NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baju Ganti

Pagi datang dengan warna keemasan yang lembut di desa Sumberjati.

Sinar matahari menyelinap lewat sela-sela jendela dan menyentuh lantai ruang tamu tempat Jovan terbaring. Udara terasa lebih hangat, membawa aroma tanah basah dan bunga dari halaman. Suara ayam, motor lewat di jalan desa, dan langkah-langkah orang yang mulai beraktivitas membentuk irama baru, irama yang asing bagi seseorang yang terbiasa terbangun oleh teriakan atau dentuman senjata.

Jovan membuka mata perlahan.

Untuk sesaat, ia lupa di mana dirinya berada. Lalu rasa nyeri di bahu menariknya kembali ke kenyataan. Ia menghela napas, menatap langit-langit kayu di atasnya, dan menyadari bahwa ia masih hidup.

Di dapur, Pak Raka sudah bangun. Wajan kecil di atas kompor mendesis, aroma bawang putih dan minyak panas mengalir ke ruang tamu. Meski kakinya pincang, gerakan tangannya lincah, terlatih oleh bertahun-tahun memasak untuk hidup.

“Sudah bangun?” suara Pak Raka terdengar.

“Ya,” jawab Jovan.

Pak Raka muncul membawa secangkir teh. “Minum. Luka seperti itu butuh cairan.”

Jovan menerima tanpa banyak kata. “Terima kasih.”

Pak Raka menatapnya sejenak. “Mika ke pasar sebentar lagi. Kalau kau mau tetap di sini… jangan banyak bergerak.”

Nada itu bukan perintah, tapi peringatan.

Jovan mengangguk.

Tak lama kemudian Mika keluar dari kamarnya. Rambutnya diikat sederhana, membawa keranjang anyaman berisi buah-buahan segar.

“Aku ke pasar,” katanya pada ayahnya, lalu melirik Jovan. “Aku akan belikan baju ganti.”

Jovan ingin menolak. Tapi luka di bahunya mengingatkannya bahwa ia tidak sedang punya pilihan.

“Terima kasih,” katanya.

Mika tersenyum kecil lalu pergi.

Begitu pintu tertutup, Jovan merasakan sesuatu yang aneh, seperti kehilangan kecil, padahal mereka baru saja bertemu.

Di luar, Mika melangkah menuju jalan utama desa. Matahari mulai naik.

“Pagi, Mika,” sapa seorang ibu.

“Pagi,” jawab Mika sambil tersenyum.

“Kemarin kau tidak ke pasar, ya?” ibu RT mendekatkan wajahnya.

Mika mengangguk. “Ada urusan.”

Tatapan ibu itu bergerak ke arah rumah Mika, lalu kembali ke wajah Mika. Rasa ingin tahu berkilat di matanya.

Desa mulai hidup.

Dan bersama dengan itu…cerita tentang orang asing di rumah Mika mulai menyebar dari mulut ke mulut.

Jalan menuju pasar desa tidak terlalu jauh, tapi pagi itu terasa lebih panjang bagi Mika meski mengendarai motor bebek.

Keranjang buah di tangannya terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena isinya, melainkan karena pikirannya terus kembali ke satu hal, pria terluka yang kini tidur di ruang tamu rumahnya.

Jovan.

Nama itu berputar di kepalanya seperti gema.

Sesekali Mika memperlambat langkah ketika melihat orang-orang menoleh ke arahnya. Ia tahu, berita tentang orang asing di rumahnya tidak akan lama tersembunyi.

Di pasar, suasana sudah ramai. Penjual sayur, ikan, pakaian, dan jajanan berteriak menawarkan dagangan. Mika menjual buah-buahnya dengan cepat, pikirannya tidak benar-benar berada di sana.

Setelah keranjangnya kosong, ia berdiri di depan sebuah kios pakaian pria. Kaos, kemeja, dan celana tergantung rapi.

Ia ragu.

Bagaimana memilih baju untuk seseorang yang bahkan belum ia kenal?

