NovelToon NovelToon
Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Gadis Mungil Milik Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Romantis / Cintamanis / Mafia
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Sabrina Rasmah

Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berlibur

Rea langsung terduduk tegak di atas kasur dengan mata membulat sempurna. Ia menatap Galen yang sudah terlihat segar dan tampan di pagi hari ini.

"Berlibur? Seminggu penuh?" pekik Rea tidak percaya. "Tapi Mas, tugas Rea banyak! Lagipula, Mas bilang cuma libur matkul Analisis Biaya hari ini, kok bisa ijin sampai seminggu?"

Galen menyeringai tipis, mengusap puncak kepala Rea dengan gaya posesifnya. "Mas sudah mengurus semuanya dengan dosenmu. Tidak akan ada yang berani protes atau memberimu nilai jelek. Sekarang, cepat mandi. Kita berangkat satu jam lagi."

Rea sempat terdiam. Ia merasa heran bagaimana "Tukang Kebun Senior" seperti Galen bisa dengan mudah meminta izin ke pihak kampus untuk waktu yang lama. Namun, karena rasa senangnya akan diajak jalan-jalan, ia segera menepis pikiran itu.

"Wahhh asyik! Mas Galen emang paling pengertian!" Rea langsung melompat dari tempat tidur. "Rea mandi dulu, Mas! Terus nanti kucingnya... eh, adiknya Mas Galen dibawa juga kan?"

"Tentu, Bunny. Dia ikut bersama kita," jawab Galen sambil menatap Rea yang berlari kencang menuju kamar mandi.

Galen menghela napas, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Leon. "Leon, siapkan jet pribadi. Kita ke pulau pribadi saya di sektor selatan. Pastikan pengamanan di sana diperketat. Saya tidak mau ada 'hama' yang mengganggu liburan saya dengan Rea."

Di dalam mobil menuju bandara...

Rea tidak berhenti melihat ke luar jendela dengan wajah ceria. Ia memangku kotak kecil tempat si anak kucing tidur. "Mas, kita mau ke mana sih? Kok jalannya ke arah bandara? Bukannya kita mau ke kebun yang jauh ya?"

Galen tertawa rendah, ia menarik tangan Rea dan mencium punggung tangannya. "Mas mau mengajakmu melihat 'kebun' Mas yang lain di tengah laut. Kamu suka pantai, kan?"

Rea mengangguk semangat tanpa tahu bahwa pulau yang dimaksud Galen adalah sebuah benteng mewah di tengah samudra yang dijaga oleh puluhan pria bersenjata lengkap hanya untuk melindungi dirinya.

Gimana kelanjutannya?

Rea kaget saat melihat jet pribadi (Galen beralasan itu milik "Bos Besar").

Kejadian di pulau, Rea tidak sengaja melihat Galen sedang memegang senjata saat memeriksa keamanan pantai.

Rea melongo saat mobil SUV hitam Galen tidak berhenti di terminal bandara biasa, melainkan masuk ke sebuah area eksklusif dengan penjagaan ketat. Di depan mereka, sebuah pesawat jet pribadi yang sangat mewah sudah menunggu dengan tangga yang terulur.

"Mas... kita salah jalan ya? Itu kan pesawat orang kaya, bukan bus pariwisata," bisik Rea sambil memeluk kotak kucingnya erat-aerat.

Galen terkekeh, ia menuntun Rea turun dari mobil. "Ini punya 'Bos Besar' Mas, Bunny. Dia sedang baik hati meminjamkan jet ini karena Mas sudah bekerja keras mengurus kebunnya bertahun-tahun. Ayo naik."

Rea hanya bisa manggut-manggut polos. "Wah, bosnya Mas Galen baik banget ya. Pasti Mas kerjanya rajin banget sampai dipinjemin pesawat."

Di dalam jet, Rea semakin takjub. Kursinya sangat empuk, lebih empuk dari kasur di rumah. Galen duduk di samping Rea, membiarkan istrinya itu sibuk melihat pemandangan dari jendela kecil pesawat.

"Mas, lihat! Awan-awannya kayak kapas!" seru Rea senang.

"Iya, persis seperti kamu," gumam Galen sambil mengusap kepala Rea. Selama perjalanan, Galen benar-benar memanjakan Rea. Ia menyuapi Rea makanan lezat yang sudah disiapkan pramugari, bahkan membiarkan Rea tertidur di bahunya saat mereka mulai terbang tinggi di langit 2026 yang biru.

