NovelToon NovelToon
PELAKOR UNTUK MADU-KU

PELAKOR UNTUK MADU-KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:77.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.

Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.

Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.

Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.

Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3. Awal Perlawanan

.

“Dunia ini penuh dengan tipu daya. Juga orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan darimu. Jadilah wanita kuat dan mandiri. Jangan biarkan siapapun merendahkanmu."

Air mata menetes dari sudut mata Almira, membasahi bantalnya kala wanita itu teringat dengan nasehat papanya saat ia masih remaja. Ia menyesal terlalu dibutakan oleh cinta hingga begitu saja percaya pada Gilang dan menyerahkan seluruh hatinya pada pria brengsek.

Semua yang diucapkan papanya jadi kenyataan. Dirinya dikhianati, merana, seorang diri. Lalu pada siapa dia akan mengadu? Pada papanya? Setelah dulu begitu angkuh dengan mengagungkan cinta Gilang. Apa pantas?

Tiba-tiba, ponselnya berdering memecah kesunyian malam. Almira meraih dan melihat nama penelepon. Nomor tak dikenal. Awalnya, ia ragu untuk mengangkatnya. Namun, rasa penasaran mengalahkannya. Ia menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel ke telinganya.

"Halo?" ucap Almira dengan suara serak.

"Putri Abimanyu, sudah lama kita tidak bertemu," suara seorang pria terdengar di ujung telepon, suaranya berat dan misterius.

Almira terkejut. Siapa orang ini? Bagaimana ia tahu tentang identitasnya yang selama ini ia rahasiakan?

"Siapa ini? Bagaimana Anda tahu nama saya?" tanya Almira dengan nada curiga. Jantungnya berdegup kencang, perasaan was-was mulai menghantuinya.

"Itu tidak penting. Yang penting, saya tahu segalanya tentang kamu, Almira," jawab pria itu datar.

Almira mengerutkan kening, menjauhkan layar ponsel dari telinga. Memeriksa nomor yang masuk dan mencoba mengingat. Namun, gagal. Ia sama sekali tidak tahu siapa pemilik nomor itu.

"Apa yang Anda inginkan?" tanya Almira dengan suara gemetar.

"Tidak ada. Saya hanya menyapa. Tapi, jika kamu membutuhkan sekutu. Saya bisa menjadi sekutumu," jawab pria itu dengan nada yang menggoda.

"Saya tidak tahu apa maksud Anda. Jika tidak penting, tolong jangan ganggu saya,” balas Almira dengan geram.

Almira segera menutup panggilan, tak mau mendengar sesuatu yang ia yakini hanya orang iseng.

Tangan Almira meraba sisi ranjang yang kosong dan dingin. Denyut nyeri itu kembali hadir. Mencoba mengingat, kapan terakhir kali dirinya dan sang suami brengsek memadu kasih. Sudah lama, sekitar dua bulan yang lalu, yang tanpa sengaja justru menjadi benih yang kini tumbuh dalam rahimnya.

Wanita yang tersenyum getir. Pantaslah Gilang tak pernah lagi meminta haknya. Ternyata karena kebutuhan biologisnya sudah ada yang memenuhi. Namun, kini Almira tak lagi peduli. Ia juga merasa jijik untuk bersentuhan dengan Gilang.

Tak mau banyak berpikir, ia memilih segera menutupi tubuhnya dengan selimut. Memejamkan mata dengan senyum tersungging. Senyum menyambut esok pagi yang indah.

*

Dering jam weker membangunkan Almira di pagi buta. Biasanya wanita itu akan segera pergi ke dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum pria itu pergi bekerja. Namun, kini tidak lagi. Wanita memilih pergi ke kamar mandi, membersihkan diri sekaligus mengambil air wudhu, lalu duduk bersimpuh di atas sajadah. Mengaji sambil menunggu adzan subuh.

Membuat sarapan? Kenapa harus bingung? Sudah ada adik madu yang katanya ingin membantu merawat suami.

*

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Almira turun ke lantai bawah. Suasana masih sepi, bahkan gorden juga belum dibuka. Almira hanya mengangkat kedua bahunya acuh.

