Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12.
Tubuh yang jangkung dan terasa berat, membuat Lara mengerahkan tenaga lebih, untuk menarik Stefan yang pingsan masuk ke dalam apartemennya.
Ia baru menyadari noda darah bukan hanya di pelipis Stefan, tapi dibagian pakaian Stefan juga terlihat noda darah.
"Siapa yang telah melukainya? apakah dia di rampok?" gumam Lara melihat luka pada kepala Stefan, setelah tubuh jangkung Stefan ia baringkan di sofa panjang.
Ia bergegas mengambil kotak p3knya.
Lalu kemudian mengisi air hangat dalam baskom kecil, dan handuk kecil untuk mengelap luka Stefan.
Ia duduk di tepi sofa, dan mulai memeriksa luka pada pelipis Stefan.
Ada luka kecil di sana, sepertinya kepala Stefan di hantam seseorang dengan sebuah benda.
Dengan hati-hati ia membersihkan noda darah pada pelipis, dan sekitar luka di kepala Stefan.
Lara mengambil obat antiseptik dari kotak p3knya, dan satu pentol kapas untuk mengolesi luka Stefan.
Saat ujung pentol kapas yang telah diolesi antiseptik mengenai luka Stefan, seketika tubuh Stefan bereaksi.
Lara dapat merasakan, kalau Stefan merasa perih, saat antiseptik mengenai lukanya.
Dengan lembut Lara meniup luka Stefan sembari mengolesi luka dengan antiseptik.
Lara yang polos tidak mengetahui pria muda, yang ia pikir sedang pingsan itu, diam-diam menyunggingkan senyuman tipis pada sudut bibirnya.
Wajah tampan Stefan tampak berseri-seri, oleh rasa bahagia memejamkan matanya dengan tenang.
Tubuh Lara yang begitu dekat dengannya, membuatnya dapat menghirup aroma tubuh Lara.
Sudut bibir Stefan semakin menyunggingkan senyuman.
Ini momen yang sangat membahagiakannya, yang membuatnya ingin merengkuh tubuh Lara dalam pelukannya.
Setelah Lara mengolesi luka pada kepala Stefan dengan antiseptik, ia kemudian memeriksa luka pada tubuh Stefan.
Dengan setengah ragu ia membuka kancing kemeja Stefan, untuk memeriksa letak luka pada tubuh Stefan.
Lara menghentikan tangannya begitu ia telah membuka tiga kancing kemeja Stefan.
Lara terpaku memandang dada Stefan yang terlihat kokoh.
Anak muda yang mungkin saja berusia sekitar dua puluh tahun, kenapa ia bisa memiliki tubuh kekar seperti itu?
Mata Lara berkedip.
Ia merasakan pipinya seketika merona, dan terasa panas melihat bentuk tubuh Stefan seperti pria dewasa.
Lara sontak bangkit dari duduknya, dan membelakangi Stefan yang berbaring di sofa.
Astaga Lara! ada apa denganmu? kamu bukan anak gadis yang masih remaja! kamu itu wanita dewasa! kenapa kamu gugup terhadap anak muda yang jauh di bawah usiamu? bisik hati Lara menenangkan rasa gugup, dan canggungnya.
Ya! ia hanya ingin menolong tetangganya yang sedang mengalami musibah, dan sebagai tetangga ia harus menyingkirkan pikiran yang aneh-aneh.
Lara menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang ia pikirkan.
Ia kembali membalikkan tubuhnya, dan memandang Stefan yang masih dalam keadaan pingsan.
Tapi, ia merasa ada yang lain pada Stefan.
Tadi ia hanya membuka tiga kancing kemeja Stefan, tapi kenapa kemeja itu sekarang semakin terlihat terbuka dengan lebar?
Mata Lara kembali berkedip.
Matanya melihat perut sixpack Stefan, sama kokohnya seperti dada bidang anak muda itu.
Lara mengerutkan keningnya, karena merasa heran melihat keadaan Stefan.
Lara menelengkan kepalanya ke samping untuk memikirkan, kapan ia telah membuka semua kancing kemeja Stefan.
Tidak mungkin! pikir Lara, kalau Stefan sebenarnya tidak pingsan.
Ia kembali meletakkan bokongnya duduk di tepi sofa, di samping tubuh terbaring Stefan.
Matanya mengabaikan tubuh kokoh Stefan, yang diam-diam membuat pipinya kembali merona panas.
Ia melihat luka lainnya ternyata di bagian bahu, dan memiliki luka yang tidak begitu lebar.
