Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 SEKOLAH TANPA ATAP YANG PERTAMA
Dinding-dinding sel isolasi itu adalah puncak dari segala pencapaian "Manusia Kertas" dalam hal pembatasan. Betonnya dingin, steril, dan dirancang dengan presisi untuk mematikan persepsi seseorang tentang cakrawala. Di tempat ini, waktu tidak lagi diukur dengan pergerakan matahari atau tarian bintang, melainkan dengan bunyi statis dari lampu neon yang berkedip dan langkah sepatu bot penjaga yang berirama kaku. Bagi "Monster Dingin"—Sang Negara dan Universitas—ruangan ini adalah kotak penyembuhan, sebuah bengkel di mana komponen yang rusak harus diperbaiki atau dibuang agar tidak merusak mesin industri.
Namun, bagi Abimanyu, sel ini hanyalah laboratorium lain. Ia duduk bersila di atas lantai semen yang kasar, namun batinnya tetap berada di "Tengah Hari yang Besar" yang ia temukan di puncak gunung. Ia tidak lagi membutuhkan jilidan buku tebal untuk merasa berwawasan, karena ia telah membakar sejarahnya sendiri dan menjadi "Anak Kecil" yang merayakan setiap detik keberadaannya.
Penahanan Abimanyu seharusnya menjadi sebuah tindakan pembungkaman, namun kesunyian yang ia bawa justru mulai berbisik lebih keras daripada teriakannya di pasar. Di luar jeruji besi, seorang penjaga muda bernama Arya berdiri dalam posisi tegak yang dipaksakan. Arya adalah produk sempurna dari kurikulum yang kaku—seorang pemuda yang hidupnya diatur oleh empat belas kotak pertemuan dan indikator kinerja utama yang membosankan.
Setiap hari, Arya melihat Abimanyu. Ia tidak melihat seorang pesakitan jiwa yang meraung memohon ampunan atau seorang tahanan politik yang menyimpan amarah. Ia melihat seorang pria yang tampak lebih merdeka daripada mereka yang memegang kunci selnya.
"Profesor," bisik Arya suatu malam, suaranya gemetar karena melanggar protokol keseriusan birokrasi. "Mengapa Anda tertawa saat mereka membacakan dakwaan atas kegilaan Anda? Apakah Anda tidak takut pada penghapusan nama Anda dari sejarah fakultas?".
Abimanyu membuka matanya. Tatapannya tidak lagi mengandung debu perpustakaan, melainkan kejernihan kilat yang telah ia makan di atas awan. "Arya, namaku telah lama kuserahkan pada api agar ia tidak lagi menjadi penjara. Mereka pikir mereka sedang memenjarakanku di dalam kotak beton ini, padahal mereka sendirilah yang sedang meringkuk di dalam kotak-kotak pikiran mereka yang ketakutan. Aku tertawa karena aku melihat kalian semua sedang mengenakan jubah penjaga makam bagi diri kalian sendiri".
Malam demi malam, pembicaraan itu berlanjut. Arya mulai membawa beberapa rekan penjaga lainnya, bahkan seorang mahasiswa magang yang ditugaskan untuk melakukan observasi klinis terhadap Abimanyu. Tanpa disadari oleh otoritas di menara gading, sebuah "Sekolah Tanpa Atap" sedang didirikan di dalam perut penjara.
"Di sekolah ini," ujar Abimanyu sambil menggambar pola melingkar di atas debu lantai selnya, "tidak ada RPS yang menjadwalkan masa depan kalian. Tidak ada akreditasi yang mengukur seberapa layak jiwa kalian untuk bernapas. Pelajaran pertama adalah: belajarlah untuk menghancurkan papan hukum lama yang kalian bawa dari lembah".
Ia mengajarkan mereka tentang "Madu yang Pahit"—bahwa kebenaran sejati tidak ditemukan dalam sirup kenyamanan, melainkan dalam kemampuan untuk mencintai takdir yang paling perih sekalipun (Amor Fati). Ia menunjukkan kepada mereka bahwa ijazah yang mereka banggakan hanyalah "selulosa rapuh" yang tidak akan mampu menahan tarikan gravitasi batin saat badai eksistensial datang menghantam.
"Kalian merindukan jaminan keamanan," Abimanyu melanjutkan, suaranya kini tenang namun berwibawa seperti guntur yang menjauh. "Tapi jaminan itu adalah peti mati yang belum ditutup. Aku menawarkan kalian bahaya. Aku menawarkan kalian tarian di atas jurang ketiadaan. Karena hanya di sana, kalian akan menemukan bahwa kalian bukan sekadar angka dalam data kependudukan, melainkan kehendak yang mampu menciptakan dunianya sendiri".
Berita tentang "dialog gelap" di dalam sel isolasi mulai merembes keluar. Mahasiswa-mahasiswa yang dulu hanya mendengar narasi "gangguan saraf" mulai meragukan teks-teks mereka. Di ruang-ruang diskusi bawah tanah, istilah "Manusia Kertas" mulai digunakan bukan sebagai ejekan, melainkan sebagai cermin untuk melihat diri mereka sendiri.
Otoritas universitas, yang dipimpin oleh Profesor Danu, mulai merasakan kegelisahan. Mereka menyadari bahwa fisik Abimanyu mungkin tertangkap, namun "api" yang ia bawa tidak mengenal batas jeruji. "Sekolah Tanpa Atap" pertama ini tidak membutuhkan gedung, tidak membutuhkan pendanaan riset, dan tidak membutuhkan pengakuan dari pasar. Ia hidup di dalam keraguan setiap orang yang mulai merasa bahwa hidup mereka telah dikomodifikasi oleh sistem.
Arya, sang penjaga, kini tidak lagi berdiri tegak secara kaku. Ia mulai melihat seragamnya bukan sebagai martabat, melainkan sebagai kulit lama yang harus segera ia kelupas. "Lalu, apa langkah kami selanjutnya, Profesor?" tanyanya dengan binar mata seorang murid yang baru menyadari bahwa sekolah yang sesungguhnya tidak memiliki dinding.
Abimanyu tersenyum, sebuah senyum yang mengandung seluruh sejarah penderitaan namun diubah menjadi madu murni. "Jangan cari aku," jawabnya. "Langkah selanjutnya bukan tentang mengikuti jejak kakiku, tapi tentang menemukan pendakian kalian masing-masing. Bakarlah podium kalian sendiri. Jadilah matahari bagi diri kalian sendiri, karena fajar tidak menunggu instruksi dari siapa pun untuk terbit".
Bab 35 ditutup dengan Abimanyu yang duduk diam di tengah selnya, sementara di luar, beberapa penjaga dan mahasiswa mulai menatap langit malam dari celah ventilasi, menyadari bahwa meskipun atap beton masih ada di atas kepala mereka, jiwa mereka telah mulai mendaki menuju ketiadaan yang membebaskan.