Di beli untuk dinikahi dan disakiti adalah jalan hidup seorang gadis cantik bernama Lovita. Di usianya yang masih remaja, Rumah bordil adalah tempatnya mengadu nasib. Uang sebanyak tiga milyar yang dibayarkan lelaki tampan itu untuk menikahinya semakin membuat Lovi merasa bahwa dunia ini kejam. Semua kesengsaraannya dimulai saat perusahaan Ayahnya bangkrut. ia bisa tinggal di rumah bordil dan menjadi budak Berry untuk mencari uang karena keegoisan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan Vanilla
Ketika Rena menghampiri Lovi, kesadaran menantunya itu hilang. Ia berteriak panik sementara Devan masih bertahan dalam posisinya.
Ia berteriak memanggil pelayan agar segara membawa Lovi. Rena mengiringi Lovi yang sudah pucat pasi itu.
Raihan menampar wajah anaknya tidak cukup sekali. Bahkan membuat Devan tersungkur. Seharusnya itu semua sudah cukup, tapi kemarahannya masih mengatakan 'kurang'. Devan benar-benar keterlaluan.
"BRENGSEK!" maki Ayah dua anak itu.
Devan bangkit masih dengan wajah datarnya. Ia tak berniat untuk menjawab ataupun membalas. Ia rasa, perbuatannya kali ini memang sudah keterlaluan.
"Setelah kamu manfaatkan dia, lalu kamu buang?!"
Mulut Devan yang diam membuat Raihan semakin ingin membunuh anaknya sendiri.
"JAWAB PAPA!"
Raihan kembali melancarkan serangannya.
"JAWAB!!"
"Ya, memang itu yang harus aku lakukan."
*********
Rena lebih mementingan kondisi Lovi saat ini. Daripada Devan yang baru saja Ia lihat dalam keadaan wajah penuh lebam. Ia tahu kalau itu perbuatan suaminya.
Devan memang harus diberi pelajaran. Tidak selamanya manusia seperti Lovi berada dibawah. Ia harus bisa membuka mata lebih lebar untuk melihat semua sisi yang ada dalam diri Lovi.
Untuk sekedar bertanya,
"Apa kamu baik-baik saja, Devan?"
Rena pun enggan. Ia terlalu kesal dengan putranya.
Setelah diperiksa oleh dokter, Rena bisa bernapas lega karena Lovi tidak mengalami apapun kecuali dehidrasi dan stress yang berlebih.
****************
"Selamat datang, Nona Vanilla,"
Netta menyambut kedatangan Vanilla yang berjalan dengan angkuh memasuki Paviliun. Gadis itu berjalan lalu menatap seluruh penjuru paviliun. Ia mengerinyit sebelum akhirnya melirik Netta.
"Dimana perempuan itu? Aku belum memberinya salam perkenalan,"
"Nona Lovi?"
Dahi Vanilla mengerinyit dan alisnya menukik.
"Aku tidak tahu namanya. Aku belum kenal. Bukankah aku sudah mengatakannya barusan?" Ucap Vanilla dengan sinis.
"Maaf, Nona."
Vanilla duduk di sofa yang berada di tengah ruangan. Sementara Netta masih berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk.
Semua pelayan yang bekerja di mansion maupun paviliun memang sangat takut jika berhadapan dengan Vanilla sama halnya ketika dengan Devan. Vanilla mempunyai sifat yang tak jauh dengan Devan. Angkuh, Terlalu dingin untuk di sentuh, dan jika berbicara selalu berhasil membuat orang lain sakit hati.
"Cepat katakan dimana dia?" Desak vanilla. Yang masih didera penasaran ingin bertemu dengan Lovi.
"Di kamarnya yang ada di lantai atas, Nona. " Mendengar nada takut dari Netta membuat Vanilla tersenyum miring.
Vanilla menaiki tangga dan mulai menelusuri satu persatu ruangan yang ada di lantai ini. Sampai akhirnya dia melihat seorang perempuan yang sedang melamun di depan jendela kamarnya.
Vanilla yakin tidak ada siapapun disini selain perempuan yang dicarinya.
Dengan perlahan Vanilla memasuki kamar itu. Decitan pintu kamar berhasil membuat Lovi menoleh dan langsung bangun dari posisi duduknya. Perempuan itu menatap waspada ke arah Vanilla yang tentu saja berhasil membuat vanilla tersenyum puas telah berhasil membuat perempuan itu ketakutan.
"Anda siapa? "
Vanilla menunjuk dirinya sendiri.
"Aku ? "Tunjuk vanilla pada dirinya sendiri.
"Aku Vanilla, Adik dari Devan. Kamu tentu tahu kalau Devan bukanlah satu-satunya, " Ucap Vanilla memperkenalkan dirinya.
Ya, Lovi tahu kalau Devan mempunyai saudara kandung. Sebelumnya, Rena sudah bercerita panjang lebar mengenai silsilah keluarga mereka. Ia hanya sekedar tahu dan tidak ingin ikut campur terlalu dalam. Lovi merasa dirinya tidak punya hak untuk bertanya lebih pada Rena.
"Kenapa kamu menjauh dariku?" Ujar Vanilla dengan senyum miringnya.
Vanilla yang semakin maju membuat Lovi secara perlahan memundurkan tubuhnya karena ketakutan. Rasa sakit yang ditorehkan Devan semalam belum hilang sepenuhnya. dan Lovi tidak ingin kembali mendapatkan hal yang sama.
"Kamu takut padaku? Hm?"
Dilihat dari tepis wajah dan gerak geriknya, Lovi menilai Vanilla memiliki Sifat yang tak jauh berbeda dari Devan.
Sikap tenang dan dingin yang dimilikinya diam-diam menyimpan seribu kekejaman yang berhasil memenjarakan orang dalam kesengsaraan.
"Kamu tidak ingin mengenalku lebih dekat? Bukankah aku adalah adik iparmu?"
"Aku sudah mengenalmu, Nona." Jawab Lovi dengan nada bergetar ketakutan. Lovi tidak tahu alasan mengapa gadis ini mendatangi kamarnya dan mengatakan bahwa dia ingin mengenalnya. Lovi tidak merasa sepenting itu untuk dikenal.
Lovi sudah lelah berjanji untuk tidak menangis lagi. karena nyatanya semua yang ada di dalam tubuhnya tidak sekuat baja. Lovi akan tumbang bila selalu di sakiti. Ia tidak bisa pergi dari takdir yang sudah ditentukan. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Namun Untuk saat ini Lovi masih bisa membuat dirinya tenang.
"Kamu tidak perlu takut padaku. Aku hanya ingin mengucapkan salam perkenalan untukmu. Bukankah aku baik?" Ujar gadis itu dengan tenangnya.
Lovi yakin kalau salam perkenalan yang dimaksud Vanilla bukanlah dalam arti yang sesungguhnya.
Lovi yang diam dan hanya menatap lantai dengan kosong membuat Vanilla geram. Vanilla menarik tangan Lovi untuk lebih dekat dengannya.
Lovi berusaha terlepas dari Vanilla. Matanya menutup dengan ringisan kesakitan. Ia kembali menerima perlakuan ini. Semalam Devan pun melakukan hal yang sama padanya.
"Aku mohon lepaskan, Nona. ini sakit sekali," Suara Lovi semakin pelan.
"Sakit? Nikmati saja, Manis. Inilah salam perkenalanku untukmu,"
Lovi masih berusaha untuk melepaskan diri namun semakin keras usahanya, maka Cengkraman Vanilla seakan ingin membunuhnya secara perlahan mulai dari kepala. Lovi tidak bisa lagi menahan laju air mata kesakitannya.
Surai yang sebelumnya dibiarkan tergerai dengan cantik Kini sudah sangat berantakan. Wajah Lovi pun sudah penuh dengan air mata dan bibirnya tak henti menjerit kesakitan. Vanilla senang melihat perempuan itu menangis karenanya.
Vanilla mendekat ke arah telinga Lovi seraya berbisik dengan suara dalamnya.
"Aku hanya ingin mengucapkan, Selamat datang didalam keluargaku,"
******
kejam jg ya si vanilla. gmn? lanjut gk nih? atau mau tarik napas dl? wkwkwkk jgn lupa apa guyss? taulah pasti maksud aku YHAAAKHAANN??? okedeh makasi semuanyaaaaa
ceritanya kagak nyambung
lari sana lari sini
gak nyambung juga
biking pusing sy bacanya