Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.
Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.
Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.
Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.
Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
.
Pengacara Damar segera menghubungi asistennya, memberikan instruksi singkat untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini. Ia harus segera menemui Almira Abimanyu, menjalankan tugas yang diberikan oleh Tuan Revan.
Setelah itu, ia bergegas keluar dari ruangannya dan menuju ke parkiran, mengambil mobil mewahnya dan melaju menuju alamat yang diberikan oleh Almira.
Sementara itu, setelah mengakhiri panggilan dengan Pak Damar, Almira merasa dadanya sedikit lega meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia segera mengirimkan alamat toko pakaiannya melalui pesan singkat, lalu menunggu kedatangan pengacara Damar sambil melanjutkan pekerjaannya memeriksa pembukuan toko.
Satu jam kemudian ponselnya berdering, menampilkan nomor pengacara Damar yang tadi sudah ia save. Almira pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Selamat siang, Ibu Almira. Saya Pengacara Damar Prayoga," sapa suara dari seberang telepon.
"Selamat siang, Pak Damar," balas Almira. “Bagaimana?"
"Saya sudah berada di depan toko Anda, Ibu Almira."
Almira terkejut mendengar ucapan Pengacara Damar. Ia tidak menyangka, pengacara Damar akan datang secepat itu. "Baik, Pak. Saya akan segera keluar," jawab Almira sedikit panik.
Almira segera merapikan penampilannya, memastikan hijabnya tertata rapi. Ia ingin terlihat profesional dan percaya diri di depan pengacara Damar.
Setelah itu, Almira bergegas keluar dari ruang kerjanya dan turun ke lantai dasar, menuju pintu masuk toko. Ia melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan toko, dengan seorang pria paruh baya berjas rapi berdiri di sampingnya.
Almira menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia kemudian melangkah keluar dari toko dan menghampiri pria tersebut.
"Selamat siang, Pak Damar," sapa Almira, dengan senyum yang dipaksakan.
Pria itu membalas senyum Almira dan mengulurkan tangannya. "Selamat siang, Ibu Almira. Saya Pengacara Damar Prayoga. Senang bertemu dengan Anda."
Almira menjabat tangan Pengacara Damar dengan erat. "Saya juga senang bertemu dengan Anda, Pak," balas Almira, dengan nada yang lebih tenang. "Silakan masuk, Pak. Kita bisa berbicara di ruang kerja saya."
Pengacara Damar mengangguk dan mengikuti Almira masuk ke dalam toko. Ia melihat sekeliling dengan tatapan kagum, terpesona dengan desain interior toko yang mewah dan elegan.
Almira membawa Pengacara Damar menuju ruang kerjanya. Sesampainya di sana, Almira mempersilakan Pengacara Damar untuk duduk di sofa.
"Silakan duduk, Pak Damar," ucap Almira, dengan nada yang sopan. "Maaf, jika ruang kerja saya tidak terlalu besar."
Pak Damar masuk dan melihat sekeliling ruangan kerja yang dihiasi dengan berbagai sketsa pakaian dan bingkai foto
Pria paruh baya itu tersenyum ramah. "Tidak masalah, Ibu Almira. Ruangan ini sangat nyaman dan elegan. Saya sangat menyukainya. Saya tidak menyangka Anda memiliki bisnis yang begitu besar. Anda benar-benar wanita yang hebat."
Almira sedikit malu namun bangga. "Terima kasih, Pak. Bisnis ini adalah hasil kerja keras saya sendiri, dan saya sengaja menyembunyikannya dari keluarga suami saya."
Mereka duduk bersebelahan di sofa yang sama tempatnya bertemu dengan Sifa tadi. Pak Damar mengambil buku catatan kecil dari dalam tas kerjanya.
"Silakan ceritakan masalah Anda dengan jujur, Ibu. Semakin jelas saya memahami situasinya, semakin baik saya bisa membantu," ucapnya dengan nada profesional.
Almira mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. "Saya menikah dengan Gilang Pradipta selama tiga tahun. Baru-baru ini saya mengetahui bahwa dia akan menikah lagi dengan seorang wanita bernama Lila, tanpa persetujuan saya. Bahkan saat ini wanita itu sedang hamil. Yang lebih parah lagi, dia akan menikah lagi dengan Rini, pembantu di rumah saya. Keluarga suami saya juga mendukung hal itu.
Ia menahan air mata yang ingin keluar. Meskipun mencoba bersikap tegar, nyatanya tetap saja terasa sakit.