Bayangan Jovan muncul di pikirannya, bahu lebar, tubuh tinggi, postur yang tegas meski sedang terluka.

“Yang ini,” gumamnya, menunjuk sebuah kaos lengan panjang berwarna gelap.

Ia mengangkatnya, membentangkan kain itu, mengira-ngira ukuran tubuh Jovan. Terlalu kecil? Terlalu besar?

Penjual itu lalu bertanya. “Untuk suami?”

Mika hampir tersedak. “Bukan!”

“Untuk siapa, kalau boleh tahu?”

“Untuk… tamu.”

Penjual itu tersenyum maklum. “Kalau orangnya tinggi, ambil ukuran L atau XL.”

Mika memilih satu ukuran yang terasa paling masuk akal, XL. Lalu sebuah celana sederhana, tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar.

Mika menatap deretan baju itu sejenak, membayangkan bahu lebar dan postur tegap Jovan.

Saat membayar, jantung Mika berdebar aneh. Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkan uang, seolah ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar membeli pakaian. Di dalam dirinya, ada perasaan tak terjelaskan, seperti ia sedang membawa pulang bagian dari kehidupan orang asing itu, dan tanpa sadar, menyiapkan ruang untuknya di dalam dunianya sendiri.

Dalam perjalanan pulang, ia menatap kantong plastik itu berkali-kali.

“Apa dia akan memakainya?” gumamnya.

Sesampainya di rumah, Mika menemukan Jovan masih duduk di dipan, berbicara pelan dengan ayahnya.

“Aku beli baju,” katanya.

Ia menyerahkan kantong itu. Jovan membukanya. Kaos dan celana itu terlihat…pas bahkan sebelum dipakai.

Jovan menatapnya. “Bagaimana kau tahu ukuranku?”

Mika mengangkat bahu. “Aku menebak.”

"Perbanmu basah." Mika menuju dapur lalu kembali membawa ember kecil berisi air hangat dan kain bersih. Jovan duduk di bangku kayu dekat sumur, bahunya masih dibalut perban lama.

“Aku ganti perbannya,” kata Mika pelan. Jovan mengangguk sekali. Ia membuka kancing kemejanya tanpa terburu-buru. Gerakannya datar, seperti orang yang sudah terlalu sering melakukan hal yang sama.

Mika menunduk, fokus pada perban. Tapi saat kain itu terlepas sedikit…matanya berhenti.

Di bawah kulit pucat yang belum sepenuhnya pulih, ada garis hitam. Bukan bekas luka.

Bukan goresan. Tinta.

Mika membeku sepersekian detik. Jovan tidak menoleh.

Ia hanya duduk diam, seolah tubuhnya bukan sesuatu yang perlu dijelaskan.

Mika mencoba kembali bekerja, tapi matanya terlanjur menangkap bentuk itu.

Sebuah pola tipis di bahu, seperti sayap patah atau simbol yang tidak ia kenal. Garisnya rapi, bukan tato anak muda desa yang dibuat iseng.

Ini… terlalu serius. Terlalu bersih. Mika menelan ludah.

Ia menarik kain sedikit lebih turun, hanya untuk memastikan perban tidak menempel.

Dan di sana…lebih banyak. Di lengan atas Jovan, tersembunyi di balik lipatan baju, ada potongan huruf. Bukan nama.

Bukan tanggal lahir. Huruf asing, seperti kode.

Mika cepat-cepat menahan napas, seolah tato itu bisa mendengar dirinya.

Ia memaksa matanya kembali ke perban. Air hangat menetes dari kain ke tanah.

Jovan akhirnya bersuara, datar.

“Kau kenapa?”

Mika tersentak kecil.

“Tidak apa-apa.”

Jovan menoleh sedikit, tapi tidak cukup untuk melihat apa yang Mika lihat.

Mika mengikat perban dengan tangan yang berusaha tetap stabil.

Ia ingin bertanya. Ingin sekali.

Tapi pertanyaan itu terasa seperti membuka pintu rumah orang tanpa izin.