Melangkahkan kaki menuju dapur, wanita itu ingin membuat sesuatu untuk mengisi perut. Janin dalam kandungannya butuh nutrisi. Gilang memang brengsek, tapi janin dalam rahimnya tidak berdosa.

Hanya membuat nasi goreng dan telur dadar untuk dirinya sendiri. Malas membuat sesuatu yang makan waktu lama. Toh sekarang dia tak perlu lagi menunjukkan bakti pada siapapun. Segelas susu coklat yang selalu nikmat hingga tetes terakhir juga sudah dibuat. Makan dengan tenang sebelum dua durjana yang hanya akan membuat emosi jiwa muncul.

Baru saja selesai mencuci piring bekas makan, suara keributan terdengar dari kamar tamu. Pintu terbuka dan tertutup dengan kasar.

“Kenapa tidak membangunkan aku?! Hari ini ada rapat penting?!"

Suara Gilang menggelegar bergema di seluruh rumah berdinding beton.

“Aku kan gak tahu kalo kamu ada rapat, Mas?"

Suara madu mencari pembelaan diri dengan suaranya yang merdu bak penyanyi seriosa. Tentu saja diiringi air mata kebajikan agar dirinya tak disalahkan.

Tak lagi mau mendengar suara Lila yang biasanya merdu namun tiba-tiba berubah menyebalkan, Gilang berlari ke kamar atas, kamarnya yang selama ini ia tempati bersama Almira.

Masuk ke kamar mandi lalu keluar hanya dalam waktu dua menit kemudian. Astaga… apa pria itu mandi bebek? Atau hanya cuci muka? Jangan-jangan dia juga lupa gosok gigi.

"Mira… Mira…!” Suara teriakan membahana semakin menambah meriah suasana pagi.

Di mana Almira? Wanita itu sedang duduk di ruang tengah seolah tak mendengar apapun.

Suara derap langkah cepat menuruni tangga. Gilang yang sedang berlari turun karena Almira tak datang memenuhi panggilannya.

"Mira, di man baju kerjaku?!” tanya Gilang keras.

"Kok tanya aku, Mas? Aku mana tahu.” Almira seakan tak terusik oleh wajah hilang yang merah membara.

"Lalu tanya siapa? Biasanya juga kamu kan yang menyiapkan? Masa aku tanya tetangga?” Gilang benar-benar kesal hingga tanpa sadar suaranya meninggi.

"Oh… aku lupa, Mas. Aku kira karena sudah ada istri kedua kamu sudah gak butuh aku lagi.”

Jleb!

Gilang seakan tertampar akan kesalahan yang ia buat sendiri. Ia sadar telah menyakiti hati Almira. Tapi, itu hanya sesaat. Sebelum kemudian ia kembali bertanya tentang pakaiannya.

“Masih ada di ruang setrika, Mas,” jawab Almira enteng. Namun, wanita itu juga tak beranjak untuk mengambilkan. “Belum disetrika," lanjutnya.

“Kenapa tidak disetrika? Sekarang aku harus pakai apa?”

Gilang semakin kesal karena Almira sama sekali tak menggubris ucapannya. Mau tak mau pria itu pergi ke ruang setrika untuk mengambil baju. memijit pelipisnya yang terasa pening. Memakai baju yang tidak disetrika, lalu segera pergi ke ruang makan. Di sana sudah ada Lila yang duduk dengan kepala tertunduk.

"Mira, mana sarapannya?” Suara Gilang kembali terdengar.

"Aku gak bikin sarapan, Mas. Aku pikir kalian cukup kenyang makan cinta.”

Gilang menggertakkan giginya. Mira benar-benar sudah keterlaluan. “Mira, sudah cukup marahnya. Sekarang buatkan aku sarapan. Aku harus segera pergi kerja!"

“Untuk aku juga ya, Mbak!" Lila yang semula terdiam, ikut angkat suara. “Anakku sepertinya juga sudah lapar,” lanjutnya sambil membusungkan perutnya. Pamer pada Almira yang kata suaminya hanya wanita mandul.

