Alia menikah dengan wali kelasnya saat SMA, yaitu Dimas. Di Tengah perjalanan pernikahan mereka mulai muncul banyak konflik, mulai dari urusan ranjang maupun ketidakcocokan, bahkan ada isu orang ketiga, lalu adiknya Dimas yakni Ferdi berniat membantu dan menyelamatkan Alia, namun akhirnya mereka saling jatuh cinta. Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bel Bel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
“Suamiku tidak bisa memuaskanku, baru masuk sudah lemas, tidak sampai 5 detik sudah lemas, aku bahkan belum merasakan apapun.” Kata Alia dengan ekspresi sedih dan kecewa.
“What? Kurang lama mungkin pemanasannya.” Kata Fransiska.
“Hampir sejam pernah pemanasan tapi hasilnya tetap sama.” Kata Alia.
“Coba periksa ke dokter saja, kasian banget kamu. Kamu berhak loh mendapatkan kepuasan lahir dan batin. Semakin lama semakin mantap.” Kata Fransiska.
“Aku belum pernah merasakan seperti apa sih rasanya, aku sudah menyuruhnya minum vitamin dan suplemen tapi dia enggan katanya dia merasa sehat dan baik-baik saja kok, merasa perkasa katanya.” Kata Alia.
“Suami tidak boleh egois loh, aku saja kalau berhubungan dengan mas Aldi wah brutal banget sih, kalau sudah masuk wah dia keren sih lama banget, aku sampai kelelahan rasanya, aku kasih saran ya, mending belikan obat kuat saja deh.” Kata Fransiska.
“Sudah pernah aku belikan, tapi dia malu mau minum. Lama-lama bisa stres sendiri deh.” Kata Alia.
“Campurkan saja ke minuman suamimu.” Kata Fransiska.
“Nah kalau ini aku belum pernah sih, tapi ide kamu boleh juga.” Kata Alia.
“Kalau masih belum berhasil juga, coba sama laki-laki lain.” Kata Fransiska sambil tersenyum.
“Gila kamu ya, nggak mungkin lah.” Kata Alia.
“Asal kamu tau ya, pasangan suami istri berpisah itu juga banyak karena masalah ranjang loh. Contoh nyata adalah mas Aldi dan istrinya.” Kata Fransiska.
“Lalu kamu menyuruhku untuk selingkuh begitu? Sudah gila pemikiranmu memang, aku tidak mau.” Kata Alia.
“Kalau kamu mau aman, coba dengan orang-orang terdekatmu, seperti Ferdi contohnya.” Kata Fransiska.
“Sudah sudah, aku menyesal cerita ke kamu. Tidak seharusnya aku bercerita kepadamu.” Kata Alia.
“Ferdi jauh lebih muda dibandingkan suamimu, memang dulu kamu menolaknya tapi siapa tau dia masih suka sama dia, bisa saja kan dia menjodohkanmu dengan kakaknya karena dia ingin melihatmu setiap hari kan, hati orang tidak ada yang tau loh, Ferdi sekarang sering olahraga pasti jago banget di ranjang.” Kata Fransiska.
“Sekali lagi kamu bilang seperti itu, aku tidak akan menganggapmu sebagai sahabat.” Kata Alia.
“Hehe iya iya maaf, saranku coba masukkan obat kuat ke dalam minuman suamimu, aku yakin pasti berhasil.” Kata Fransiska.
Fransiska dan Alia kemudian kembali ke villa terlebih dahulu, sedangkan teman-temannya yang lain masih di club.
Perjalanan menuju ke Villa, Fransiska ditelfon oleh Aldi kekasihnya. Sehingga Alia hanya bengong sendiri sambil menikmati pemandangan jalan raya di Bali.
“Gawat gawat Al.” kata Fransiska.
“Kenapa?” Tanya Alia.
“Mas Aldi sedang menungguku di hotel, istrinya balik ke Jakarta.” Kata Fransiska.
“Hah? Bukannya tadi mereka masih di Club ya?” Tanya Alia.
“Jadi tadi istrinya dapat panggilan penting jadi dia harus segera kembali ke Jakarta. Mendadak banget katanya, wah happy banget deh. Kita pisah disini saja ya, aku mau pesan taksi buat ke hotelnya mas Aldi. Hati-hati ya ke Villa, bye.” Kata Fransiska.
“Astaga, sial banget aku hari ini.” Kata Alia.
“Bagaimana kak? Sesuai tujuan atau kemana ya kak?” Tanya driver taksi.
“Kita ke tempat sesuai tujuan saja pak.” Kata Alia.
Saat di perjalanan, Alia menelfon Veve.
“Hallo, iya ada apa?” Tanya Veve.
“Aku otw ke Villa sendirian, Fransiska pergi menemui sugar daddy nya.” Kata Alia.
“Oh My God Fransiska, ok Ferdi menyusul katanya dia khawatir kalau kamu sendirian di Villa.” Kata Veve.
“Eh nggak usah, aku gpp kok sendirian di Villa. Aku mau berendam saja.” Kata Alia.
“Hehehe dia barusan memesan taksi online. Have fun ya.” Kata Veve lalu menutup telfonnya.
“Kenapa juga si Ferdi jadi ke Villa? Tapi kenapa aku takut ya? Tidak tidak, aku tidak boleh kepikiran sama semua ucapan Fransiska.” Kata Alia lirih.