Seorang Dokter Jenius dari masa depan bereinkarnasi kembali ke dalam raga seorang putri bangsawan, yang menikah dengan pria yang sangat membenci dirinya. Hingga pada suatu hari yang nahas, dia pun diasingkan ke sebuah wilayah terkutuk bersama pelayannya, karena tuduhan.yang keji.
*
"Aku tidak akan menyerah! Sudah diberi kehidupan dan kesempatan kedua, masa harus aku sia-siakan?"
*
Jadilah saksinya, wahai langit! Jika aku, akan mengguncang dunia kuno ini dengan semua keahlianku!"
*
"Nona, tapi Anda tidak bisa apa-apa, loh!"
*
"Tenang saja ... Dewa memberkatiku dalam komaku kemarin, dan aku akan menunjukkan keahlianku!"
*
Bagaimana kisah si Dokter Jenius ini di dunia kuno yang tidak terdapat di dalam sejarah Kekaisaran?
*
Apakah dia mampu membangun kekuatannya sendiri di sana?
*
Ikuti kisah si Dokter Bar-bar hanya di sini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12: Kekacauan di dalam Kediaman Keluarga Hua!
***
Malam itu langit di atas Kediaman Keluarga Hua tampak kelam, seolah-olah ikut menekan suasana di dalamnya.
Di paviliun Melati, suara jeritan melengking, tiba-tiba memecah keheningan di dalam kediaman itu.
"AAAAAAAKH!! PANAS! SAKIT!!"
Hua Lingyi terlihat berguling-guling di atas ranjang, tubuhnya berkeringat deras dan wajahnya pucat kebiruan.
"Ibu! Ibu, tolong aku! Tubuhku rasanya seperti dibakar dari dalam!" teriak Hua Lingyi memanggil Ibunya.
Nyonya Hua yang awalnya hanyalah seorang Selir itu pun panik, saat melihat wajah kesakitan putri satu-satunya itu.
"Tenanglah, Ling'er ... tenang! Pelayan, panggilkan Tabib! Panggilkan Tabib sekarang juga!" perintah Nyonya Xia ke arah pelayan. dengan nada tinggi.
Pelayan itu berlari tergesa-gesa keluar untuk memanggil Tabib keluarga.
Tidak lama kemudian, seorang Tabib tua datang dengan napas terengah.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi pada Nona Muda?" tanya tabib itu cepat.
"Dia merasa tidak enak badan dari tadi sore, dan malam ini tubuhnya menjadi demam. Sekarang dia teriak-teriak kesakitan," jawab Nyonya Hua dengan wajah khawatir.
Tabib tua langsung meletakkan sapu tangan di atas pergelangan tangan Hua Lingyi, guna memeriksa denyut nadinya.
Wajah Tabib Tua itu mengerut, saat merasakan denyut nadi Hua Lingyi.
"Aneh … sangat aneh …" gumamnya pelan.
"Aneh bagaimana maksud Anda?! Jelaskan dengan benar!" bentak Nyonya Hua, panik.
"Yin dan Yang Nona Muda, sangat tidak normal. Denyut nadinya tidak normal, dan ini bukanlah sebuah penyakit biasa ..." jawab Tabib Tua itu dengan nada ragu.
"Apakah dia diracun?" tanya Nyonya Hua dengan suara tertahan.
"Sepertinya ... iya. Tapi ini bukanlah sebuah racun biasa. Ini adalah sebuah penyakit buatan manusia, yang dikemas dalam bentuk racun udara ..." ujar Tabib Tua itu dengan analisanya.
"Apa maksudnya?" tanya Nyonya Hua dengan nada tidak sabar.
"Maksud saya, ini adalah racun penyakit, yang akan memakan vitalitas dan organ tubuhnya dari dalam. Racun ini dipicu oleh emosi si penderita. Semakin dia tidak bisa mengendalikan emosinya, maka racun itu akan semakin cepat merusak organ-organ yang ada di dalam tubuhnya ..." jawab Tabib Tua itu menjelaskan.
"Efeknya adalah kesakitan dan halusinasi jangka panjang, sebelum maut menjemput mereka. Dan saya minta maaf, saya tidak bisa mengobatinya ..." lanjut Tabib Tua itu dengan wajah muram.
Sebelum Nyonya Hua berkata kembali, terdengar teriakan histeris Hua Lingyi.
"AH, LEPASKAN! IBU, AKU MELIHAT BAYANGAN HITAM! MEREKA INGIN MENARIKKU! TOLONG AKU, BU!!"
Nyonya Hua memeluk putrinya sambil menangis.
"Keluar kalian semua dari kamar ini! Peringatkan semua orang agar kabar ini jangan sampai terdengar keluar!"
♨
Sementara itu, suasana di Paviliun Killin tidak kalah kacau.
