Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17.
“Dan Rizky menolong kamu” lanjut Bu Retno. “Tapi kamu malah bicara cukup kasar pada Rizky dan kedua ponakanku.”
Aurely memejamkan mata sekejap. Ia ingat. Hari itu ia lelah, tersinggung, sakit hati dan terlalu emosi.
“Saya minta maaf soal itu, Bu. Waktu itu saya..”
“Tidak perlu,” potong Bu Retno lagi. “Aku cuma bilang supaya kamu tahu, kesan pertama itu sulit hilang.”
“Meskipun aku hanya mendengar.”
Aurely mengangguk pelan. “Saya mengerti.”
Bu Retno akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tapi tidak marah, lebih seperti menguji. “Rizky bilang kamu sekarang sudah beda.”
Aurely terkejut. “Mas Rizky bilang begitu?”
Bu Retno mengangkat bahu. “Dia jarang memuji orang yang baru dikenal.”
Hening kembali turun.
Aurely melanjutkan pekerjaannya, menata pesanan, menulis nota. Ia berusaha bersikap biasa, meski dadanya terasa sedikit tertekan.
Bu Retno memperhatikannya diam-diam.
Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan, hampir seperti gumaman,
“Kita lihat saja.”
Aurely mendengarnya jelas.
Dan ia tahu, hari ini bukan hanya tentang menjaga toko, tapi juga tentang menghadapi seseorang yang belum sepenuhnya mau menerimanya.
Hari itu terasa begitu lama buat Aurely. Tidak ada Bu Wiwid. Tidak ada tawa dan celoteh Elin , Elang. Tidak ada sapa dan senyum Rizky lagi.
Setiap ucapan dan gerak geriknya seakan diawasi tiap detailnya oleh Bu Retno.
Di saat waktu istirahat makan siang tinggal kurang sepuluh menit. Aurely mencicil lega. Setidaknya ia tidak membuat kesalahan dalam kerjanya..
Namun di depan toko seorang perempuan melangkah.. Jantung Aurely berdetak lebih kencang. Orang yang ia layani salah order beberapa hari lalu datang lagi.
“Semoga dia tidak membahas hal itu lagi hari ini.” Gumam Aurely di dalam hati, sambil memberikan senyuman termanisnya.
“Selamat siang Bu, senang sekali Ibu berkunjung lagi ke sini.” Sapa ramah Aurely.. ”Apa yang bisa saya bantu Bu..” ucapnya lagi. Bibir masih tersenyum manis. Telinga siap mendengar. Tangan siap mencatat pesanan.
“Selamat siang Mbak. Seperti biasa chiffon double keju 2, cake pisang double keju 3. ya..” ucap pelanggan itu.
“Baik Bu.” Ucap Aurely dan tangannya cepat mencatat pesanan. “Tunggu sebentar ya Bu..” ucap Aurely lagi masih dengan nada teramat ramah dan senyum manis.
Aurely membalikkan tubuhnya akan melangkah menuju telepon interkom untuk menghubungi bagian produksi.
Namun baru dua langkah..
“Jangan salah lagi ya Mbak.” Kata pelanggan perempuan itu.
Meskipun suaranya tidak keras. Namun membuat wajah Aurely memerah dan jantung berdetak lebih keras. Aurely mengangguk kecil.
Bu Retno yang duduk di kursi pojok, sedang mencatat di buku.. menoleh ke arah Aurely..
Tangan Bu Retno berhenti menulis.
Tatapannya berpindah dari buku ke punggung Aurely, lalu ke pelanggan di depan etalase. Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya, hanya sorot mata yang tenang, dingin, dan penuh perhitungan.
Aurely menarik napas pendek. Ia berbalik, tetap menjaga senyum meski pipinya terasa panas.
“Iya, Bu,” katanya lembut. “Terima kasih sudah mengingatkan. Saya pastikan pesanannya sesuai.”
Ia menyebutkan ulang dengan jelas, satu per satu, tanpa tergesa. “Chiffon double keju dua, cake pisang double keju tiga. Betul ya, Bu?”
Pelanggan itu mengangguk. “Iya Mbak, benar. ”
Aurely mencatat ulang di kertas pesanan kedua, lalu memperlihatkannya sekilas sebagai konfirmasi. “Ini saya tulis ulang supaya tidak ada kesalahan.”
Nada suaranya stabil. Tidak ada pembelaan. Tidak gugup.
Pelanggan itu tampak agak terkejut, lalu wajahnya melunak sedikit. “Ya sudah,” katanya singkat. “Tolong cepat ya.”
“Iya, Bu. Terima kasih sudah kembali ke sini.”
Saat pelanggan itu membalikkan tubuhnya melangkah ke kursi tunggu di depan toko. Aurely baru menyadari telapak tangannya sedikit berkeringat. Namun ia tidak mengusapnya ke rok, ia melanjutkan prosedur seperti biasa, menekan tombol interkom, menyebutkan pesanan dengan jelas ke bagian produksi.
