NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Dino memiliki foto Dara?

...SELAMAT MEMBACA!...

Hujan deras semalam mengguyur kota Jakarta, jalanan berlubang dipenuhi genangan air. Sisa air hujan masih menetes dari atap rumah. Udara sejuk membuat gadis itu merengkuh di bawah selimut tebal sedari malam.

Dara meregangkan otot-ototnya, tidurnya terasa nyenyak. Dia bangkit dan duduk sambil mengucek mata. Dara teringat, dirinya sedang berada di rumah baru. Gadis itu mengedarkan pandangan, mencari sosok suaminya. Namun, Dino tidak terlihat di sana.

Dara beranjak dari kasur, kemudian selembar kertas menarik sepasang matanya. Dia mengambilnya dari sana, terdapat coretan tinta hitam di atasnya.

Gue keluar bentar, ada urusan.

Hari ini, lo gak usah kerja dulu. Istirahat aja!

-Dino

Dara menganggukkan kepala. Lalu, dia pergi keluar kamar untuk membersihkan tubuh.

Selesai dari kamar mandi, Dara mengambil minum untuk tenggorokannya yang kering. Ruangan dengan pintu tertutup membuatnya mengerutkan dahi, terdapat kunci menggantung di sana. Dara pun berniat masuk.

Gadis itu menurunkan gagang, membuat pintu itu perlahan terbuka. Rupanya, ini adalah kamar kedua yang dimaksud Dino. Benar, masih sangat kotor dan penuh debu.

Dara melangkah masuk. Dia melihat barang-barang di sana, yang terlihat masih baru. Hanya saja, ruangannya masih ditempeli debu hingga terlihat kotor. "Apa aku bersihin, ya?" gumamnya.

"Gak enak juga lihat Dino tidur di sofa."

"Harusnya tidur berdua, sih. Tapi, aku masih belum siap," katanya.

Meyakinkan dirinya untuk membersihkan ruangan lusuh ini, Dara menganggukkan kuat kepalanya sambil mengangkat kepalan tangan. "Ayo!" ujarnya. Lalu, dia memulainya dari mengelap tembok penuh debu tersebut.

Setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk membersihkan kamar itu, Dara meregangkan ototnya yang kaku. Dia duduk di kasur, merelaksasi tubuhnya sejenak. "Aku yang tidur di sini atau Dino, ya?"

Dara beranjak dari sana, kembali ke kamar pertama untuk mengambil tas kecil bawaannya semalam, yang berisi alat make-up. Lalu, dia pergi meletakkan benda itu di kamar kedua.

Gadis itu masih memakai baju yang semalam dipinjamkan oleh Dino. Jika dia pulang untuk mengambil pakaian, uang di dompetnya pun tidak cukup.

Kamar yang terang karena tirai jendela sudah dibuka oleh Dara. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di sofa. Benda berserakan di sampingnya membuat tangannya bergerak merapikan.

Baju Dino berantakan di sofa itu, kemudian Dara melipatnya. Tidak sengaja, ia menjatuhkan kertas dari saku kemeja tersebut. Benda tipis bergambar itu diambil oleh Dara, kemudian alisnya dibuat saling bertautan.

Foto dengan wajah Dara yang tengah tersenyum. Dia mengerutkan dahi melihatnya. "Kenapa simpan foto aku?" tanya Dara, kepada dirinya sendiri.

Dara bingung, selama ini pun dirasa Dara mereka tidak saling mengenal. Bahkan, bertemu hanya satu kali waktu itu. Lantas, bagaimana Dino memiliki fotonya dan kenapa?

Dara bergulat dengan pikirannya sendiri, hatinya berbicara tanpa suara. Memikirkan hal yang tak bisa ia dapatkan jawabannya, kecuali dengan bertanya kepada yang bersangkutan.

Siang tidak terlalu panas karena awan menutupi matahari. Ia bersinar, tetapi tak menganggu. Pohon bergoyang ditiup angin. Debu jalanan berterbangan menyapu kulit siapa pun yang lalu. Dara berjalan, menyusuri makam dengan tanah sedikit basah itu.

Gadis tersebut berpakaian tertutup. Beruntunglah, ada celana panjang yang dikenakan semalam, baju pinjaman Dino, dan menemukan kerudung di dalam tasnya. Dia berjongkok sambil menatap sendu batu nisan kotor itu.

Jemari Dara membelai batu tersebut, mengulas senyum tipis menatapnya lamat. "Kak Agun, aku udah menikah," kata Dara.

Agundra Rayasna, terukir di batu nisan tersebut.

Dara membersihkan sedikit tanah yang menempel di sana. Dia memejamkan mata, lama sekali untuk mengirimkan doa.

Sudah lama sekali dia merindukan sang kakak laki-lakinya, yang meninggal dua tahun lalu. Namun, rindunya hanya tersampaikan lewat ucapan baik dan murni dari dalam hatinya. Peristiwa kelam itu, tidak akan bisa Dara lupakan hingga kini. Sampai kapan pun itu.

