Selena diusir dari rumah karena dia lebih memilih menjadi penulis novel online daripada mengurus perusahaan keluarganya. Kedua orang tuanya tidak setuju dia menulis novel karena hampir seluruh novel yang dia tulis adalah novel dewasa.
Dia kira hidupnya akan tenang setelah menyewa apartemen sendiri tapi ternyata tidak. Dia justru diganggu oleh komentar negatif secara terus menerus. Merasa jengkel, Selena melacak keberadaan pemilik komentar negatif itu dan ternyata berada di sebuah perusahaan film.
Selena berpura-pura menjadi cleaning service dan bekerja di perusahaan itu. Dia curiga pada Regan, CEO di perusahaan itu. Berniat mengganggu Regan tapi dia justru yang merasa kesal dengan tingkah Regan yang sangat menyebalkan.
Apakah memang Regan yang menulis komentar negatif di novel Selena?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Setelah beberapa jam berlalu, Regan menatap pintu kamar pribadinya yang belum juga terbuka. Dia penasaran, apa yang dilakukan Selena di dalam sana. Apa masih mengetik?
Kemudian Regan melihat satu undangan gala premiere yang masih tersisa di atas mejanya. Dia mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadinya. Setelah membuka pintu kamar itu, dia tersenyum kecil melihat Selena yang ternyata tertidur sambil memegang ponselnya. Saat tersadar, buru-buru dia melenyapkan senyumannya.
"Bisa-bisanya dia tidur di sini." Regan berjalan mendekat dan membangunkannya. "Bangun!" Dia menggoyang bahu Selena tapi Selena justru menarik lengannya dengan keras hingga membuatnya terjatuh di atas Selena. Untunglah kedua tangannya dengan kuat menahan tubuhnya.
Selena membuka matanya dan terkejut melihat Regan berada di atasnya dengan jarak yang sangat dekat. "Apa yang Pak ...."
Regan membungkam mulut Selena dengan tangannya agar tidak berteriak. "Jangan teriak, nanti orang lain salah paham."
Setelah Selena mengangguk, Regan melepas tangannya lalu turun dari ranjang. "Ini jam kerja, kamu justru tidur di sini."
Tersadar Selena bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia menguap panjang sambil meregangkan ototnya. "Semalam aku gak bisa tidur karena ketakutan. Takut kalau peneror datang lagi ke apartemen."
Regan melipat kedua tangannya sambil tersenyum miring. "Kenapa tidak minta temani cowok kamu yang kaya itu?"
Selena mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan itu. "Cowok?"
"Iya, tidak sengaja kemarin aku melihat kamu pelukan sama cowok di depan apartemen."
Seketika Selena berdiri dan kembali menatap tajam Regan. "Kamu mengikutiku?"
Regan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya lewat saja saat ke minimarket. Jangan curiga terus sama aku." Regan mendorong bahu Selena agar menjauh.
"Cowok yang kemarin itu anak mantan majikanku. Dia sangat baik, sudah aku anggap sebagai kakak sendiri. Dia juga yang akan bantu aku laporkan peneror itu tapi ternyata buktinya hilang."
"Oo, anak mantan majikan." Regan tersenyum kecil lalu memberikan undangan pada Selena.
"Apa ini?" Selena membaca undangan itu. Kedua matanya membola setelah membaca undangan gala premiere salah satu drama yang dia tunggu-tunggu. Kemudian bibirnya tersenyum lebar. "Para pemain datang juga kan?"
Regan menganggukkan kepalanya. "Iya. Itu undangan VIP, jadi bisa duduk dekat dengan para pemain."
Selena semakin bahagia dan tertawa lebar. Dia mengambil tasnya lalu memasukkan undangan itu. "Makasih." Dia akan melangkah keluar tapi Regan menahannya.
"Mau kemana?" tanya Regan.
"Pulang."
"Besok kamu harus tetap kerja. Kita pancing peneror ini agar menunjukkan dirinya," kata Regan lagi.
"Siap." Selena melepas tangan Regan tapi Regan masih saja menahannya. "Mau apa?"
"Aku jemput kamu dua jam sebelum acara dimulai. Setidaknya kamu harus berpenampilan berbeda malam ini. Jangan sampai mereka tahu kalau kamu hanya seorang cleaning service."