"ARRRGHHH!!!"
Hua Duanyi menjerit kesakitan, dengan tubuh terlilit kain kasa berwarna putih.
Keringat terlihat mengalir deras dari seluruh tubuhnya.
"Apa gunanya saya memelihara kalian, hah?! Tulang anak saya pun tidak bisa kalian sambung! Benar-benar tidak berguna!!" raung Hua Xiang murka.
Tabib itu langsung berlutut dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Ampuni saya, Tuan Ketiga! Tulang-tulang Tuan Muda dipatahkan dengan tekhnik yang sangat aneh. Retakan tulangnya berlapis, seperti disengaja, agar Tuan Muda tidak bisa pulih kembali ..." ujar Tabib itu menjelaskan.
"Apa maksudmu tidak bisa pulih?!" tanya Hua Xiang.
"Tuan Muda akan cacat permanen di masa depan. Tangannya bengkok dan kakinya timpang seumur hidup, tidak bisa diperbaiki lagi ..." jawab Tabib itu dengan suara lirih.
Hua Xiang langsung meraung murka, dia menendang meja yang ada didepannya.
Brak!
"IBLIS SIA-LAN!! SIAPA MANUSIA IBLIS YANG MELAKUKAN INI?!"
Hua Duanyi terisak menahan sakit, dengan suara tersendat, dia berkata:
"A--Ayah … yang melakukan ini ... adalah wanita ... yang bernama ... Duxi Anlian ..."
Hua Xiang terdiam sejenak, saat mendengar nama itu.
"Siapa dia?" tanya Hua Xiang.
"Saya dengar, dia adalah pendatang baru dari daerah Utara. Sebuah keluarga tersembunyi, yang bernama 'Duxi', Tuan Ketiga ..." sahut sang Tabib.
Hua Xiang mengerutkan dahinya ...
Kenapa keluarga pendatang malah membuat musuh diwilayahnya?
Bukankah akan lebih baik jika mempererat hubungan dengan keluarga Hua-nya?
"Apakah kamu yakin itu dia, Duan'er?" tanya Hua Xiang.
Hua Duanyi menganggukkan kepalanya dengan lemah ...
"Aku yakin, Ayah. Dia bilang, dia juga tahu tentang Kak Hua Zhen ..."
♨
Keesokan harinya di dalam aula utama, Hua Zheng duduk dengan wajah gelap dan kuyu. Di dalam sana juga sudah ada Nyonya Hua dan Hua Xiang, yang datang melapor dengan wajah muram.
Dia terlihat lebih tua 20 tahun dalam semalam.
"Bagaimana dengan kabar Ling'er?" tanya Hua Zheng dengan suara berat.
"Ling'er terkena racun udara, dan tidak ada penawarnya. Tabib tua itu juga takut memberikan obat, karena penyakitnya memang tidak bisa dicegah dengan obat-obatan. Jika emosinya tidak dipicu, maka dia akan bisa bertahan ..." jawab Nyonya Hua dengan wajah sedih.
Hua Zheng mengeratkan kepalan tangannya, ini adalah anak kesayangannya ... jika tidak bisa disembuhkan, bagaimana dengan masa depannya?
Lalu dia mengalihkan tatapannya ke arah adik bungsunya.
"Dan, bagaimana keadaan Duan'er?" tanya Hua Zheng.
"Dia akan mengalami cacat ... permanen ..." jawab Hua Xiang dengan nada berat.
Bagaimana tidak berat?
Hua Duanyi adalah anak satu-satunya!
Dia tidak memiliki selir di halaman belakangnya, jadi hanya punya satu keturunan dari istrinya yang sulit hamil.
"Bagaimana jika kamu ambil selir untuk menambah keturunan Hua?" tanya Hua Zheng.
"Akan aku pikirkan, Kak ..." jawab Hua Xiang singkat.
Hua Zheng menutup matanya sejenak, untuk melepaskan sedikit beban di dalam hatinya.
"Dua kejadian ini ... bukanlah sebuah kebetulan belaka. Ada yang memperhitungkan Keluarga Hua kita ..." ujar Hua Zheng.
Sebelum ada yang membalas perkataan Hua Zheng, tiba-tiba ada seorang pelayan yang masuk dengan tergesa.
"Tuan Besar, gawat! Ada kabar tidak enak diluar sana tentang keluarga Hua!" lapor pelayan itu.
Hua Zheng langsung menegakkan punggungnya, wajahnya berubah menjadi tegas.
"Bicara!"
"Orang-orang diluar sana mulai bergosip ... jika penyakit yang diderita Nona Muda adalah penyakit yang tidak wajar, dan Tuan Muda Duanyi akan cacat seumur hidup! Berita ini menyebar bagaikan api diluar sana ..." lapor pelayan itu.
