Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kegelapan yang Melihat
Di bawah kedalaman Danau Cermin Perak, terdapat sebuah ruang hampa udara yang diselimuti oleh formasi kuno. Kuil Tersembunyi ini tidak memiliki lampu, obor, atau sumber cahaya apa pun. Kegelapannya begitu pekat hingga seolah-olah memiliki massa yang menindas indra.
Li Yuan berdiri di tengah aula utama yang dingin. Di hadapannya, Yue Er berdiri dengan tenang. Meski dalam kegelapan total, aura Yue Er terasa begitu luas dan tak terjangkau. Ia berada di ranah Domain Kehendak Tahap Awal, sebuah tingkatan di mana kehendak seseorang bisa memanipulasi realitas di sekitarnya.
"Dunia ini tidak hanya dibangun dari apa yang bisa dilihat oleh matamu, Li Yuan," suara Yue Er bergema tanpa arah. "Musuh-musuhmu di ranah Jiwa Sejati ke atas tidak akan menyerang fisikmu, mereka akan menyerang jiwamu. Jika kau hanya mengandalkan mata, kau sudah mati sebelum pedangmu keluar dari sarungnya."
Yue Er kemudian melemparkan selembar kain hitam. "Ikat matamu. Jangan lepaskan sampai kau bisa membedakan mana debu yang jatuh dan mana niat membunuh yang mendekat."
Li Yuan menurut. Ia mengikat matanya. Seketika, dunianya menjadi kosong.
"Dong Dong, menjauhlah," perintah Li Yuan.
"Aku sudah di pojokan, Bos! Sambil makan kacang!" seru Dong Dong yang suaranya memantul di dinding batu.
Tiba-tiba, WUSH!
Sebuah serangan angin tajam menyerempet pipi Li Yuan. Ia terlambat menghindar. Perih darah mulai terasa.
"Terlalu lambat," ucap Yue Er. "Kau mencoba mendengar suara angin. Itu salah. Kau harus merasakan getaran kehendak di udara."
Selama berjam-jam yang terasa seperti berhari-hari, Yue Er menghujani Li Yuan dengan serangan-serangan tanpa suara. Li Yuan babak belur. Tubuhnya dipenuhi luka sayatan kecil. Ia mencoba menggunakan Manifestasi Roh-nya, namun Yue Er langsung menekan aura Li Yuan hanya dengan satu hentakan kaki.
"Gunakan Pedang Cahaya Abadi bukan sebagai senjata, tapi sebagai indra tambahan," bimbing Yue Er. "Pedang itu adalah bagian dari cahaya murni. Cahaya tidak butuh mata untuk menerangi kegelapan."
Li Yuan duduk bersila di tengah badai serangan Yue Er. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia berhenti mencoba melihat dengan pikirannya. Ia mulai melepaskan egonya.
Di dalam kegelapan itu, Li Yuan mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Ia tidak melihat Yue Er, tapi ia melihat sebuah "titik panas" energi yang bergerak dengan pola tertentu. Ia merasakan bagaimana udara terbelah sebelum serangan datang.
SRAK!
Satu serangan Yue Er mengarah ke lehernya. Kali ini, Li Yuan tidak melompat mundur. Ia hanya memiringkan kepalanya dua inci ke samping. Serangan itu lewat tanpa menyentuhnya.
"Oh?" Yue Er sedikit terkesan. Ia meningkatkan kecepatannya.
Kini, Yue Er mulai melepaskan sebagian dari Domain Kehendak-nya. Ruangan itu tiba-tiba terasa seperti dipenuhi oleh ribuan pedang tak kasat mata. Ini adalah ujian yang sebenarnya. Jika Li Yuan gagal, jiwanya akan hancur oleh tekanan kehendak seorang ahli tingkat tinggi.
Li Yuan menarik Pedang Cahaya Abadi. Begitu bilah transparan itu keluar, ruangan yang gelap gulita di mata batin Li Yuan mulai memancarkan warna-warna aneh. Ia melihat aliran Qi Yue Er seperti sungai perak yang mengalir.
"Aku melihatmu," bisik Li Yuan.
Li Yuan melesat. Tanpa membuka mata, ia menangkis tiga serangan bertubi-tubi dari Yue Er dengan presisi yang sempurna. Setiap benturan mengeluarkan percikan api spiritual yang menerangi aula sesaat.
"Bagus. Sekarang, gabungkan dengan Pedang Hitam Takdir-mu tanpa kehilangan kendali," perintah Yue Er.
Li Yuan menarik pedang keduanya. Kali ini, tidak ada ledakan energi yang menyakitkan seperti di danau tadi. Dengan indra yang baru terbuka, Li Yuan mulai mengatur ritme kedua pedang itu. Pedang Cahaya menjadi "matanya", sementara Pedang Hitam menjadi "perisai dan taringnya".
Di sudut ruangan, Dong Dong terpana. Ia melihat Li Yuan bergerak seperti hantu dalam kegelapan, menari di antara serangan seorang ahli Domain Kehendak.
"Dia melakukannya..." gumam Dong Dong.
Namun, latihan itu terhenti saat dinding kuil bergetar hebat. Suara dentuman dari atas air danau terdengar sampai ke bawah.
"Segel kuil sedang ditembus," wajah Yue Er berubah serius. "Kekaisaran telah mengirim seseorang dari ranah Jiwa Sejati Tingkat Puncak. Sepertinya mereka membawa artefak penghancur formasi."
Li Yuan membuka ikatan matanya. Matanya kini tidak lagi tampak bingung, melainkan sangat jernih dan tajam, meskipun di dalam kegelapan.
"Biarkan mereka datang," ucap Li Yuan sambil menyilangkan kedua pedangnya. "Aku ingin mencoba indra baru ini pada mereka."
Yue Er tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang terlihat. "Jangan sombong, Bocah. Kau baru saja belajar merangkak di dunia para ahli sejati. Tapi setidaknya, sekarang kau tidak akan mati dalam kegelapan."