Tiba di Pulau Pribadi

Begitu turun dari pesawat, angin laut yang segar langsung menyambut mereka. Rea terpesona melihat air laut yang sangat jernih berwarna biru kehijauan.

"Mas! Ini beneran kebun Mas yang di laut? Kok nggak ada pohon mawarnya?" tanya Rea sambil berlari kecil ke pinggir pantai, diikuti si anak kucing yang ikut penasaran dengan pasir.

"Kebun di sini beda, Bunny. Isinya ketenangan," jawab Galen sambil tersenyum tipis. Ia memperhatikan Rea yang mulai bermain air dengan riang.

Galen sudah mengatur semuanya. Di pulau ini, tidak ada yang boleh mengganggu. Tidak ada ponsel, tidak ada bisnis gelap untuk sementara. Hanya ada Galen yang ingin melihat senyum polos Rea tanpa gangguan dari siapa pun.

Malam harinya, Galen mengajak Rea makan malam di pinggir pantai dengan api unggun kecil. Rea duduk di pangkuan Galen sambil menatap bintang-bintang.

"Mas Galen, makasih ya. Rea seneng banget," ucap Rea tulus sambil mengecup pipi Galen.

Galen mengeratkan pelukannya. "Apapun untukmu, Bunny. Selama kamu senang, Mas akan lakukan apa saja."

Di bawah temaram cahaya bulan dan hangatnya api unggun di pinggir pantai, Galen menatap Rea dengan tatapan yang begitu mendalam. Kecupan singkat Rea di pipinya ternyata memicu sisi posesif sang penguasa mafia ini.

Dengan gerakan yang sangat cepat namun lembut, Galen meraih tengkuk Rea, menariknya mendekat hingga jarak di antara mereka hilang. Galen melumat bibir Rea dengan penuh perasaan, seolah ingin menegaskan bahwa gadis di pelukannya ini adalah miliknya seutuhnya.

"Emphhhmm... mass..." lenguh Rea pelan, ia merasa dunianya seolah berputar. Jantungnya berdegup kencang, tangannya secara refleks mencengkeram kemeja hitam Galen.

"Bunny..." bisik Galen serak di sela-sela ciumannya.

Tanpa melepaskan tautan matanya, Galen meraih pinggang Rea dan mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. Rea secara otomatis melingkarkan kakinya di pinggang Galen, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam di ceruk leher suaminya.

Galen membawa Rea masuk ke dalam villa mewah yang menghadap langsung ke laut tersebut. Langkahnya mantap menuju kamar utama yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar. Ia merebahkan Rea dengan sangat hati-hati di atas ranjang king size yang empuk.

"Mas... Mas Galen," cicit Rea malu-malu saat Galen ikut membaringkan tubuhnya di atasnya, menumpu berat badannya dengan kedua tangan agar tidak menghimpit Rea.

Galen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tampan namun juga berbahaya. "Malam ini hanya ada kita berdua di pulau ini, Rea. Tidak ada kampus, tidak ada Pak Vian, dan tidak ada yang boleh mengganggumu selain aku."

Galen kembali mencium kening, hidung, dan berakhir di pipi Rea dengan sangat lembut. Di luar, suara deburan ombak menjadi musik latar yang sempurna untuk malam pertama liburan mereka di tahun ini. Rea hanya bisa memejamkan mata, merasakan kehangatan dan kasih sayang Galen yang begitu meluap-luap untuknya.

1
Emily
terus luka si galen gak di obati apa gimana ...udan bangun tidur aja😆
Nur Sabrina Rasmah: nggak di tulis kak 🙏🙏🙏🙏, kelupaan maaf ya
total 1 replies
Emily
rea wanita yg beruntung mendapatkan cinta pria seperti galen
Emily
cerita bagus gini kenapa gak ada yg komen
Emily
rea😁😁😁
Emily
suka ceritanya
Emily
semangat rea
Emily
rea polos bget hmm
Emily
bagus galen
Emily
galen senior kebun wkwkwk
Emily
dapat undian😆ada aja ni rea
kalea rizuky
lanjut
Fikar Bll
😍
Fikar Bll
lanjut Thor Pliss
Erfin Kota
💪💪💪💪💪 tangan berurat
Hennyy Handriani
rea kamu polos banget
Hennyy Handriani
💪💪💪
Hennyy Handriani
wow alur nya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!