“Padahal selama ini saya sudah baik kepada semua orang. Ibu mertua, adik ipar, dan juga pada mendiang ayah mertua dulu ketika beliau masih hidup. Saya yang menemani Gilang Pradipta dari mulai dia masih merangkak sampai akhirnya mendapatkan jabatan tinggi di perusahaan.”
Pengacara Damar mendengar cerita Almira dengan seksama. Hatinya ikut berdenyut nyeri membayangkan jika wanita di hadapannya ini adalah putrinya. Maka mungkin, dia akan memberikan hukuman pada Gilang hingga tak bisa bergerak bahkan sekedar untuk bernafas.
“Tapi mereka memperlakukan saya seolah saya tidak berharga,” lanjut Almira Seraya menghapus setitik air matanya. “Gilang telah mengkhianati cinta saya, dan begitupun dengan keluarganya. Sekarang, saya ingin mengakhiri pernikahan ini, serta mengembalikan suami saya ke tempat asalnya. Nol harus kembali menjadi nol!”
Pak Damar mencatat beberapa poin penting. Pena-nya menari di atas kertas, Namun kedua matanya menatap ke arah Almira dengan Tatapan yang tak bisa diartikan. Wanita di hadapannya memiliki sisi yang tak terlihat oleh siapapun. Terlihat lemah, tapi sejatinya mampu menghancurkan apapun yang mengusiknya.
"Jadi Anda ingin ingin surat cerai itu siap sebelum hari pernikahan ketiga suami Anda?"
"Ya, Pak. Saya ingin mereka sadar bahwa saya bukan wanita yang hanya akan tinggal diam dan menerima ketika diinjak," jawab Almira tegas. Matanya berkilat bagai api yang siap membakar apa pun yang ada di hadapannya.
Pak Damar mengangguk. "Baiklah, Ibu. Berdasarkan informasi yang Anda berikan, kita bisa mengajukan gugatan cerai dengan alasannya pelanggaran kewajiban perkawinan dan perselingkuhan. Saya akan menyusun surat gugatan serta semua berkas pendukungnya secepat mungkin."
Pengacara Damar menjelaskan beberapa hal penting kepada Almira tentang proses hukum yang akan dilalui, hak-haknya sebagai istri sah, serta bagaimana langkah berikutnya yang harus dilakukan. Pengacara juga minta bukti yang bisa memperkuat tuntutan.
Almira mendengarkan dengan seksama, memberikan berkas-berkas yang diminta oleh pengacara Damar, serta bukti-bukti berupa foto dan video kemesraan Gilang dengan Lila. Juga bukti transfer belanja bulanan yang jauh dari kata cukup. Juga bahwa bulan ini Gilang bahkan tidak memberikan uang belanja. Ia merasa lebih tenang karena tahu ada orang yang bisa dipercaya untuk membantunya.
"Saya juga akan memastikan saudara Gilang akan ‘membayar mahal’ atas luka yang Anda terima. " tambah Pengacara Damar.
"Terima kasih banyak, Pak Damar. Saya tidak tahu bagaimana cara membayar hutang budi saya ini,” ucap Almira.
"Tidak perlu khawatir, Ibu. Saya hanya melakukan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya," jawab Pak Damar sambil berdiri. "Saya akan segera mulai menyusun berkasnya dan akan menghubungi Anda kembali dalam waktu dua hari untuk mengecek perkembangannya.”
Setelah mengucapkan selamat tinggal dan diantar keluar oleh Almira, Pak Damar segera menuju mobilnya. Dalam perjalanan kembali ke perusahaan firman-nya, ia mengambil ponsel dan menghubungi Revan.
"Tuan Revan, saya baru saja bertemu dengan Ibu Almira," ucapnya setelah panggilan terhubung. "Saya akan menangani kasusnya dan memastikan beliau mendapatkan keadilan seperti yang Anda katakan."
Dari seberang telepon terdengar suara Revan yang lega. "Bagus, Pengacara Damar. Pastikan pecundang itu tak bisa melawan. Semua biaya yang diperlukan saya yang akan menanggungnya. Tapi ingat! Jangan pernah sekali-kali menyebut nama saya. Setelah semua selesai, saya akan memberikan bonus untukmu."
Pak Damar mengangguk padahal Revan tak mungkin bisa melihat. "Baiklah, Tuan. Saya akan memberikan laporan perkembangan secara berkala.”
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