Di desa, orang bertanya banyak hal. Tentang asal. Tentang keluarga. Tentang pekerjaan.

Tapi tidak tentang tanda-tanda yang seperti ini.

Tato seperti itu bukan milik petani. Bukan milik buruh kebun. Dan bukan milik orang yang jatuh dari kecelakaan biasa. Mika merapikan simpul terakhir.

“Kau sakit?” tanya Jovan lagi.

Mika menggeleng cepat.

“Hanya… perbannya agak lengket.”

Jovan mengangguk. Tidak memaksa. Itu justru lebih membuat Mika tidak nyaman.

Karena ia tidak tahu apakah Jovan memang tidak peduli, atau terlalu terbiasa menyimpan.

Mika berdiri, mengambil ember. Ia mencoba tersenyum, tapi bibirnya hanya bergerak sedikit. “Kau harus istirahat.”

Jovan menatap tanah.

“Aku sudah terlalu lama istirahat.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti keluhan. Lebih seperti sesuatu yang pernah ia ucapkan di tempat lain.

Mika memutar badan hendak pergi, tapi sebelum langkahnya benar-benar menjauh, ia melihat bagian punggung Jovan saat ia merapikan kemeja.

Di bawah garis tulang belikat…

ada bayangan tinta lain. Seperti peta. Atau luka yang memilih menjadi gambar.

Mika menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama. Ia berjalan ke dapur dengan ember kosong. Langkahnya biasa. Tapi pikirannya tidak.

Beberapa menit kemudian, Jovan keluar dari kamar mandi kecil. Kaos itu membungkus tubuhnya dengan sempurna, tidak terlalu ketat, tidak longgar. Seolah memang dibuat untuknya.

Mika terdiam.

Jovan juga menyadarinya. “Pas.”

“Syukurlah,” Mika tersenyum.

Untuk alasan yang tidak bisa mereka jelaskan, sesuatu terasa… benar.

.

Levis berdiri di depan jendela kantornya yang menghadap ke pelabuhan, lebih tepatnya kota Valenport.

Kota itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu kontainer, kapal yang datang dan pergi, dan deru mesin berat selalu menjadi musik latar kekuasaan. Di sinilah jaringan bisnis keluarga De Luca bernafas, di balik legalitas pengiriman barang dan bayangan perdagangan gelap.

Jovan seharusnya sudah mati di sana.

Levis memutar gelas di tangannya. Es di dalamnya berdenting pelan, seperti jam pasir yang menandai waktu kekuasaan berpindah tangan.

“Tidak ada jasad,” katanya, seolah sedang membicarakan cuaca.

Seorang pria berdiri di belakangnya. “Mobil itu hancur, Bos. Tidak mungkin ada yang selamat.”

Levis menoleh, senyum tipis terukir di wajahnya. “Di dunia kita, kata ‘tidak mungkin’ hanya berlaku bagi orang bodoh.”

Ia mengambil tablet dan memutar ulang rekaman ledakan itu. Ia memperhatikan satu detail kecil, sudut kamera yang menunjukkan pintu belakang mobil terbuka sepersekian detik sebelum api menelan segalanya.

“Leon?” gumamnya. “Atau Jovan…”

Levis menyipitkan mata.

“Kirimi orang ke semua rumah sakit, klinik, bahkan puskesmas kecil di sekitar wilayah itu,” perintahnya. “Siapa pun yang datang dengan luka tembak di bahu kiri.”

“Bahunya?”

Levis tersenyum. “Kebiasaan Jovan. Dia selalu berdiri dengan bahu kiri lebih maju. Itu membuatnya jadi sasaran.”

Ia meneguk wiski. “Dan kirim juga orang ke desa-desa. Orang terluka selalu butuh tempat bersembunyi.”

Di benaknya, gambaran Jovan belum mati justru membuatnya lebih hidup.

Karena membunuh sepupu yang masih bernapas… itu jauh lebih memuaskan.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!