Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Jovan
Usai berkoordinasi dengan tim relawan mengenai pendataan korban di posko, Ravela melangkah menuju tendanya. Baru beberapa langkah, seorang prajurit memanggilnya.
“Kapten Ravela, mohon untuk menghadap Komandan Posko,” ucap prajurit itu.
Ravela mengangguk singkat. “Siap, saya langsung ke sana,” jawabnya tegas, dan melangkah menuju tenda Komandan.
Begitu memasuki tenda, ia langsung beri hormat pada Kolonel Surya. “Selamat sore, Komandan,” ucapnya.
Kolonel Surya menatap Ravela dan tersenyum. “Kapten Ravela, akhirnya kau datang juga. Ada kiriman logistik yang perlu kita salurkan. Orang yang mengirimkan bantuan sudah menunggu.”
Ravela menatap sosok pria di dekat meja, pria itu membelakangi dirinya. Sosok itu terasa begitu familiar baginya.
“Ini bapak Jovan, perusahaan beliau yang mengirim bantuan logistik. Kapten, saya ingin Anda mendampingi beliau, memastikan distribusi berjalan lancar, dan juga menemani melihat kondisi warga di posko pengungsian,” ucap kolonel Surya.
Pria itu langsung menoleh dan tersenyum ke Ravela.
Tentu Ravela terkejut melihat Jovan. Pesan semalam dari Jovan yang bilang ia akan datang ke tempat ini ternyata benar adanya. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri agar tetap terlihat profesional.
“Siap, Kolonel,” jawab Ravela dengan tegas dan singkat.
“Senang bertemu denganmu, Kapten Ravela,” ucap Jovan terus mempertahankan senyumannya.
“Selamat datang, bapak Jovan. Mari kita mulai memeriksa posko dan kondisi warga di sini,” ucapnya dengan nada dingin berusaha untuk sopan.
Di posko pengungsian, Ravela memimpin Jovan keliling, memperlihatkan kondisi warga, terutama anak-anak yang sedang bermain. Sekalipun hatinya campur aduk melihat Jovan, Ravela tetap bersikap profesional.
“Kapten, kondisi anak-anak disini baik-baik saja kan?” tanya Jovan, mencoba memulai percakapan.
Ravela menatapnya dingin, suaranya datar. “Mereka dalam kondisi stabil. Tim medis sudah memeriksa semuanya. Namun ada beberapa anak juga yang sedang mengalami demam, flu, dan diare akibat cuaca dan kondisi di sini.”
Ravela melihat seorang anak terjatuh karena tersandung, ia segera berlari menghampiri dan membungkuk untuk menenangkan anak itu.
Ravela segera mengambil plester yang ia bawa di kantongnya dan menempelkannya ke lutut anak yang terluka itu.
“Lain kali hati-hati ya. Jangan lari-lari,” ucap Ravela lembut.
“Iya kapten Cantik, terima kasih sudah obati luka aku.”
Jovan mengamati itu, senyum hangat terbentuk di wajahnya, tapi dadanya terasa sesak.
“Kenapa aku melepaskan perempuan ini? Dia begitu tulus, begitu baik dan bodohnya aku memilih yang lain hanya karena omongan orang tuaku,” gumam Jovan dalam hati.
Setelah meninjau beberapa posko, Jovan akhirnya memberanikan diri. "Ravela... aku ingin bicara sebentar sama kamu," ucapnya, menatap serius Ravela.
“Tidak bisa, pak Jovan. Ini bukan waktunya membicarakan hal pribadi di tempat seperti ini,” tolak Ravela.
"Sebentar saja. Aku janji hanya sebentar," desak Jovan.
Ravela menutup mata sejenak, menghela napas kasar. "Baik, tapi hanya sebentar," ucapnya terpaksa.
Jovan tersenyum ringan, tampak lega, lalu mereka berjalan ke area yang sedikit sepi dan cukup jauh dari posko.
“Ravela.” Jovan meraih tangan Ravela, namun langsung ditepis Ravela.
"Apa-apaan anda! Jangan berani sentuh-sentuh saya!" ketus Ravela.
“Oke maaf. Aku cuma ingin bilang sejak aku memutuskan mu, hidupku berubah drastis dan suram. Tidak ada kebahagiaan seperti dulu saat bersamamu. Kekasihku sekarang hanya peduli pada uangku saja,” jelas Jovan dengan nada sedih dan menyesal.
“Lalu urusannya dengan saya apa?”
Jovan menatap Ravela. “Aku menyesal, Ravela. Aku ingin kita kembali seperti dulu, walaupun orang tuaku tidak merestui hubungan kita.”
Rasanya Ravela ingin tertawa kencang dan mengumpat Jovan, tapi ia menahannya.
