Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran gadis itu
Udara di lantai dua perpustakaan yang semula terasa sejuk karena AC, mendadak terasa menyesakkan bagi Arini. Jemarinya gemetar saat mengusap ukiran "Forever with you" pada gantungan kunci itu.
Tulisan yang ia buat sepenuh hati pada gantungan kunci itu, hasil buatannya sendiri yang ia buat beberapa tahun lalu di sebuah lokakarya kerajinan kulit kini sudah menjadi milik orang lain.
Arini masih pada posisinya. Ia mencengkram erat gantungan kunci itu hingga pinggiran kulitnya membekas pada telapak tangannya.
Arini berjalan mendekati jendela dan melihat Erina yang berlari kecil menembus hujan menuju parkiran motor. Dengan cepat ia memakai mantelnya, menyalahkan motornya dan bergegas pergi dari sana.
Di bawah lampu jalan yang remang, motor Erina melaju cepat meninggalkan perpustakaan itu hingga akhirnya sosok itu tak terlihat diantara keramaian jalan.
Arini berbalik kemudian berjalan menuju meja petugas perpustakaan. Disana salah seorang staf menyambutnya dengan senyum ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, kak?" ucapnya.
"Mbak, boleh saya tahu data pengunjung yang bernama Erina tadi?" tanya Arini.
Petugas itu menggeleng sopan, "Maaf Bu, data pengunjung bersifat privasi. Ada yang bisa saya bantu lainnya?"
Arini terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Saya hanya ingin mengembalikan barangnya yang tertinggal. Tapi saya rasa... saya tahu di mana harus menemuinya."
Namun gadis dihadapannya itu menggeleng sekali lagi kepada Arini. "Mohon maaf, Ibu. Prosedur kami tetap tidak mengizinkan. Data pengunjung adalah rahasia. Jika ada barang tertinggal, silakan titipkan di bagian Lost and Found kami."
Arini menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa memaksa. Namun, saat ia berbalik hendak pergi, matanya menangkap sesuatu di atas meja pendaftaran yang baru saja ditinggalkan Erina. Sebuah kartu tanda mahasiswa (KTM) yang sepertinya tidak sengaja terselip di bawah buku tamu saat Erina buru-buru mengisi data tadi.
Ia tak bisa menahan rasa penasarannya, dengan cepat tangannya lalu merah kartu itu dari atas meja. Sebelum petugas itu menyadarinya, Arini sudah membaca nama yang tertera di sana.
Erina Safira
Mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia
"Oh, namanya Erina," batin Arini.
Akhirnya setelah beberapa waktu ia mencari siapa gadis itu, ia menemukannya. Erina, nama itu seperti agak familiar bagi dirinya. Entah dimana, Arini seperti pernah mendengar nama itu.
Arini meletakan kartu itu kembali di atas meja dan segera berlalu pergi dari sana sebelum staf tadi menyadari. Ia duduk di salah satu kursi lobby sambil memperhatikan hujan yang tak kunjung reda di luar sana.
"Erina Safira, dimana ya aku pernah dengar nama itu,"
Tiba-tiba ia teringat setahun yang lalu.
Saat itu ia datang ke kantor bersama Elang untuk menemui Adrian, namun Adrian sayangnya tidak ada di kantor karena menghadiri meeting di salah satu restoran yang tak jauh dari kantor.
Beberapa tumpukan berkas-berkas berisi data anak magang yang bekerja di perusaan saat itu tertumpuk tak beraturan di atas meja Adrian di ruangannya.
Arini meraih salah satu diantaranya, dan nama yang tertera disana adalah Erina Safira! Nama gadis itu.
Kini Arini sudah ingat, pantas saja nama gadis itu tampak tak asing baginya. Jika begitu, maka Adrian dan Erina mungkin sudah saling mengenal dari kantor sejak setahun lalu.
Arini menyandarkan punggungnya pada kursi lobi yang keras. Ia tertawa getir, sebuah tawa yang tertahan di tenggorokan. "Setahun," bisiknya pada diri sendiri. "Jadi, sejak dia masih menjadi anak magang di kantormu, Adrian?"
Selama ini, Arini selalu percaya ketika Adrian bilang dia pulang terlambat karena membimbing staf baru. Dia selalu percaya ketika Adrian bilang gantungan kunci kesayangannya hilang di parkiran kantor. Ternyata, benda itu bukan hilang, melainkan berpindah tangan.
Rasa sesak itu kini berubah menjadi kemarahan yang membara di dada wanita itu. Arini mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi Instagram dan mengetik nama lengkap yang baru saja ia baca di KTM tadi, Erina Safira.
Tidak sulit menemukannya. Sebuah akun dengan ribuan pengikut muncul. Arini menahan napas saat menelusuri unggahan demi unggahan. Ada foto-foto kopi di kafe estetik, foto buku pelajaran, dan sebuah foto di sebuah restoran mewah dengan pemandangan kota di malam hari.
Di foto itu, Erina hanya memotret tangannya yang sedang memegang gelas kristal, namun di seberangnya, tampak lengan seorang pria yang mengenakan jam tangan Rolex Submariner Date dengan dial hitam yang mengilat.
Arini sangat mengenali jam itu, ia sendiri yang menabung berbulan-bulan untuk membelikannya sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Pantulan cahaya pada bezel keramik jam itu seolah mengejek Arini melalui layar ponsel.
Keterangan fotonya singkat, “Dinner with my favorite mentor. Thank you for always guiding me, Mas A."
Darah Arini seakan mendidih. "Mentor?" desisnya.
"Begitu caramu menyebutnya sekarang, Adrian? Dengan jam tangan pemberianku di pergelangan tanganmu saat bersamanya?"
Arini berdiri dari tempat duduknya dan lekas pergi dari perpustakaan itu. Ia menghampiri mobilnya yang berada di parkiran.
Wanita itu duduk sejenak di dalam sana, mencoba untuk berpikir jernih. Kini dalam otaknya ia ingin bertemu Adrian, menamparnya dan meminta untuk bercerai.
Namun keputusan itu terlalu terburu-buru, ia belum menikmati semua ini. Adrian harus merasakan apa yang sudah ia perbuat. Tindakannya sudah jauh dari kata keterlaluan!
Arini mengambil laptop miliknya dan segera menyalahkan benda itu. Ia membuka akun instagramnya dan melihat bagian tambahkan postingan.
Pada penyimpanannya sudah terisi dengan bukti-bukti perselingkuhan Adrian, semuanya benar-benar sudah lengkap. Data pemalsuan nama kepemilikan aset, video di hotel, chat bersama Erina, dan foto-foto antara Adrian serta Erina yang tampak bermesraan, tampak menjijikkan bagi siapapun yang melihatnya.
Mungkin sudah waktunya, ia memberi tahu publik kebenaran ini. Ia tak bisa tinggal diam. Arini tak bisa berpura-pura lagi untuk terlihat seolah tidak tahu dengan kebenaran yang selama ini sudah di sembunyikan oleh Adrian kepada dirinya dan juga publik.
"Let's see, Adrian."
Ia menekan tombol posting, dan dalam sekejap gambar-gambar itu terkirim ke media sosial.