“Dicatat, ya. Tolong ulangi,” katanya. “Pesanan ditunggu sekarang.”
Suara dari seberang menjawab dan mengulang pesanan dengan tepat.
Aurely mengangguk kecil, lalu mematikan interkom.
Sunyi kembali turun.
Bu Retno menatapnya beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. Kali ini bukan tatapan menguji, lebih seperti menilai ulang.
“Kamu tidak membela diri,” ujar Bu Retno akhirnya.
Aurely menoleh, sedikit terkejut. “Maksud Ibu?”
“Orang sering merasa perlu menjelaskan kesalahannya,” lanjut Bu Retno datar. “Kamu tidak. Kamu memilih memastikan tidak terulang.”
Aurely terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, “Karena saya memang salah waktu itu, Bu. Jadi… lebih baik saya buktikan lewat kerja.”
Hening.
Bu Retno menutup bukunya perlahan. Tidak ada senyum, tapi rahangnya tidak lagi setegang tadi pagi.
“Begitu seharusnya,” katanya singkat.
Ia memasukkan buku ke dalam laci. Mengunci lalu bangkit berdiri.
Aurely menunduk kecil sebagai tanda hormat, lalu kembali ke etalase. Dadanya masih berdebar, tapi ada sesuatu yang sedikit lebih ringan.
Ia tahu, ia belum sepenuhnya diterima. Namun hari inj, ia merasa… ia tidak lagi sepenuhnya ditolak.
Jam istirahat telah tiba. Bu Retno melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara itu, Aurely masih berdiri di dekat etalase, melayani pembeli dan menunggu pesanan pelanggan selesai.
“Mbak, istirahat makan siang saja. Biar aku yang menunggu pesanan Ibu itu,” ucap seorang rekan kerja Aurely.
“Tidak apa-apa, biar aku yang menunggu. Silakan kalau kamu mau istirahat, nanti kita gantian,” jawab Aurely.
Entah karena ia enggan melepaskan tanggung jawabnya, atau karena Aurely akhirnya bisa bernapas sedikit lega saat Bu Retno keluar dari ruangan itu.
Sore hari pun telah tiba. Matahari sudah condong ke arah barat. Langit sudah berwarna jingga gelap.. Kios kios di pasar sudah banyak yang tutup. Kios Bu Ridwan juga telah tutup. Sepi. Tak ada sosok Pak Baskoro duduk menunggu Aurely di bangku.
Namun di los kios paling belakang. Di kios Koperasi Hasil Bumi, Pak Baskoro berada di sana. Kini ia tidak berdiri di depan kios. Ia duduk di kursi berbincang serius dengan para pegawai koperasi.
“Baiklah, saya tunggu secepatnya data data produksi anggota koperasi.” Ucap Pak Baskoro pelan namun serius sambil menatap wajah wajah pengurus Koperasi.
“Baik Pak, nanti kami rapikan dulu datanya seusai keinginan Pak Baskoro. Agar kontinuitas dan jumlah tiap komoditi bisa terlihat jelas.” Ucap salah satu pengurus Koperasi.
“Terima kasih Pak, saya sudah menghubungi teman teman saya di Ibu kota. Mereka sangat senang dan menyambut dengan antusias rencana kita ini.” Ucap Pak Baskoro kini terlihat sudah tidak tenang, sesekali menoleh ke arah luar. “Nanti dari koperasi konsumen akan mengirim data permintaan mereka Jadi bisa sinkron Pak, apa yang diminta konsumen dengan apa yang ditanam oleh petani.”
Para pengurus Koperasi itu mengangguk angguk setuju.
“Baiklah Pak, kalau begitu saya pamit ya. Mungkin anak saya sudah menunggu di depan kiosnya Bu Ridwan.” Ucap Pak Baskoro sambil bangkit berdiri.
“Iya Pak, silakan.. kami masih mau melanjutkan merapikan data data ini. Terima kasih Pak Baskoro.. sudah mengajari kami administrasi yang baik.”
“Sama sama Pak.” Ucap Pak Baskoro sambil tersenyum tak ada nada tinggi hati.
Ia berjalan dengan tergesa di lorong pasar bagian belakang.. hari sudah mulai gelap..
“Aurely kenapa tidak menyusul ke kios koperasi. Tadi sudah aku pesan, aku di kios koperasi selesai kerja.” Gumam Pak Baskoro dalam hati dan terus melangkah..
Akan tetapi jantung Pak Baskoro berdetak lebih kencang dan kedua mata sedikit melebar.. saat melihat di los pasar terdepan.. Tidak ada sosok Aurely di depan kios Bu Ridwan.. "Di mana dia." gumam Pak Baskoro sambil menoleh noleh.
karena urusan bisnis.atau Riko sendiri yg ambil foto? yg jelas semoga saja Aurel bersama ayahnya mendapat kehidupan yg lebih baik
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel