Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Piknik Sebelum Deploy
Ferina menatap tajam ke arah Akira. Dirinya masih tidak terima kalau pangeran Belgia ini memilih gadis dari negara yang penuh konflik dan imigran disini. Dia tidak mau Akira bersama dengan wanita bukan darah bangsawan Eropa.
"Akira ... Dengarkan aku! Kamu itu putra mahkota Belgia! Harusnya kamu bersama dengan wanita yang juga berdarah bangsawan! Bukan wanita yang tidak jelas begitu!" eyel Ferina.
"Oh, jadi begitu pemikiran kamu? Bagaimana dengan Omaku? Queen Mother? DIA BUKAN ORANG BELGIA! BUKAN ORANG EROPA!"
Ferina tergagap. Dia lupa jika Zinnia adalah orang Indonesia blasteran dan bukan orang Belgia atau Eropa ningrat.
"Eh ... Bukan begitu maksudku ...."
"Disini ada gen Indonesia, ada gen banyak ras dari keluarga aku! Kami tidak mengagungkan darah biru!" Akira menatap tajam. "Iris jari kamu! Jika darah kamu biru, baru kamu bangsawan murni!"
Ferina semakin panik karena dia sudah salah langkah ... Banyak!
"Sudah! Ini peringatan pertama dan terakhir aku Ferina! Jika kamu mulai lagi, tahu sendiri akibatnya!" Akira pun berjalan keluar meninggalkan Ferina yang masih terbengong-bengong.
"Akira ! AKIRA!" panggil Ferina panik dan berusaha mengejar Akira yang sudah dikawal masuk ke dalam mobil. Dua orang dari militer langsung menghalangi gadis itu.
"Anda tidak bisa mengejar Pangeran Akira," ucap pria itu.
"Tapi ... Saya belum selesai berbicara dengan Akira!" hardik Ferina.
"Pangeran Akira mengatakan sudah cukup!"
Ferina menatap nanar ke mobil Akira yang keluar dari halaman menuju jalan besar.
"Brengseeekkk!" teriak Ferina marah.
***
Istana Brussels Belgia
"Sya! Daddy dengar Akira pergi ke Markas Militer?" tanya Sean saat masuk ke dalam ruang kerja putranya yang sedang berdiskusi dengan Isaak dan Mentri Kebudayaannya. Sontak semua orang disana berdiri dan memberikan hormat.
"Daddy ...." Arsyanendra menatap gemas ke ayahnya yang main masuk seenaknya. "Paman Greg?"
"Maaf, mas Arsya. King Father yang minta," ucap Greg, pengawal Sean dan satu-satunya orang di istana selain keluarga Léopold dan Pratomo yang memanggil Arsyanendra dengan panggilan 'Mas Arsya'.
"Ehem, gentlemen kita selesaikan sepuluh menit lagi ya? Daddy, tolong duduk manis karena aku sedang berdiskusi untuk acara festival balet. Please?"
"Oh, sorry. Lanjutkan. Daddy biar duduk manis bersama Greg." Sean pun berjalan ke sofa di ruang kerja Arsyanendra lalu duduk manis sementara Greg membuatkan teh untuk King Father yang dikenal semakin berumur semakin kocak. Bahkan Greg harus semakin sabar dalam menghadapi Sean yang kata Zinnia, ngunduri tua kebalikannya.
Greg pun mencari tahu arti kalimat itu dan akhirnya mendapatkan jawabannya. "Ngunduri tua" dalam budaya Jawa artinya seiring bertambahnya usia, seseorang sebaiknya introspeksi diri, menjadi lebih tenang, santun, dan tidak lagi terlalu terlibat dalam kesibukan atau masalah duniawi, melainkan lebih mendekatkan diri pada hal-hal yang lebih hakiki dan bijaksana. Ini adalah anjuran untuk merendahkan diri, mengendurkan ego, dan menjalani masa tua dengan penuh ketenangan dan kepasrahan, tidak lagi mengejar popularitas atau kekuasaan.
Ya benar King Father sudah tidak mengejar popularitas dan kekuasaan tapi masih sibuk dengan kehidupan anak dan cucunya - batin Greg.
"Tehnya, King Father," ucap Greg sembari menyesuaikan cangkir berisikan teh.
"Terima kasih Greg." Sean pun menyesap tehnya sambil melihat bagaimana Arsyanendra berdiskusi dengan para pembantunya di pemerintahan. Terkadang Sean kembali kebayang bagaimana dulu Arsyanendra kecil, dengan mata birunya yang belok dan begitu imut. Sekarang sudah bertransformasi menjadi pria dewasa yang matang dan tidak pakai kata 'pikil-pikil dulu'.