Ravela menatap pria itu dingin. “Sudah terlambat. Perasaan saya pada anda sudah hilang sejak anda memutuskan saya, pak Jovan. Saya juga tidak mau dikira perusak hubungan orang lain.”
Jovan mendesah, mencoba meyakinkan Ravela. “Kamu bukan perusak Ravela. Hatiku memang milikmu dari dulu. Aku mau kita perbaiki hubungan kita dari awal, aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Jovan mencoba meraih tangan Ravela lagi.
Namun Kaivan muncul tiba-tiba berdehem keras di dekat mereka. “Khem!”
Ravela dan Jovan terkejut, tangan Ravela langsung lepas dari genggaman Jovan. Kaivan berdiri di sana, mata tajam menatap keduanya.
Jovan menoleh kaget. “Lho, Pak Kaivan?”
Kaivan menatap datar. “Pak Jovan, Anda sedang apa di sini?”
Ravela mengerutkan kening, jantungnya berdegup cepat. Ternyata kedua pria itu saling mengenal.
Jovan mencoba menjelaskan. “Saya sedang ngobrol dengan Kapten Ravela, Pak.”
“Kalian berdua ada hubungan apa?” tanya Kaivan menginterupsi.
Jantung Ravela semakin berdetak kencang dari yang tadi. Dalam hati ia berharap Jovan tak berkata jujur.
“Kapten Ravela ini mantan pacar saya, Pak,” ucap Jovan apa adanya.
Bahu Ravela lemas seketika dan rahang Kaivan mengeras mendengar itu.
Kaivan menatap Jovan tajam, lalu menoleh ke arah Ravela. “Sepertinya Kapten ada tugas lain. Tadi Kirana mencari Anda,” ucapnya datar tangannya di bawah mengepal kuat. Ia berkata seperti itu agar Ravela tidak berlama-lama mengobrol dengan Jovan.
Ravela tak ingin membuat masalah, ia memilih pergi meninggalkan kedua pria itu.
Kaivan langsung mengikuti Ravela tanpa mengatakan apapun pada Jovan. Kini ia berjalan di sebelah istrinya, "Kamu harus menjelaskan semuanya nanti, istriku,” bisiknya.
Ravela langsung menegang mendengar bisikan itu.
Baru saja Ravela masuk ke dalam tenda, ia langsung di disambut heboh dengan teriakan Kirana.
“Tadi aku lihat ada Jovan datang kesini, Vel! Kamu tahu juga tidak?” seru Kirana sambil hampir loncat dari ranjang lipatnya.
“Memang. Bahkan Komandan Posko suruh aku dampingi dia lihat keadaan orang-orang di pengungsian,” jelas Ravela duduk di sebelah Kirana.
“Seriusan?” Kirana menatap tak percaya.
Ravela mengangguk, “Tadi dia sempat ngajak aku bicara berduaan.”
“Terus, terus?” tanya Kirana penasaran.
“Dia ngajak aku balikan, katanya menyesal sudah mutusin aku dulu,” ungkap Ravela.
Kirana terperangah, wajahnya langsung terlihat marah dan kesal. “Dasar tidak tau malu! Dia yang nyakitin kamu, sekarang dia mau balikan? Udah gila kali ya! Kamu tidak terima ajakan dia kan?”
Ravela menggeleng, “Ya, tidak lah. Aku masih waras kali.”
Kirana menghela napas panjang, “Pokoknya kalau dia berani-berani ngajak kamu balikan lagi, jangan mau, oke?”
“Iya, tenang aja. Aku tidak bakal mau,” jawab Ravela. “Eh, kamu belum mandi kan?” tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
Kirana mengangguk, “Belum masih males banget harus ngantri.”
“Udah, ayo kita mandi. Tidak mungkin kan kamu tidur dalam keadaan kotor begini,” ujar Ravela.
Kirana pun setuju. Mereka mulai berjalan keluar tenda.
Saat melangkah, pandangan Ravela tak sengaja bertemu dengan Kaivan yang sedang berdiri berbicara dengan stafnya. Tatapan Kaivan terlihat tajam ke Ravela, membuat tubuh Ravela langsung merinding seketika.
Kirana yang berjalan di samping Ravela ikut menoleh menatap Kaivan, “Eh, kenapa mas Kaivan liatin kamu kok gitu banget sih?” tanya Kirana berbisik.
Ravela mengangkat bahu acuh, “Entahlah, mungkin lagi PMS.”
Kirana tertawa kecil, “Kamu bisa aja bilang begitu. Jangan-jangan dia ada something ya sama kamu?” godanya.
“Apa sih, Kirana. Jangan berpikiran aneh-aneh deh. Ayo cepetan keburu magrib,” ucap Ravela.
Mereka berdua pun melanjutkan langkah ke kamar mandi.