Selena tertawa sumbang sambil menarik paksa tangannya. "Terima kasih atas penghinaannya." Selena membuang muka lalu melangkah cepat keluar dari kamar itu. Dia menendang pintu hingga tertutup. "Dia bukan karakter utama dalam novel jelaslah dia tidak mungkin menerima wanita apa adanya," gerutu Selena sambil berjalan menuju lift. "Dia pikir aku tidak bisa berpenampilan sempurna."
Saat di depan lift, Selena berpapasan dengan Ivan.
Ivan menghentikan langkahnya saat Selena menghalanginya. "Kamu tidak jadi dipecat sama Pak Regan?"
Selena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miring. "Kenapa?" Selena berjalan mendekat dan menunjuk dada Ivan. "Jangan-jangan kamu pelakunya yang meletakkan tikus mati dan darah itu di laci agar Pak Regan menuduhku."
"Aku?" Ivan menepis tangan Selena. "Aku sudah bekerja dengan Pak Regan selama lima tahun dan aku orang kepercayaannya. Atas dasar apa aku melakukan itu. Oke, kali ini aku yang salah menuduh kamu. Dari rekaman CCTV, ada seorang pria memakai topi dan masker yang diam-diam masuk ke dalam ruangan Pak Regan, tadi pagi sekali. Sebelum semuanya datang."
"Iyakah?" Selena urung masuk ke dalam lift. Dia justru mengikuti Ivan kembali masuk ke dalam ruangan Regan. "Aku juga mau melihat rekaman CCTV itu." Selena sudah berdiri di samping Regan saat Ivan memasang flashdisk di laptop Regan.
"Habis tendang pintu, sekarang kembali lagi." Regan menatap Selena yang berdiri di dekatnya lalu membuang wajahnya.
Selena hanya tersenyum miring. Rasanya dia ingin sekali menggoda si duda itu.
Saat video diputar, Selena semakin mendekatkan dirinya. "Tidak kelihatan wajahnya."
Regan mendorong kepala Selena yang menutupi pandangannya. Dia menggeser laptop agar hanya dia yang melihatnya. "Ivan, apa kamu sudah bertanya pada satpam yang berjaga tadi pagi?"
"Sudah, dan mereka tidak tahu. Dari rekaman CCTV, pria itu masuk lewat pintu samping, menuju pantry lalu lewat tangga darurat," jelas Ivan.
"Sepertinya dia memang orang dalam karena dari gerak-geriknya dia sudah hafal letak CCTV itu," kata Regan menatap serius layar laptopnya sehingga Selena tidak bisa melihat dengan jelas.
"Aku juga mau lihat dengan jelas." Selena menarik lengan Regan agar memberinya ruang lalu dia duduk di paha Regan.
Seketika Regan memundurkan kursinya hingga membuat Selena terjatuh. "Ngapain kamu? Jangan asal duduk!"
Selena hanya tertawa terpingkal sambil duduk di lantai. "Pak Duda, kayaknya Anda sudah tidak tertarik dengan wanita lagi."
"Kata siapa? Meskipun aku tidak mau menikah lagi tapi aku masih normal."
Selena berdiri dan melihat rekaman CCTV itu lagi. Setelah itu pandangannya beralih pada Ivan yang sedang menatapnya. "Kenapa perawakannya seperti kamu. Pak Duda, aku curiga sama asisten kamu. Selidiki dia!" kata Selena sambil berlalu.
"Jangan panggil aku seenaknya!" Regan menghela napas panjang dan kembali melihat rekaman CCTV itu. "Kamu selidiki lagi, kalau ada yang mencurigakan, langsung kamu laporkan."
"Baik, Pak." Kemudian Ivan keluar dari ruangan Regan.
Regan masih saja melihat rekaman CCTV itu sambil mengetuk mejanya dengan jari. "Sepertinya, pelaku itu berada di sekitarku dan terus mengamatiku. Apa mau dia? Mengapa meneror Selena? Apa dia orang suruhan Mama?"
💕💕💕
Jangan lupa tinggalkan komentar. 🤭
adududu sepeda baru....
waduh....ada yang cemburu....
wkwkwkwkwkwk....
mantap... Selena diperebutkan kakak beradik.... ahay.
gimana ya besok reaksi Selena ketika dia tau.... nggak sabar nungguin besok....