"Greg ... Aku rindu Arsya kecil. Betapa menggemaskan. Sekarang tidak bisa diuyel-uyel." Sean memajukan bibirnya. "Betapa waktu cepat berlalu ya. Mana sekarang cucuku sudah punya pacar. Tua sekali ya aku?"
"King Father, anda itu sudah tujuh puluh tahun ya."
Sean menghela nafas panjang. "Aku berharap diberikan umur panjang bisa melihat Anette, Sahran, Brayden, Amira dan Akira menikah."
"Amin, King Father."
Arsyanendra menyelesaikan semua pekerjaannya dan semua orang berpamitan padanya serta Sean. Setelah ruangan itu tinggal Sean, Arsyanendra, Greg dan Isaak, baru Raja Belgia itu duduk di sebelah ayahnya.
"Ada apa Dad? Akira memang ke markas militer untuk menyelesaikan urusannya dengan Ferina," ucap Arsyanendra tenang.
"Kira-kira si Fermipan mendramatisir tidak ya?" gumam Sean. Arsyanendra melongo sementara dua pengawal setia dua orang itu langsung ngabrut.
"King Father, Ferina bukan Fermipan! Itu ragi yang dipakai Mommy dan Vio kalau buat roti!" gerutu Arsyanendra gemas. "Meskipun cocok sih!"
"Ya kaaaaannnn!" seringai Sean.
"Dad, biarkan Akira menyelesaikan masalahnya. Buktikan bahwa dia bisa tegas dan keturunan Léopold. Jika urusan begini saja tidak bisa, bagaimana dia bisa pegang negara?" ucap Arsyanendra.
"Iya sih."
***
Di acara makan malam, Akira hanya menjawab pendek semua pertanyaan keluarganya.
"Semua sudah aku bereskan!" jawabnya. "Sekarang, aku sudah mendapatkan jadwal deploy. Minggu depan hari Rabu, aku pergi deploy ke Afrika."
Sontak anggota keluarganya terkejut.
"Secepat itu?" seru Zinnia.
"Iya Oma. Makanya besok Minggu, aku mau jalan-jalan bersama Amina sebelum pergi. Opa, jangan ganggu orang kencan! Jangan telepon Akira dengan alasan nggak masuk akal!" Akira menatap gemas ke Opanya yang memasang wajah polos.
"Memang kapan Opa begitu?" balas Sean dengan wajah lempeng tapi semua orang disana tahu kelakuan mantan Raja Belgia itu.
"Sean ... jangan aneh-aneh kamu!" Zinnia menatap tajam ke arah suaminya.
"Eh? Aku? Tidak lah Zee, aku kan Opa yang baik."
Akira dan Amira hanya menatap malas.
"Beneran ini!" ucap Sean panik.
"Hu um," balas Zinnia dengan wajah tidak percaya.
***
Seminggu ini Akira sibuk di kantor Angkatan Laut guna mempersiapkan keberangkatan dirinya di bawah perjanjian PBB sebagai tentara perdamaian. Akira hanya bisa menelpon Amina di malam hari sebelum tidur karena mereka berdua sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Amina pun menyanggupi ajakan kencan di hari Minggu.
Akira menjemput Amina di hari Minggu dan keduanya tertawa karena memakai pakaian dengan warna yang senada, biru muda.
"Kita kemana, Akira?" tanya Amina saat mereka berada di dalam mobil Akira.
"Jalan-jalan di Cambre Woods. Tidak masalah kan?" jawab Akira sambil menyetir mobilnya.
"Tidak apa-apa. Aku suka Cambre Woods. Tapi apa tidak masalah jika bertemu dengan banyak orang?" Amina tampak cemas jika dirinya jadi topik pembicaraan di sosial media. Dia tidak suka ketenaran sebagai 'gadis Akira'.
"Biarin saja! Toh biar mereka tahu, kamu itu gadisku!" jawab Akira tegas.
Amina hanya diam saja. Akira melirik Amina dari balik kacamata hitamnya. Dirinya tersenyum karena tahu Amina tidak suka menjadi terkenal gara-gara jadi pacarnya. Tapi mau gimana? Aku memang terlahir jadi pangeran dan tidak mungkin diubah kan?
Tak lama mereka pun tiba di hutan dan Akira mengambil keranjang piknik dari kursi belakang mobilnya. Mereka pun berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam hutan yang rimbun itu.
***
Yuhuuu up Siang Yaaaaa gaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
The sableng family, yg nyuruh turun genteng aja, mama Rarasati bawa prince Akira 😂😂😂😂😂