Dara meneteskan air mata, bersamaan dengan turunnya air hujan. Dia mendongak membuat butiran jernih itu masuk ke dalam netranya. Dara panik. "Kak, Dara pulang dulu, ya?" ucapnya. Lalu, Dara bergegas beranjak dari sana dan berlari secepat kilat.

Tidak menyangka, jarak makam sang kakak dengan rumah barunya tak memakan banyak waktu. Dekat sekali, membuat Dara senang karena bisa sering berkunjung.

Hujan turun deras bertepatan saat Dara menginjakkan kaki di rumah. Detik itu juga, Dara terkejut disambut oleh Dino di depan pintu. Suaminya tersebut rupanya baru pulang. "Dari mana?" tanya Dino, sambil melipat kedua tangan di depan dada.

Dara berdecak, menyingkirkan tubuh Dino dari hadapannya. Bajunya sekarang basah sekali, rambutnya juga. "Pinjami aku baju lagi!" pinta Dara dengan nada ketus.

Dino menghembuskan napas panjang, kemudian masuk ke kamar dan kembali dengan membawa baju serta celana pendek kain miliknya. Dino menyodorkan benda itu kepada Dara.

"Makasih," ucap Dara sambil mengambil pakaian itu dari tangan Dino. Lalu, dia masuk ke kamar mandi.

Dino memandangi istrinya yang menghilang di balik pintu tersebut. Dia menggeleng pelan melihatnya. Dino mengelus perutnya, di dalam sana berbunyi sejak tadi. "Laper," ungkapnya, sebab belum sarapan hingga siang ini.

Dino bergerak mendekati dapur, melihat bahan apa yang bisa dimasak olehnya. Dia membuka almari di atas, hanya sebungkus mie instan dan tepung panir di sana. Entah bagaimana itu bisa ada.

Dino berdecak kesal, kemudian melangkah ke kamar dan membanting pintu. Sehingga membuat Dara yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut karena Dino.

Dara mengetuk pintu Dino, kemudian dibuka dengan cepat oleh pemilik kamar. "Kenapa?" tanya Dara.

"Gue laper," jawabnya dengan menunjukkan wajah lesu. "Lupa beli makanan."

"Lo juga belum makan, kan?" tanya Dino.

Dara menganggukkan kepala. Dia berbalik, melangkah menuju dapur. Lalu, Dara membuka tempat yang tadi dilihat oleh Dino. "Cuma itu, gak tahu dari mana," ungkap Dino, berdiri di samping istrinya.

"Aku buatin nugget mie, ya?" tawar Dara.

Dino membuka lebar matanya. "Bisa?"

"Tunggu! Biar aku masakin." Lalu, gadis itu mengambil sebungkus mie instan serta tepung panir itu, membawanya ke meja yang tersedia di sana. Dengan gesit, Dara melakukannya dengan urut.

.....

"Lo mau tidur di kamar itu?" tanya Dino, ketika melihat Dara masuk ke kamar kedua.

Dara mengangguk. "Udah aku bersihin."

"Gak. Gak. Jangan!"

"Kenapa?"

"Kasurnya belum diganti yang baru, nanti lo gatel-gatel gak ada seprainya."

"Nggak apa-apa, kok."

"Gue bilang gak, ya gak, Ra!" Nada bicara Dino terdengar penuh penekanan, sehingga membuat gadis itu sedikit takut. "Atau gue aja yang tidur di situ," sambung Dino.

"No," panggil Dara. Namun, Dino menggelengkan kuat kepalanya. "Oke."

Tidak mau perdebatan ini menjadi panjang, Dara melewati tubuh Dino dan masuk ke kamar yang awal. Menurut, sebab Dara takut Dino bertindak kasar atau jauh di luar ekspektasinya.

Dara naik ke kasur, diikuti oleh Dino yang memposisikan tubuhnya tidur di sofa. "No," panggil Dara, sambil menarik selimutnya.

Dino lantas menoleh, menatap gadis itu sendirian di kasur. "Kenapa?" tanya Dino.

"Tidur di kasur aja." Suara Dara terdengar begitu pelan, mungkin juga karena malu.

"Apa, Ra? Gak kedengaran."

"Tidur di kasur, No!" Suara Dara lebih keras hingga wajahnya memerah dan panas.

"Gak apa?" tanya Dino memastikan, kemudian Dara mengangguk.

Dino menuruti, tentu saja senang. Dia perlahan naik ke kasur itu dan merebahkan tubuhnya di samping Dara. Gadis itu merinding, melirik waspada kepada suaminya tersebut. "Kalau gak nyaman, gue di sofa aja," ujar Dino, paham dengan istrinya.

"Eng--enggak apa-apa, yang penting kamu jangan apa-apain aku!" seru Dara.

"Aman."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!