Lara pun berpikir, kalau Stefan pasti melawan perampok yang telah merampoknya.
Ia pun merasa iba melihat keadaan Stefan, yang sepertinya seorang mahasiswa miskin.
Pikirannya pun memikirkan keadaan Stefan sama seperti dirinya, yang sendirian diluaran tanpa sanak saudara.
Dengan pelan dan hati-hati Lara mengolesi antiseptik pada luka di bahu Stefan, dan kembali Stefan bereaksi saat antiseptik dioleskan Lara pada lukanya.
Lara menyadari gerakan pelan pada tubuh Stefan, karena perihnya luka saat ia olesi dengan antiseptik.
Ia pun meniup luka itu sembari mengolesi antiseptik, agar Stefan tidak merasakan perih.
Dengan tindakan yang ia lakukan, Lara tidak menyadari, kalau wajahnya dengan wajah Stefan nyaris bersentuhan.
Stefan menggerakkan kepalanya untuk lebih dekat ke wajah Lara, dan ia dapat mencium aroma shampoo pada rambut Lara.
Ia menyunggingkan senyuman senang, dan semakin dalam membenamkan wajahnya pada rambut Lara.
Kak, kamu wangi sekali! bisik hati Stefan semakin tersenyum.
Perasaannya sangat bahagia dengan apa yang ia rasakan saat ini.
Saat Lara akan menaikkan kembali wajahnya dari meniup luka Stefan, dengan cepat Stefan kembali ke posisi ia tadi memejamkan mata.
Lara kembali mengancingkan kemeja Stefan, dan membenarkan posisi berbaring Stefan agar terasa nyaman.
Lara membawa kotak p3knya ketempat ia menyimpannya, lalu menambah air hangat pada baskom.
Ia kemudian membersihkan sisa noda darah pada wajah Stefan, dan tangan anak muda itu dengan perlahan serta hati-hati.
Setengah jam kemudian.
Stefan yang berpura-pura pingsan, harus membuat ia sadar dari pingsan pura-puranya.
Sedari tadi ia diam-diam sudah memperhatikan, apa yang Lara lakukan dalam apartemen wanita yang ia kagumi itu.
Merapikan ruangan apartemen, memasak, makan sendiri dalam diam, mencuci piring kotor, dan menjemur pakaian, yang telah bersih dari dalam mesin cuci.
"Nggg... "
Dengan suara lemah ia menggerakkan tubuhnya, dan Lara nyaris melompat dari duduknya mendengar suara lemahnya.
"Stefan, kamu sudah sadar?"
Lara tersenyum senang menghambur ke arah sofa, dan membantu Stefan untuk duduk.
"Di.. dimana ini?"
Mata sayu Stefan bingung melihat sekelilingnya, dengan raut wajah yang terlihat pucat.
"Kamu berada dalam apartemenku, tadi kamu pingsan di depan pintu, dan mengalami luka! apa yang terjadi padamu?" tanya Lara merasa khawatir.
"Uhuk-uhuk!"
Stefan batuk dengan suara yang terdengar lemah, dan Lara dengan sigap mengambil gelas air minum dari atas meja sofa.
"Minum dulu!"
Lara menyodorkan gelas air minum itu kepada Stefan, dan Stefan mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas yang diberikan Lara.
"Akh!"
Tiba-tiba ia merasa sakit pada tangannya, dan lengannya jatuh terkulai di sisinya dengan raut wajah yang terlihat kesakitan.
"Oh, aku lupa! bahu kananmu terluka!"
Lara mendekat pada Stefan, dan ia pun membantu Stefan untuk minum, dengan mendekatkan bibir gelas pada mulut Stefan.
"Terimakasih" ucap suara lemah Stefan membuka mulutnya, lalu menyesap air minum dalam gelas yang Lara pegang.
Lara meletakkan kembali gelas ke atas meja, "Kamu kenapa bisa terluka? apakah kamu di rampok preman?" tanya Lara.
"Seseorang mengaku petugas keamanan daerah sekitar apartemen, dia meminta uang keamanan padaku, karena tidak kuberi, dia mengamuk lalu memukul ku!" jawab Stefan dengan suara lemah.
"Keterlaluan dia! seharusnya dia melihat siapa yang harus dia mintai uang keamanan!!"
Lara seketika merasa tidak senang mendengar petugas keamanan, yang bertindak sangat arogan pada seorang mahasiswa seperti Stefan.
Bersambung........