Almira menatap Gilang sambil menyangga dagu. "Katanya kemarin adik maduku ini ikut tinggal di sini untuk membantu merawatmu. Terus, kalau apa-apa masih aku, fungsi dia sebagai istri kamu apa, dong?"

Rahang Gilang mengeras. Tangan Lila terkepal. Tadinya Lila pikir ia bisa membuat Almira tertekan, ternyata kakak madunya bukan wanita yang mudah ditaklukkan.

“Mbak, aku kan hamil? Dokter bilang aku gak boleh kecapekan?" Air mata kebaikan mengalir perlahan.

Almira tersenyum sinis. “Tidak boleh kecapekan bukan berarti tidak boleh membuat sarapan untuk suami. Banyak kok wanita hamil yang tetap bekerja. Dan mereka baik-baik saja. Kecuali jika kamu malas. Atau mungkin kamu punya niat tertentu untuk masuk ke rumah ini.”

Lila tergagap. "Aku… aku bukan orang seperti itu, Mbak. Aku…"

"Mas...?" Almira beralih pada Gilang. "Cari hiburan itu yang bisa meringankan bebanmu! Kalau cuma sebagai tempat ganti oli sih, mending kamu beli di Madam Loly aja, Mas. Cukup keluar beberapa lembar warna merah, gak harus ngasih biaya hidup."

Lila menatap Gilang dengan cemas. Jangan sampai pria itu terhasut kakak madu. "Mas... Aku..."

“Sudah cukup!" Gilang akhirnya berdiri dari duduknya. Mungkin hari ini ia harus pergi kerja dengan perut kosong. Bahkan roti tawar untuk ganjal perut pun tak ada. Apa Almira membuang semuanya?

“Aku ini sudah terlambat, kalian malah berdebat. Kalian mau aku dipecat?"

Lila menggeleng cepat. Jika Gilang dipecat, dengan apa ia belanja barang mewah?

Almira mengangkat dua bahu. Dipecat atau tidak apa bedanya? Toh selama ini Gilang juga jarang memberi dia uang. Tadinya ia pikir gaji Gilang ditabung untuk masa depan. Tapi setelah kehadiran Lila, ia tak yakin.

"Dan kamu Mira, kenapa tadi tidak membangunkan aku?” Gilang menatap kesal.

Almira melongo. Ini Gilang atau dirinya yang bodoh? "Kamu serius bicara gitu, Mas? Jadi, aku harus masuk kamar kalian saat kalian sedang kelon, gitu?”

Jleb!

1
ora
Kejutan apa lagi ini. Gilang jantungnya masih aman kan😆😆
Cindy
lanjut
mery harwati
Kami adalah pembeli rumah Ibu Almira 😛
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Joyful//Joyful//Joyful/
total 2 replies
Hary Nengsih
terusir dr rumah nih
dewi rofiqoh
🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 Ada-ada aja si rini.
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
astr.id_est 🌻
ngakak 🤣🤣🤣
tyta betyta
Itu meriam tembakannya paten banget brat bret brot🤣🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Facepalm//Facepalm//Joyful//Joyful/
total 1 replies
Cindy
lanjut
〈⎳ FT. Zira
duhh.. miii.../Facepalm//Facepalm/

Sambil berdiri semua pengang perutnya... ini gimana konsepnyaa/Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
Rini ngapainn... astaga/Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
salah sendiiri lupa daratan/Smug/
〈⎳ FT. Zira
ada kta yg kurang nih mi..

"kali ini aku akan membiarkan pria lain...." kata tidak nya mana🧐🧐
Irma
jiyah sii rini emang paling bisa sungguh di luar dugaan 🤣🤣🤣 semangat thor
Nar Sih
hahaha rini,,pinter bnr ya ,serangan kentut brett.. yg bikin gilang kaburr😂😂
juwita
meni brat Bret brot si rini saking takutnya di mp🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
juwita
jurus mematikan itu rin. harusnya smpe pingsan si galangnya🤣🤣🤣
ora
Perkara kentut gagal lagi deh/Facepalm/
ora
Ada-ada aja🤣🤣🤣
Ummee
karma on the way
Ummee
ngakak akuu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!