sedikit, seolah bus reyot ini adalah kafe sore dengan kopi susu dan Wi-Fi kencang. Jarinya sudah terbiasa menari di senar gitar, bahkan ketika bus berguncang, nadanya tetap jatuh di tempat yang tepat. Itu bakat atau kebiasaan hidup tanpa beban. Atau mungkin… mekanisme bertahan hidup.

Profil Ithay:

Ithayana Belancia (Ithay)

Centil tapi pemberani.

Body bohay, mental baja.

Kalau hantu muncul, dia maju sambil selfie.

Ketakutan terbesarnya: jerawat muncul pas KKN.

Ithay memetik gitar.

🎶 “Pergi KKN penuh harapan~ pulang bawa cerita traumaan~” 🎶

Lirik itu sederhana dengan nada ceria. Tapi ada sesuatu dalam intonasinya yang terasa terlalu tepat. Suasana bus langsung berubah. Beberapa orang tertawa, sebagian karena lucu, sebagian karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Beberapa menghela napas panjang, menyandarkan kepala ke kursi dengan ekspresi lelah eksistensial. Beberapa lagi, yang duduk terlalu dekat, menyesal kenapa sejak awal tidak memilih duduk di depan.

“BERHENTI,” kata Surya.

Nada Surya tegas, tapi suaranya sedikit naik, ciri khas orang yang mencoba terlihat berani padahal mentalnya sudah jalan ke mana-mana. Telapak tangannya berkeringat. Bahunya kaku. Matanya sesekali melirik jendela, memastikan dunia di luar masih masuk akal.

Ithay tertawa ringan. Tidak mengejek, tidak pula merasa bersalah.

“Tenang, KKN ini bakal santai.”

Kalimat itu melayang ringan, tanpa beban, tanpa kesadaran. Dan entah kenapa…bus berguncang sedikit lebih keras tepat setelah itu.

Juleha duduk sambil memegang tasbih kecil. Manik-maniknya kayu tua, halus karena sering disentuh. Posturnya sedang, punggungnya tegak, seolah duduk adalah bentuk ibadah tersendiri. Wajahnya kalem, tapi sorot matanya tegas, jenis ketegasan yang tidak butuh suara keras. Auranya alim, sampai dia kesal. Gerakan jari-jarinya memutar tasbih teratur. Bibirnya komat-kamit pelan, membaca doa yang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Doa yang mungkin tidak spesifik. Tidak meminta sesuatu yang besar. Hanya… perlindungan. Di tengah bus yang dipenuhi suara mesin tua, gitar, dan obrolan tidak penting, keberadaan Juleha seperti titik diam yang menenangkan. Seperti jeda napas di antara dua kalimat panjang. Sampai dia membuka mulut.

Profil Juleha:

Julienne Hevani (Juleha)

Anak alim, kadang ngegas.

Sopan ke hantu, galak ke manusia.

Suka ceramahin siapa pun.

Takut teman sekamar ngorok.

“InsyaAllah semua baik-baik saja,” katanya.

Nada suaranya lembut. Tidak memaksa. Tidak menenangkan secara berlebihan. Hanya pernyataan keyakinan. Beberapa kepala mengangguk. Bahkan Udin yang sejak tadi tegang, merasa bahunya sedikit turun.

“Asal niat kita lurus.”

Kalimat itu seharusnya menutup dengan damai.

“Dan dompet aman,” sahut Palui.

Keheningan pecah. Seperti kaca retak yang akhirnya runtuh.

Juleha menoleh perlahan ke arah Palui. Tatapannya datar. Tajam. Seolah sedang menilai dosa apa yang paling pantas untuk ditegur lebih dulu, niat yang melenceng atau candaan yang tidak tahu tempat. Palui tersenyum canggung dan kembali memeluk dompetnya, seolah benda itu satu-satunya yang masih bisa dia percaya di dunia ini.

Aluh duduk diam, memeluk ransel kecil. Ransel itu sudah terlihat penuh, meski ukurannya tidak besar. isinya rapi, terorganisir, mencerminkan kepribadiannya. Tingginya sekitar 160 cm, tubuhnya ramping, wajahnya lembut. Ada sesuatu dalam ekspresinya yang selalu terlihat seperti orang yang ingin bertanya tapi takut mengganggu. Dia jarang bicara. Tapi sekali ngomong, timing-nya sering salah.

Ia memperhatikan sekitar tanpa suara. Matanya bergerak pelan, mencatat detail yang orang lain anggap sepele: suara kayu bus yang berderit di pola yang tidak konsisten, lampu kecil di langit-langit yang berkedip tidak teratur, dan pepohonan di luar jendela yang tampak terlalu seragam. Terlalu rapi, Terlalu mirip satu sama lain.

Profil Aluh:

Alyura Hapsari (Aluh)

Kalem, lembut, salah timing.

Sering nanya hal tidak penting di momen genting.

Takut cicak, bukan setan.

“Tadi… aku kayak dengar suara ketawa,” katanya pelan.