Hua Zheng, Nyonya Hua, dan Hua Xiang langsung emosi, saat mendengar kabar itu.
Brak!
"Sia-lan! Siapa orang yang berani membocorkan kabar itu?! Cari dan tangkap orangnya! Potong lidahnya untuk peringatan!" raung Hua Zheng sambil menggebrak meja.
Pelayan itu langsung bersujud dengan tubuh gemetar.
"Tapi, Tuan Besar ... kabar itu bukan datang dari pelayan kediaman ini, kabar itu menyebar dari pasar ..." ujar pelayan itu.
"Pengawal!"
Sesosok tubuh berkelebat keluar dari dalam kehampaan.
"Hamba disini, Tuan!"
"Informasi apa yang kamu dapatkan?" tanya Hua Zheng.
"Menjawab, Tuan. Kami sudah menyelidiki nama keluarga 'Duxi' itu, namun tidak banyak informasi yang kami dapatkan."
"Keluarga itu tidak tercatat di dalam catatan Keluarga Bangsawan Kuno, namun mereka adalah sebuah keluarga tersembunyi dengan beladiri nomor satu di Benua ini. Mereka baru saja tiba dari wilayah Utara, dan hanya ada sekitar dua puluh dua orang anggota keluarga saja!" lapor pengawal bayangan Hua.
"Hmm, anggota keluarganya tidak banyak, namun berani mencari masalah dengan keluarga Hua ... Sungguh menarik!" gumam Hua Zheng.
"Siapa kepala keluarga Duxi ini?" tanya Hua Anfeng.
"Seorang wanita muda … bernama Duxi Anlian!" jawab pengawal bayangan itu.
Ruangan itu mendadak hening, ketika mendengar jika kepala keluarganya seorang gadis muda.
"Apakah gadis itu ada hubungannya dengan ... Hua Zhen?" tanya Hua Zheng dengan nada pelan.
Pengawal bayangan itu menunduk lebih dalam, sebelum dia menjawab pertanyaan tuannya.
"Saya tidak tahu, Tuan Besar! Karena informasinya sangat tertutup. Apa yang saya dapat, sudah saya sampaikan semuanya ..." jawab Pengawal bayangan itu.
"Baiklah! Lanjutkan pekerjaanmu!"
"Baik, Tuan Besar!"
Setelah kepergian pengawal tersebut, Hua Zheng memejamkan matanya.
"Kalian semua keluar dulu! Aku ingin sendiri ..." ujar Hua Zheng mengusir Istri dan adiknya.
"Baik, Tuan/Kak ..."
Hua Zheng merasa tidak nyaman, saat mendengar laporan pengawalnya itu.
Seperti ada yang mengetuk kenangannya bersama dengan Istri pertamanya dulu.
Hua Zheng sangat yakin, jika Duxi Anlian adalah putrinya yang dia buang dan tidak dia perdulikan.
Jika dia belum mati, maka dia kembali untuk membalas dendam dengan Keluarga Hua.
♨
Malam itu diruang rahasia bawah tanah, Anlian sedang duduk santai sambil menerima laporan dari Shen Luo.
"Semuanya berjalan sesuai dengan perhitungan Nona. Keluarga Hua kacau, dan Identitas keluarga Duxi mulai ada yang membukanya ..." ujar Shen Luo.
"Bagus! Umpan sudah dilepas, tinggal tunggu mereka bergerak ..." jawab Anlian datar.
"Apa yang mereka lakukan sekarang?" tanya Anlian.
"Mengerahkan pengawal bayangan untuk memata-matai kita dalam gelap ..." jawab Shen Luo.
"Hahahahaha! Ketakutan mereka itu, malah membuat mereka ragu untuk bergerak duluan! Lucu sekali!" ujar Anlian sambil tertawa.
Yaoyao menggerakkan bidak catur yang ada dihadapannya.
Tak!
"Bagaimana jika mereka menyerang?" tanya Yaoyao.
Anlian mengambil bidak lawan, dan meletakkannya di papan catur.
Tak!
"Maka itu akan menjadi alasan sempurna dimata orang-orang, jika kita langsung memusnahkan mereka ..." jawab Anlian sambil menyeringai.
"Hua Zheng pasti sudah menyadari sekarang, jika putri yang dia buang dan abaikan sudah kembali untuk menuntut balas!"
Tak!
"Skak Mat!"
Angin malam berhembus kencang, membawa mimpi buruk untuk Keluarga Hua, sebelum hari itu tiba ...
"Nikmati hadiahnya dulu ... Nanti baru aku kirim kalian semua ke ... Neraka! Hahahaha ..."
♨♨♨
Terima kasih atas dukungan kalian dengan membaca cerita ini. Jika kalian suka tolong bantu Author d4ngan komen, like, Subscribe, dan ratingnya oke? 😊🙏🏻
Terima kasih ...💖💖💖