Kalimat itu jatuh seperti batu kecil ke danau tenang.Tidak besar. Tidak keras. Tapi cukup untuk membuat riak yang tidak bisa diabaikan. Bus mendadak senyap.Tidak ada suara gitar ataupun suara obrolan. Tidak ada suara selain mesin bus dan detak jantung masing-masing. Beberapa orang saling pandang. Ada yang tertawa kecil, terlalu cepat, refleks defensif. Juned refleks menyalakan kamera, lalu mematikannya lagi, seolah takut merekam sesuatu yang tidak ingin terekam. Moren mengecek baterai ponselnya, padahal sinyal jelas sudah lama menghilang. Surya menelan ludah.

“Tenang,” kata Udin cepat.

“Itu angin.”

Padahal jendela tertutup. Dan tidak ada satu pun pohon yang bergerak.

Bodat berdiri sambil mengikat rambutnya. Gerakannya tajam, cepat, efisien. Seperti orang yang tidak punya waktu untuk drama atau justru terlalu sering menghadapinya. Tubuhnya tidak tinggi, tapi auranya galak. Bukan galak tanpa alasan. Galak yang lahir dari kebiasaan bertahan. Wajahnya tegas, rahangnya mengeras, dan mulutnya siap meledak kapan saja. Tidak ada basa-basi juga romantisasi. Seolah dunia ini harus mengikuti ritmenya, bukan sebaliknya.

Profil Bodat:

Bodathia Melani (Bodat)

Paling galak.

Mulut pedas, hati emas.

Pernah ngomel ke pocong.

Takut digigit nyamuk.

“Kalau ini desa aneh-aneh,” katanya,

“aku pulang.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan bercanda. Tidak ada tawa setelahnya. Dan tidak ada yang menertawakan ancaman itu. Karena semua tahu…tidak ada kendaraan untuk pulang.

Susindra Angelia (Susi)

Susi duduk rapi, bajunya matching dari ujung kepala sampai kaki. Bahkan sepatunya masih terlihat bersih, prestasi tersendiri di bus yang lantainya berdebu. Rambutnya tertata meski udara lembap. Bedaknya masih utuh. Lip balm sudah diaplikasikan ulang dua kali sejak bus masuk jalan berbatu. Ia satu-satunya yang tampak seperti baru mau ke acara fashion, bukan ke desa terpencil tanpa sinyal.

Tasnya kecil tapi penuh barang perawatan seperti: tisu basah, bedak, lip balm, hand sanitizer, parfum mini, dan entah apa lagi yang penting untuk bertahan hidup secara estetika.

Profil Susi:

Susindra Angelia (Susi)

Fashionista dadakan.

Tetap necis di kondisi apa pun.

Takut keringetan.

“Signal ilang,” gumamnya panik. “Ini nggak aesthetic.”

Kalimat itu terdengar absurd tapi jujur. Dan kejujuran itu justru membuat beberapa orang semakin tidak nyaman.

Wati… tidur. Tidak peduli bus berguncang. Tidak peduli gitar. Tidak peduli suara aneh atau aura desa misterius. Kepalanya miring sedikit, rambutnya menutupi setengah wajah. Mulutnya terbuka tipis, napasnya teratur. Seolah tubuhnya tahu, kalau harus bertahan nanti, sekarang harus menghemat energi.

Profil Wati:

Watiara Pramestri (Wati)

Tukang tidur.

Bisa tidur di mana saja.

Takut bangun pagi.

Bus berhenti mendadak, Rem berdecit panjang. Badan terdorong ke depan. Tas jatuh. Beberapa orang berteriak kecil. Jantung melompat. Wati terbangun.

“Kita makan?”

Namun tidak ada yang langsung menjawabnya.

Ani langsung berdiri, matanya berbinar. Sejak awal perjalanan, dia sudah terlihat menahan diri. Menahan pertanyaan. Menahan rasa penasaran. Menahan dorongan untuk menyentuh, melihat, masuk, dan mengulik apa pun yang terlihat sedikit… berbeda. Seolah ada energi berlebih yang menunggu dilepaskan. Dan kini, begitu bus berhenti, energinya tumpah tanpa saringan.

Profil Ani:

Anivora Rinjani (Ani)

Si kepo kronis.

Paling rajin nanya, paling maksa masuk tempat angker. Takut dimarahin ibu kos.

“Eh,” katanya excited,

“desa ini ada rumah kosong nggak?”

Semua menoleh. Beberapa dengan wajah kaget. Beberapa dengan wajah curiga. Beberapa lagi dengan wajah yang pasrah. Dan di situlah, tanpa mereka sadari, perjalanan mengabdi berubah menjadi perjalanan bertahan hidup.

Di luar bus, desa itu menunggu. Tidak dengan sambutan. Tidak dengan senyum. Tidak dengan suara anak-anak atau ayam berkokok. Tapi dengan keheningan yang terlalu rapi. Rumah-rumah berdiri menghadap jalan, jendelanya gelap. Tidak ada gerakan. Tidak ada asap dapur. Tidak ada suara radio. Seolah desa ini menahan napas.

Dan empat belas mahasiswa itu, dengan segala niat baik, ego, dan kebodohan kecil mereka, belum tahu bahwa malam pertama belum dimulai… tapi desa ini sudah mengamati sejak mereka masuk.

...🍃🍃🍃🍃...

BERSAMBUNG....,

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!